Lika-Liku Sang Playboy

Lika-Liku Sang Playboy
Bab 48. ABCD Sampai Z


__ADS_3

Danar tersadar saat melihat Anin menolong Nesha. Mata Nesha berkaca-kaca, jujur dirinya takut saat ini. Tidak pernah ada yang bertindak kasar pada dirinya sebelum ini. Melihat raut wajah Danar yang menakutkan membuat Nesha semakin takut.


"Nes... Kamu nggak apa-apa. Astaga kening mu berdarah." Anin sedikit panik melihat kening Nesha.


"Nesha..." Gumam Irya. Dia tak tega melihat Nesha untuk yang kedua kali nya hari ini terkena imbas akibat dirinya.


Irya menahan sakit di kaki nya berusaha membantu Nesha untuk membawa nya duduk di atas ranjang. "Kamu tunggu disini aku ambilkan obat untuk mu." Ucap Anin.


"Nesha... maaf aku nggak sengaja." Ucap Danar. Anin menatap tajam Danar, kekasih yang sangat dicintainya. Anin menggeret lengan Danar. "Ikut aku." Ucap Anin dingin. Pasrah saja Danar digeret oleh Anin keluar kamar Irya.


"Nesha, sudah jangan menangis." Ucap Irya lembut saat melihat Nesha meneteskan air matanya. Perasaan tidak tega dan kasihan melihat gadis di depan nya menangis.


"Harusnya tadi nggak usah belain gue. Lo jadi kaya gini. Gue minta maaf." Irya merasa bersalah pada Nesha.


Nesha masih terdiam, dia menangis tapi tak bersuara. Masih takut dengan Danar, emosi pria itu sungguh mengejutkan Nesha. Angga saja tidak pernah seemosi itu pada nya.


"Aku takut." Ucap Nesha lirih hanya Irya yang dapat mendengar nya. "Danar nggak marah sama Lo. Dia marah sama gue. Lo jangan takut." Dengan ragu Irya mengusap bahu Nesha.


Anin memukul dada Danar dengan keras hingga kekasih memekik kesakitan. "Sayang, maaf aku nggak sengaja. Aku terlalu emosi tadi sampai Nesha terluka seperti itu." Danar merasa bersalah membuat teman nya terluka, pasti Anin akan marah besar bahkan mendiamkan nya nanti karena Nesha saat ini adalah teman yang paling dekat dengan Anin.


"Kamu tahu ? Bukan hanya Nesha yang terluka secara fisik. Bahkan Irya juga terluka perasaan nya kamu tidak sadar mengatakan dia tidak berguna. Kamu sahabat nya yang selalu ada buat dia tapi kamu sendiri yang melukai perasaan nya." Ucap Anin marah.


"Aku tidak sengaja mengatakan itu sayang. Kenapa kamu semarah ini sama aku gara-gara aku nggak sengaja maki Irya." Danar merasa kesal.


"Ck... terserah." Anin mengambil kotak p3k untuk Nesha dan membawanya ke kamar Irya, Danar mengikuti Anin masuk ke dalam.


"Nesha kita obati dulu luka mu." Ucap Anin.


Danar ikut mendekati Nesha, tapi Nesha masih takut dengan Danar. Air mata Nesha semakin mengalir meski tak banyak dan tak berlebihan. Tubuh Nesha sedikit menegang. Bayangan kemarahan Danar masih menari-nari di benak nya.


Irya melihat ketakutan di wajah Nesha tanpa sadar membawa wajah Nesha ke arah pundak nya untuk menghadap ke belakang agar tak melihat Danar.

__ADS_1


"Dan, sorry gue harap saat ini Lo ngerti. Kalau Lo mau lanjutin marah Lo nanti aja. Anin tolong Lo bawa Danar keluar dulu. Biar gue yang obatin Nesha." Ucap Irya. Wajah ketakutan Nesha membuat Irya merasa bersalah. Jika bukan membantu mengurusnya dan bukan karena Agnes mantan pacar nya, Nesha tidak akan seperti ini.


"Ayo keluar." Ajak Anin jutek pada Danar. Gadis itu tahu jika Nesha takut pada Danar saat ini. Kembali Anin menggeret lengan Danar keluar kamar Irya dan menutup pintunya.


Irya terdiam sejenak, hati dan pikirannya tak menentu saat ini. Teringat ucapan Danar yang tentu membuatnya luka. Kalimat itu sensitif bagi Irya karena kalimat itu juga yabg selalu terlontar dari bibir kedua orang tua nya.


Nesha juga masih tetap diam di bahu Irya. Mencoba menenangkan ketakutan nya saat ini. Mereka berdua sama-sama terdiam dengan pikiran mereka masing-masing dengan posisi yang belum berubah.


Tangan Irya dengan ragu mengusap bahu Nesha. "Jangan takut." Ucap Irya lalu terdiam menunggu respon Nesha yang masih tetap terdiam. Tak lama Nesha memundurkan wajah dan tubuhnya menjauh dari Irya. "Luka Lo sedikit berdarah, biar gue obatin." Irya meraih kotak p3k, mencoba mengobati luka Nesha yang tidak terlalu parah tapi luka itu tetap mengeluarkan darah.


"Sshh... aow..." Ringis Nesha tak tahan dengan perih di kening nya. "Sakit ? Tahan bentar." Ucap Irya pelan. Dengan perlahan juga Irya mengobati Nesha hingga selesai.


"Udah selesai. Masih perih ?" Tanya Irya pada Nesha, gadis itu mengangguk pelan. Irya menarik kepala Nesha dan meniup luka pada kening itu meski sudah tertutup plester.


Irya yang seorang playboy terbiasa memperlakukan wanita dengan lembut. Nesha masih terdiam, perlakuan Irya berbeda jauh, kesan menyebalkan itu saat ini entah hilang kemana.


"Maaf gara-gara gue, Lo jadi kayak gini." Irya kembali mengucapkan kata maaf. Wajah menyebalkan dan menyesalkan itu hilang. Kedua kali nya Nesha bisa melihat wajah yang tak bisa Nesha artikan hanya satu yang sedikit Nesha pahami ada sirat kesedihan di wajah itu sama seperti saat Nesha tak sengaja bertemu Irya yang habis bertengkar di pinggi jalan dengan Papa nya.


"Kamu nggak salah, kamu lagi sakit kita takut kamu kenapa-kenapa. Aku aja takut Danar marah kaya gitu."


"Udah Lo nggak usah takut. Danar emang gitu kalau marah. Nanti dia juga biasa lagi. Danar paling nggak bisa liat ceweknya dikasarin sama orang lain. Dia sayang banget sama Anin."


"Anin, beruntung ya dapat Danar yang sayang banget sampai cara melindungi nya aja sampai kayak gitu." Ucap Nesha tersenyum tipis. "Iya, kalau cowok udah bener-bener sayang pasti bakal ngelindungi orang yang dia sayang. Yaa... kaya Danar gitu."


"Lo udah nggak apa-apa ?" Tanya Irya.


"Nggak, makasih udah bantu ngobatin luka ku."


"Sama-sama. Lo juga udah bantuin gue dari kemarin. Lo mau pulang ?" Nesha mengangguk. Seketika ada rasa sepi yang akan Irya rasakan saat Nesha mengatakan akan pulang.


"Lo hati-hati." Ucap Irya tersenyum. Nesha kembali mengangguk.

__ADS_1


"Ternyata ada kala nya dia nggak jadi orang menyebalkan dan ngeselin." Batin Nesha.


"Aku pulang." Pamit Nesha. Irya mengangguk menatap Nesha keluar dari kamarnya.


Nesha berpamitan pada Anin dan Danar. Dengan Danar, Nesha masih sedikit takut. Cara Nesha bersikap kini tak sehangat sebelum kejadian tadi. Danar berniat mengantarkan atas perintah Anin tapi Nesha menolak. Dirinya lebih memilih pulang menggunakan taksi saja. Nesha keluar apartemen Danar dengan langkah cepat.


"Kamu lihat gara-gara kamu Nesha jadi jaga jarak gitu. Oke, aku senang kamu khawatir sama aku tapi nggak harus berlebihan kaya gini. Kami buat temen-temen kita terluka." Ucap Anin kesal. Apalagi teringat ucapan Agnes semakin membuat Anin semakin kesal.


"Ini juga gara-gara kamu pake acara kenal sama Claudia...Claudia itu jadi nya si Agnes itu kebiasaan keluar masuk apartemen kamu." Ucap Anin kesal. Padahal Danar lebih dulu mengenal Claudia dibandingkan dirinya.


"Kok kamu jadi nyalahin aku. Ini semua gara-gara si Irya tuh pake acara pacaran sama Agnes segala cewek murah kaya gitu di pacarin." Danar membela diri.


"Murah ? Kamu sama dia juga sama aja kan murah." Anin kelewat kesal dengan Danar dan mengungkit masa lalu Danar. "Kamu kenapa sih yank, jadi bahas yang enggak-enggak gini." Danar mulai terpancing emosi.


"Emang gitu kan kenyataan nya. Gara-gara kamu sering bawa-bawa mantan kamu kesini si Agnes jadi nyolot. Udah bikin ribut disini di suruh keluar nggak mau malah ngatain aku sok jadi nyonya disini. Dia bilang dulu kamu si Claudia itu aja nggak pernah usir dia."


"Lagian kamu juga ngapain ngusir dia, dia mau ketemu cowok kamu usir." Kalimat Danar membuat Anin menoleh dan menatap tajam. "Oh iya lupa aku dia pacar nya Irya, sahabatnya mantan kamu kan ya haha lupa aku. Jadi, kalau dia bikin ribut disini sampai ngatain Nesha cewek ganjen cewek murahan aku harus diam aja biarin dia disini gitu ? Kenapa nggak sekalian aja dia disini terus kamu undang juga sahabat itu biar kalian ngumpul semua disini." Anin berdiri lalu mengambil tasnya dan pergi. Danar mengejar Anin tapi gadis itu tidak peduli.


"Ck... kenapa sih cewek yang dibahas A malah merebet ke ABCD sampai Z. Jadi kemana-mana uring-uringan nya." Gerutu Danar kesal dan mengacak-acak rambut nya.


Danar mencoba mengejar Anin yang sudah menaiki taksi untuk pulang menggunakan mobil nya. Dia tidak ingin bermasalah dengan Anin hanya gara-gara permasalahan yang tidak terlalu besar itu. Kelakuan Agnes memang tidak bisa dianggap sepele oleh Danar. Perempuan itu sudah keterlaluan menimbulkan masalah di tempatnya.


...----------------...


Jangan Lupa VOTE !!!


Hallo dear... para readers budiman please komen dan like ya bagaimana menurut kalian cerita di part ini.


Support kalian benar-benar berharga buat author. Kalau malas komen setidak nya kasih jempol manis kalian di part ini.


Terimakasih atas support nya ☺️🙏

__ADS_1


__ADS_2