Lika-Liku Sang Playboy

Lika-Liku Sang Playboy
Bab 50. Salah Paham


__ADS_3

Kediaman rumah Broto.


Sudah lama tak melihat wajah irya anak lelaki dalam keluarga itu membuat Broto menanyakan keberadaan Irya. Tumben sekali mencari Irya padahal selama ini tidak perduli sama sekali.


Di meja makan sudah berkumpul Suci istri Broto dan Cindy anak kesayangan Suci dan Broto. "Bi... Mana anak bodoh itu ?" Tanya Broto tanpa menoleh ke arah bibi Jenab.


Suci dan Cindy saling tatap melihat kepala keluarga nya menanyakan Irya yang selama ini tidak pernah merek gubris sama sekali. "Tumben Papa nanyain anak itu." ucap Suci penasaran.


"Hu.um tumben." Cindy bergumam dan mengangguk-angguk. Broto hanya diam tak menjawab pertanyaan anak dan istrinya. "Maaf Tuan, saya tidak tahu sejak beberapa waktu lalu pamit nya mau keluar gitu aja." Ucap bibi Jenab mengantarkan makanan satu-satu di meja makan.


"Dia kan emang suka keluyuran nggak jelas Pa. Ngapain juga dicari, nambahin kerjaan aja." Ucap Cindy santai.


"Papa fokus aja sama pekerjaan, nanti juga anak itu akan pulang sendiri. Dia kan suka begitu. Nggak jelas." Ucap Suci sambil menyuap makanan nya sendiri.


Bibi Jenab mendengar semua itu hanya bisa berbisik dalam hati sungguh tega sekali mereka tidak perduli dengan keluarga mereka sendiri. Seharusnya walau tidak menyukai Irya tetapi jangan keterlaluan seperti itu pikir bibi Jenab.


Wanita paruh baya itu memilih undur diri ke dapur tidak ingin mendengarkan apa yang dikatakan keluarga majikannya yang bisa membuat hati nya sakit. Irya walau bagaimanapun sudah seperti anak kandung nya. Bibi Jenab yang tidak memiliki anak dan sudah ditinggal suami nya sejak lama membuatnya sangat menyayangi Irya menganggap Irya adalah anaknya.


"Sudah lah Papa mau berangkat bekerja dulu. Cindy kamu yang rajin sayang sekolah nya biar pinter biar bisa banggain Papa dan Mama mu." Broto menyudahi sarapan nya lalu mengecup kepala Cindy dengan sayang.


Begitu pula Suci yang ikut berangkat bekerja, berpamitan pada Cindy dengan sayang. Perlakuan yang sangat berbeda sekali dengan Irya.


***


Beberapa hari berlalu Irya benar-benar tak kembali ke apartemen Danar. Sahabatnya itu sudah beberapa kali menghubungi Irya menayangkan apakah Irya tidak kembali dan jawaban Irya adalah dirinya akan menetap di apartemen baru nya saja. Pengurusan dengan notaris sudah selesai, surat kepemilikan sudah atas nama Irya sendiri.


Saat ini jadwal nya kontrol ke rumah sakit. Berangkat sendiri dengan memesan taksi online. Irya tak ingin merepotkan orang lain lagi. Cukup Danar orang terakhir yang menyentak hati nya dengan kata-kata yang ditujukan pada dirinya seakan menjadi orang tidak berguna. Jika dirinya tidak berguna untuk orang lain setidaknya dirinya tidak merepotkan orang lain.


Menunggu antrian yang sedikit lama, Irya memainkan ponselnya hingga nomor nya dipanggil sebagai pasien kontrol.

__ADS_1


Sedikit susah memang dalam keadaan seperti ini harus melakukan semuanya sendiri. Untung ada suster yang mau membantu Irya. "Loh mas nya, kok kontrol sendirian ? Istrinya mana mas ?" Tanya sister Fitri yang bertemu dengan Irya saat mengantri obat.


"Hah ? Istri ?" Irya bingung dengan pertanyaan suster itu. "Iya kan waktu mas dirawat disini ditemani sama istri nya yang cantik itu lho mas." Suster Fitri mencoba mengingatkan Irya. Dirinya juga bingung kenapa Irya justru seakan lupa dengan istrinya sendiri.


Ingat jika yang dimaksud itu adalah Nesha, pria itu tersenyum geli. "Oh dia lagi sibuk sus." Ucap Irya sekenanya saja. Suster itu hanya beroh ria saja mendengar jawaban Irya.


Masalah antrian obat sudah selesai. Kini Irya harus pergi ke mini market untuk membeli perlengkapan mandi nya. Jika makan dirinya bisa memesan secara online jika perlengkapan mandi nya dia harus membelinya sendiri. Akan repot jika memesan online karena tidak semua yang dibutuhkan berada di satu toko online saja. Akan rugi di ongkos kirim jika berbelanja di beberapa toko online.


Dalam kegiatan belanja ini Irya sangat merasakan kesulitan. Bagaimana dirinya membawa keranjang belanja nya m. Sedangkan satu tangan nya fokus pada tongkat nya sendiri.


Tak sengaja Anin melihat Irya yang sedang berbelanja dan kesulitan dalam membawa keranjang belanja nya. "Irya, kamu disini ?" Sapa Anin yang juga berbelanja di minimarket. Tempat itu tak jauh dari kampus Anin sehingga gadis itu datang untuk membeli sekotak susu coklat untuk mengganjal perut nya sehabis kuliah.


"Iya Nin, Lo sendiri ? Mana Danar ?" Tanya Irya, Danar tak terlihat hanya ada Anin seorang diri.


"Dia ada kuliah juga jadi aku sendiri. Aku bantu bawakan barang belanjaan kamu ya. Kamu susah banget bawa soal nya." Terpaksa Irya mengangguk saja karena memang kesulitan membawa.


Mereka berdua menuju kasir Irya membayar semua barang belanjaan nya. Demikian juga Anin membayar susu kotak nya saja. "Mbak, sekalian sama susu kotak ini juga." Ucap Irya.


Senyum cool yang membuat kasir minimarket merasa terpana dan terpesona. Pikir nya beruntung jika gadis di depan nya itu bisa dekat dengan cowok ganteng semacam Irya.


"Thanks ya Ir, Lo sekarang tinggal di apartemen Lo sendiri ya ?" Tanya Anin yang sudah mendengar dari Danar. "Sama-sama, iya ada temen gue yang jual apartemen karena sedikit masalah jadi gue sekalian bantu dia juga." Itulah alasan Irya pada Anin dan Danar.


"Terus Lo pulang nya pake taksi ?" Tanya Anin karena tak mungkin dengan kondisi seperti ini Irya menggunakan motor nya. "Iya gue pake taksi. Gue udah selesai gue pulang duluan ya." Pamit Irya. Kembali pria itu kesulitan membawa barang belanjaan nya.


"Aku bantuin bawa, kamu jalan aja. Emm... boleh bantu sampai apartemen kamu ? Sekalian mau lihat apartemen baru mu." Ijin Anin pada Irya.


"Jangan deh, nanti Danar ngamuk lagi. Ijin dulu kalau mau ke apartemen gue." Tolak Irya, dia tidak mau jika nanti akan menimbulkan masalah lagi dengan Danar karena kecemburuan.


"Udah tenang aja lagian sekalian bantuin kamu juga kok. Emang kamu bisa bawa barang-barang kamu sendiri ?" Anin tak yakin jika Irya bisa membawa barang-barang nya. Tak tega melihat sahabat kekasih nya itu kesusahan. Anin sudah menganggap Irya sebagai saudara nya.

__ADS_1


"Iya sih, ya udah boleh deh. Makasih ya Nin. Jangan lupa Lo ijin sama Danar. Gue nggak mau nanti dia salah paham lagi." Anin mengangguk. Taksi yang di pesan Irya sudah datang.


Tapi tanpa disadari oleh mereka ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan keduanya dengan mata tajam. Dia mengikuti Irya dan Anin menggunakan mobil nya. Rasa panas dalam hatinya dan rasa tidak terima itu muncul.


Hingga sampai di apartemen Irya, mobil itu masih mengikuti mereka berdua. Saat keduanya turun, orang itu juga turun. Amarah dalam dirinya sudah mengendap sedari tadi.


Irya masuk ke dalam apartemen nya bersama Anin. Mempersilahkan tamunya duduk di sofa, Irya juga duduk di sofa bersama Anin. "Nin, sorry kalau Lo mau minum ambil sendiri ya, maklum keadaan hehe " Ucap Irya tersenyum tak enak tidak bisa menjamu tamu nya dnegan baik meski itu Anin kekasih sahabat nya sendiri.


"Oke. Santai aja Ir... aku ambil minum sendiri nih ya." Ijin Anin berdiri untuk mengambil minum. Saat melangkah dirinya tersandung tongkat milik Irya, jatuh lah Anin di atas tubuh Irya. "Aow...sshh..." Irya meringis kesakitan saat Anin tak sengaja menindih nya pada luka di bagian bahu nya.


"Apa-apaan ini !!" Bentak seseorang dengan suara keras nya. Orang itu adalah Danar yang tiba-tiba masuk ke dalam apartemen Irya yang sengaja tak ditutup rapat karena hanya ada dirinya dan Anin saja takut nanti ada yang salah paham. Justru kini malah ketakutan itu terjadi.


Anin dan Irya menoleh ke sumber suara. "Danar.." Gumam keduanya melihat Danar sudah menampakkan raut wajah marah. Anin buru-buru bangun dari jatuhnya. Irya masih meringis kesakitan akibat bahu nya tertindih Anin.


Danar melangkah cepat ke arah Irya, dan memberikan pukulan tepat di pipi Irya menggunakan kepala tangannya. "Sayang, stop kamu salah paham." Ucap Anin panik Danar menghajar Irya habis-habisan karena emosi dan rasa cemburunya.


"Salah paham kamu bilang ? Aku lihat sendiri kalian nemplok di sofa tadi salah paham ?" Danar marah pada Anin.


"Dan Lo Irya gue emang bener selama ini harus jaga jarak cewek gue sama Lo. Emang Lo nggak bisa dipercaya, gue nggak nyangka Lo tega sama gue." Danar memberikan bogem mentah nya pada Irya lagi. Wajah tampan Irya sudah berubah tak karuan di tangan Danar.


Irya hanya bisa diam, tubuh nya lemah saat ini. Lagi pula percuma membela diri saat ini ataupun menjelaskan karena Danar sedang diliputi amarah nya. Rasa sakit di tubuh nya hanya bisa di tahan saat ini.


Anin digeret oleh Danar untuk pergi meninggalkan apartemen Irya tanpa memperdulikan keadaan Irya sama sekali. Anin sudah meronta tapi Danar menggenggam erat tangan nya. Tak habis akal Anin menghubungi seseorang yang bisa menolong irya.


...----------------...


Jangan Lupa VOTE !!!


Hallo dear... para readers budiman please komen dan like ya bagaimana menurut kalian cerita di part ini.

__ADS_1


Support kalian benar-benar berharga buat author. Kalau malas komen setidak nya kasih jempol manis kalian di part ini.


Terimakasih atas support nya ☺️🙏


__ADS_2