
Ternyata Irya berjalan cukup jauh dari lokasi tawuran. Irya memilih jalan yang tak cukup ramai mencari jalan pintas untuk pulang. Saat berjalan cukup jauh karena berlari menghindar dari kejaran polisi energi Irya sudah cukup terkuras. Pria itu duduk di pinggir jalan untuk beristirahat sejenak.
Dari kejauhan Nesha melintas berboncengan dengan Angga. Motor yang di kendarai nya melaju cukup santai sehingga Nesha dapat melihat apapun yang ada di pinggir jalan dengan cukup jelas.
"Eh itu kok muka nya kaya cowok playboy mesum itu ya ? Tapi muka nya pada bengep-bengep gitu." Gumam Nesha lirih dari kejauhan.
Saat Nesha melintas tepat hampir mendekati Irya tatapan mata mereka saling bertemu hingga Nesha berlalu mereka pun masih bersitatap. Saat semakin menjauh Nesha tak lagi menatap gadis itu kembali menatap ke depan karena Angga mengajak nya mengobrol. Sedangkan Irya masih saja menatap Nesha yang berlalu berboncengan dengan Angga.
"Itu kan cewek SPG yang satu kampus sama Danar kan ? Kaya nya iya deh gue nggak salah dia boncengan sama cowok yang ngaku sahabatnya itu." Gumam Irya bermonolog.
"Masa sahabat kaya gitu kemana-mana boncengan berdua kaya orang pacaran aja."
Irya celingak-celinguk mencari angkutan umum atau taksi yang melintas tapi sial kedua nya tidak melintas sedari tadi. Terpaksa Irya harus menghubungi Danar untuk meminta tolong menjemput nya di pinggir jalan. Untung saja Danar sudah tidak ada kuliah siang ini.
Menunggu hampir 30 menit akhirnya Danar datang menjemput menggunakan mobil kesayangan nya. Irya yang duduk di pinggir jalan seperti gelandangan kemudian berdiri memasuki mobil Danar.
"Kenapa lagi Lo ? Muka udah bengep-bengep kaya gitu." Danar memperhatikan wajah Irya sebelum akhirnya menancapkan gas mobil nya untuk berjalan.
"Biasa lah anak SMA." Ucap Irya santai tapi sesekali wajah tampan itu meringis akibat lebam yang ada di bibirnya cukup terasa saat mulut nya bergerak-gerak.
"Cih... anak SMA. Elo itu udah tua Ir harus nya Lo udah anak kuliahan. Sampai kapan kelakuan Lo masih kaya anak kecil begini huh ?!" Tidak habis pikir Danar dengan kelakuan Irya.
"Udah lah Dan buat sekarang Lo diem dulu aja deh. Mulut gue sakit buat ngomong. Lo anterin gue pulang."
"Nggak bisa gue harus ke cafe dulu baru Lo gue anterin balik." Ucap Danar dengan wajah datar nya. Kelakuan Irya memang selalu seenak jidatnya.
Dalam perjalanan dua sahabat itu hanya terdiam tidak ada pembicaraan apapun. Irya memilih diam karena wajah nya akan sakit jika banyak bergerak terlebih bagian mulut nya yang sangat terasa sakit karena sudut bibirnya lebam akibat pukulan serta sobek mengeluarkan darah. Sedangkan Danar malas harus berdebat dengan sahabatnya karena menasihati Irya yang sangat sulit untuk diberitahu.
__ADS_1
Tak lama mobil Danar sampai di cafe de'Maha. Siang ini tampak sepi dan akan ramai saat sore hingga malam hari, hal itu sudah bisa diprediksi oleh Danar. Anak-anak muda akan lebih banyak nongkrong di waktu-waktu seperti itu.
"Lo mau ikut turun nggak, gue lumayan lama di dalem harus cek laporan sama cek karyawan." Tanya Danar sebelum membuka pintu mobil nya.
"Gue ikut aja sama Lo. Mana masker Lo ada nggak ?" Tanya Irya, dia ingin menutupi wajah nya agar tak terlihat babak belur saat memasuki cafe. Bisa menjadi tontonan para pengunjung cafe jika tidak ditutupi.
"Ck....nyusahin Lo. Cari di dasboard kaya nya masih ada. Sekalian tuh di belakang ada topi kalau Lo mau pake." Meski kesal Danar memang selalu perhatian dengan Irya. Kalaupun marah Danar tidak bisa benar-benar membenci Irya. Irya satu-satunya teman yang juga selalu mengerti keadaan Danar dan ada untuk Danar meski akhir-akhir ini Irya lebih banyak menyulitkan nya.
Selesai mengenakan masker dan topi Irya membuka pintu mobil dan mengikuti langkah kaki Danar memasuki Cafe. Beberapa karyawan yang berpapasan dengan Danar pasti selalu menyapanya sebagai pemilik Cafe. Danar meski terkesan cuek namun dia tetap membalas sapaan para karyawan cafe nya meskipun tidak terlalu ramah.
Beberapa ada yang menatap kearah Danar dan Irya hanya saja mereka tak mampu melihat wajah Irya yang nyaris tertutup masker dan topi. Kedua sahabat itu berlalu masuk ke ruangan Danar.
"Ganti baju Lo dulu Ir, gue mau periksa laporan."
Irya berlalu ke dalam ruangan pribadi Danar, membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian nya. Mereka memang sering bertukar pakaian tapi lebih sering Irya yang memakai baju-baju Danar.
"Nesha... kamu ya yang antar kesini. Masuk Nesha."
"Iya Dan... buat apa obat sama kompresan ini ? Kamu terluka ?" Tanya Nesha penasaran karena tidak terlihat luka pada wajah Danar tapi Nesha tak tahu mungkin ada di bagian tubuh Danar yang lain makanya dia menanyakan nya.
"Tidak bukan aku, tapi buat teman ku." Nesha sudah meletakkan nya di atas meja dan bersiap untuk keluar saat seseorang keluar dari ruang pribadi Danar.
Nesha terkejut dengan kedatangan Irya di dalam ruangan Danar. "Nes, bantu obati wajah nya, aku harus ke bawah dulu cek bahan-bahan makanan di gedung penyimpanan. Tidak apa-apa kan ?" Tanya Danar dengan sedikit ragu.
"Emm... i-iiya deh nggak apa-apa." Ucap Nesha dengan mengangguk kecil dan ragu.
Danar keluar dari ruangannya menuju gudang penyimpanan makanan. Pria yang sudah dipasrahi tanggung jawab mengelola usaha cafe itu memang benar-benar mengelola usahanya itu dengan serius. Bekal yang diberikan oleh orang tuanya tidak akan disia-siakan nya.
__ADS_1
Nesha memperhatikan wajah Irya, rupanya benar pria yang dilihatnya di pinggir jalan tadi adalah Irya. Gadis itu mendekat ke arah sofa dan duduk disana. Irya masih berdiri mematung di depan pintu ruang pribadi Danar. Nesha menyiapkan obat-obat yang digunakan nya nanti untuk mengobati luka-luka wajah Irya. Tak bersuara untuk menyuruh Irya duduk, dia hanya diam menunggu Irya duduk ke sofa tapi tak juga kunjung pria itu duduk.
"Duduk atau obati luka mu sendiri. Pekerjaan ku masih banyak di luar." Akhirnya Nesha membuka pembicaraan karena tak sabar menunggu Irya yang hanya diam saja sedangkan dia harus kembali bekerja. Rasanya sayang sekali jika harus membuang waktu sia-sia menunggu Irya.
Irya akhirnya duduk di sebelah Nesha tanpa suara. Gadis itu tanpa senyum ramah seperti pada pengunjung cafe menghadapkan tubuh nya ke arah Irya. Membersihkan luka-luka Irya menggunakan obat-obat yang telah disiapkan nya.
"Ssshhh..." Rintih Irya saat Nesha membersihkan dengan alkohol pada wajah yang terluka. Memberikan obat merah dan plester pada luka-luka kecil yang lain. Nesha sedikit melirik Irya kemudian bergerak lebih lembut lagi dalam mengoleskan alkohol.
Nesha kemudian mengompres sudut bibir dan tulang pipi Irya yang lebam dan sedikit bengkak. Tanpa mau bertanya alasan apa yang membuat pria itu terluka Nesha terus melakukan tugas nya. Sedari tadi meski menahan sakit Irya terus memperhatikan wajah Nesha terkadang tatapan mereka sesekali bertemu meski hanya satu atau dua detik saja. Tatapan aneh yang Irya berikan dan tertangkap oleh Nesha dan tidak bisa Nesha artikan.
"Sshhh aww... Pelan-pelan dong sakit." Rintih Irya saat Nesha menekan terlalu kuat pada kompresan nya. Nesha hanya melirik Irya dengan datar. "Heh...cowok tengil bisa ngerasa sakit juga." Spontan Nesha mengucapkan kalimat itu, rupanya kekesalannya nya terhadap Irya masih saja membekas di hati nya bahkan masih ada rasa benci kala menatap pria di depannya ini.
"Maksud Lo apaan ? Udah sini kalau nggak ikhlas bantuin biar gue sendiri aja." Irya kesal dipanggil cowok tengil oleh Nesha. Sejurus kemudian Nesha menekan kompresan dengan kuat meluapkan kekesalannya pada Irya.
"Ssh aww !! Lo cari masalah sama gue huh ? Kasar banget sih Lo jadi cewek." Irya bertambah emosi dan kesal.
Nesha berdiri dari duduknya dan melempar handuk kecil yang digunakan untuk mengompres Irya ke pangkuan Irya. "Kompres sendiri muka mu." Langkah kaki Nesha baru saja melangkah satu kali tiba-tiba tangannya ditarik oleh Irya.
...----------------...
Jangan lupa Vote !!
Hallo dear... para readers budiman please komen dan like ya bagaimana menurut kalian cerita di part ini.
Support kalian benar-benar berharga buat author. Kalau malas komen setidak nya kasih jempol manis kalian di part ini.
Terimakasih atas support nya ☺️🙏
__ADS_1