
Sejak terbebas dari tahanan Irya tak kembali ke rumahnya. Dia lebih memilih untuk kembali ke apartemen Danar. Rasa nya masih malas harus kembali ke rumah nya sendiri.
Untuk apa kembali ke rumah itu, kembali atau tidak itu tidak ada beda nya bagi Irya. Tidak ada yang istimewa di rumah itu. Hanya kenangan pahit dan perih yang selalu ada di dalamnya.
Irya duduk termenung di balkon apartemen Danar. Segelas kopi menjadi teman nya lagi ini. Memandang pemandangan pagi ini dan menghirup udara bebas.
"Udah lama gue nggak balik ke rumah. Gimana ya keadaan ibu. Gue kangen sama ibu, kangen masakan ibu." Gumam Irya lirih sambil menyesap kopi nya.
"Woi... ngelamun aja Lo." Danar menepuk bahu Irya dengan keras membuat pria itu tersedak karena tengah menyesap kopi nya.
"Uhuk...uhuk... Lo gila mau bunuh gue ?" Ucap Irya kesal pada Danar.
"Haha sorry bro... gue kira Lo lagu ngelamun. Habis posisi Lo dari tadi nggak berubah-ubah." Ucap Danar terbahak.
"Nggak ada posisi yang enak selain posisi di ranjang." Celetuk Irya yang sukses mendapatkan dorongan di kepalanya.
"Otak Lo ir... Beres dikit kenapa. Lo mikirin apa sih ? Lo nggak bosen disini mulu ?" Tanya Danar.
"Maksud Lo, Lo ngusir gue dari sini ?" Tanya Irya sedikit kesal dengan pertanyaan Danar.
"Bukan gitu Paijo, gue cuma tanya doang kali. Lo biasa nya kan ngelayap kemana-mana cari mangsa."
"Sialan Lo. Gue lagi nggak mood buat ngelayap kebiasaan ndekem di sel. Jadi masih kebawa sampe sekarang." Celetuk Irya asal-asalan.
"Gue sebenernya kangen pulang ke rumah. Kangen sama ibu. Tapi mau pulang males." Ucap Irya.
Danar menepuk bahu Irya, dia paham apa yang Irya katakan. Sudah lama bersahabat semua yang ada dalam diri Irya seakan sudah terkelupas habis oleh Danar.
"Ya udah Lo tenangin diri Lo disini aja. Tempat ini selalu siap buat Lo selama nggak ada Anin aja sih hehehe."
"Emang kenapa kalau ada Anin ?" Tanya Irya iseng.
"Gue nggak suka, Lo disini kalau ada Anin." Ucap Danar. Irya menonjok pelan lengan Danar.
"Ck... gue nggak doyan punya temen Dan. Segila-gila nya gue, gue tetep bisa waras. Lo satu-satunya orang terdekat gue. Nggak mungkin gue tega nyakitin sahabat gue sendiri."
"Tapi gue hargai keputusan Lo. Gue bakal pergi kalau ada Anin kesini. Santai aja bro." Imbuh Irya tersenyum.
"Hahaha gue percaya sama Lo Ir. Cuma sorry gue masih sedikit kurang nyaman aja bro Lo ngerti kan." Ucap Danar sebenarnya merasa tidak enak pada Irya tapi mau bagaimana lagi tetap harus dikatakan dengan jujur. Meski percaya pada Irya tapi Danar tak mau mengambil resiko saat kekasihnya hanya berdua saja di apartemen dengan Irya.
"Gue paham. Mungkin gue juga akan berlaku sama kaya Lo kalau gue punya orang yang gue sayangi." Ucap Irya jujur dari dalam hati nya.
__ADS_1
"Lah emang selama ini sama cewek-cewek Lo nggak ada yang Lo sayangin Ir ?" Meski tahu Irya playboy tapi mungkin saja kan ada salah satu dari mereka yang benar-benar di sayangi oleh Irya. Namun, Irya menggelengkan kepalanya.
"Wah gila Lo Ir..." Danar menggelengkan kepalanya tak percaya. Irya menghela nafas sesaat. "Mau gimana lagi, semua yang gue lakukan berdasarkan kesenangan semata Dan nggak ada dari mereka yang benar-benar gue pakein perasaan termasuk Agnes meski dia paling lama sama gue."
Danar hanya mendengarkan saja, mau bagaimana lagi dia pun juga tidak mengerti dengan jalan pikiran Irya. Dia hanya berusaha mengerti saja bagaimana perasaan Irya. Sebenarnya merasa kasihan pada sahabat nya itu tidak tahu apa tujuan hidupnya. Berharap suatu saat nanti Irya dapat menentukan apa yang menjadi tujuan hidupnya. Irya butuh seseorang yang mampu membimbingnya.
Hari berganti waktu kelulusan sudah tiba. Semua siswa memang tidak diperkenankan masuk oleh pihak sekolah. Bagaimana cara mereka mengetahui kelulusan mereka ? Pihak sekolah memiliki aturan main dalam pemberitahuan pengumuman kelulusan itu. Siswa diharapkan berdiam diri di rumah menunggu apakah ada dari pihak sekolah yang datang atau tidak.
Di rumah Irya kebetulan hari ini Broto berangka lebih siang. Sedangkan Suci sudah berangkat terlebih dahulu karena ada urusan di butik. Saat sedang melakukan sarapan sebelum berangkat ke kantor, rumah nya kedatangan tamu tak di undang.
Pihak sekolah datang untuk menyampaikan pengumuman kelulusan. Bibi Jenab sudah menyuruh tamu duduk di ruang tamu.
"Permisi Tuan. Maaf di depan ada tamu dari sekolah nya den Irya."
Broto langsung menghentikan tangannya yang sedang menyuap makanan. "Ada apa lagi ? Apa yang anak bodoh itu lakukan." Ucap Broto rahangnya mengeras.
"Maaf Tuan saya kurang tahu. Pihak sekolah mengatakan jika ingin bertemu dengan orang tua siswa."
"Baik, nanti saya akan temui. Kembali lah bekerja."
Bibi Jenab kembali ke dapur, Broto menghampiri tamu nya. Kembali bibi Jenab berjalan mengendap untuk mencuri dengar apa yang terjadi karena ini menyangkut dengan Irya. Apapun tentang anak asuh nya itu bibi Jenab selalu ingin tahu akan perkembangan anaknya.
"Selamat pagi Pak." Ucap guru dari sekolah Irya.
"Mohon maaf sebelumnya jika kedatangan kami ini mengganggu kegiatan anda Pak. Maksud kedatangan saya mewakili pihak sekolah hanya ingin menyampaikan pengumuman hasil kelulusan ujian nasional."
"Ini hasil nya Pak. Dan untuk informasi selanjutnya bisa datang langsung ke sekolah. Hanya ini saja maksud kedatangan saya. Kalau begitu saya permisi." Guru Irya berpamitan setelah memberikan surat pengumuman kelulusan. Broto mengangguk mempersilahkan tamunya pulang.
Broto memang orang yang keras, dingin dan cuek. Jika tidak penting menurut nya maka dia tidak perlu repot-repot merespon. Surat berwarna putih dengan logo sekolah SMA Irya sudah berada di depan nya. Dengan cepat Broto membuka isi surat tersebut. Dimana kedatangan surat itu sudah menggangu kegiatan sarapan nya.
Rahang Broto mengeras, tangannya meremas surat itu. Tatapan matanya penuh dengan kemarahan. Broto berdiri dan berteriak memanggil bibi Jenab.
Wanita paruh baya itu terkejut dan gemetar. Jangan-jangan dirinya ketahuan mengintip dan mencuri dengar pembicaraan majikan dan tamu nya. Dengan gugup bibi Jenab keluar menghadap Broto.
"I-iiya Tuan. A-ada apa memanggil saya." Tangan yang mulai keriput itu saling meremas tangannya sendiri.
"Dimana Irya ." Tatapan datar menghadap Bibi Jenab.
"Den Irya... itu Tuan... dia kan tidak pernah pulang setelah kejadian waktu itu." Ucap Bibi Jenab.
Apa Broto sudah lupa jika Irya setelah didatangi pihak kepolisian dan pergi bersama mereka, anak nya tidak lagi kembali pulang. Bahkan kebebasan Irya pun Broto tidak mengetahui nya. Sakit tidak perduli nya atau saking sibuknya dengan pekerjaan hingga tak memperhatikan anaknya sendiri.
__ADS_1
Tak lama terdengar pintu terbuka, Broto dan bibi Jenab menoleh ke arah pintu. Irya kembali setelah beberapa lama tak kunjung pulang.
"Papa." Lirih Irya. Dipikirnya kedua orang tuanya sudah berangkat kerja semua tapi ternyata Broto masih berada di rumah.
Perlahan Irya berjalan mendekati Broto dan bibi Jenab. Broto menunggu anak nya mendekat karena memang dirinya mencari Irya tadi.
"Ibu.." Panggil Irya pada bibi Jenab. Sapaan pertama nya pada bibi Jenab bukan pada Papa nya sendiri. Bibi Jenab tersenyum memandang kepulangan Irya.
"Pa.." Sapa Irya.
PLAK !!
Mata bibi Jenab terbelalak tangannya reflek menutup mulut. Irya cukup terkejut, wajah nya sudah terpaling ke kanan. Sapaan Irya disambut sebuah tamparan keras dari Broto.
"Anak bodoh !! Berani kamu pulang ke rumah ini huh ?!!!"
PLAK !!
Tamparan kedua Broto berikan pada Irya.
"Berapa kali kamu harus membuat saya malu huh ?!! Apa otak mu tidak kamu pakai ? Betah kamu berada di sekolah itu hingga kamu tidak bisa lulus ujian. Saya malu punya anak seperti kamu." Broto melemparkan gumpalan kertas yang berisi pengumuman kelulusan Irya ke wajah anak nya.
Irya terdiam, meski hati nya sakit diperlakukan seperti ini oleh Papa nya sendiri. Broto pergi meninggalkan Irya begitu saja setelah memberikan dua tamparan keras dan memaki Irya dengan menyakitkan.
Bibi Jenab menangis setelah Broto pergi. Wanita paruh baya itu merasa sakit saat Irya diperlukan kasar oleh Broto, bukan dia yang melahirkan tapi dia yang merawat Irya dengan begitu tulus. Bibi Jenab memeluk Irya dan mengelus kepala Irya yang jauh lebih tinggi dari nya. Irya tertunduk di bahu bibi Jenab. Di tahan air mata itu di depan bibi Jenab.
"Ibu, Irya tidak apa-apa. Ibu jangan nangis, ini kesalahan Irya karena tidak bisa lulus ujian." Sekuat hati menahan diri agar tak menangis. Lebih memilih menenangkan wanita paruh baya yang sangat disayangi nya.
"Kamu yang sabar ya Nak... Ibu sedih lihat kamu selalu di marahi sama Tuan dan Nyonya." Ucap bibi Jenab dengan nada sesenggukan.
"Sudah tidak apa-apa. Irya mau masuk dulu ke kamar. Ibu lanjut kerja saja nanti kalau tidak selesai. Mama bisa marah sama ibu." Ucap Irya lembut mengusap punggung bibi Jenab.
Irya melepaskan diri dari pelukan ibu nya. Mencoba tersenyum di hadapan bibi Jenab. Lalu pergi naik ke lantai dua dimana kamar nya berada. Dada nya sesak, bertahan dan berpura-pura baik-baik saja di depan Bibi Jenab.
...----------------...
Jangan Lupa VOTE !!!
Hallo dear... para readers budiman please komen dan like ya bagaimana menurut kalian cerita di part ini.
Support kalian benar-benar berharga buat author. Kalau malas komen setidak nya kasih jempol manis kalian di part ini.
__ADS_1
Terimakasih atas support nya ☺️🙏