
Melihat Danar yang sudah diliputi emosi. Anin juga tidak akan menambah rumit dan menambah emosi Danar lagi. Salah-y Irya semakin menjadi bulan-bulanan pacar nya. Sudah meronta untuk dilepaskannya tapi tidak bisa.
"Nesha... iya aku harus menghubungi nya untuk menolong Irya." Gumam Anin dalam hati.
"Danar... Danar... stop aku kebelet mau ke toilet sebentar." Ucap Anin meronta.
"Jangan membodohi ku Anin." Danar tak percaya pada Anin. "Aku bukan orang gila yang akan mencelakai orang lain dengan perbuatan konyol ku. Kamu pikir aku meronta karena ingin kembali ke apartemen Irya ? Yang benar saja. Kamu mau iku kencing disini huh ?" Ucap Anin kesal. Rasa cemburu yang berlebih yang dimiliki Danar membuat Anin geram sendiri.
"Cepat antar aku ke toilet." Perintah Anin agar Danar mau melepaskan nya. Dengan tatapan dingin dan masih ada raut kemarahan Danar mengantar Anin di toilet. Menunggu Anin di depan toilet.
Di dalam toilet Anin menghidupkan air keran dan mencoba menghubungi Nesha. Satu kali panggilan terabaikan oleh Nesha baru panggilan yang kedua diangkat oleh Nesha. Segera Anin meminta tolong pada Nesha untuk datang ke apartemen Irya. Menolong pria yang mungkin saja sudah sekarat saat ini, lemah tak berada di dalam apartemen nya. Anin mengirim alamat apartemen Irya pada Nesha dan segera menghapus pesan itu menghindari terjadinya hal tak terduga. Beruntung Nesha mau membantu nya saat ini.
Setelah dirasa aman Anin keluar dari dalam toilet. Rasa nya tak tega meninggalkan Irya yang dalam keadaan tak berdaya seperti tadi. Walau bagaimanapun Irya masih teman nya. Hanya kesalahpahaman saja, tapi tunggu kenapa bisa Danar datang ke apartemen Irya, sedangkan Danar tidak mengetahui alamat apartemen Irya pikir Anin dalam hati.
***
Nesha yang mendapat panggilan telepon dari Anin karena meminta bantuan langsung saja membawa motor nya untuk mendatangi alamat yang sudah dikirim oleh Anin.
Suara Anin yang panik membuat Nesha merasa khawatir. Anin bilang jika Irya sedang membutuhkan bantuan karena sedang sekarat. Apartemen Irya dengan kampus Nesha cukup dekat. Maka dari itu Danar juga bisa cepat sampai di apartemen Irya.
Flashback On
Saat Irya dan Anin keluar dari minimarket, tak jauh dari mereka ada seseorang yang memperhatikan mereka berdua orang itu adalah Agnes. Agnes satu kampus dengan Anin hanya berbeda jurusan saja. Melihat mantan kekasih nya hanya berdua saja di sana. Agnes merasa tidak suka dengan Anin karena sikap nya terakhir kali bertemu berani mengusir Agnes.
Ditambah Irya yang memutuskan hubungan dengan nya hanya karena membela Anin dan Nesha. Rasa marah, dendam, kesal semua nya menjadi satu. "Lihat aja Lo apa yang akan gue lakuin." Agnes tersenyum miring.
__ADS_1
Dia membuntuti Irya dan Anin sampai ke apartemen Irya. Penasaran apartemen milik siapa yang di datangi oleh keduanya. "Apartemen siapa nih ?" Karena tahu ini bukan apartemen Danar, pria itu hanya memiliki satu apartemen saja saat ini.
Agnes mengikuti secara diam-diam hingga sampai ke lantai apartemen Irya, melihat itu Agnes mengambil foto Irya dan Anin yang berada di luar pintu. Mengirimkan foto itu ke nomor ponsel Danar dengan diimbuhi kata-kata provokatif untuk menyulut emosi Danar. Tak hanya itu Agnes mengirim alamat dengan lengkap mempermudah Danar untuk datang. Tujuan Agnes adalah agar Anin putus dengan Danar.
Danar yang melihat kiriman foto dari seseorang seketika emosi tapi di tahan nya untuk melihat kebenarannya terlebih dahulu. Alamat apartemen yang tak jauh dari kampus membuatnya cepat sampai. Rela meninggalkan jam perkuliahan demi mendatangi Anin dan Irya.
Pintu tak tertutup rapat membuat Danar mudah untuk masuk. Saat masuk pemandangan mengejutkan bagi nya yang langsung mencuatkan seluruh rasa cemburu dan emosi nya.
Flashback Off
Sampai di alamat Nesha segera bertanya pada satpam yang menjaga disana. Satpam mengantar Nesha menuju lantai apartemen Irya. Pintu itu tertutup Nesha tidak bisa membuka pintunya karena menggunakan password. Mengetuk pintu pun tak ada jawaban sama sekali.
"Aduh Pak bagaimana ini tidak bisa masuk. Padahal di dalam ada yang sakit " Ucap Nesha panik. Mengingat tadi Anin mengatakan Irya sudah lemas sekali.
"Wah berarti harus cepat dibuka mbak, sebentar saya ke bagian pengelolaan dulu aduh nama nya apa ya lupa. Pokoknya yang bisa bantu bukain ini. Sebentar ya." Satpam pun ikut panik melihat wajah Nesha yang panik.
"Coba mbak dibuka." Nesha menganggukkan kepalanya cepat. Mendorong handel pintu dan terbuka. "Bisa Pak, terimakasih. Tapi maaf tunggu sebentar barang kali saya butuh bantuan bapak." Ucap Nesha.
Masuk ke dalam tampak sofa sedikit tak beraturan. Nesha mendekati ternyata Irya terkapar di lantai persis samping sofa. Tangan Nesha menutup mulutnya. Wajah tampan itu lebam dan banyak luka.
"Irya... Bangun... Irya..." Mengguncang pelan bahu Irya tak sadar bahkan juga tak tahu bahu itu yang terluka. Irya meringis dengan mata tertutup. "Bangun...hei...buka matamu. Pak... tolong bantu saya bawa ke rumah sakit." Nesha memanggil satpam yang ada di luar pintu.
Satpam masuk dengan langkah cepat melihat ada yang terluka dengan cepat satpam menghubungi bantuan. Tak butuh waktu lama ada satpam lain datang bawa tandu. Apartemen Irya memang memiliki layanan fasilitas yang bagus, beruntung mendapatkan apartemen seperti itu dengan harga murah.
Menggunakan mobil operasional dari apartemen, Irya dibawa menuju rumah sakit ditemani oleh Nesha. "Ya ampun apa yang terjadi, kenapa bisa begini ?" batin Nesha bertanya-tanya. Saat Anin menghubungi nya gadis itu tak mengatakan dengan jelas apa yang terjadi hanya menyuruh Nesha datang membantu Irya.
__ADS_1
Rumah sakit Surya Medika kembali didatangi oleh Nesha dan Irya. Beberapa suster membantu menurunkan Irya ke atas brankar. "Loh mbak, ini suaminya kenapa lagi ? Baru saja tadi datang kontrol kok balik lagi babak belur." Ucap suster Fitri.
Seperti nya Nesha dan Irya tidak terpisahkan dari suster Fitri jika datang ke rumah sakit ini. Satpam dan sopir apartemen Irya terkejut mendengar ucapan suster Fitri. Memandang Nesha dan Irya bergantian. "Oh ternyata suaminya." Gumam satpam yang di dengar oleh Nesha.
Nesha mengerutkan kening dengan ucapan suster Fitri. Dia mengingat wajah suster Fitri yang tak asing baginya. Benar saja ingatan nya terkumpul saat beberapa waktu lalu pernah membantu Irya. Justru di salahkan oleh suster Fitri.
"Ah udah cepat sus dibantu ini. Kasihan dia udah lemes juga." Ucap Nesha mengabaikan ucapan suster Fitri.
Irya dibawa ke ruang UGD memeriksa keadaan nya. Hanya luka bagian bahu nya yang kembali terluka tidak parah. Wajah nya hanya lebam saja dan sobek pada bibir.
"Bagaimana dokter ? Apa ada luka parah ?" Tanya Nesha saat dokter keluar dari ruang UGD. Satpam dan sopir masih ikut menunggu. "Tidak ada luka parah. Hanya beberapa luka lama nya kembali terluka mungkin ada nya gesekan dan tekanan. Sudah bisa pulang hari ini juga kok tidak perlu khawatir. Mbak nya bisa masuk kalau mau lihat." Dokter mempersilahkan Nesha masuk ke ruangan karena Irya sudah mendapatkan pengobatan dan bahkan sudah diperbolehkan pulang.
"Bagaimana keadaan mu ?" Tanya Nesha. Irya memang sudah lebih baik ketimbang tadi. "Gue nggak apa-apa, udah boleh pulang kan ?" Irya memastikan karena tadi dokter sempat mengatakan nya. "Udah kok, ayo aku bantu turun." Nesha membantu Irya turun dari ranjang dengan hati-hati dan keluar dari ruangan memapah Irya dengan tubuh yang lebih kecil dari Irya.
"Mbak, pakai kursi roda saja. Biar saya ambilkan. Kasihan suaminya." Ucap Satpam. Nesha dan Irya saling pandang. Kenapa semua orang jadi mengatakan mereka suami istri pikir Nesha dan Irya.
Duduk di kursi roda Irya hanya bisa terdiam memikirkan segala masalah hidup nya. Danar, sahabatnya menuduh dirinya berselingkuh dengan Anin. Orang yang satu-satunya menjadi penopang hidup Irya dalam arti mau menampung segala keluh kesah nya justru kini hubungan mereka terancam retak.
"Kamu tunggu disini. Aku ambil obat dulu." Nesha berpamitan pada Irya tapi pria itu diam saja tanpa ekspresi apapun. Nesha pun hanya diam tak menunggu respon Irya, segera Nesha mengambil obat untuk Irya di bagian farmasi.
...----------------...
Jangan Lupa VOTE !!!
Hallo dear... para readers budiman please komen dan like ya bagaimana menurut kalian cerita di part ini.
__ADS_1
Support kalian benar-benar berharga buat author. Kalau malas komen setidak nya kasih jempol manis kalian di part ini.
Terimakasih atas support nya ☺️🙏