Lutfi Gilang

Lutfi Gilang
9. Warung Mbok Iin


__ADS_3

i


Di kantin, sewaktu istirahat, aku duduk satu meja dengan Gyan, Kelvin, dan Arya.


Masing-masing menyantap jajanan yang telah dipesan, sedang aku paling beda sendiri. Hanya minum sari kacang hijau.


 


Semua membahas ini itu yang ga perlu. Sedang aku, hanya diam dan memandang ke arah sumber suara, mencoba antusias.


“Aku loh belum pernah lihat kakak kelas ke sini.” kata Gyan.


Aku ga tahu kenapa mendadak dia nanya begituan. Sebenarnya aku juga pengin bilang: “Aku loh belum pernah lihat Gilang ke kantin.”


Tapi, aku cuma diam.


“Setiap angkatan punya kantin masing-masing.” jawab Kelvin.


“Oh,” kata Gyan. “Tapi kan kelas dua belas IPA di atas, mereka sih jajannya di mana?”


Kelvin mengangkat pundaknya dan kembali makan.


“Mereka beli jajan ke Minibank.” kata Arya.


“Minibank?” Gyan nanya, memastikan.


Kata Arya, Minibank itu koperasi sekolah yang disulap kayak alfamart atau indomart, jadi ada AC-nya gitu. Kata dia juga, kadang ada beberapa kakak kelas yang nongkrong di warung Mbok Iin, belakang sekolah. Dia juga bilang, pernah beberapa kali lihat Gilang di sana.


Aku kaget, terus nanya: “Apa iya?”


Arya cuma ngangguk sambil makan rames di piring.


Aku agak tidak percaya. Tapi setelah mengingat dia sering ngajak satpam makan di luar, aku jadi mulai kepengaruh omongannya.


Bisa juga benar. Pikirku.


“Biar pada bisa ngerokok.” kata Kelvin.


“Iya.” Ateg menyetujui, asal nimbrung aja ga tau dari mana. Menyapaku, terus duduk di sisiku sambil menaruh piring berisi batagor.


Aku bisa tahu, Gyan, Kelvin, kebingungan, tapi Arya justru memersilahkan. Seakan sudah akrab.


“Tumben ketemu di kantin.” kataku.


“Iya, lagi laper. He he he.” jawabnya.


“Oya, ini Gyan, Kelvin, sama Arya, teman kelasku. Terus ini Ateg, teman kostku.”


“Hai,” sapa mereka.


“Iya, salam kenal.” jawab Ateg.


“Teg, kamu tahu soal warung Mbok Iin?” tanyaku.


Dia mengangguk. “Gilang sering makan di sana.”


“Iya?” Aku kaget ga percaya, tapi mau gimana lagi kalau kenyataannya emang gitu.


“Katanya dijadiin markas?” Kelvin nanya, tapi terdengar rada ngasih tahu. Ga tahu deh.


“Aku sih ga paham. Tapi yang jelas, kakak kelas sering pada ke sana.” jawab Ateg.


“Katanya di sana serem?” tanya Gyan.


“Loh, kenapa?” Aku nanya balik.


“Soalnya pada ga berani datang ke situ. Jadi serem pasti, kan? He he he.”


“Wuuuu!” Arya berseru.


“Katanya pada suka minum-minum di situ.” jawab Kelvin.


“Iya?” tanyaku sedikit kaget dengan penjelasan Kelvin, dan makin tidak percaya kalau Gilang sering ke sana.


“Di sana?” Gyan sama Ateg juga nanya.


“Iya,” jawab Kelvin.


“Anak SMA lain juga pada sering ikutan nongkrong.” kata Arya.


“Kan markasnya.” Kelvin menimpali.


🌹🌹🌹


ii


Sampai sekarang, sepuluh tahun ke depan, aku tidak tahu kondisi warung Mbok Iin sebenarnya kayak gimana. Karena aku emang ga mau tahu, dan ga mau datengin tempat-tempat yang banyak siswa nakalnya, apalagi kalau dijadiin markas buat ngerokok. Jadi aku hanya menyimak berdasarkan penjelasan dari teman-temanku.


Warung Mbok Iin letaknya ada di belakang SMAN Purwokerto, di Utara bengkel motor. Bangunannya kebanyakan berasal dari kayu yang sudah lapuk dimakan rayap, temboknya masih tabag. Keduanya ga pernah dicat, ga tahu kenapa. Atapnya dari genteng yang udah lama, lantainya juga masih tanah. Mirip kayak rumah-rumah model zaman doeloe.


Kalau jam-jam istirahat atau makan siang, pasti bakalan ramai pengunjung. Padahal Bu Iin, pemiliknya, cuma nyediain masakan rumah biasa dan ga enak-enak amat.


Ada juga desas-desus, kalau pengunjungnya ramai buat dekatin Bu Iin, karena dia memang janda. Tapi, kalau anak-anak SMA, makan di sana biar bisa nongkrong sama ngerokok, dan mungkin hal lainnya.


Di depan dan samping kanan warung itu terdapat halaman kurang lebih 2 sampai 3 meter, dipagar keliling sama tembok. Biasanya dipakai siswa buat nongkrong, dan halamannya buat parkir motor.


Tahun 2015, waktu aku coba mengeceknya, warung Mbok Iin kata orang-orang sudah ditutup, karena Bu Iin sudah diboyong suaminya untuk pindah ke Semarang. Katanya, Bu Iin nikah sama Mamang Budi, satpam sekolah.

__ADS_1


 


Sekarang warung Mbok Iin sudah disulap menjadi warung baso yang sangat nyaman dan ramai pengunjung sebagai gantinya.


🌹🌹🌹


iii


Kembali ke cerita, waktu aku lagi ngobrol sama Ateg, Gyan, Kelvin, dan Arya di kantin, mendadak Gilang datang ke kantin. Tidak biasanya.


Kamu bisa membayangkan bagaimana perasaanku waktu itu? Aku sangat kesulitan mengungkapkannya. Pokoknya, yang aku tahu, aku salah tingkah.


Terlebih apa yang dia katakan tadi pagi di kelas. Sungguh, aku makin malu dibuatnya. Dan memang, aku kembali merubah gaya rambutku seperti hari-hari biasa.


“Lutfi,” sapanya.


 


“Ya, Gilang.” kataku.


“Ga biasanya kamu ke kantin?” tanya Ateg.


“Nyari orang.”


“Siapa?” tanyaku penasaran.


Dia menatapku tajam, terus ngomong: “Kamu,”


Aku senyum. Terus ingat masalah tadi, aku langsung nanya. “Gilang, kamu sering ke warung Mbok Iin, di belakang sekolah?”


“Iya,”


Jadi benar, hatiku berkata.


“Kenapa?” Dia nanya.


Agak ragu, tapi akhirnya aku nanya juga. “Kamu ngapain ke sana?”


“Makan,”


Aduh! Aku lupa kalau Gilang bakal jawab gitu. “Maksudnya selain itu, ngapain?”


“Nemenin Mamang Budi,”


“Ngapain?”


“Makan,” jawabnya datar.


Ih sebel! Iya, maksudnya selain ituuuuuu. Ngeselin deh.


“Oh, Mamang Budi suka makan di sana, lagi PDKT juga.”


“Sama siapa?”


“Yang punya warung.”


“Bu Iin?”


“Ga tahu namanya.” jawabnya santai.


Aku sangat lega mendengarnya. Jadi sudah terbukti, kalau Gilang ke warung Mbok Iin gara-gara Pak satpam yang minta makan di sana, bukan kemauan dia sendiri. Aku juga yakin, Gilang ga bakal macem-macem kalau pergi sama Mamang Budi.


“Tunggu-tunggu, Mamang Budi itu siapa?” Gyan mendadak ikutan nanya.


“Satpam sekolah.” jawab Gilang.


“Kamu makan bareng sama Pak satpam?!” Gyan nanya agak bentak juga. Pasti karena kaget.


Aku juga lihat teman-teman yang lain pada kaget. Tapi Ateg engga, dia cuma senyum-senyum sendiri dan fokus makan.


“Iya.” Gilang menjawab dengan polosnya, lalu memandangku. “Lutfi,”


“Iya.”


Dia senyum. Kulihat bola matanya bergerak ke bagian kepalaku. Seakan menunjukan sesuatu yang berbeda padaku.


Aku tertunduk malu. Lagi-lagi cuma Gilang yang sadar, kalau aku ngubah gaya rambutku, dan cuma dia yang sadar. Lalu Gilang melangkah pergi.


“Eh, kamu mau ke mana?” Aku nanya.


Dia berhenti terus ngadep aku. “Ke kelas.”


“Kenapa?” tanyaku lagi.


“Tidur,”


“Kok tidur terus?”


“Soalnya ga ngapa-ngapain.”


“Ikut makan aja, sini.” Ateg mendadak menawarkan.


Gilang menggeleng. “Ga, makasih. Nanti ada yang cemburu.” Terus pergi gitu aja.


Nanti ada yang cemburu? Siapa yang cemburu? Cemburu ke siapa? Aku cuma nanya sendiri.


Menyapu pandang, dan aku melihat Kelvin sedikit bertingkah aneh, entah kenapa. Dia melengos sambil makan dengan muka ketus.

__ADS_1


Apa maksud Gilang itu, Kelvin?


🌹🌹🌹


iv


Bubar sekolah, aku melangkah bersama Kelvin yang kebetulan satu arah denganku. Katanya mau ada urusan di Masjid Agung sama Arya, tapi Aryanya ga tau ke mana.


“Kamu selalu pulang sendiri, apa?”


“Iya.”


“Kalau ke rumah, juga sendiri?”


“Iya.”


“Takut?”


“Kadang.”


Aduh, ga tahu kenapa rasanya aku ingin cepat-cepat sampai kost sebelum Gilang melihat semua ini. Karena tadi pas sebelum jam pelajaran terakhir dia bilang: “Tadinya aku mau ngajak kamu pulang pakai sepeda.”


“Ga usah.” kujawab.


“Tapi ga jadi.” kata Gilang. “Aku tahu, kamu bakal jawab gitu.”


Aku senyum mendengarnya. Kulihat dia juga senyum.


“Gimana kalau pulang bareng?”


“Ga usah.”


“Tapi kan searah.”


“Aku lagi mau pulang sendirian.”


“Oh, gitu. Oke,”


“Iya.” jawabku.


Kalau harus jujur, sebetulnya aku bisa saja menerima ajakan Gilang untuk pulang naik sepeda berdua dengannya, atau pulang bersama, tapi aku merasa belum waktunya. Benar-benar itu lebih karena aku tidak ingin terlihat lebih dekat dengannya, dan aku tidak tahu kenapa. Semoga saja dia tidak kecewa dan akhirnya menyerah.


Gilang diam, tapi masih memandangku.


Karena risih, aku nanya: “Kenapa?”


Dia menggeleng. Masih senyum, dan masih melototiku.


Aku menghembus napas. “Udah, ngomong aja.”


Gilang membenarkan posisi duduknya kemudian merapikan seragam. “Baik, aku ngomong.”


“Iya.” jawabku gerogi.


Dia diam cukup lama, bikin aku makin ga sabar.


“Hati-hati.”


“Hah?”


“Iya, hati-hati di jalan.”


“Oh, i-iya.” jawabku rada kecewa. Aku kira ada hal penting yang mau dia ungkapin, eh ternyata engga. Aku melengos, melupakan hal itu dan mencoba memerhatikan pelajaran yang akan dimulai.


🌹🌹🌹


v


Hampir sampai pertigaan, mataku masih mengawasi sekeliling, berharap Gilang tidak melihatku yang sedang berjalan berdua dengan Kelvin. Aku yakin, kalau Gilang melihat aku bersamanya saat itu, pastilah dia salah paham. Atau tidak?


“Jadi kami bakal bahas buat kegiatan bakti sosial hari minggu besok, kamu mau ikut?”


“Hmmm.... ga tau deh.” jawabku. Sebenarnya dari awal aku tidak begitu mendengar penjelasan Kelvin soal ini itu, aku terlalu cemas kalau-kalau Gilang lihat aku jalan bareng sama Kelvin.


Ini bukan aku sengaja buat jalan sama dia. Aku bahkan sudah membuat berbagai alasan agar menolak berjalan dengannya. Tapi Kelvin memaksa, bahkan mau menungguku duduk di halte hingga setengah jam, mampir ke fotocopy-an seberang cuma buat bikin dia nyerah, terus balik lagi ke sekolah buat masuk WC, dia masih juga menungguku. Membuatku menyerah.


 


Ketika akhirnya kami melewati pertigaan yang sebelumnya aku berpisah dengan Gilang. Hatiku hampir berteriak kegirangan karena Gilang tidak melihat semua kejadian barusan.


Kelvin pamit dan memasuki masjid, sedang aku terus melangkah seorang diri dengan kecemasan yang mulai memudar.


🌹🌹🌹


vi


Sampai kost, kurebahkan diriku di kasur, membayangkan bagaimana tadi Gilang kecewa setelah melihatku pergi bersama Kelvin, padahal aku melarang dia untuk pulang bareng sama aku.


Pasti dia kecewa karena merasa aku lebih memilih Kelvin daripada dia, karena siapapun dirinya adalah manusia yang hatinya gampang terluka.


Sekarang, semuanya sudah terjadi, tak ada lagi yang perlu kusesali. Tapi aku harus tetap ngomong sama Gilang besok, menjelaskan semuanya. Memberi alasan logis kenapa akhirnya aku pulang bersama Kelvin. Mudah-mudahan dia mengerti, jika tidak, aku pasrah. Terserah Gilang mau bagaimana. Lagian aku dan dia cuma teman.


Kulihat dari jendela, langit sedang mendung, seolah itu aku yang sendiri di kamar dan bimbang. Aku bingung dengan diriku. Gilang bukan siapa-siapaku, dia cuma temanku, tapi kenapa aku sangat menyesal begini?


Rasanya sangat sesak, hingga membuat air mataku mengalir begitu saja.


Sungguh, kalau bisa, aku ingin langit ambruk dan menimpaku sedalam-dalamnya. Namun masih memberikan celah agar aku bisa bilang: “Gilang, maaf sudah menolak ajakanmu, aku menyesal.”

__ADS_1


__ADS_2