Lutfi Gilang

Lutfi Gilang
24. Terlahir Kembali


__ADS_3

i


Selepas makan dan kembali bercerita sebentar, Gilang mengajak kami untuk shalat berjamaah di kamar yang memang kosong. Kata Gilang, kalau aku mau menginap, aku bisa tidur di kamarnya, sedang dia tidur di kamar kosong itu. Mumpung kamarnya sudah dibereskan juga.


Tapi aku menolak, aku tidak punya alasan untuk tidur di rumahnya. Terlebih, karena masih awal aku dan keluarga saling mengenalkan diri.


Sebelum shalat, Gilang juga iqomah terlebih dulu. Suaranya persis kayak yang aku dengar pas di sekolah, bahkan saat dia mengimami kami berempat—aku, Mamah, dan Gading—suaranya sangat mirip dengan suara yang mengimami waktu shalat Ashar di sekolah.


Ah, aku senang. Gilang memang unik, dia memiliki cara pandang yang berbeda kepada kehidupan, mengambil makna besar dari sebuah hal kecil, dia juga memang pintar, bukan sekadar tentang hal menulis, tapi dalam pendidikan. Terlebih, sewaktu dia iqomah dan menjadi imam, suaranya sungguh menentramkan hatiku.


Dari Gilang, aku juga sadar, bahwa rasa tidak boleh dipaksakan, itu kenapa sewaktu dia mengira aku telah berpacaran dengan Kelvin untuk alasan tertentu, padahal kenyataannya tidak, dia mendukungku, bahkan mencoba membantuku menjalin hubungan itu dengan meminta bantuan ketua OSIS agar tidak ada yang mengganggu hubungan kami.


Kuberitahu sekali lagi, nyatanya, tidak ada apapun antara aku dan Kelvin.


Tapi, aku tidak seperti Gilang, yang bisa bahagia melihat orang yang dicintainya bahagia dengan pilihan-nya.


Aku sekarang dengan Gilang, dan dia kini dengan aku, jadi, mau tidak mau, entah hubungan apa ini namanya, aku akan terus berusaha agar tidak kehilangan dia.


Aku tidak mau, kehilangan dia yang sangat mudah membuatku tertawa, membuatku merasa nyaman, memberikan banyak hal unik dan mengejutkan, membuatku, ‘terlahir kembali’.


🌹🌹🌹


ii


Sekitar jam 13:46 WIB, Mamah mengajakku untuk masuk ke kamarnya. Di sana aku disuruh memilih-milih baju yang kusuka, sungguh aku tidak mengerti apa alasannya, tapi aku sangat senang.


Akhirnya, setelah sekian banyak mencoba, aku memilih baju tunik warna merah, yang ternyata memiliki pasangannya, dan itu Gilang yang makai.


Ah, aku makin merasa kalau Mamah sudah sangat ingin aku segera menikah dengan Gilang. Aku harap begitu. He he he.


Aku memang ga suka pacaran. Hubungan ga jelas, cuma bikin sakit terus.


Sewaktu SMP, aku berkali-kali dipaksa pacaran oleh beberapa laki, ketika aku menyerah dan mau berpacaran dengannya, eh, tahu-tahu aku diputusin gitu aja. Sungguh kurang ajar.

__ADS_1


Belum itu, mantan mereka sering melabrakku dengan alasan aku membuat hubungan mereka putus. Padahal pas mereka putus, aku belum kenal sama cowonya.


Jadi, aku sangat berharap, nanti, atau entah kapan, Gilang mengungkapkan segala rasanya dengan lebih serius dari saat dia memberi pesan penting lewat telpon, serta mengklaim diriku sebagai pasangannya yang memiliki hubungan lebih kuat dari sekadar pacaran.


Selesai memilih baju, dan membereskannya ke dalam keresek, aku pamit dan kembali memeluk Mamah.


Ah, rasanya aku bakal rindu dengan beliau.


Kemudian menaiki motor Gilang, dengan tentenganku yang disimpan di bagian depan, khas motor matic—sebelumnya keresek hasil belanja kami juga Gilang taruh di sana. Katanya, Gilang ga mau lihat aku susah, dia pengin setelah sama dia, aku jadi bahagia terus setiap saat.


Gombal, yah?


Ketika kupandang wajahnya, memang dia tampak serius.


🌹🌹🌹


iii


Kami tiba di Purwokerto sewaktu Ashar. Gilang memarkirkan motornya di halaman masjid dekat kostku, katanya mumpung sempat, shalat jamaah di Masjid Agung bersama dengan calon istri, siapa tahu, tujuh tahun nanti, setelah lulus kuliah bisa kehilangan kata calonnya.


Oya, sebelumnya, ketika di perjalanan, aku sungguh senang karena Gilang banyak cerita soal kegemarnanya menulis. Padahal, kata Gilang, awalnya dia cuma iseng karena ga mau kalah sama novel Winnetou karya Karl May, akhirnya jadi ketagihan, deh.


Dia juga bilang, pas pertama, belajarnya bikin cerpen, teman-teman SD dan SMP-nya pada suka. Terus pada minta dibikinin dengan membayar komisi yang setara bagi mereka. Gilang ga pernah netapin harga karyanya, tapi temannya yang langsung ngasih setelah baca habis pesanan mereka.


Gilang juga cerita soal mantan-mantannya, ada tiga mantan, coba bayangin gimana kaget dan sakitnya hati ini?


Tapi, dia jelasin, kalau Gilang belum pernah lebih cinta daripada cintanya ke aku.


Pokoknya banyak yang dia ceritain ke aku, dan aku juga langsung cerita serupa setelah Gilang selesai dan nanya: “Kalau kamu, gimana?”


Khas Gilang itu.


🌹🌹🌹

__ADS_1


iv


Selepas shalat, Gilang mengantarku pulang ke kost. Katanya, takut aku cape dan siapa tahu mau mandi sore terus ganti pakaian. Baru nanti malam, dia ngajak aku kencan ke alun-alun Purwokerto, itu pun kalau aku mau.


Kamu tahu aku jawab apa? Engga! Ha ha ha.


Bukan berarti aku menolak ajakan Gilang. Aku bilang padanya kalau sudah cukup untuk hari ini, kamu pasti lelah karena motoran bolak-balik lebih dari dua jam. Aku juga minta Gilang buat belajar, biar bisa menyelesaikan masalahnya besok di sekolah.


Aku ga mau, senang-senang membuat urusan sekolah terbengkalai. Aku juga mau sekolah dengan benar, karena orang tua membiayaiku untuk menuntut ilmu bukan terus jalan sama Gilang. Terlebih, aku tidak ingin, Gilang sampai dikeluarkan dari sekolah karena dituduh curang sewaktu ujian.


Aku bisa gila, kalau sampai hal itu terjadi.


Sebenarnya, aku juga ingin Gilang berjuang lebih daripada sekarang. Aku tidak mau terkesan seperti, dia mendapatku dengan sangat mudah, jadi nantinya dia juga buang aku begitu mudahnya. Ga mau! Aku tidak mau itu terjadi!


Dan sepertinya Gilang memang tampak bersemangat meski aku tahu dia sedikit kecewa karena aku menolak untuk pergi dengannya nanti malam, karena dia bilang: “Besok, semua keresahanmu akan berakhir.” Kemudian berlalu bersama motornya setelah aku mengembalikan ponselnya.


🌹🌹🌹


v


Di kamar, aku langsung merebahkan diri di atas kasur, seakan tidak ingin lepas dari nuansa bersama Gilang. Kuputar ulang kembali rekaman sebelumnya sambil senyum-senyum sendiri. Untung saja saat itu anak-anak kost lain lagi pada mudik, jadi ga ganggu lagi kayak tadi pagi pas Gilang udah standby nungguin aku. Dan untungnya lagi, ibu kost baru aja keluar, entah ngapain, jadi aku ga ditanya-tanya, deh. Meski sebenarnya aku tidak sabar ingin segera cerita ke Ateg, besok kali, di sekolah.


Entah berapa lama aku menikmati nuansa itu, hingga akhirnya aku bangkit dan mengambil bingkisan yang diberi Mamah sebelumnya.


Aku kaget setelah tahu ada sebuah syal putih di dalam sebuah kotak berwarna cokelat gerdus, yang aku yakin ini pasti milik Gilang. Di dalamnya juga ada surat. Langsung saja kubaca:


“Buat Lutfi idolaku. Sebelumnya aku mau ngomong, aku nulis surat ini, di malam setelah aku nelpon kamu. Maaf buatmu khawatir, meski sebenarnya aku senang. Jujur, aku bingung harus ngasih apa sebagai hadiah kedatanganmu. Jadi, aku beri benda yang paling berharga dalam hidupku. Kalau kamu mau tahu ceritanya, aku bakal dongengin kamu lagi. —Gilang.”


Aku sangat senang mendapatkan semua itu. Apalagi, Gilang memberiku benda yang baginya istimewa. Sungguh, makin membuatku jauh merasa lebih istimewa lagi.


Kuambil syal itu, lalu kucium. Ah, khas bau Gilang. Aku suka.


Tapi aku berniat malam nanti, Gilang tidur gasik, biar besok ga ketiduran sewaktu ujian ulang.

__ADS_1


Semangat Gilang, doaku menyertaimu. Aku juga sayang kamu. He he he.


__ADS_2