Lutfi Gilang

Lutfi Gilang
8. Filosofi Kopi


__ADS_3

Esoknya. Sewaktu tempo sarapan tiba, seperti kemarin, kami duduk berhadapan di meja ujung. Tapi, selama menyantap makanan aku tahu kalau Kusnadi berulang kali menyapu pendangannya ke sekumpulan narapida. Barang kali dia sedang mencari tahanan lain yang kemarin membantunya, yang baginya orang baik, yang katanya bernama Jupri.


Dan hipotesisku terbukti setelah Si Tahanan Baru menanyainya secara langsung. "Apa yang kau cari, Kakek?"


"Tidak ada," jawab pria tua dengan mata yang tetap tak bisa diam.


"Kau nyari Jupri?" Jaja kembali bertanya.


Kusnadi tersedak makanan, lalu cepat-cepat meraih minumannya. "Untuk apa aku mencarinya, Bung?"


"Memang kau punya kawan selain kami?"


"Mana ada kriminal yang mau ngobrol dengan mantan pejuang sepertiku?" Pria tua balik bertanya pada Si Tahanan Baru.


"Pejuang yang berakhir jadi kriminal?" Aku ikut menyambung.


"Tch! Itu tuduhan, Bung!" geram Kusnadi. "Bung sudah tau sendiri."


Aku tergelitik dan melanjutkan sarapanku.


"Jadi, apa yang kau cari, Kakek?" tanya Jaja.


"Hmmm...." gumam pria tua. "aku ingin segera tau siapa saja orang-orang yang dibayar Kusnandar,"


Aku terkekeh. "Rupanya dia sudah pandai beralasan." ucap batinku. Tapi akhirnya kutanyakan juga. "Apa untungnya bagimu?"


"Kau mau gebukin mereka?" Si Tahanan Baru ikut menyambung.


"Sialan! Aku memang sangat ingin menghantam mereka, Bung!" tegas Kusnadi. "Tapi aku lebih ingin memukuli adikku yang brengsek itu."


"Aku tau kau marah padanya, apalagi dengan kondisimu sekarang. Jelas saja kau tidak terima. Tapi, menjadi emosional itu tidak baik, Kakek." terang Jaja berargumen.


"Jangan mengguruiku, Pram." tanggap pria tua bernada tinggi. "Memang apa yang Bung tau?!"


"Apa kau masih tidak terima uangmu kuambil?" Aku angkat bicara tepat saat Si Tahanan Baru mau menggerakkan mulutnya.


"Tentu saja aku tidak terima!" seru Kusnadi. "Aku jadi tidak bisa beli kopi,"


"Ternyata itu yang membuatmu jadi lebih emosional, Kakek?" tanya Jaja.


"Jadi, kau suka ngopi?" Aku ikut menyambung.


"Jelas saja aku sangat suka ngopi!" seru Kusnadi.


"Apa napi lain juga suka ngopi sepertimu?" tanyaku lagi.


"Tentu saja suka!" Pria tua berteriak. "Itu sudah seperti anak Istri bagi mereka. Setiap pria memang sudah sepatutnya suka ngopi."


"Aku setuju denganmu, Kakek." tanggap Si Tahanan Baru.


"Hmmm...." gumamku. "aku tidak suka ngopi."


"Kau harus ngopi, Bung! 'Kau takkan tau pahitnya hidup, kalau tidak bisa mengerti seberapa nikmat pahitnya kopi.'" ucap Kusnadi.


"Aku cukup kagum dengan bahasamu itu, pria tua." kataku. "Apa kau pernah jadi penyair, dulu?"


"Jangan meledeknya, Detektif." serobot Jaja. "Tidak baik mengejek orang tua,"


Aku tersungging bibir mendengarnya. Dia sendiri ikut mencemeeh pria tua.


"Apa aku memang sudah setua itu?" tanya Kusnadi yang makin membuat kami terbahak.


Seketika tatapan kedua pria di hadapanku berubah serius, tanda ada hal buruk yang menghampiri kami. "Kau bakal melindungi kami, kan, Detektif?"


"Aku sudah membayarmu tadi malam, Bung." saut pria tua menyambung pertanyaan Si Tahanan Baru.


"Siapa orang itu?" tanyaku menebak seseorang yang melangkah ke mari.


"Jashon Silver, dia bawahan Mabonk. Kudengar dia pernah ikut acara gulat di TV." bisik Kusnadi menjawab pertanyaanku.

__ADS_1


"Kenapa orang itu dipenjara?"


"Kasus narkoba. Tak ada lawan tanding, karena terlalu sering menang." Jaja menjelaskan. "Beberapa pegulat pro bilang, dia ga bisa kalah."


"Itu kabar buruk, bukan?" tanyaku.


"Aku akan membantumu, Detektif." ujar Si Tahanan Baru mencoba membuatku tenang.


"Sembilan-lapan-nam," sapa suara pria serak yang kemudian kutahu itu milik Jashon. "ikut aku!" perintahnya.


Tidak kutanggapi, masih menyantap makananku.


"Kau dengar aku?!" Pria itu bertanya sedikit berteriak.


"Jawab dia, Bung." pinta Kusnadi, tapi tetap kuacuhkan.


Seketika tangan besar miliknya menggenggam pundak kananku. "Kau punya masalah denganku?" Aku bertanya.


"Ha ha ha.... bagaimanapun, kau harus ikut aku!" bentak Jashon.


Aku meneguk minumanku. "Sudah kubilang, jangan ganggu aku."


"Kau pikir, aku bakal takut dengan bocah sepertimu?!" Pria itu menariku seakan mengambil jemuran kering, lalu melemparkannya ke dalam ember.


Aku menghembus napas, membenarkan pakaianku. Mencoba tenang dan berusaha menyembunyikan keterkejutan akan kekuatannya.


Dia memiliki badan yang besar dan berotot dengan tinggi mungkin mencapai 2 meter, bisa jadi bobotnya 80 kg atau bahkan lebih. Wajah persegi, potongan rambut cepak, dan tatapan mata tajam; khas pegulat profesional. Entahlah, satu yang pasti, Jashon Silver keturunan orang Barat. Itu yang bisa kupastikan dari muka dan warna bola matanya. Kalau benar aku harus melawannya, pasti aku akan sangat tidak diuntungkan.


Seketika para napi telah mengerubungi kami, seakan membuat pembatas untuk aku dan pria besar itu.


Dengan langkah lebar, Jashon mendekat lalu kembali menjegal pundak kananku. "Kau ikut aku, atau mau kupatahkan hidungmu?!" ancamnya.


"Coba saja," Aku jawab.


Tangan kanan pria itu mengepal, mulai mengambil ancang-ancang, dan sewaktu dia menggerakkan bogemnya ke arah wajahku, aku sedikit menggerakkan pundak kanan, membuat dia kehilangan keseimbangan dan melesetkan serangannya. Seiring dengan itu, sorakan para napi menggelegar. Aku juga sempat melihat para penjaga di belakang mereka bersama senjata panjangnya, mengawasi kami barang kali perkelahian berujung luka serius.


"Harusnya, mereka hentikan ini sekarang juga." keluhku.


Sayangnya itu tidak mengenaiku. Aku berhasil mengelak dan menangkapnya. Memaksa dia terjungkal setelah aku melempar kakinya ke atas. Sewaktu Jashon hendak bangkit, aku memanfaatkan momentum tersebut untuk menendang telak wajahnya hingga kepalanya menubruk tembok, lalu menginjaknya keras supaya menghantap lantai dan membuatnya pingsan seketika. Sekali, dua kali, tiga kali, dan berulang kali hingga darah merembes keluar dan menggenang di lantai tempat makan. Menjadi kebalikan tentang apa yang orang itu bilang sebelumnya. Sekarang, hidung dia yang patah.


Satu pelajaran bagus, jika kau merasa tidak diuntungkan dengan kondisi fisik dan tenagamu, pastikan kau membuat lawanmu pingsan dengan serangkaian serangan cepat yang mematikan. Dan hal itulah yang baru saja kulakukan. Aku beruntung mengalahkan Jashon dengan membuatnya pingsan pada serangan kedua. Kalau saja pertarungan itu berlangsung lebih lama, tentu saja aku kurang diuntungkan. Karena bagaimanapun otot yang terlatih sudah terbiasa menerima serangan cepat dengan dampak tak seberapa.


Dari bisingnya sorakan para napi, aku mendengar suara tepuk tangan. Makin jelas setelah teriakan mereda. Kulihat ke arah pemiliknya, dia Kepala Penjaga. "Sembilan-lapan-nam!" serunya memanggilku. "Kau punya pengunjung,"


Aku terkejut. "Siapa yang mengunjungiku? Dan apa dia tidak melihat perkelahian tadi? Bukannya ada penjaga yang melihatnya? Apa mereka tidak akan memberiku hukuman? Atau nanti?" Hatiku bertanya-tanya sendiri.


🚢🚢🚢


Sampai di ruang kunjungan, dengan jeruji besi sebagai penghalang antar wajah, dan tembok beton pada pondasinya. Aku terkejut melihat seorang pria yang duduk di depan sana.


"Dimas," sapaku lalu duduk di hadapannya.


"Ma-Mas Gilang," jawabnya.


"Ada urusan apa ke sini?" tanyaku.


"Yah.... a-anu Mas, ... aku mau minta maaf."


Aku diam, membiarkan Dimas melanjutkan kalimatnya.


"Maaf karena waktu itu, aku malah ga percaya sama penjelasan Mas Gilang."


"Hmmm...." Anggukku.


"Clara udah jelasin semuanya ke aku Mas, kalo Adit cuma salah paham soal Mas Gilang selingkuh sama dia."


Aku mengiyakan dengan isyarat.


"Jadi gini Mas, sebelumnya, selain soal Mas Gilang selingkuh sama Clara yang kenyatanya cuma salah paham. Aku marah, juga gara-gara Clara tunangan sahabat aku Mas." Dimas menjelaskan. "Waktu itu, aku beneran marah karena taunya Mas Gilang ngrebut Clara, padahal Mas Gilang sendiri udah punya Mba Lutfi. Meski emang Mba Lutfinya lagi ga tau ke mana." tambahnya.

__ADS_1


Kepalaku turun naik demi menjawabinya.


"Semoga gara-gara itu Mas Gilang ga dendam sama aku," harapnya.


Aku menggeleng.


"Syukurlah.... oh, ya! Clara nitip pesan ke aku Mas, dia minta maaf sama Mas Gilang karena udah bikin masalah kayak gini."


Aku ngangguk lalu berkata: "Bukan gara-gara itu aku dipenjara,"


Kulihat Dimas terkejut. "Terus gara-gara apa, Mas?"


"Masalah kerjaan."


"Oooh...."


"Kau bawa uang cash?" Aku nanya.


Dimas kembali kaget. "Bawa, kenapa Mas?"


"Aku minta, seratus delapan puluh lima ribu."


"Loh, Mas Gilang malak aku?!" Dimas nanya sedikit berseru.


Aku mendengus. "Tunangan sahabatmu itu belum bayar pesanannya di cafenya Adit,"


"Oooh.... gitu. Jadi Mas Gilang yang disuruh bayar?" tanya Dimas.


Aku ngangguk. "Udah sini, nanti kamu minta sama sahabatmu aja langsung."


Dia ngangguk. Meraih dompet dari saku celananya. Lalu memberiku tiga lembar uang seratusan.


"Kelebihan ini," kataku.


"Ambil aja, Mas."


Aku menyeringai. "Makasih," Lalu menyimpannya.


Seketika terdengar suara besi bergetar setelah dipentung oleh penjaga, tanda waktu bercengkerama dengan teman lama telah habis.


"Dim, kau harus bantu aku beresin kesalahpahaman itu." pintaku.


"Aku janji, Mas." jawabnya dengan anggukan kepala.


🚢🚢🚢


Tiba di kamar huni.


"Mana dia?" tanyaku pada Kusnadi setelah duduk di ranjangku.


Pria tua menganggak bahu. "Mana kutahu?! Dia menghilang setelah jam sarapan tadi."


"Oh,"


"Siapa yang mengunjungimu, Bung?" Kusnadi bertanya.


Aku menyungging bibir. "Nih," ucapku seraya melempar uang miliknya.


"Baru semalam, kenapa dikembalikan?" tanya pria tua setelah menerima uang cebannya.


"Jaja sudah bayar setengah janjinya,"


"Itu kabar bagus!" seru Kusnadi.


"Oh, ya." Aku kembali melempar uang kepadanya, kini selembar uang ratusan ribu.


"Untuk apa ini, Bung?"


"Beli kopi, aku butuh benda itu untuk acara nanti malam."

__ADS_1


"Boleh kuminta beberapa?"


Aku menyetujuinya dengan anggukan.


__ADS_2