
i
Kereta baru saja menghentikan lajunya di stasiun. Pintu terbuka bergiliran. Kemudian orang-orang berhamburan keluar masuk.
Aku baru saja bangkit dan meletakkan si anak di kursi. Mengambil ranselku dari bagasi atas. Kemudian melangkah pergi.
"Tunggu, Bisa tolong panggilkan tukang panggul?" pintanya.
"Tukang panggul?" Aku bertanya-tanya sendiri tapi tidak bersuara. Hanya membuat ekspresi bingung.
Dia terkekeh sambil menggaruk kepala. "Yah.... bawaanku banyak."
Aku mengalihkan pandang, melihat ke orang lain. Menunjukkan kalau diriku sedang berusaha menolak permintaannya yang sangat merepotkan.
"Aku mohon," pintanya lagi memaksa. Namun, aku tetap mengalihkan pandanganku.
Dengan berat hati dan napas berat, aku mengangguk. Keluar kereta dan menyapu pandang. Mencari seorang pria berkaos oblong dan celana selutut.
Saat kutemukan, ternyata orang tersebut telah dipesan untuk membawa barang bawaan orang lain. Kucari lagi beberapa menit. Tapi kemudian bergegas kembali ke dalam kereta setelah mendengar pengumuman: "Diberitahukan kepada seluruh penumpang, bahwa kereta akan berangkat satu menit lagi...."
"Bagaimana?" Dia bertanya saat melihat aku.
Aku menggeleng.
"Yah.... aku harus gimana, ini?" tanyanya sambil menunjuk perlengkapannya. Dua buah koper, satu tas besar, dan tiga tas wanita yang telah dia gendong ditambah seorang balita yang tengah tertidur pulas.
Merasa bahwa tidak akan ada orang yang bakal membantunya, aku terpaksa menghampiri dia dengan menghembuskan napas beberapa kali. Berdoa kepada Tuhan, supaya kalau nanti secara tidak sengaja Lutfi melihatku, dia tidak salah paham seperi orang-orang yang naik satu gerbong denganku sebelumnya.
Kugendong tas ransel milikku di depan dada, dan miliknya di balik punggung, sambil menarik salah satu koper yang lebih besar.
"Makasih," katanya.
Aku ngangguk, memunggunginya.
🌹🌹🌹
ii
Setelah melalui kerumunan orang dan sampai di pinggir jalan raya, kami berulang kali memanggil taksi yang kebanyakan terlebih dulu direbut oleh penumpang lain.
"Aduh, ga kebagian." keluhnya.
Aku diam, kembali meninjau sekeliling. Berusaha mencari tumpangan. Aku harap, aku bisa menemukan taksi secepatnya biar aku bisa pisah dari wanita ini.
Ya, bagaimanapun aku tidak mungkin berlama-lama dengan wanita lain, karena aku sudah memiliki kekasih dan bahkan sudah bertunangan, meski tunanganku kini menghilang tanpa jejak. Tapi, jika kondisinya dibalik, tentu aku tidak rela jikalau Lutfi harus berlama-lama dengan pria lain.
"Coba aku pesan taksi online," katanya.
Aku mendengus. Kenapa juga ga dari tadi?! Ah.... Tapi aku tidak mengeluarkan kata apa pun. Tetap pada aksiku sebelumnya.
"Aduh, aku lupa isi paketan." tambahnya makin membuatku sebal. "Aduh, batrainya low." keluhnya beberapa menit kemudian. "Yah, yah, yah.... hp-nya mati."
Aku memandangnya geram.
__ADS_1
"Ma-maaf...." ucapnya sambil menyatukan kedua tangan ke depan wajah.
Aku kembali memunggunginya. Lalu melambai tangan ke arah sebuah minivan berwarna silver. Kemudian menghampirinya saat mobil berhenti di seberang jalan.
"Permisi," sapaku mencoba ramah.
"Iya," jawab si supir sambil menurunkan kaca mobilnya.
Mataku menjalar dengan cepat, melihat seluruh bagian mobil yang sedang kosong.
"Maaf Pak, boleh numpang ke—"
"Aduh, Mas.... saya lagi buru-buru." serobotnya.
"Kami bayar!" saut Sang Ibu cepat. Sangat cepat sampai aku tidak menyadari kedatangannya.
"Oooh.... kalau begitu, boleh." jawab si supir sambil menggosok kedua tangannya. Memencet tombol pada kemudi, dan menyilahkan kami masuk.
Aku menyimpan kedua ransel di bagasi mobil, dan dua koper pada jok belakang. Saat aku hendak masuk dan duduk di samping si supir, mendadak dia memprotes.
"Loh, masa suaminya di depan?" Si supir nanya.
"Suami?" Sang Ibu bertanya, seakan terkejut dengan pertanyaan itu.
Ah, aku sudah mengira kalau dia bakal bertanya demikian. Jadi aku tidak menanggapinya.
"Masnya duduk di belakang aja, jagain istri sama anak." kata si supir.
"Maaf, Pak. Dia bukan suami saya." jawab Sang Ibu mendahuluiku.
"Gilang," jawabku.
"Ooh.... sa-saya Edi. Edi Suparwoto," katanya memerkenalkan diri.
"Saya Risma, Pak. Dan ini anak saya Dimas." Sang Ibu menyaut.
"Tunggu, tunggu!" katanya melarangku duduk. "Saya bukan minta kenalan,"
"Terus, apa, Pak?" tanya Sang Ibu.
"Oke, yang ini Ibu Risma sama Dimas anaknya. Nah, sekarang, yang jadi masalah, Mas Gilang ini, siapanya Mba Risma? Jangan-jangan selingkuhannya, ya?"
Aku menghela napas mendengar tuduhannya yang sangat tidak masuk akal.
Sedangkan Sang Ibu menjawab dengan gagap. "Bu-bu.... bukan, pak. Iya ... bukan. Dia, dia, dia bukan se-selingkuhan saya, kok."
"Lah, kok Mbanya jadi gugup?" tanya si supir makin ragu untuk membantu kami. "Saya ga mau loh bantu pasangan yang ga jelas hubungannya kayak kalian."
Aku mendengar Risma meringis. Dan dari sudut mataku, aku bisa tahu kalau dia tengah kebingungan tentang bagaimana cara menjelaskan kepada si supir.
Aku menggeleng kepala, kemudian menatap tajam ke arah supir. Menunjukkannya kartu pengenalku.
Dia membacanya. "Danu Banu, penulis buku fiksi dan non-fiksi dari perusahaan 0000."
__ADS_1
Nama perusahaan sengaja aku sensor, supaya tidak mengurangi pencitraan perusahaan jika nantinya ada sesuatu yang tidak mengenakan dari tempatku bekerja.
"Oooh.... jadi Masnya yang nulis ini?" ujar si supir sambil menunjuk sebuah buku berjudul Muslimah Sejati.
Aku menyetujuinya dengan anggukan. Menahan rasa keterkejutanku.
"Coba, Pak, pinjem." kata Risma seakan telah akrab dengan si supir.
Pak Edi menyerahkan buku itu cuma-cuma kepada Sang Ibu.
"Oalah, ternyata saya ketemu sama penulisnya langsung. Seneng banget saya, Mas." ucapnya dengan nada yang memang terdengar sedang sangat bahagia. "Ayo Mas, masuk Mas." ajaknya. "Tapi nanti jangan lupa tanda tanganin buku saya, ya, Mas?" Dia meminta tanpa basa basi.
Aku ngangguk. Kembali menarik gagang pintu mobil depan.
"Jangan di depan, Mas. Tetep belakang." cegahnya.
Lah....
"Kalau di depan, saya takut. Ada trauma dibegal."
Bagiku, depan atau belakang, kalau emang niat begal, tetap aja ga ngaruh apa pun. Toh si begal pasti selalu membawa senjata tajam atau pistol, meski ga tau itu asli atau bohongan. Dan tentu saja aku tidak membawa alat semacam itu. Lagi pula, apa mukaku mirip kayak kriminal?
"Bapak pernah dibegal?" serobot Risma, tetap sibuk membaca isi buku, seakan telah mengenal Pak Edi cukup lama.
"Ya.... engga, sih...." jawab Pak Edi.
"Lah, gimana, sih Pak?" tanya Risma lagi tanpa mengalihkan pandangan.
"Kan sudah banyak kasus begal di berita-berita, Mba."
"Emang, di Jakarta masih ada, Pak?"
"Oalah, banyak banget Mba Risma. Udah kayak jadi begal semua malah." jelas si supir.
"Kalau gitu, harusnya kita yang orang biasa, yang begal mereka. Ha ha ha...." tawanya merekah di dalam mobil ber-AC.
Si supir juga ketawa. "Ha ha ha.... pengin banget Mba, kalau bisa."
Aku diam dalam batin yang menggebu. "Ini mau sampai kapan kalian ngobrol? Aku udah cape berdiri panasan terus."
Seakan mengetahui ketidakbetahanku, si supir kembali meminta aku untuk masuk ke dalam mobil. Tapi tetap di kursi belakang.
Aku mendengus, tapi akhirnya menurut juga. Kembali hatiku menggerutu ketidakberuntunganku hari ini, dan tetap berharap Lutfi akan memaafkanku meski aku tidak yakin akan hal itu.
Satu hal yang belum kujelaskan kepada kalian, aku terpaksa mengantar Sang Ibu sampai rumahnya karena barang bawaannya, dan karena uang di dompetnya hanya bersisa Rp. 29.000,-. Lebih daripada itu, ATM-nya hilang meski sudah mencari berulang kali di selipan tas.
Ah, aku benar-benar sebal terhadap keluarga Risma. Seorang anak yang mengakhiri mimpi indahku, menggangguku, mengaku-akui kalo aku Ayahnya sampai menyebarkan fitnah kepada para penumpang kereta api Purwokerto-Jakarta; belum lagi Ibunya—Risma, belum apa-apa sudah menuduhku penculik anak, merepotkanku dengan meminta dicarikan tukang panggul, merepotkanku dengan membawa barang bawaannya, dan kembali merepotkanku dengan harus mengantarnya sampai rumah.
Kalau saja masih ada Lutfi di sisiku, tentu saja aku bisa lolos dari jeratan merepotkan keluarga Risma. Maksudku, apa-apa yang dia butuh, bisa kuacuhkan karena aku harus lebih mengurusi Lutfi. Tentu saja Lutfi bisa pura-pura sakit atau ada urusan mendadak.
Tapi, keyakinanku menipis ketika mendengar lenguhan panjang si anak bernama Dimas.
Balita laki-laki itu juga bisa menyebabkan Lutfi kerepotan dengan menganggap dia adalah Ibunya. Belum lagi, kesukaan Lutfi terhadap anak kecil. Itu pasti akan sangat membuat dirinya betah lama-lama dengan si anak. Ditambah si anak yang tidak betah lama-lama dengan Sang Ibu.
__ADS_1
Ah, aku makin pusing memikirkan berbagai kondisi yang memungkinkan aku untuk bisa lepas dari jeratan menyusahkan keluarga Risma.
"Lutfi, tolong aku!"