Lutfi Gilang

Lutfi Gilang
13. Sambal Peningkat Harga


__ADS_3

i


Kami sampai di taman Balaikemambang setelah melaksanakan ibadah shalat Ashar di masjid dekat situ.


Setelah memarkirkan motor dan membayar uang parkir, lalu membeli tiket masuk, aku dan Lutfi mencari tempat duduk yang kosong.


Kami duduk berhadapan di kursi yang sama dengan pembatas sekotak sterofom. Kubuka benda itu, dan melepas ikatan plastik pembungkusnya. Lalu menyicip sesendok untuk memastikan kalau panasnya tidak akan membuat lidah Lutfi babakan. Memang, aku cukup tahan dengan makanan panas daripada manusia umum.


"Gimana?" Lutfi nanya.


"Udah ga panas kok. Coba," Aku jawab sambil menyuapinya, lalu ikutan balik nanya. "Gimana?"


"Aneh," katanya, lalu cepat-cepat mengambil minum.


"Aneh?" Kucicipi lagi. Sesendok, dua sendok, dan tiga sendok. "Aneh, gimana?"


"Rasanya, isiannya. Itu bukan cabe asli, ya?"


Kupandang ke arah seblak di tanganku. "Kayaknya iya, cabe bubuk mungkin."


"Yah.... ga suka."


Aku menggumam, mulai merasa bersalah. "Apa mau coba cekernya aja?"


Dia menggeleng. "Udahlah, buat kamu aja."


"Lah, kamu ga makan?"


"Ga, nanti beli mie ayam."


"Sekarang aja," ajakku berusaha menebus kesalahan.


"Nanti, abisin dulu." jawabnya.


"Yakin?" Aku bertanya memastikan.


Dia mengangguk.


Aku menurutinya dengan memakan seblak seorang diri. Ah, rasanya jadi sangat tidak enak. Mana mungkin aku bisa menikmati makanan sedangkan kekasihku sendiri tidak bisa menikmatinya, bukan?


Dan seiring aku menghabiskan seblak, sembari kami mengobrol banyak hal, ada yang aneh dengan Lutfi. Dia makin lemas, wajahnya berubah pucat, dan tangannya tidak juga beranjak dari perut.


"Kenapa?"


Dia menggeleng.


"Perutmu sakit?" tanyaku khawatir.


"Iya," jawabnya lemas.


"Kenapa?"


"Ga tau. Melilit," katanya sambil meremas perut.


Aku bisa tahu, apa yang dirasakan olehnya hanya dari melihat dia berekspresi atau berperilaku. Dan, aku yakin, rasa sakit pada perutnya dikarenakan seblak yang dia makan tadi.


"Kayaknya gara-gara makan seblak," ujar Lutfi menguatkan hipotesisku.


"Maaf," ucapku. Benar-benar menyesal telah memilih makanan ini untuknya.


"Iya ga papa. Aku juga minta maaf, kayaknya aku ga cocok sama seblak."


"Ya udah, ayo beli mie ayam." tawarku untuk menebus kesalahan.


"Kamu tenang aja, itu diabisin dulu."


Aku ngangguk dan cepat-cepat menghabiskan seblak.


Mulai saat itu, aku tidak lagi-lagi mengajaknya untuk makan seblak. Dan hal itu juga berlaku bagi pizza, atau burger, atau ramen, atau papeda, atau cilor, atau makanan aneh lainnya—yang dibuat dengan bumbu-bumbu kemasan.


🌹🌹🌹


ii

__ADS_1


Seperempat jam berlalu. Kami tiba di warung mie ayam langganan, warung seberang jalan SMAN Purwokerto. Seperti biasa, pelanggannya keluar masuk dengan stabil, jadi tidak terlalu pengap di dalam warung akibat kebanyakan orang. Seperti biasa juga, aku memesan dua porsi mie ayam, yang satu kuahnya banyak—buatku—dan yang lainnya diberi tambahan ceker—buat Lutfi, lalu segelas es jeruk—buat kami.


Tapi, kali ini, hari itu, ada yang berbeda dari Lutfi. Dia mengambil sambal lebih banyak dari biasanya. Sepuluh sendok!


"Ga kebanyakan itu?" Aku nanya setelah Lutfi mengaduk dan menyantap mie ayamnya.


"Masih kurang," Dia jawab.


"Hah?"


"Iya, masih kurang. Ambilin lagi, lah."


Aku mengangguk dengan perasaan bingung. Menuju meja yang penggunanya telah selesai memakan mie ayam yang mereka pesan. Kemudian kembali kepada Lutfi, dan menyerahkannya. "Nih, cuma sedikit tapi." kataku.


"Ga papa. Makasih, ya?" tanggapnya sambil menuangkan seluruh sambel itu ke mangkuknya. Lalu memakan mie ayam dengan sumpit. "Kamu mau coba?" tanyanya beberapa menit kemudian.


"Boleh,"


Aku langsung menyeruput es jeruk setelah Lutfi menyuapiku.


"Haaah.... pedes banget." keluhku.


"Engga, masih biasa." Lutfi menangkis, membuatku terkejut. "Mintain sambel, lah." pintanya sambil mendorong wadah hijau kecil itu ke arahku.


"Perutmu ga sakit emang? Itu beneran udah pedes banget." Aku mencoba menasehatinya.


"Ga sakit kalo makannya pedes. Udahlah, cepetan."


"Lah...." Aku benar-benar merasa ada yang berbeda dengan Lutfi hari ini.


Kuhampiri pemilik warung. "Pak, minta sambel." kataku sambil meletakan wadah itu di hadapannya.


"Oh iya," kata si pembuat mie ayam. "silahkan." ujarnya kemudian setelah mendorong sewadah sambal yang telah diisi penuh.


"Makasih, Pak." kataku.


"Sama-sama, Mas." katanya.


Aku kembali duduk di kursiku lalu menyerahkan benda itu kepada kekasihku.


Aku meneguk ludah, sangat yakin kalau manusia umum—aku juga—takkan sanggup menahan level pedasnya itu. Jika kalian menyangkalnya, kalian boleh mencoba sendiri, makan mie ayam dengan sambal sebanyak 20-30 sendok makan.


Oya, sambalnya bukan sembarang sambal, itu hasil dari cabai jenis cablak yang telah direbus lalu diblender dengan tambahan bawang putih dan sedikit air serta garam.


Jika nanti kalian telah mempraktikannya dan kalian masuk rumah sakit, jangan salahkan aku, salahkan diri kalian yang ngeyel—tidak percaya kalau Lutfi memang si Ratu Pedas.


Kami melanjutkan makan seperti biasa. Beberapa kali aku menyuapi Lutfi, dan dia bilang: "Manis," Beberapa kali Lutfi mau menyuapi aku, tapi langsung kutolak karena tidak berani menantang level pedasnya itu.


Selepas makan, minum, dan menunggu makanan turun dengan ngobrol banyak hal. Kami bangkit lalu membayar.


"Pak, bayar." kataku.


"Ya, Mas." katanya. "Pesan apa aja?"


"Mie ayam dua, ceker satu, es jeruk satu, sama tadi tambah krupuk satu." jelasku.


"Ceker satu, seribu; es jeruk satu, tiga ribu; krupuk satu, seribu; sama mie ayam dua, jadi semua.... tiga puluh tujuh ribu, Mas."


"Loh...." Aku terkejut, merasa kalau harganya tidak seperti biasa. "Kayaknya, kebanyakan loh, Pak."


"Itu sudah pas, Mas. Kayak biasa." jawab si penjual mie ayam.


"Mie ayam dua, kan, enam belas. Tambah lima, ya jadi dua satu harusnya."


Bapak si pembuat mie ayam menghembus napas. "Mie yang satu emang delapan ribu, nah.... yang satunya lagi dua puluh empat ribu."


"Hah?" Aku terkejut. "Kok bisa, jadi tiga kali lipat, Pak?"


"Lah, tadi Masnya ngabisin sambel di meja Mas, kan?"


Aku ngangguk.


"Terus minta sambel lagi ke meja sebelah, kan?"

__ADS_1


Aku mengiyakan.


"Terus minta sambel lagi ke sini, kan?"


Aku mulai memahami maksud yang dibilang si penjual mie ayam.


"Saya emang nyediain sambel buat pelanggan, Mas. Tapi ga diabisin semua kayak tadi. Sekarang cabe lagi naik, Mas."


"Ya udah, iya, Pak." Aku merogoh saku dan hanya ada uang total Rp. 32.000,-. "Maaf pak, kalo bayar pake ATM bisa ga, ya?" tanyaku.


Bapak itu ketawa. "Ini warung kecil, Mas. Jangan bercanda, lah."


Aku garuk kepala. "Sebentar, ya, Pak." Lalu keluar untuk menemui Lutfi.


"Kok, lama?" Dia nanya.


"Iya, abis diintrogasi." Aku jawab


"Loh, kenapa emang?"


Aku menghembus napas. "Uangnya kurang. Aku pinjem uangmu dulu, boleh."


"Berapa?"


"Lima ribu."


"Nih,"


Aku menerima uang itu. "Makasih. Bentar, ya?"


"Iya," Angguk Lutfi.


Aku kembali masuk warung mie ayam, lalu menyerahkan uangnya kepada si Bapak. "Coba Pak, diitung lagi. Siapa tau kurang."


Bapak itu mengikuti perintahku. Lalu memandang aku dengan senyuman. "Pas, Mas. Makasih, ya? Jangan kapok, datang lagi."


"Iya, Pak."


"Udah?" tanya Lutfi setelah aku keluar warung mie ayam.


Aku ngangguk.


"Abis berapa tadi?"


"Tiga puluh tujuh,"


"Loh, kok banyak?"


"Iya, bayar sambel juga."


"Hah?" Lutfi kaget lalu ketawa. "He he he.... maaf."


"Ga papa. Kamu emang doyan pedes, ya?" Aku nanya.


"Iya," Dia senyum.


"Perutnya udah ga sakit?" tanyaku bertambah khawatir, karena Lutfi sudah makan makanan yang tidak cocok untuk perutnya dan baru saja memberondong sambel banyak-banyak.


Lutfi menggeleng. "Udah engga. Emang, kalo lagi haid penginnya makan pedes terus."


"Hah? Kamu lagi haid?"


"Iya," Angguknya. "Makannya perutku sakit."


"Jadi, bukan gara-gara seblak?"


"Ya, itu juga. Tapi lebih ke haidnya, sih. Kenapa emang?"


Aku menggeleng. Bingung harus bilang apa.


🌹🌹🌹


iii

__ADS_1


Semenjak itu, aku sebisa mungkin menghindari segala makanan yang tidak cocok untuk lidah Lutfi. Sangat trauma kalau harus membayar ganti rugi mie ayam seharga tiga kali lipat.


__ADS_2