
Orang-orang di tempat fitnes membuat lingkaran pembatas, supaya di antara aku dan brewok tidak ada yang bisa kabur, selepas pria tanpa nomor tahanan menepuk tangan dua kali. Aku cukup kagum sebenarnya dengan tindakan mereka. Tampak mirip seperti adegan-adegan di film.
Salah seorang napi dari kerumunan sedikit maju lalu berkata: "Atos! Adu Jotos, lima pimpinan dengan perwakilan Slamet Gundul melawan sembilan-lapan-nam. Tidak akan berakhir kecuali ada yang menyerah, ada yang pingsan, atau ada yang mati."
Sekali lagi, mendengar kata 'mati' membuat nyaliku menciut. Karena bagaimanapun aku ini hanya seorang pria yang baru akan menginjak usia 23 tahun pada 23 Maret 2019 mendatang. Jadi, sudah sepatutnya aku sedikit tidak yakin jikalau harus melawan orang tua sepertinya. Apalagi setelah mendengar gelar orang itu yang sering membuat lawan-lawannya mati. Sungguh, rasanya aku ingin menyerah. Namun, tentu saja mustahil. Lagi pula, seorang pria tidak boleh menyerah sebelum berusaha, apalagi dalam peperangan. Jadi, mari kucoba lagi keberuntunganku hari ini.
Pria di depanku meruncingkan alis, lalu menyeringai. Aku bisa tahu, kalau dia sedang menikmati kegembiraannya melawan bocah sepertiku. Dan jika benar dia menyepelekan kekuatanku, aku mungkin bisa mendapatkan kesempatan untuk membuatnya pingsan. Barang kali. Semoga saja.
Aku memasang kuda-kuda kanan depan, posisi bertahan. Menunggu Slamet Gundul menyerang terlebih dulu. Semenit, lima menit, dia masih saja diam di tengah-tengah sorakan para napi, membikin degup jantungku menggebu. Aku memang tidak boleh menurunkan kewaspadaanku terhadapnya, bisa saja aku pingsan pada serangan pertama. Akhirnya, barang kali secepat kilat pria itu melancarkan tinju yang memaksa aku harus melompat mundur dengan kepala lebih condong ke belakang.
"He he," Pria itu tertawa girang dan kembali menyerangku.
Aku sama sekali tidak bisa mengelak ke samping untuk melakukan serangan balasan kendati pertarungan-pertarunganku sebelumnya, kali ini aku terus saja menjauh demi menghindari hujan pukulan Slamet Gundul.
"Maju kau pengecut!" Dia menggeram.
Diikuti teriakan para penonton yang intinya berkata sama. Menyuruhku supaya tidak hanya menghindar, tapi melakukan balasan. Namun tidak kuturuti. Aku lebih berfokus pada pertahanan untuk sekarang, berharap akan tiba waktu di mana pria itu lengah sehingga aku bisa mendaratkan tinju pada tubuhnya.
Entah berapa kali sudah aku memutari area pertandingan, dan masih belum menemukan kesempatanku untuk menyerang. Aku terkecoh dengan tinju palsunya, Slamet Gundul menendang betis kananku hingga membuat aku hilang keseimbangan lalu kembali meninju yang untungnya bisa kuhindari dengan memaksa tubuh ambruk dan mengubah alur serangannya menggunakan tangkisan dua tangan. Kemudian aku melakukan sapuan yang berhasil dia atasi, hanya sedikit mengangkat kaki kanannya. Selanjutnya pria itu sengaja berusaha menginjak kemaluanku, membuat aku mundur tergesa-gesa.
"Ha ha," tawanya kembali menggeleggar mengiringi sorakan para napi yang menjadi pembatas daerah pertempuran. "Ada apa bocah? Kau berkeringat sekali. Apa dadamu sesak? Apa napasmu berat? Apa kau lelah? Ha ha.... itu membuatku lebih mudah menghabisimu!"
"Kita lihat saja, jelek." jawabku mengejek dalam napas memburu. Memang apa yang dikatakan olehnya tidak salah. Dan tentu saja aku cepat merasakan lelah akibat aura darinya, dan cara dia berkelahi yang terbilang lebih mahir dariku. Pantas saja Slamet Gundul dijuluki brewok oleh pria tanpa nomor tahanan. Orang itu pastinya sudah sangat sering berkelahi, dan mungkin saja dia juga menikmatinya.
Aku lagi-lagi mundur untuk menghindari tinju Slamet Gundul, tapi tidak terlalu jauh daripada sebelumnya. Kali ini aku mencoba menyesuaikan ritme serangannya dengan menangkis, tapi tetap tidak mengalihkan pandangan pada kakinya. Barang kali dia akan menyerang kakiku lagi. Dan setelah dirasa cukup, aku memukul lekukan sikunya selepas mengelak dan menangkis. Butuh setidaknya tujuh kali sampai akhirnya pria itu berhenti menyeruduk tinju padaku.
Kini, Slamet Gundul diam, tangannya gemetar, kedua bola matanya natapku geram dengan gigi gemeletuk. Setelah itu memberondong berbagai tendangan ke arahku. Lebih cepat, dan lebih brutal.
Aku memanfaatkan itu untuk menghindar dan mendupak kaki yang dijadikan tumpuan. Sekali, dua kali, hingga dia terjatuh entah pada kali ke berapa.
Sorai-sorai penonton mendadak lenyap seketika. Kemudian beralih pada kebisingan akibat mereka saling bisik satu sama lain.
Jika telingaku tidak salah dengar, mereka bilang: "Gila! Aku baru lihat brewok kewalahan gitu, sampai jatuh pula."; "Apa brewok udah jadi cemen?"; "Bisa jadi, lawannya kan krempeng gitu."; dan sebagainya.
Dalam hati aku menolaknya. Lagi pula aku sangat keteteran menghadapi Slamet Gundul. Memang, para penonton hanya bisa berkomentar tanpa tahu seperti apa yang dirasakan orang-orang di arena pertandingan.
Pria itu bangkit dengan ekspresi yang sama seperti sebelumnya. Menekuk dan memanjangkan kedua lengannya lalu memijit lekukan siku selama beberapa saat. Sedangkan aku hanya diam, memberi dia waktu memulihkan diri. Bukan maksud aku menghina dia dengan memberinya kesempatan menyembuhkan luka-lukanya. Tidak. Tentu saja tidak. Aku hanya tidak suka bertanding melawan orang yang sudah tidak sanggup menyerang. Apalagi dalam pertarungan resmi seperti ini. Atos. Adu Jotos.
Dengan satu tarikan napas Slamet Gundul melompat lalu menubrukku. Menindihiku dan mengarahkan bogemnya ke arah wajahku. Aku berusaha menghindar dan menangkis, meski tinjunya tetap mengenaiku. Dalam waktu yang bersamaan, aku memaksakan diri melakukan pukulan ke arah mukanya. Dan itu masuk. Memaksa pria itu berhenti menyerang dan memegangi hidungnya yang berdarah. Aku memanfaatkannya dengan kembali menghantamnya, memaksa dia terjungkal sehingga aku bisa lolos dan bangkit sempurna.
__ADS_1
Aku mengatur ritme jantung di tengah sorakan para napi pembatas arena tanding. "Menyerahlah," ujarku meminta dia menghentikan pertarungan yang tidak berarti apa-apa ini.
"Kurang ajar kau bocah!" serunya. Dengan satu tangan pada wajah dia berdiri. Memasang posisi menyerang dan melangkah perlahan. Kemudian melancarkan kepalan tangannya yang berhasil kutepis dan kulakukan counter attack tepat ke arah mukanya. Sekali, dua kali, sampai akhirnya dia mundur dengan tubuh bergoyang bak pohon diterpa angin kencang.
Aku mendekat, memukulnya telak dua kali, lalu menjegal pundaknya dan menariknya kuat-kuat supaya menghantam lutut kananku membuat Slamet Gundul terhempas dan menubruk tanah. Sewaktu dia mencoba bangkit, aku menginjak punggungnya berulang kali lalu menjatuhkan diri dan melakukan kuncian tangan. Pria itu merintih sewaktu aku menarik tangan kirinya lebih ke kanan, memutar sendinya dengan teramat. Sampai kemudian dia menepuk-nepuk lantai dan berseru: "Aku menyerah,"
Aku menghembus napas lega. Melepas seranganku. Dan melangkah mundur. Memberi ruang untuknya. Namun, sekejap dua orang napi menjagal tangan kanan dan kiriku. Lalu disusul napi lain yang menghantam perutku.
"Apa maksudnya ini?!" Aku berseru setelah menerima pukulan keempat.
Kulihat Slamet Gundul bangkit. Seringai lebarnya berkilat. Mendekat ke arahku. Kemudian memukul wajahku.
Aku menggeram. Hanya bisa membalasnya dengan tatapan mata. Kedua tanganku benar-benar dijagal kuat, sulit untukku melepaskannya.
"Yah.... aku akui kau memang berbakat, bocah." ucap pria tanpa nomor tahanan. "Aku masih tidak percaya kau bisa mengalahkan tukang pukul kami," Dia menambahkan. "Tapi kau tetaplah seorang bocah, tidak berpengalaman!"
"Ha ha ha.... aku tidak menyangka, kau berani masuk ke sarang lawan tanpa tau apa pun tentang kami. Sangat bodoh." sambung tahanan 101.
"Sembilan-lapan-nam!" seru Herman. "Jangan pikir orang yang kuat bisa menguasai segala hal di tempat ini! Tidak! Itu salah besar! Otak otot sepertimu hanya akan berakhir jadi babu, tidak lebih!" Dia menjelaskan.
"Benar sekali! Kau sangat mudah dijebak." saut Lucas.
Dari sisi Timur Laut Burhan berjalan ke arahku. Melalui brewok. Menghadapku dan tersenyum. "Di sini, kau tidak boleh percaya kepada siapa pun." katanya lalu meninju keras wajahku.
"Kenapa kau ketawa, keparat?!" geram Burhan. Lalu kembali mendaratkan bogemnya ke arahku.
"Kalian pikir, aku sebodoh itu?" Aku bertanya.
Saat pria homo hendak memukulku lagi, pria tanpa nomor tahanan angkat bicara. Memaksa orang itu menjauh dariku. "Apa maksudmu, bocah?!"
"Aku tau, kalau hanya Burhan yang bekerja untuk Kusnandar." kataku.
"Banyak omong lo, bocah!"
"Brewok!" bentak pria tanpa nomor tahanan menghentikan aksi Slamet Gundul yang mau menghantam wajahku dengan kepalan tangannya. "Lanjutkan, nak!"
"Aku tidak sengaja lihat, Burhan papasan dengan Herman, lalu memberinya uang diam-diam." ucapku.
"Apa masalahnya? Kami emang biasa bagi duit." serobot Burhan.
__ADS_1
"Itu waktu sarapan. Dan saat itu juga, Herman datang ke tempatku."
Kulihat mata Burhan berubah terkejut.
"Selama aku berada di samping sel Herman. Belum pernah sekali pun dia membahas soal 'makar' atau Kusnandar. Jadi aku yakin, Burhan sengaja membayar Herman untuk mengincar orang yang ada di depanku. Sayangnya Herman justru mengajak ribut aku." ujarku menjelaskan.
"Cuih!" Ludah Herman ke sisi kirinya.
"Karena rencanya gagal, dan Herman bonyok gara-gara aku. Kalian berdua membuat rencana untuk menjebakku. Sengaja menyogok petugas supaya menyuruhku mandi di kamar mandi petugas, di mana aku bertemu denganmu, Burhan." Aku melanjutkan. "Namun, sialnya Burhan juga ikutan bonyok."
"Diam!" bentak pria homo.
"Jadi sebelum waktu bebas tiba, kau sengaja meminta bantuan pimpinan blok lain untuk menghabisiku. Dan kalian memilih tempat ini. Di mana orang-orang kalian semua berkumpul. Di mana para penjaga tidak akan datang ke tempat ini." jelasku berargumen.
"Itu cuma pemikiranmu, tidak membuktikan kalau hanya Si Gendut yang bekerja untuk Kusnandar." ucap tahanan 101.
"Setiap pimpinan blok sering kumpul sewaktu-waktu." kataku menyerobot. "Alasan yang bodoh dengan meminta bawahan kalian berbicara begitu."
"Bawahan kami katamu?! Sebelumnya kau bilang: 'Hampir semua orang di sini tau,' Jadi apa masalahnya?" tanggap tahanan 101.
"Dalam dunia kriminal. Pimpinan blok berkumpul hanya untuk perebutan kekuasaan. Dan mereka selalu membawa anak buahnya. Tapi, bawahan kalian bilang: 'Kami tidak pernah tau di mana dan kapan Bos kami kumpul dengan pimpinan blok lain.' Itu sangat konyol bagiku."
Kali ini, tidak ada tanggapan seperti sebelumnya. Jadi aku melanjutkan penjelasanku. "Bukan cuma aku, beberapa bawahan kalian juga tidak percaya kalau Bos-nya sering kumpul dengan pimpinan blok lain. Lebih dari itu, para penjaga juga tidak memercayainya."
"Brengseeek!!!"
"Anjiiing!!!" teriak Herman berbarengan dengan seruan Burhan.
"Sudahlah, sudah. Kenyataannya memang sembilan-lapan-nam sudah tau tentang hal itu. Tidak perlu di sesali." sela pria tanpa nomor tahanan. "Lagi pula, kita bisa menghabisinya di sini sekarang." Dia menepuk tangan, dan keluarlah orang-orang dengan senjata berat pada tangan mereka mengikuti langkah Woro yang keluar dari pintu Utara.
Seketika tatapan mereka berubah tajam. Menekan-nekan tinju mereka hingga menghasilkan bunyi geletuk.
Aku lagi-lagi terkekeh. "Jangan kalian pikir, aku datang tanpa persiapan!"
Sedetik kemudian terdengar suara pintu dibuka. Lalu masuklah orang-orang dengan menenteng berbagai senjata. Membuat kedua orang di belakangku melepaskan cengkramannya, lalu berkumpul bersama dengan para pimpinan blok.
"Si-siapa mereka?" Lucas bertanya.
"Mereka adalah orang-orang yang sering kalian tindas. Mereka semua akan mengakhiri jabatan para pimpinan blok!" Aku berseru.
__ADS_1
"Kurang ajar!" geram pria tanpa nomor tahanan. "Kau sudah merencanakan ini semua?!"
"Ah," Anggukku. "Di sini, kau tidak boleh percaya kepada siapa pun." kataku menirukan omongan Burhan sebelumnya. Kemudian berteriak: "Seraaang!!!"