Lutfi Gilang

Lutfi Gilang
7. Penantian yang Sia-sia


__ADS_3

i


Hari Selasa, sebelum pelajaran biologi dimulai. Aku duduk di sisi Gilang yang sudah aktif dalam kegiatan rutinnya, tidur.


 


Ketika kulirik ke arahnya, rasanya ada sesak yang menggangguku. Ini pasal aku diam-diam membuka catatannya, lalu pesan-pesan darinya yang ternyata membantuku, sifat jutekku kemarin, atau dari dulu, dan soal aku menolak ajakannya mentah-mentah padahal dia mau merayakan ulang tahunnya.


 


Terlebih, tadi malam, dia nelpon, dan datang cuma-cuma ke depan kost-ku, buat ngungkapin perasaannya.


Aduh! Begitu banyak beban yang kudapat karena mengacuhkannya. Apakah begini sudah bisa dibilang baper? Aku yakin tidak!


Dan ketika mengingat tulisan di bukunya waktu itu, membuatku makin merasa tidak enak. Sudah pasti dia sakit hati. Orang yang diidolakannya diam-diam, menolak ajakannya untuk merayakan ulang tahunnya. Sungguh, membayangkannya saja aku ikut sedih.


Menit terus berlalu tanpa memberi jeda untukku berpikir lebih. Akhirnya aku berbisik memanggilnya.


“Ssttt.... hei.”


Dia menggumam dan sedikit mengangkat kepala. “Apa?”


“Aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”


Gilang mengucek mata beberapa kali lalu membasuh muka dengan kedua tangannya. Kemudian menatapku. “Ngomong aja.”


Mendadak jantungku berdebar entah mengapa. Rasanya ada sesuatu darinya yang membuatku hampir salah tingkah. Apakah gara-gara kejadian semalam? Aku ga tahu. Pokoknya, waktu itu, pandanganku pada Gilang kembali berubah.


Dan tanpa sadar aku menjawabnya dengan terbata-bata. “Eh, yah.... anu, itu.... aku, mau... aku mau ngomong, iya. Aku mau ngomong sama kamu.”


Dia mengangguk dan memberikan tatapan tajam, membuatku terpesona entah kenapa. Hingga aku harus memaksa diri untuk membuang muka supaya menutupi wajahku yang mungkin memerah karena malu.


“Ga jadi?”


“Ga sekarang. Ga tau nanti apa besok.”


Kudengar dia tertawa sedikit. Karena penasaran aku kembali memandangnya.


“Kenapa kamu ketawa?”


“Ngapain kamu ikut-ikutan aku?”


Ikut-ikutan? Hatiku bertanya. Selang beberapa detik aku berusaha mengingat. Dan benar, dia memang berkata begitu kemarin.


Aduh! Padahal aku tidak berniat menirunya.


Kembali aku membuang muka, tapi ujung mataku tetap memerhatikannya. Barang kali aku penasaran apa yang bakal dia omongin.


Lama kutunggu, dan Gilang tetap diam.


Ih! Ngeselin.


Kupikir setelah ngungkapin rasanya, Gilang bakal lebih aktif buat ngedeketin aku. Ternyata, tidak! Dia masih jadi Gilang yang sama.


Tapi aku tidak gentar. Pokoknya, aku ga mau lagi salah ngomong sama dia.


Dan sekitar lima menit kemudian akhirnya aku menyerah dan kembali menatapnya. Kulihat Gilang senyum entah kenapa.


“Kamu mau kado?”


“Hah?” Aku kebingungan. Berpikir sejenak. Mungkin dia minta hadiah dari aku. Benar juga, kemarin kan Gilang ulang tahun. Tapi aku ga bakalan kasih. Buat apa coba? Nanti dikira aku ngasih kode ke dia, kalau aku suka. Enggalah, ya! Pokoknya, aku mau, dia lebih usaha lagi buat ngedapetin aku. Harus! Titik.


“Iya, kamu mau kado?”


“Engga, makasih.”


“Tapi aku bakal tetap kasih. Abis pulang, ya?”


“Loh kenapa?”

__ADS_1


“Kenapa?” Dia nanya balik.


“Iya, kenapa?”


“Kenapa abis pulang?”


“Ya itu juga, tapi kenapa tetap ngasih kado?” tanyaku jadi geget sendiri.


“Hmmm.... kenapa ya?” Gilang nanya sendiri sambil melengos. Terus kembali menatapku. “Oh itu, perayaan hari lahirmu.”


“Maksudnya?”


“Iya, perayaan hari lahirmu.”


Aku masih bingung, tapi tetap kutanya apa maksudnya. “Maksudnya, kayak ulang tahun, gitu?”


Dia mengangguk.


Benar juga. Gilang kemarin juga bilang gitu ke satpam. Aneh juga ketika mendengarnya langsung, maksudku, bukan dari menguping.


“Hari ini?” tanyaku.


“Iya. Benar, kan?”


“Engga.”


“Aduh, salah.” katanya dengan sedikit menggeleng.


Jelas salahlah. Makanya jadi orang jangan sotoy!


“Tapi kamu lahir hari Selasa, kan?”


Aku kaget. Dari mana dia tahu? Aku bertanya sendiri, lalu mengangguk untuk menjawab tanyanya.


“Dulu, kamu lahir hari ini?”


“Jadi ini perayaan hari lahirmu!” katanya sedikit berseru.


“Kok gitu?”


Tak ada jawaban. Gilang hanya senyum, membuatku makin kebingungan.


Kembali aku larut dalam pikiranku. Mungkin, pas sama satpam, maksudnya Gilang ya ini, perayaan hari kelahirannya. Hari Senin. Tapi maksudku itu perayaannya kemarin, kalau sekarang, ya Selasa.


Aku menatap bola mata hitam kecokelatan miliknya. “Jadi, setiap hari kelahiran harus dirayain?”


“Iya.”


“Kalau gitu, umurmu banyak dong?”


Gilang melengos, tampak berpikir. “Ya.... kalau tiap bulan dirayain empat kali. Dan tiap tahun ada dua belas bulan, jadi sampai tahun ini....” Menatapku dan berbisik. “Tujuh ratus dua puluh.”


“Umur panjang dong?” tanyaku dengan tersenyum tanpa sadar.


Dia ketawa, lalu kembali berkata: “Jadi, aku harus kasih kamu kado.”


“Ga usah.”


“Ga papa. Tapi nanti, abis pulang, ya?”


“Dibilang ga usah juga.”


Gilang mengalihkan wajah dan kembali tidur, membuatku kesal. Ketika kupandang ke depan ternyata sudah ada guru masuk.


Aku sadar, dia harus melakukan rutinitasnya setiap pelajaran. Tidur.


Sungguh aku tidak mengerti, kenapa Gilang terus tidur sewaktu pelajaran. Dan harusnya aku ga perlu mau tahu. Tapi, sebenarnya, selain itu, kayaknya aku beneran ngarepin hadiah perayaan hari kelahiranku darinya.


Aduh!

__ADS_1


🌹🌹🌹


ii


Hari itu, tiap detik rasanya berubah menjadi begitu lama. Setiap pelajaran, aku tidak bisa konsentrasi. Mataku berulang kali terus menatap jam dinding. Berharap pelajaran segera berakhir.


Aku benar-benar bingung. Tidak biasanya aku begini. Maksudku, buat apa coba aku nunggu-nunggu dia ngasih kado? Terlebih kenapa ga dikasih sekarang sih? Aduh, kacau! Aku benar-benar tidak bisa mengalihkan pikiranku saat itu.


Ketika kulirik ke arahnya. Dia, masih tidak ada bedanya. Tidur, seperti biasa.


Ah! Aku benar-benar tidak sabar.


🌹🌹🌹


iii


Bel pulang sekolah berbunyi. Guru bahasa Inggris menyudahi pelajaran di jam terakhir.


Aku menghembuskan napas lega. Akhirnya, berakhir sudah detik-detik yang berjalan lebih lama dari biasanya, itu sangat menyiksaku.


Satu per satu, siswa bubar. Gyan juga sempat mengajakku pulang bareng, tapi aku jawab: “Aku pulang nanti.”


Begitu pula dengan Kelvin. Aku menjawab dengan kalimat yang sama.


Ketika akhirnya di kelas tinggal kami berdua, lagi, jantungku berdebar hebat, tidak sabar dengan kado yang bakal Gilang kasih. Kutunggu, lima menit, sepuluh menit, dan hampir setengah jam! Dia tidak juga bangun.


Ih gimana sih?!


Dengan kesal, aku membangunkannya. “Bangun, kelas udah bubar dari tadi.”


Gilang menggumam. Bangkit perlahan lalu menguap. Mengucek mata dan membasuh wajah dengan kedua tangannya. Menatapku.


Akhirnya dia bangun juga, kata hatiku. Biarlah, dianggap ngarep juga ga apa-apa. Memang aku ga bisa nahan rasa penasaranku kalau soal dapat hadiah.


“Makasih udah bangunin aku.”


Aku menjawabnya dengan anggukan kepala.


“Kamu belum pulang?”


Mendengar tanyannya itu, sungguh aku ingin berteriak sekencang mungkin. “Ya jelas beluuuuum! Aku nunggu kadomu ituuuuu! Udah deh, cepat kasih biar aku ga penasaran terus kayak gini. Ngarep-ngarep kelamaan bikin nyesek tahu!”


Namun yang keluar hanya: “Belum,”


“Oh, ada urusan, apa?”


Mengangguk.


Mendadak dia membereskan perlengkapan sekolahnya.


Eh? Kenapa? Apa kadonya ngajak makan di luar lagi? Hmmm.... boleh deh. Mungkin dia bakal ngajakin ke tempat yang aku suka. Pas banget, aku juga lumayan laper.


Tapi ternyata, dugaanku sangat keliru.


“Kalau gitu, aku pulang dulu, ya?” katanya sembari beranjak dari duduknya dan berlalu begitu saja.


Aku kaget, bercampur marah. Dia benar-benar nyebelin! Udah buat aku ngarep-ngarep dikasih kado, bikin aku ga konsen belajar, terus dia lupa sama omongannya tadi pagi.


Ah! Aku benar-benar marah padanya. Lain kali, kalau dia ngajak ngomong, bakal aku tinggal pergi. Tapi kalau pas pelajaran, aku ga bakal berani pergi sih. Paling diem.


🌹🌹🌹


iv


Sampai kost, aku bergegas mengunci pintu dan merubuhkan diri di atas kasur. Kemudian memukul-mukul bantal beberapa kali sambil bilang: “Sebel, sebel, sebel, sebeeeeel! Ngeselin banget sih itu anak! Sama kayak cowo lain, Cuma ngasih janji palsu! Sebel!”


Mulai saat itu, aku berikrar, bahwa aku tidak akan lagi terperangkap oleh tipudaya yang sama: obral janji. Terlebih jika itu dari Gilang. Pokoknya, aku memantapkan diri untuk menjauh dari segala hal yang berhubungan dengannya. Dan besok, aku bakal pindah tempat duduk! Titik.


Aku terus mengumpat hingga ketiduran karena lelah menahan kekesalanku atas penantian yang sia-sia.

__ADS_1


__ADS_2