
i
Setelah mengganti pakaian dan melaksanakan shalat Dzuhur, aku duduk di ruang tunggu perusahaan 0000, kalau kau bertemu denganku, mungkin akan melihat aku yang nampak murung. Memang iya, dan badan ini juga lesu. Perasaan bimbang yang diubek-ubek rasa bersalah, menjadi kemelut yang melanda pikiran sepenuhnya.
Bersalah karena masih belum mampu menemukan Lutfi, bersalah karena masih belum mampu menggarap naskah, bersalah karena masih belum mampu menepati janji untuk tidak langsung menolak pemberian orang lain, dan bersalah karena aku takkan sanggup menyantap makanan di dalam kotak makan ungu.
Bukan aku tak suka, bukan aku tidak menghargai pemberian darinya, aku hanya tak ingin memakan masakan wanita lain yang tidak dengan sengaja aku membelinya. Aku harap kau paham maksudku.
Itu, juga menjadi salah satu caraku menjaga hati dan hubungan yang kumiliki saat ini. Meski menghilangnya Lutfi tanpa jejak juga sering kali membawakan bisikan kalau kami sudah berpisah. Tapi tetap saja, bagiku, kalau belum mendengar perkataan pisah darinya secara langsung, itu berarti kami belum benar-benar resmi berpisah.
Aku pernah mendengar seorang pujangga berkata: "Hati wanita didapat karena keseriusan dan perjuangan pria. Sedangkan hati pria didapat dari masakan yang dibuat wanita."
Jadi, sekali lagi, pilihanku untuk tidak memakan masakan itu, memang caraku menjaga hati.
"Woy!" seru pemuda mengejutkanku.
Aku tersadar setelah mendengar dan merasakan tepukan kecil pada pundak kiriku. Kupandang ke arah pria itu. Tio, namanya. Dia bekerja di bagian pemasaran. Dia, teman masa remajaku di bangku SMAN Purwokerto saat kelas XI.
"Udah lama ga ketemu, masih sama aja."
Aku senyum dan menjawab jabat tangannya.
"Eh, gimana kabar?" Dia nanya.
"Sehat," Aku jawab.
"Sendirian aja. Editormu mana?"
"Lagi ada urusan,"
"Urusan apa? Di Jakarta juga? Kerja apalagi dia?"
Aku memandangnya dengan tatapan sinis. Sangat tidak menyukai pria yang ingin tahu berlebih tentang Lutfi.
Seakan mengerti kejengkelanku, dia mengangkat kedua tangan. "Ooh.... sorry, sorry, bro." ujarnya meminta maaf. "Eh, mau ketemu Pak Heru, ya?"
Aku ngangguk.
"Bahas buku baru itu, kan?"
Aku ngangguk lagi.
"Eh, bocorin dikit dong, ceritanya kayak gimana." pintanya dengan kedua telapak tangan saling gesek. "He he he.... kamu paham kan, buat apa?"
Lagi-lagi aku ngangguk.
"Terus, tentang apa?"
Aku memberinya isyarat supaya lebih mendekat.
Tio menuruti kemauanku.
Kupandang sekeliling, berharap tidak ada yang menyuri pandang ke arah kami, lalu membuat hipotesis yang tidak masuk akal. Seperti.... oke lupain!
"Cowo kepo yang terus-terusan jomblo," bisikku di telinga kirinya.
Dia mengangguk lalu berterimakasih membuatku terkekeh. Dan kelucuan itu makin menjadi saat Tio sadar kalau aku sedang meledeknya. "Ah, ngejek kamu!" gerutunya sambil memposisikan diri untuk duduk seperti semula.
"He," Aku ketawa. Hal yang sudah lama tidak bisa kulakukan, dua hari ke belakang, lebih tepatnya setelah mengetahui kalau Lutfi menghilang tanpa jejak. Dan aku sangat berterimakasih kepada Tio karena sudah berhasil mengembalikan senyumku, meski hanya sesaat.
"Hmmm...." gumamnya. "Jadi, ga mau ngasih tau, nih?"
Aku mengangkat bahu.
"Emang kayak gitu, ya kalau novel kolab?" Dia nanya. "Dijaga banget kerahasiaannya,"
Aku menyetujuinya dengan bahasa isyarat.
"Ya udah, aku ga bakal maksa kamu buat ngasih tau."
Aku diam, tidak memedulikannya.
"Eh, ngomong-ngomong, kata Pak Zurri, kamu abis tunangan. Apa iya?" tanyanya lagi beberapa menit kemudian.
Aku ngangguk tanpa menghadap wajah ke arahya. Mataku lebih tertuju kepada layar TV yang sengaja dipasang di sebuah tembok bercat putih. Bukan tanpa alasan, aku memerhatikannya karena ada suatu hal yang sangat membuatku terkejut. Berita orang hilang.
Benar!
Itu tentang Lutfi! Tapi, siapa yang udah ngasih tahu kabarnya ke reporter? Apa gosip menghilangnya Lutfi emang lagi booming banget?
"Waaah.... selamat ya? Aku ikutan seneng dengernya." kata Tio sambil menepuk-nepuk punggungku. "Kalau gini, bisa-bisa tinggal aku sendirian yang jomblo."
Aku tidak peduli, masih fokus dengan isi berita. Volume TV sangat pelan, jadi aku susah untuk tahu apa yang dikatakan oleh pembawa berita. Tapi tetap saja, tulisan "Berita orang hilang", dan terpampangnya selebaran yang kubuat sudah menjadi bukti kuat untuk aku menganggap kalau channel TV tersebut sedang menayangkan berita seorang pemuda yang kehilangan tunangannya.
"Hmmm...." Kudengar Tio menggumam. "Lagi liat apa, sih?! Sibuk amat,"
Aku sedikit mengangkat kepala. Memberi tahu apa yang sedang kupandang.
"Oooh.... nonton TV. Di rumah ga punya, ya?" Dia meledek, lalu disambung dengan tawanya yang khas. "Eh, kamu bawa bekal, apa?" Dia menyambung kalimatnya sambil mengangkat kotak makan yang kusimpan di atas meja. "Apa nih, isinya?"
"Buka aja," kataku, tetap fokus kepada pembawa berita.
Aku mendengar suara tutup dibuka, kemudian aku mencium aroma salah satu makanan kesukaanku....
"Seblak!" Tio berseru. "Beli di mana, nih?"
"Dikasih," Aku jawab.
"Waah.... senengnya. Sama siapa?"
"Janda,"
"Pst! Ha ha ha.... kamu lagi deket sama janda?"
Aku menghembus napas, memandang Tio. "Tadi ga sengaja ketemu di jalan,"
"Terus?"
"Dia ngasih itu,"
"Buat?"
Aku mengangkat bahu. "Aku pinjemin dia duit biar bisa balik,"
"Abis berapa?"
"Dua ratus delapan puluh,"
"Waduh, banyak ternyata. Aku kira ga sampe seratus."
"Taksi, ya mahal."
"Hmmm.... sebenarnya naik angkot juga sama mahalnya." katanya namun tidak kutanggapi. "Bayar angkotnya emang lebih murah, tapi malingnya itu loh.... heh! Sebel banget aku!"
Aku menyetujuinya dengan anggukan. Memang, risiko menggunakan kendaraan umum adalah berhadapan dengan masyarakat, yang mana sebagian besar dari mereka sudah merubah diri menjadi pencuri.
Bukan tanpa alasan, itu semua demi melangsungkan hidup di tengah-tengah bisnis politik, yang membuat semua hal berbayar, yang membuat nilai rupiah di kancah internasional menurun, yang membuat harga pasar meningkat, dan yang membuat orang kaya makin kaya sedang orang miskin makin miskin.
"Terus dibalikin?"
"Hmmm...." Anggukku.
"Full?"
"Ga," Gelenggku. "cuma separuh."
__ADS_1
"Berarti, seblak ini kalo jadi duit sama aja pek si, dong?" Dia nanya.
"Peksi?" Aku balik nanya.
"Iya. Pek si."
"Burung maksudnya?"
"Pst! Itu mah peksi di bahasa Jawa, yang ini 'pek' spasi 'si'."
"Apa tuh?"
"Duit, seratus empat puluh ribu." jelasnya agak jengkel.
"Ooh.... bisa jadi," Aku jawab.
"Waaah.... belum pernah aku makan seblak semahal ini." ujarnya sambil menelan ludah. "Biasanya paling beli seblak ya.... goceng, seharga pop ice, lah. Kalo ga, semahal-mahalnya, ya.... ga sampe goban, lah. Itupun bayarnya—"
"Ngutang?" Aku menyerobot.
"Jelas!" serunya tanpa basa-basi, tanpa merasa malu sedikitpun.
Aku menggumam. "Kapan bayarnya?"
"Kalo gajian. Nah, kalo akhir bulan ya.... ngutang lagi. Ha ha ha...."
Aku menggeleng mendengar pernyataan Tio. Sangat berharap agar dia menghentikan kebiasaan buruknya. Bukan cuma Tio, tapi juga kalian yang membaca kisah ini.
Aku pernah mendengar, seorang Ustadz menjelaskan bahwa: "Jika seseorang berhutang dan belum melunasinya, maka semua amal ibadahnya akan ditangguhkan—digantung di atas langit."
Artinya, kalau kau belum melunasi hutang-hutangmu, semua amal ibadahmu tidak sampai kepada Allah.
Mirip kayak motor yang belum lunas, mogok di tengah jalan, dan bikin ga sampai tujuan. Tapi kalo motor hasil ngutangmu kok selalu bisa sampe tujuan, itu berarti motor kalian didorong sama setan.
Ya, para jin yang telah menjadi setan memang selalu rajin dan semangat untuk membantu manusia yang melanggar aturan Tuhan-nya supaya lebih mudah dan lancar, biar manusia mengira kalau adzab dunia itu ga ada. Dan akhirnya, mereka dapet deh teman buat disiksa di neraka kelak.
Jadi, buat kalian, khususnya para wanita, jangan mau deh bonceng cowok yang motornya belum lunas, karena ada Genderuwo di belakangnya.
Loh, kok jadi Genderuwo tiba-tiba?
Ya.... biarin, lah. Dia kan gede tinggi, jadi pas buat urusan dorong-mendorong. He....
Ngomong-ngomong soal hutang-piutang. Selain merepotkan diri sendiri dengan ancaman tidak masuk syurga lebih dari 99,9999999 (dan masih banyak lagi angka 9-nya) %, hal itu juga akan sangat merugikan keluarga dan orang terdekat. Tidak percaya?
Baik, akan kucoba luruskan pandanganmu dari sekarang.
Pertama, kalau kau memiliki saudara atau teman yang berhutang, kepada siapa mereka meminta bantuan?
Ya, kalian pasti tahu jawabannya.
Mereka akan meminjam uang kalian untuk melunasi hutangnya kepada orang lain. Dan saat dia melunasi hutangnya kepadamu, percaya dan yakinlah kalau uang itu juga hasil hutang kepada orang lain.
Mirip kayak lagu dangdut: "Gali lobang, tutup lobang, lobangnya bermacam-macam...."
Asyik, lanjuuut! He....
Kedua, kalau saudara atau teman kalian mati dan meninggalkan hutang-hutangnya, siapa yang akan melunasinya?
Tentu saja, keluarga dan teman terdekat, bukan?
Ah, mungkin kalian bisa kabur dari tanggungjawab itu, tapi tetap saja, para penagih hutang lebih jago dari intel maupun detektif. Di mana pun kalian bersembunyi, mereka akan tetap menemukan tempat kalian berada. Ha ha ha, rasakan!
Kejadian orang berhutang lalu mati juga pernah terjadi saat zaman Nabi Muhammad Saw. Kalau tidak salah, saat itu Rasulullah diminta untuk menjadi imam shalat jenazah sahabat yang meninggal. Tapi kemudian Beliau tolak, karena si mayit belum melunasi hutang-hutangnya.
Sampai kemudian sahabat Abu Bakar As-Sidiq, menyanggupi untuk melunasi seluruh hutang si mayit. Dan barulah Rasulullah mau mengimami para sahabat untuk melakukan shalat jenazah.
Dari hal itu, kita, khususnya kaum muslim bisa belajar, kalau orang yang yang mati dan belum melunasi hutang-hutangnya dan atau tidak ada pihak yang sanggup menanggung seluruh hutang orang mati itu, maka kita tidak perlu menyolatinya.
Dan, kalian pasti tahu bagaimana akhirnya bagi orang Islam yang tidak disholati setelah kematiannya. Kalau belum tahu, ya ngaji sonoh.
Nah, apa dengan penjelasan itu, kalian sudah berubah pikiran sekarang? Kalau belum artinya kalian si pendukung tukang hutang yang akut parah. Mestinya segera dioperasi!
Jadi, sekali lagi, aku menghimbau kepada seluruh orang di dunia ini, khususnya kepada pembaca karyaku ini, Berhentilah berhutang, mulai dari sekarang. Dan jika kalian terpaksa berhutang, bersegeralah untuk melunasinya, kalau tidak kalian akan merasakan akibatnya!
Oke, aku hentikan saja pembahasan soal hutang-piutang karena banyak yang tidak suka. Kita lanjut saja pada kisahku.
"Kalo kamu mati duluan sebelum utangmu lunas, gimana?" Aku nanya sekaligus mencoba menghentikan kebiasaan buruknya.
Tio memasang raut wajah terkejut. "Ya.... semoga aja, sih engga." Dia diam, mengatur napas. "Tapi emang, rasanya ga enak banget kalo udah utang. Aku juga sering apes, sih, sebenarnya."
"Hmmm...." gumamku. "pertanda barang kali."
Badan Tio menegap. "Ah, jangan gitu, dong." kata dia akhirnya. "Aku bakal usaha deh, buat berhemat, biar ga utang-utang mulu."
"Itu lebih baik," kataku mencoba percaya. Dan memang sangat berharap dia melakukannya dengan sungguh-sungguh.
"Eh, ya udah dulu, ya." Tio meletakkan kotak makan itu kembali seperti semula. "Aku duluan, mau beli makan. He he he...."
"Bawa aja, tuh." kataku. "Jadi ga perlu ngutang."
"Ha?" Dia terkejut. "Serius?"
Aku ngangguk.
Dengan ekspresi gembira, Tio meraih kotak makan itu lagi. "Makasih, loh." ujarnya sembari melangkah pergi. "Eh," Dia kembali menatapku, membuatku sedikit jengkel. "tapi, kamu udah nyobain ini, kan?"
"Nyoba?" tanyaku.
"Iya," jawabnya. "Nyicipin seblak ini maksudku."
"Oooh.... belum." Gelengku.
Seketika wajahnya muram. Kembali duduk di sisiku. "Aku ga bisa nerima ini," katanya sembari mengembalikan kotak makan ungu kepadaku. "aku ga bisa makan punya orang yang bahkan belum ngrasain makanannya."
"Ribet," gerutuku.
"Eh, itu prinsipku, bro!" Dia berseru. "Hargai, dong!"
Aku mengangguk dan meminta maaf. Kemudian membuka penutup kotak makan, dan melepas ikatan plastik transparan yang membungkus seblak. Semerbak baunya makin terasa. "Bawa sendok?" Aku nanya.
Dia menyinyir. "Aku emang doyan makan, tapi ga nyanding sendok juga, kali."
Aku terkekeh mendengarnya, lalu menunjukkan sendok plastik di sela-sela seblak dan kotak makan.
"Nah, tuh ada." katanya.
"Siapa tau, kamu punya."
"Ga!" jengkelnya. "Udah, cobain dulu, gimana rasanya. Aku udah laper, nih."
Kuturuti kemauannya dengan menyicip seblak di depan mata. Pedas, kecut, pahit, asin, dan hangat; bersinergi dengan sempurna menjadi harmoni rasa yang sangat pas di lidah.
Oke, aku akui, aku memang tidak pandai menjelaskan soal rasa, apalagi bumbu-bumbu yang digunakan untuk membuat makanan ini. Jadi, aku harap, kalian bisa membayangkan sendiri bagaimana rasanya. Atau, kalau perlu, kalian boleh makan seblak sambil baca kisah ini. Biar makin terasa. He....
"Gimana?" Tio nanya.
Kuserahkan makanan itu kepadanya, memintanya untuk merasakan sendiri. "Uh.... enak ini." ujar Tio setelah menyuap seblak. "Ini beneran buat aku?"
"Iya,"
"Yakin? Ga nyesel?"
"Iya,"
"Ini beneran enak loh. Panteslah, harga se-pek si, buat yang berduit tapi. Ha ha ha...." ucapnya sambil menyantap sesendok seblak.
__ADS_1
"Bawa aja," kataku.
"Oke, deh, kalo gitu. Makasih banyak, ya?" ujar Tio sambil menepuk pundakku lalu melangkah pergi. "Besok aku bslikin kotak makannya!" serunya.
Sedang aku, diam, berdiskusi bersama otak. Membayangkan kalau saja Lutfi menyukai makanan seperti seblak tadi, atau pizza, atau burger, atau ramen, atau papeda, atau cilor, atau makanan aneh lainnya. Pasti dia sering memasak makanan itu untukku, atau paling tidak kami bisa membelinya sewaktu berkencan.
Tapi, pada kenyataannya, makanan-makanan itu tidak cocok untuk lidah dan perutnya. Hanya mie ayam yang dapat memuaskan nafsu makannya, karena memang dia bisa mengatur sendiri takaran pedasnya, yang tidak sepantaran dengan manusia biasa.
Memikirkan hal itu, mengingatkanku kepada zaman SMA, masa di mana aku membuatnya sakit dengan salah memilih makanan, dan masa di mana aku harus membayar mie ayam tiga kali lipat dari harga biasanya.
🌹🌹🌹
ii
7 tahun lalu.
Sore itu, di hari Rabu, aku dan Lutfi pulang selepas rapat OSIS yang menyebalkan. Membahas ini itu yang tidak perlu, tidak bermanfaat, dan hanya membuang-buang waktu. Kami melangkah menyisir taman beriringan, keluar sekolah.
"Mau makan apa?" Aku nanya.
Dia menggumam. "Ya.... paling mie ayam,"
"Kan kemarin udah, kemarinnya lagi juga makan mie ayam, dari hari Jum'at malah. Ga bosen?"
"He he he.... lah, emang suka, gimana lagi?"
"Makan mie mulu, kasian lambungnya." kataku.
"Naaa...." rengeknya.
Sampai di luar sekolah, tidak jauh dari tempat kami berdiri aku melihat sebuah gerobak penjual seblak.
"Makan itu, mau?" ajakku.
Lutfi mencoba menatap ke arah yang kupandang. "Mana, sih?"
"Itu, yang gerobak merah." jawabku.
Keningnya berkerut, kedua alis hampir menyatu, tanda dia mencoba lebih memfokuskan tatapannya. "Ga keliatan," tanya dia akhirnya. "jajan apa, sih?"
"Seblak,"
"Seblak?"
"Iya. Makanan khas Bandung. Belum pernah nyoba?"
Lutfi menggeleng. "Belum. Kayak gimana rasanya?"
"Isiannya ada mie, telor, sosis, makaroni, kerupuk, sama ceker." Aku menjelaskan.
"Ceker?" Lutfi nanya, nadanya terdengar sedikit tertarik. "Pedes, ga?"
"Ya kalo minta,"
"Minta!" saut Lutfi cepat.
"Jadi, mau?" tanyaku.
"Boleh," katanya bersemangat. "Eh, tapi itu mie lagi, ya?"
"Iya, sih. He...."
Lutfi menepuk pundak kiriku sembari bilang: "Aku emang lagi pengin mie, sih. He he he...."
🌹🌹🌹
iii
Aku dan Lutfi sampai di tempat penjual seblak.
Gerobaknya rapi, tempat makannya juga bersih meski berada di pinggir jalan. Penjualnya masih muda dan ramah, malahan kupikir kedua pria itu seumuran dengan kami.
Peminat seblak yang dijual oleh mereka cukup banyak, mulai dari anak kecil hingga orang dewasa. Jadi, kami perlu waktu untuk menunggu pesanan selesai dibuat.
Sekitar 20 menit menanti, akhirnya satu porsi seblak komplit super pedas sudah jadi dan dibungkus rapi dengan plastik di dalam kotak sterofom.
"Berapa Bang?"
"Ceban aja, Mas." jawab si penjual.
"Ha?" Aku nanya.
"Sepuluh ribu, Mas."
"Oh," Aku merogoh saku atas lalu memberikan selembar dua puluh ribuan.
Pria itu menerimanya dan memberikan balik dua lembar lima ribuan kepadaku.
Hebat, ya? Ngasih satu dikembaliin dua. Dapet makanan lagi. He....
"Mau makan di mana?" tanyaku ke Lutfi setelah menghampirinya.
"Hmmm...." gumamnya dengan kepala sedikit meleng.
"Balaikemambang, gimana?" Aku menawarkan.
"Boleh," katanya senang. "tapi, naik apa?"
Aku senyum, lalu berbisik. "Gerobak "
"Ih, masa naik gerobak, lagi?"
"He," Aku ketawa.
Lutfi menepuk pundak kiriku. "Yang bener, ih."
"Iya, iya. Kita naik permadani terbang."
"Gilang!" Lutfi berseru membuat beberapa orang memandang ke arah kami. "Tuh, kan.... kamu, sih, bercanda mulu jadi diliatin, deh."
"Lah...." Aku bingung mau jawab apa.
"Kamu pasti bawa motor, ya?" tanya Lutfi mencoba menebak.
"Kok, kamu tau?" Aku mencoba bertanya.
"Jelas! Aku gitu, loh. He he he...."
"Hmmm.... kunci motorku juga di kamu, kan?
Dia terkejut. "Kok, kamu tau?" tanya Lutfi seakan mengulang pertanyaanku sebelumnya.
"Jelas! Aku gitu, loh. He he he...." kataku meniru omongan dan gaya Lutfi sebelumnya.
Dia menepuk pundakku, lagi. "Ih, dasar! Penulis yang ga kreatif."
Aku sedikit sakit mendengarnya.
Sedang Lutfi kembali ketawa. "He he he...."
Semoga saja, Luffi juga bakal doyan seblak, ga cuma mie ayam. Harapku waktu itu.
Pertarungan kedua makanan dimulai dari sekarang!
Kira-kira siapa yang bakal menang, ya?
__ADS_1