Lutfi Gilang

Lutfi Gilang
14. Pesan Terakhir


__ADS_3

Malamnya aku terbangun di atas ranjang. Dengan kepala berat aku mencoba bangkit. Berusaha memperjelas pandanganku di ruangan remang, penyinaran hanya berasal dari cahaya rembulan dan para kawannya, bintang. Tanda bahwa ini sudah masuk waktu malam, jatahnya untuk tidur.


Tidak ada suara Jaja dan Kusnandar seperti sebelumnya yang menyambutku dari alam mimpi selepas pingsan. Mungkin saja Si Tahanan Baru belum juga kembali dari urusannya, sedangkan pria tua ditawan pimpinan tempat ini, aku yakin.


Kini, penyesalan menjelma hati dan otakku. Merasa bahwa tindakanku siang tadi sangat ceroboh, atau mungkin aku jadi emosional gara-gara melihat pembunuhan di depan mataku sendiri, pembunuhan akibat aku tidak cepat-cepat memenuhi keinginan pimpinan tempat ini, pembunuhan yang sudah semestinya karena kesalahanku.


Aku masih seorang bocah! Tidak berpengalaman! Sialan!


Aku mengatur napas, berusaha mengendalikan ritme jantung supaya mengurangi rasa sesak pada dada. Tidak lama kemudian aku mendengar suara orang memanggilku: "Sembilan-lapan-nam," Itu suara yang kukenal. Herman!


"Bagaimana bisa aku mendengar suaranya? Apa dia sudah dipindahkan ke sel Selatan? Atau justru aku yang kembali ke kamar huniku sebelumnya?" Aku hanya bertanya-tanya sendiri. Bangkit dari ranjang dan mendekat ke sumber suara.


"Kau sudah bangun?" tanyanya.


"Ah," Aku mengiyakan.


"Bagaimana kondisimu?"


"Tidak lebih buruk dari siang tadi. Apa maumu?"


"Ha ha ha.... kau memang tidak bisa basa-basi, ya?"


"Hmmm...." gumamku.


"Aku menendengar masalahmu dari Harun, ....aku turut berduka dengan bawahanmu." ujarnya bernada iba.


"Bahkan dia belum jadi bawahanku," jawabku lesu.


"Jangan salahkan dirimu, itu keputusan yang dia ambil sendiri. Kau hanya perlu menghargai pilihannya." katanya. "Lagi pula, kau tidak memaksanya, bukan?"


"Ah," Aku mengiyakan. "Jadi, apa yang sebenarnya mau kau katakan?"


"Benar sekali!" ucapnya sedikit berseru. "Aku punya dua kabar untukmu. Dariku dan temanmu, mana yang mau kau dengar terlebih dulu?"


"Katakan apa yang mau kau katakan," tanggapku.


"Ha ha ha, bahasamu benar-benar aneh." timpalnya. "Begini, kau tidak akan bisa mengalahkan Yatno—"


"Yatno?" tanyaku menyela kalimatnya.


"Ya, pria bertato yang memukulimu itu." jawab Herman.


"Kau tau tentangnya?" tanyaku lagi.


"Ya. Aku berulang kali melawannya dan tak pernah menang." ucapnya. "Jangan kau menggejek dengan menertawaiku!" gertaknya.


"Sama sekali tidak. Kalau boleh jujur, kau sendiri lebih kuat dariku." Aku berkata.


"Ha ha ha.... mana mungkin aku lebih kuat darimu. Aku pernah dibuat pingsan olehmu. Jangan lupakan itu!" keluhnya.


"Hanya keberuntungan," sangkalku.


"Keberuntungan yang hanya bisa dilakukan olehmu," tanggapnya.


"Hmmm...." gumamku. "rasanya sedikit aneh bisa bicara begini dengan orang yang jadi lawanku."


"Pernah!" tepisnya. "Sekarang aku bukan lagi lawanmu. Aku tidak punya urusan untuk bermasalah denganmu."

__ADS_1


"Hmmm...." gumamku. "jadi bagaimana dengan Yatno?" Aku bertanya.


"Oh, ya!" serunya. "Dia pernah bilang sendiri padaku, kalau dia dulu adalah seorang pelatih bela diri, dan memang dia sendiri punya ilmu kebal. Jadi, serangan seperti apa pun takkan mempan padanya." Herman menjelaskan. "Aku bahkan pernah melihat orang itu ditembak brewok negara dan tidak mati. Bahkan tidak terluka sedikit pun!" ucapnya mulai berseru.


"Seperti film saja," tanggapku.


"Kau pikir aku sedang bercanda?" tanyanya.


"Tidak," jawabku. "Ada beberapa orang yang memang menguasai ilmu kebal. Tapi.... aku bahkan tidak bisa menyerangnya,"


"Hmmm...." gumamnya. "aku yakin, itu karena kau tidak fokus seperti pertarunganmu sebelumnya,"


Aku diam. Memikirkan omongan Herman barusan. Dan tentu saja itu tidak salah. Aku sudah mengakuinya beberapa menit tadi.


"Dengar, aku paham dari gerakan yang kau pakai, kau juga bisa bela diri seperti Yatno. Ada kemungkinan, kau bisa mengalahkan orang itu kalau kau lebih fokus." ujarnya berargumen.


"Terima kasih untuk sarannya." jawabku.


"Ya, tapi tentu saja kau tidak bisa percaya kepada Direktur kalau dia akan menyerahkan tahtanya padamu jika kau menang." tambah Herman.


"Jadi, rencana apa yang kau sarankan untukku?" Aku bertanya.


"Ha ha ha.... kau memang tidak suka basa-basi, ya?" Dia balik bertanya.


"Ah," Aku mengiyakan.


"Aku, Mabonk, Lucas, dan Burhan bakal membantumu." ucap Herman.


"Sayangnya, aku tidak akan bisa membayar apa pun." kataku.


"Kau akan punya segalanya kalau jadi Direktur. Jadi, kau tidak perlu bingung dengan hutangmu itu." tanggap Herman.


"Brengsek!" geramnya membuat aku yakin dengan hipotesisku. "Jadi, kau menerimanya?"


"Dengan kemurahan hatimu itu? Tentu saja aku terima!" kataku berlagak puas. "Hanya saja, tak ada yang tau hari esok. Dan aku hanya bisa berharap, semoga sesuai rencamu."


"Tch! Bahasamu seperti kau bakal mati saja besok." saut Herman. "Tenanglah, aku yakin semua bakal sesuai rencana!" Dia berseru!"


"Ah," Aku mengiyakan. "Jadi kabar kedua, apa yang mau kau beritau padaku?"


Herman menggumam cukup lama sebelum akhirnya tangan dia menyelinap masuk melalui celah-celah jeruji besi dan meletakkan secarik kertas.


"Dari siapa?" tanyaku.


"Pria tua, yang satu kamar huni denganmu sebelumnya." jawabnya.


"Di mana dia?" Aku bertanya lagi.


"Kamar huninya sendiri. Bawahan pimpinan tempat ini mengirimmu lagi ke kamar huni aslimu." Herman menjelaskan.


"Sekarang aku mengerti, itu kenapa aku tidak bisa melihat Jaja dan Kusnadi. Syukurlah, kalau pria tua itu tidak ditahan." ucap hatiku.


"Katakan, apalagi yang kau mau tau." pinta Herman beberapa detik kemudian.


"Kau tau tentang pria tua tanpa nomor tahanan di tempat fitnes seminggu lalu?" tanyaku.


"Penja maksudmu?" Dia balik bertanya.

__ADS_1


"Ah," jawabku.


"Yang kutau hanya sebatas dia suka keluar masuk penjara dan punya kembaran." terang Herman.


"Kembaran?"


"Ya. Tapi tak ada yang tau siapa kembarannya. Aku sendiri belum pernah melihat kembarannya. Mungkin, itu hanya kabar burung."


"Hmmm...." gumamku. "bagaimana dengan pria bernama Jupri?"


"Jupri Si Tukang Sapu?!" tanya Herman sedikit berseru. "Orang itu sudah mati tiga tahun lalu, untuk apa kau mau tau?" tanyanya.


"Aku hanya ingin memastikan sesuatu." jawabku. "Baiklah, terima kasih untuk semua bantuannya."


"Tentu saja!" tegasnya. "Tapi kalau boleh jujur, kupikir kau akan bertanya dari mana aku dapat surat itu."


"Dari tikus, kan?" tanyaku memastikan.


"Dari mana kau tau?" Herman balik bertanya.


"Aku pernah membaca, kalau tikus dijadikan sebagai kurir. Pengantar surat atau makanan. Ada juga yang menaruh sinyal GPS untuk mengawasi para penjaga." kataku menjelaskan.


"Tch! Kau memang banyak tau. Brengsek!" keluh Herman.


"Terima kasih atas pujiannya," tanggapku lalu bangkit dan kembali duduk pada ranjang.


Aku mengatur napas. Membuka surat pada telapak tanganku dan berusaha supaya sinar malam menyinarinya. Lalu kubaca pesan di dalamnya.


"Hai Bung, alat tulis dan kopi Bung sudah kujadikan satu di balik kasur Bung. Aku harap Bung menghabiskan kopi itu."


Tidak ada nama pengirim. Namun dari gaya bahasa dan bentuk tulisan yang latin memanjang aku sangat yakin kalau itu adalah tulisan Kusandi.


"Apa maksudnya ini? Kenapa dia mengirimku pesan seperti ini? Sudah kubilang kopi itu untuknya, kenapa dia masih menyimpan benda itu untukku? Kenapa? Ada apa?" Aku hanya bisa bertanya-tanya sendiri di balik kedinginan malam yang mencengkam.


🚶🚶🚶


Senin, 25 Februari 2019.


Petugas membangunkanku pagi sekali, sebelum waktu sarapan tiba. Saat aku bangkit dan menghadapnya aku terkejut setengah mati setelah dia berkata: "Ambil barang-barangmu, kau bebas."


Entah aku seharusnya senang atau tidak, mengingat bahwa besok aku harus melawan Direktur demi mendapat bantuan darinya untuk mencari orang-orang Kusnandar, dan kalau tidak nyawa pria tua dalam bahaya. Namun, di sisi lain, aku memang harus kembali mencari Lutfi setelah hampir satu bulan penuh tidak mendapat kabar terbaru darinya. Bagaimana? Apa yang harus kulakukan sekarang?


"Heh! Keluar! Kau sudah bebas!" bentaknya.


"Tunggu-tunggu, kenapa aku dibebaskan?" tanyaku, sekaligus berusaha menolak pembebasanku hari ini.


"Tuntutanmu sudah dicabut. Masalahnya sudah selesai." jelas petugas.


"Mustahil!" tangkisku.


"Kalau kau tidak mau keluar sekarang, aku akan mengurungmu untuk jatah satu tahun!" ancamnya.


Dengan napas berat, aku keluar dari kamar tahananku mengikuti langkah petugas. Di otakku hanya terus berkutat pasal rencana yang gagal total dan takdir buruk yang bakal menimpa pria tua.


Setelah mengambil barang-barangku di sel Selatan yang sepi—tidak ada Jaja, tidak ada Kusnadi—dan menyogok petugas supaya tidak menyitanya, lalu menerima perlengkapanku sebelum masuk penjara, dan mengganti pakaian tahanan dengan pakaian manusia normal, aku berdiri di depan portir sambil menghadap ke tempat yang sudah terasa seperti rumah bagiku.


Sekarang, sulit rasanya meninggalkan tempat ini. Terlebih dengan hal buruk yang bakal terjadi besok. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan seperti apa jadinya besok, dan seperti apa kemarahan pimpinan tempat ini besok. Aku hanya bisa berharap, semoga hal buruk tidak menimpa Kusnadi, semoga dia tidak mati, semoga orang-orang yang mendukungku juga tidak mati, semoga semuanya baik-baik saja, karena aku tidak bisa apa-apa. "Semuanya, jaga diri kalian."

__ADS_1


Aku membalik badan. Melangkahkan kaki. Keluar dari Rumah Tahanan Negara Kelas I Jakarta Pusat.



__ADS_2