
i
Aku sampai di depan pintu rumah pribadi milik keluarga Risma setelah menyisiri halaman depan yang cukup luas.
Aku berpamit saat dia sibuk mencari kunci.
"Tunggu, tunggu!" serunya kepayahan memaksaku untuk berhenti melangkah. "Kenapa buru-buru?" Dia nanya.
Aku menunjuk dengan mata ke arah langit yang mulai menghadirkan awan-awan gelap, pertanda bahwa sebentar lagi akan hujan.
"Oooh.... me-mendung, ya?" Dia nanya.
Aku ngangguk.
"Kamu ... ga mampir dulu?" Dia nanya lagi.
Aku menggeleng.
"Oya, kan mendung. He he he...." Dia memukul keningnya.
Aku ngangguk lagi.
"Tapi.... tapi bentar, bentar dulu. Ya?" pintanya. "Sebentar saja,"
Aku menghembus napas, tapi menurut juga. Kembali melangkah ke teras dan menunggunya selesai mencari kunci. Itu kurang lebih selama tiga menit.
"Ah, ketemu!" Dia berseru sambil melempar senyum yang tiada kupedulikan sama sekali. Kemudian mengalihkan mata dengan pandangan bingung dan membawa barang-barangnya masuk, lalu meninggalkan anaknya yang masih tertidur dalam pelukanku.
Lima menit selanjutnya, dia keluar dan mengambil anaknya untuk digendong, lalu menyerahkan uang ganti rugi.
Aku menerima dan menghitungnya. Rp. 140.000,-. Pas, sesuai bagian, setengah dari harga membayar menumpang mobil Pak Edi. Meski, aku sedikit kesal karena jatahku membawa barang-barang bawaannya tidak masuk ke dalam hitungan. Ya, baiklah, aku akan menganggapnya sebagai amal. Meski aku sendiri, sebenarnya tidak memiliki keinginan untuk datang ke rumah ini. Jadi, aku memang rugi bersama dengannya.
Oke, oke. Amal. Baik. Aku akan mencoba menerimanya.
Aku kembali melangkahkan kaki untuk pergi dari rumahnya. Tapi kembali dia hentikan.
"A-anu.... aku, punya sesuatu buat kamu. Tunggu sebentar!"
Belum sempat aku menjawab dia sudah berlari masuk ke dalam umah. Melakukan kecerobohan dengan membiarkan pintu rumahnya terbuka. Kalau saja aku seorang kriminal, pasti sudah kucuri barang-barang miliknya. Tapi, tentu aku tidak melakukan hal itu. Sekalipun aku sudah dirugikan.
Huh, baik, baik. Aku akan mencoba ikhlas dengan hilangnya uang 140 ribu itu.
Aku mengimbau kepada para pembaca buku ini, kalau kalian dibantu seseorang, jangan mudah percaya kepadanya seperti apa yang dilakukan Ibu Risma. Harus! Bagaimanapun, selalu 'ada udang di balik batu'. Jadi, tetap perlu waspada!
Wanita itu kembali setelah 15 menit aku menunggu. Napasnya ngos-ngosan, bajunya basah oleh keringat, beberapa kali dia juga mengusap wajahnya dengan kain pada ujung lengannya. Tapi senyumnya masih saja berkilat saat melihat ke arahku. "Ma-maaf, lama.... ya?"
Aku ngangguk.
"Ini," katanya sambil memberikan sebuah kotak makan.
Aku menolaknya.
"Ka-kamu.... kamu ga suka, ya?" Wajahnya berubah sedih. "Padahal, aku udah cepet-cepet masak."
Mendengar keluhannya membuatku hampir iba.
"Ya sudah kalau gitu.... maaf sudah buang-buang waktumu." katanya lagi.
Hujan seketika turun, membasahi sekujur tubuhku
Lah.... bagaimana ini?
"Aku ambilin payung, dulu." katanya. Masuk rumah dengan langkah berat, kemudian kembali dan memberikannya kepadaku.
Aku lagi-lagi menolak, lalu bersiap menerjang hujan. Belum sempat aku berlari, dia menarik ransel yang kugendong. Memaksa aku untuk diam dan menghadap ke arahnya.
"Iya, aku tau, aku udah banyak nyusahin kamu. Tapi aku juga udah minta maaf. Aku ngasih ini sebagai permintaan maafku dan rasa terima kasihku." Dia menjelaskan dengan dera air mata. "Apa kamu ga bisa ngehargai usaha wanita?!"
Mendengar seruannya membuat otakku sesaat menampilkan memori masa lalu.
πΉπΉπΉ
ii
Hari minggu di tahun 2011.
Seperti biasa, aku dan Lutfi bakal mengunjungi sebuah panti asuhan untuk membagi makanan dan mainan, serta bermain dengan anak-anak di sana. Menyalurkan hobi kami terhadap anak kecil. Namun, sebelum sampai ke sana, kami tetap menyempatkan waktu, mampir di taman untuk sarapan.
Aku duduk di sisi Lutfi yang sedang menyiapkan sarapan. "Kayaknya, aku ga sarapan dulu."
"Loh, kenapa?" Dia nanya.
"Mual," Aku jawab.
"Masuk angin, apa?"
__ADS_1
"Kayaknya,"
"Hmmm...." Lutfi menggumam. "Harus tetep sarapan! Biar ga sakit."
"Tapiβ"
"Ga boleh nolak!" serobotnya. "Sekarang kamu coba minum dulu, nih."
Aku menerima segelas teh hangat yang dia berikan. Meminumnya perlahan. Menikmati segala kehangatan yang menjalar dari dalam tubuhku.
"Gimana?" tanyanya kemudian. "Mendingan, kan?"
Aku ngangguk dan melempar senyum. "Makasih,"
"Sama-sama. Sekarang sarapan, ya?" pintanya.
"Tapi," Aku mencoba menolak.
"Aku udah masak tau, apa kamu ga mau ngehargai usahaku?!"
Mendengar nadanya yang meninggi, aku mengalah. Dan menuruti perintahnya.
Lutfi mengambil kotak makan dari dalam ransel, membuka penutupnya, dan menunjukkan isi di dalamnya.
"Wah, nasi goreng...." kataku bersemangat.
Dia senyum. "Iya, aku masak ini khusus buat kamu. Jadi, dimakan, ya?"
Aku ngangguk semangat. Menunggu Lutfi membagi dua bagian untukku dan untuknya.
"Kenapa pake itu?" Aku nanya setelah melihat daun pisang yang digunakan sebagai alas nasi goreng di dalam kotak makan.
"Iya, ini biar minyaknya pada keluar. Kan kamu ga suka makanan yang berminyak."
Aku sangat bahagia mendengarnya.
"Jadi, kalau orang lain nawarin makanan, diterima, ya? Kasian tau, udah usaha bener-bener, malah langsung kamu tolak."
"He," Aku ketawa.
"Dasar!" bentaknya sambil menepuk pundak kananku. "Jangan diulang!"
Aku ngangguk.
"Iya," jawabku.
"Iya apa?!" tanyanya meminta penjelasan.
"Iya janji,"
"Iya janji, janji apa?" Dia nanya seperti sedang melakukan tes wawancara kepadaku.
Aku menghembus napas. "Iya janji ga kayak gitu lagi. Janji lain kali aku bakal nerima makanan yang orang lain kasih."
Lutfi menggumam.
"Kenapa?" Aku nanya.
"Kalo ga ikhlas ya udahlah ga usah dipaksa," Dia berkata.
"Ga ikhlas?" tanyaku lagi.
"Iya," jawabnya. "kalo ga ikhlas, ya ga usah janji segala."
"Aku iklas, kok." ucapku.
"Tuh, kan?"
"Lah, apalagi, sih?"
"Bilangnya bukan ikhlas, tapi iklas."
"Telingamu kali yang salah denger," Aku asal berkata, bermaksud bercanda.
Lutfi menepuk pundak kananku lagi. "Malah nuduh kalo aku budeg?!"
Aku terkejut mendengarnya. "E-engga, kok! Aku ga nuduh kamu kayak gitu."
"Iya!" serunya.
"Engga!" sangkalku.
"Iya!"
"Engga!"
__ADS_1
"Iyaaaaa!"
"Enggaaaaa!"
Lutfi lagi-lagi menepuk pundakku. "Jadi laki ga mau ngalah, keras kepala banget, sih!"
"I-iya deh, maaf." kataku mencoba mengakhiri perdebatan.
"Maaf apa?!" tanyanya, masih pada nada tinggi.
"Iya maaf, karena udah ngeyelan."
Lutfi mendengus. Manyun. Dengan kedua tangan menyilang di depan dadanya.
"Iya, iya, maaf. Lain kali ga kayak gitu." Aku mencoba membujuknya.
"Heh!" Dia masih bersikukuh untuk ngambek.
Aku ketawa.
"Kenapa ketawa?! Emang lucu?!"
Aku ngangguk.
"Apa? Apanya yang lucu?!" tanyanya masih berekspresi jengkel.
"Tadi kamu: 'Heh!'" ujarku meniru gelagatnya. "Mirip kayak sapi."
Lutfi kembali menepuk pundak kananku. "Sembarangan, malah sekarang disamaain sama kebo."
"Sapi!" tangkisku. "Kenapa bisa jadi Kebo?"
"Lah kan mirip," katanya.
"Engga!"
"Mirip!"
"Engga!"
"Tuh, tuh, kan.... mulai lagi."
Aku menyeringai dan menahan pukulan Lutfi pada bahu kananku.
"Kebiasaan buruk, tau!" katanya.
"Cuma bercanda," kataku.
Dia menggumam. "Coba, masih inget ga, tadi janji apa?"
Aku ngangguk. "Masih," jawabku.
"Coba janji apa?" ujinya.
"Janji kalau ada orang ngasih makanan jangan langsung ditolak, tapi diterima dulu, buat ngehargain usahanya bikin makanan itu." Aku menjelaskan.
"Nah, pinter." ujar Lutfi akhirnya. "Ya udah ayo sarapan,"
"Iya sayang," ucapku sok jantan dalam degup jantung yang menggebu.
Wajah Lutfi memerah, kuyakin karena bahagia bercampur malu.
πΉπΉπΉ
iii
Sekarang, di tahun 2018.
Mengingat masa itu, mengingat memori kala aku bersama Lutfi, membuat hatiku merintih. Kecewa kepada diriku yang masih mengingkari segala janji yang telah kubuat bersama Lutfi.
Aku memang lelaki yang payah, karena tidak bisa menepati tanpa berjanji. Yang bahkan setelah berjanji tetap saja kuingkari. "Lutfi, maaf." Hatiku berkata.
Kulirik pada seorang Ibu yang berdera air mata. Ingin aku meminta maaf kepadanya, tapi nyatanya aku tak sanggup berkata-kata. Aku tidak ingin, ada suatu hal yang istimewa tentangku di hati atau otaknya. Tapi, aku juga tidak mau kalau dia akhirnya dendam kepadaku. Belum lagi, dia sudah tahu pekerjaanku dan perusahaan tempat aku bekerja.
Aku takut, kalau-kalau nantinya dia bakal menyebar gosip ini itu, dan membuat reputasiku sebagai penulis menurun. Bagaimanapun juga, aku berharap nama Danu Banu tetap dipandang baik di kalangan para penulis dan para pembaca.
Kuambil kotak makan dari tangan kanan Ibu Risma dan mengabaikan payung ditangan lainnya, membuatnya terkejut dan seketika berubah dengan tatapan bingung.
"Makasih, kataku dan berlalu menerjang hujan tanpa payung.
Terakhir kali yang kulihat darinya adalah sebuah senyuman lebar yang merekah di wajah mudanya. Sangat muda bagiku. Begitu mustahil kalau dia ternyata adalah seorang janda beranak satu. Dan terakhir kali yang kudengar dari suaranya adalah: "Makasih. Aku harap kita bisa berjumpa kembali".
Terakhir kali yang aku harapkan tidak akan pernah bisa melihat wajah dan suaranya. Terakhir yang aku harapkan tidak berurusan dengannya, lagi. Dalam kondisi seperti apa pun. Jangan sampai!
Ya, semoga saja. Aku tidak mau bertemu dengan orang itu lagi atau sejenisnya.
__ADS_1