
Malamnya, mendekati pukul 23:00 WIB, mataku masih susah untuk kututup. Rasanya seperti aku maih belum mau tidur sebelum dapat kabar darinya.
Siapa? Ya, Gilang!
Kenapa? Ya, aku ingat. Sewaktu di jalan, Gilang mau bilang sesuatu, tapi katanya nanti nunggu aku selesai ganti pakaian dan sudah istirahat. Tapi, sampai detik ini, dia belum juga telpon.
Apa mungkin, pulsanya habis?
Aku ga tahu sih. Tapi gimanapun, aku belum bisa hubungi Gilang, karena ga punya nomornya.
Dalam ketidakpastian ini, biasanya aku bisa acuh, dan segera pergi tidur. Tapi, tidak untuk kali ini. Aku benar-benar menunggunya. Dia yang selalu diam-diam membantuku. Dia yang menyatakan rasanya tanpa minta balasan apapun. Dia yang selalu mendukung pilihanku. Dia yang menyemangatiku. Dia yang tidak pernah marah padaku. Dia Gilang, pria idamanku!
Kupandang hp-ku, berharap, barang kali Gilang akan menelpon. Meski aku tak pernah memberi tahu dia, berapa nomorku. Gilang, sih, ga nanya, ya ga aku kasih.
Namun mendadak ada panggilan masuk dari nomor tidak dikenal. Aku senang, karena kupikir itu dari Gilang. Ternyata salah.
Aku langsung menutup telponnya setelah mendengar suara bapak-bapak berkata: “Priwe, sida ora? Nyong ngenteni ket mau.”
Itu bahasa Jawa Ngapak, artinya: “Gimana, jadi ga? Aku nunggu dari tadi.”
Ah! Aku lemas. Rasanya mustahil Gilang punya nomorku. Ateg saja, yang teman kost, tidak punya nomorku.
Agak nyesel, yang tahu malah Kelvin. Cowo paling ngebosenin, pemaksa, dan suka bikin cerita yang ga ada terkesan benar-benar nyata.
Aduh! Aku masih belum bisa tidur! Gilang, tolong hubungi aku.
Aku kemudian, menutup mata dengan bantal, mencoba tidur. Namun, justru menampilkan reka adegan kejadian-kejadian di mana aku bersama Gilang.
Mulai dari dia meminta absen terus padaku, dia ngajak makan, pulang bareng, datang malam-malam cuma buat ngasih pesan penting: “Lutfi, aku cinta kamu.”, ngasih kado buat ngrayain hari kelahiran, nyatain rasanya buat aku tapi ngomongnya ke Kelvin. Aduh ngeselin banget sih kamu! Aku ketawa bercampur air mata.
“Gilang, aku rindu. Kamu dengar, kan?”
Mendadak hpku berbunyi sekali, tanda ada pesan masuk. Kubuka pesannya.
Ah, nomor asing lagi. Aku langsung mikir pasti yang tadi salah sambung.
Dengan penuh rasa malas, kubaca pesannya:
“Selamat malam, buat kamu yang pasti lagi nungguin aku. Maaf lama, aku cuma tahu nomormu sepuluh digit. Jadi dua di belakangnya, terus kucoba, sampai aku yakin, ini yang terakhir kali, pasti punyamu, kan, Lutfi? Maaf, belum bisa nelpon. Pulsaku habis, dan konter udah pada tutup, barusan aku cari muter-muter ga ada yang buka. Tapi aku lihat, lampu kamarmu masih nyala. Jadi, terserah kamu. Mau marah, atau balas pesanku, atau telpon aku, atau cek keluar buat lihat aku.—Gilang.”
Aku senang bercampur terharu, soalnya Gilang bela-belain buat terus coba nyari nomorku sampai pulsanya habis. Terlebih, aku ga nyangka, pesan SMS-nya jutru panjang banget. Kan, SMS, harusnya pendek.
Dan setelah itu, dengan agak susah payah, aku bergegas bangkit untuk membuka gorden kamarku.
Ya, Tuhan! Itu Gilang! Orang yang aku tunggu-tunggu. Akhirnya, akhirnya!
Aku kehabisan kata-kata, sampai air mataku tumpah ruah membasahi wajah ini.
Tampak dia senyum di bawah langit gelap tanpa ada cahaya lampu di sekitarnya. Gilang juga memakai pakaian yang sama persis seperti sebelumnya. Celana levis warna gelap, kaos hitam polos, jaket hitam bertutup kepala yang tidak digunakan, dan syal putih.
Aku langsung menelponnya untuk segera mendengar suaranya, juga memastikan itu dirinya atau buakan.
Pria di luar juga ikut mengangkat ponselnya dan meletakan di telinga. Tanda dia benar-benar Gilang.
“Hallo,” sapanya.
“Ha-hai.” kataku gugup.
“Belum tidur?”
“Belum.”
“Maaf, membuatmu menunggu lagi.” katanya dengan nada penuh akan penyesalan.
“Kamu ga salah.” jawabku.
“Bisa lihat aku?” tanyanya.
“Bisa.”
“Aku juga.”
“Juga apa?”
“Juga bisa lihat aku.” katanya datar.
Aku baru ingat kalau kaca kamarku memang sengaja pakai kaca hitam. Jadi kalau dari dalam kamar, bisa lihat ke luar, tapi dari luar, ga bisa lihat dalam, malah kayak cermin gitu.
Agak kecewa sebenarnya aku, karena Gilang tidak bisa lihat aku. Padahal, sih, ya, tadi dia juga lihat aku, besok juga bisa lihat aku. Ah! Aku harap dia bisa ke kamarku sekarang. Atau tidak?
“Maaf.” kataku.
Gilang mendadak mendekat, lalu meletakan tangannya di kaca. Aku membalasnya. Rasanya seperti tangan kami sedang saling menempel satu sama lain untuk berbagi kehangatan, meski kaca itu justru memberikan rasa dingin padaku, dan tentunya lebih untuk Gilang.
“Tidurlah, sudah malam.”
“Iya.”
Aku segera kembali ke kasurku meski tertatih-tatih karena kakiku masih sangat pegal dan sakit ketika digerakan. Walau sebenarnya, aku masih ingin lihat Gilang. Tapi aku tahu, dia meminta begitu, agar aku bisa beristirahat cukup, karena besok juga ada seleksi LCC.
Aku berbaring di ranjangku, lalu membenarkan rambut, posisi bantal dan hp.
“Sudah?” Dia nanya.
“Iya.” jawabku gugup.
Ah! Akhirnya, aku benar-benar merasa sedang tidur dengannya. Dia, Gilangku yang kutunggu-tunggu.
__ADS_1
“Kamu ga marah, aku ga telpon dari tadi?”
“Engga, kan kamu udah jelasin lewat SMS.”
“Oya. He.”
Aku tahu, dia pasti ketawa.
“Gilang.” kataku.
“Iya,”
“Kamu kalau ngomong dikit banget, tapi SMS-mu panjaaaang sekali.”
“He.... kan emang suka nulis.”
“Oh, iya.” kataku ikutan ketawa kecil.
“Kamu tahu, aku suka nulis?”
“Tahu.”
“Dari siapa?”
“Rahasia?”
“Pasti dari Mas Asep?”
“Siapa Mas Asep?”
“Aku juga ga tahu.”
“Gilang!”
“He,” Dia ketawa, aku juga.
“Aku pengin baca tulisanmu.”
“Kapan?”
“Sekarang.”
“Tapi ga bawa bukunya.” katanya dengan nada menyesal.
“Kan, kamu bisa ceritain.”
“Itu sih, sama aja, kamu ga baca.”
“Oya. He he he.” Aku jadi bingung sendiri. “Tapi, aku pengin tahu, kamu bikin cerita kayak apa.”
“Kamu ceritain, ya?”
“Iya.”
“Makasih, Gilang.”
Aduh! Aku benar-benar senang malam ini. Entah kenapa, rasanya kami seperti pasangan yang sedang menjalin komunikasi khusus.
“Suatu hari, ada seekor kelelawar jantan yang ga sengaja lihat bunga mawar yang lagi tidur. Lama kelamaan, dia jadi suka sama si bunga mawar.”
“Jadi kayak dongeng, dong? Atau fabel?”
“Terserah. Gimana?”
“Lanjutin.” pintaku.
“Oke. Tapi KJ tahu—”
“Tunggu-tunggu.” kataku memotong. “KJ itu siapa? Kelelawar jantan?”
“Iya, biar simpel.”
“Ha ha ha. Berarti bunga mawar, BM, dong?”
“Iya.”
“Ha ha ha.”
“Ga suka?”
“Suka! Lanjutiiiiin....” pintaku. Ga sadar aku pakai nada manja, kayak yang biasa aku lakuin ke ayah.
Aduh, kok bisa sih Gilang bikin aku ngerasa nyaman gini?
“Oke. Tapi KJ tahu, kalau takaran hidup mereka jauh berbeda. KJ hidup pada malam hari, sedang BM, hidup pada pagi hari. Jadi KJ mikir, sampai kapanpun, ga ada waktu buat mereka bisa ngobrol.”
“Yah, kasihan. Terus?”
“Dia usaha, tidur pas malam, biar pas pagi bisa bangun. Berkali-kali, tapi gagal. Sampai-sampai KJ lupa buat nyari makan.”
“Aduh, kurus dong?”
“He. Tapi, KJ ga nyerah. Dia pengin banget bisa ngobrol sama BM.”
“Apa lagi yang dia lakuin?”
“Dia minta bantuan kunang-kunang.”
__ADS_1
“Buat apa?”
“Buat jadi matahari bohongan di dalam gua, biar KJ ngira itu pagi hari. Jadi dia bisa tidur.”
“Eh, pinter dong.”
“Aamiin.” jawabnya sedikit ketawa.
Aku juga ikutan ngamini. Seakan KJ itu jelmaan dari Gilang, yang emang suka tidur di pagi hari, karena punya penyakit insomnia.
“Terus?”
“Dia bangun pagi-pagi buat nemuin BM.”
“Syukurlah.”
“Tapi, gara-gara itu matanya jadi buta.”
“Kok gitu?”
“KJ udah biasa hidup di tempat yang gelap soalnya.”
“Aduh, kasihan.”
Ga tahu kenapa aku beneran sedih, sampai nangis.
“Gara-gara itu, KJ nyerah. Dia udah ngerasa semua usahanya percuma buat sekadar bisa ngobrol sama BM.”
“Yah, kok cerita sedih, sih?”
Seakan menghiraukan omonganku. Gilang tetap melanjutkan ceritanya. “KJ frustasi. Tiap tidurnya, dia cuma terus manggil BM. Ngigau. Jadi sama kunang-kunang disuruh nemuin BM, tapi KJ malah jawab: ‘Dunia kami itu beda, dia matahari sedang aku rembulan. Sampai kapanpun, tidak akan bisa bersama. Harusnya aku sadari itu dari awal.”
Aku merinding dibuatnya. Aku benar-benar tidak ingin kejadian itu menimpa aku dan Gilang.
“Kunang-kunang yang ngerasa sedih dibuatnya, langsung nyeritan semuanya ke BM.”
“Terus?”
“BM nangis, dia jadi jatuh cinta sama KJ, walau dia itu milik sang malam. BM ga peduli walau dunia menolak mereka bersama, BM tetap cinta KJ, karena perjuangan dan pengorbanannya.”
Lagi-lagi, aku seakan tergugah oleh cerita yang dibuat Gilang. Namun hanya diam, ingin segera tahu kelanjutannya.
“Kunang-kunang yang makin kasihan dengan jalan cerita mereka yang sama persis seperti kisah Isabela,—”
“Kunang-kunang tahu kisah Isabela?” Aku nanya agak ketawa.
“Iya, soalnya di sekitar tempat tinggalnya, orang-orang sering muter lagu itu, dia hapal deh.”
“Ha ha ha. Lanjut.” pintaku sambil terus ketawa, seakan melupakan kesedihan dari kisah sebelumnya.
Ah! Gilang paling bisa bikin aku senang.
“Jadi kunang-kunang ceritain kisah mereka ke seluruh penduduk hutan sesuai permintaan BM.”
Penduduk hutan? Ada-ada aja. Gilaaaaang, Gilang. Kamu kok nggemesin, sih?
“Abis itu, pohon raksasa yang udah hidup ratusan tahun, ngasih tahu kalau mereka bisa bertemu besok pagi karena akan ada gerhana matahari. Itulah saat di mana matahari dapat berjumpa dengan bulan yang dicintainya.”
Lagi, dan lagi. Hatiku seakan dialiri aliran listrik statis. Menjalar ke seluruh tubuhku.
“Saat itu, kunang-kunang dan seluruh penduduk hutan akhirnya bisa memertemukan mereka berdua.”
Aku terharu mendengarnya. Hingga air mataku menetes saking gembiranya.
“Di sana, di sekitar akar pohon raksasa, mereka saling memperkenalkan diri satu sama lain. Dan berikrar, akan terus menjaga cinta mereka berdua.”
“Waaah....” kataku.
“Sejak saat itu, KJ dan BM terus bertemu setiap kali terjadi gerhana matahari atau gerhana bulan.”
“Waaah....” kataku lagi kegirangan.
“Dari situlah KJ sadar. Kekuatan cinta, akan mampu mengubah segalanya. Dia bisa menyatukan pagi dengan malam, layaknya gerhana matahari. Dia juga bisa menyatukan malam dengan pagi, layaknya gerhana bulan. Karena bagi cinta sejati, tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini.”
Aku terpana mendengarnya. Seakan dia baru saja memberiku segunung cinta yang meledak hingga membasahi seluruh daratan perasaan milikku.
Aku tidak menyangka. Kisah yang biasanya dijadikan dongeng atau fabel ini, disulapnya menjadi kisah romantis yang baru pertama kali kudengar.
Gilang, aku sungguh terpana dengan caramu memandang dunia.
“Udah.” katanya memberitahuku bahwa ceritanya telah usai.
“Bagus.”
“Syukurlah, dan.... makasih.”
“Aku yang harusnya bilang makasih.”
“He,” Dia ketawa. “Ya udah, sekarang tidur, ya?”
“Iya.” jawabku.
“Selamat tidur Lutfi.” katanya dengan menutup telpon tanpa menunggu jawabanku.
Aku masih senyum-senyum sendiri. Merasa sangat bahagia. Seperti aku pulih dengan sangat cepat.
Mematikan lampu kamar. Menutup mataku. “Selamat tidur juga Gilang.”
__ADS_1