Lutfi Gilang

Lutfi Gilang
9. Keberuntungan Tidak Terduga


__ADS_3

Sekitar pukul 10:07 WIB.


Sewaktu aku sibuk berlatih fisik, sedang si pria tua bermalas-malasan dengan tidur, dan Si Tahanan Baru belum juga kembali, mendadak petugas datang dan mengetok jeruji besi berulang kali.


"Sembilan-lapan-nam," panggilnya. "ada pekerjaan untukmu."


"Kerja? Bukannya hari Minggu juga hari libur bagi napi?" Aku bertanya-tanya sendiri.


Setelah pintu sel dibuka dan ditutup kembali, aku mengikuti langkah petugas menyusuri koridor. Hingga berganti pada petugas kelima. Entah apa alasannya. Selanjutnya, merasa tidak asing dengan tempat yang kulewati, kami ternyata menuju WC negara.


"Hmmm.... sepertinya aku disuruh bersihin ini, lagi." pikirku.


"Ambil sikat, dan bersihkan!" seru petugas memerintah.


Dengan terpaksa aku menurut. Menggosok wadah kencing pria menggunakan alat pembersih, meski harus berulang kali menahan napas, saking pesingnya jika dicium dari dekat. Dan sialnya, setelah aku berpindah pada urinoar kedua, Si Penjaga justru menggunakan peturusan yang sudah bersih untuk kencing. Kemudian berkata: "Yang ini masih kotor. Bersihkan!"


Aku menggeram. Namun tetap menurut, walau terpaksa. "Biadab! Apa begini perilaku orang yang dibayar pemerintah? Bertindak seenak jidat, dan berlagak menguasai segalanya!" ujar hatiku menggebu-gebu.


"Cukup. Pergilah mandi!" seru petugas setengah jam kemudian.


Aku mengangguk, dan mengikuti langkah petugas lain menuju tempat mandi petugas di mana hanya ada shower yang berbaris tiga bersaf. Aku juga melihat beberapa napi lain tengah mengguyur tubuh mereka dengan air itu.


"Hmmm.... sepertinya ada untungnya juga aku menurut membersihkan WC negara. Bisa mandi gratis." Hatiku berkata.


Setelah menanggalkan pakaianku, hanya mengenakan celana, aku menuju tempat kosong. Menyalakan wall shower dan mulai menggosok badanku. Rasanya sangat segar dan nikmat sekali. Seakan tubuhku bakal benar-benar bersih sekarang.


Dalam aktifitasku, aku sempat melihat pria gendut menghampiri petugas dan berbisik: "Hai Franky, aku punya cemilan untukmu. Jadi beri aku waktu untuk main sebentar." Lalu melangkah ke arahku setelah petugas mengangguk. "Kau punya tubuh yang mulus," kata orang itu saat jarak kami tinggal semeter.


Aku melangkah mundur, menjauh darinya. Berusaha supaya tidak disentuh oleh pria homo itu. Benar, satu pelajaran penting lainnya, 'Seumpama ada tahanan yang memuji tubuhmu, yakinlah kalau dia homo.' Memang, kondisi tanpa pasangan membuat kinerja mental para napi berubah sinting. Mereka kebanyakan memilih menjadi homo untuk memuaskan nafsu mereka. Dan kalau tidak homo, mestilah mereka sangat suka beradu fisik.


"Kemarilah, aku takkan menyakitimu. Kita bisa bicara sebentar, aku punya kopi hitam nikmat yang pasti kau suka." tambahnya.


Mendadak dari arah belakang dua orang pria mendorongku maju, hampir membuatku menubruk pria homo.


"Woa, woaaa.... tenang. Kami tidak akan menyakitimu. Oke?" ucapnya dengan nada menggoda gadis. "Aku hanya ingin merasakan seberapa padat lubang pantatmu itu. Dan kau boleh merasakan punyaku juga."


Aku meludah ke sisi kiri. "Lebih baik aku mati."


"Kau yang minta, bocah!" geramnya dengan gigi gemeletuk. Mengambil posisi menyerang, kaki kiri depan, dan kedua tangan melindungi wajahnya. Khas petinju.


Kulirik ke arah belakang. Kedua pria tadi mundur. Bersandar tembok dan menyilang tangan.


"Rupanya mereka hanya melihat atau tidak?" Aku berpikir sendiri.

__ADS_1


"Maju! Satu lawan satu! Bertanding secara jantan!" Dia berseru. "Kalau kau kalah, kau bakal jadi bonekaku!"


"Jangan harap, brengsek!" Aku mengambil posisi bertahan, kuda-kuda kanan depan, sesudah lebih menjauh dari kedua napi di belakangku.


Pria homo itu mendekat sambil kaki jinjit dan lompatan-lompatan kecil ala bokser lalu melakukan serangan kombinasi yang berhasil kutangkis. Sewaktu dia melakukan lead and rear aku terkecoh, aku justru mengambil ancang-ancang tangan kanan membuat hook kirinya masuk dan menghantam pipi kananku, memaksa badanku ikut berputar ke kiri, tapi aku berhasil memanfaatkannya dengan menyelesaikan pukulan melingkar yang tepat mengenai telinga kirinya menambah dorongan dari putaran tubuh, lalu menyambung serangan bersama uppercut kiri yang menerjang dagu bulatnya. Dia terpental dan jatuh telentang.


Saat pria homo itu berusaha bangkit aku menendang telak wajahnya berulang kali. Pada kali keempat, dia berhasil menangkap kakiku. Menariknya dan menjatuhkanku. Lantas menindihi tubuhku. Kulihat dia menyinyir girang, mengira dirinya telah menang. Aku dengan sigap menusuk kerongkongannya menggunakan ujung-ujung jari yang berderet rapat, memaksa lawanku tersentak dan kehilangan kesadaran.


Aku bangkit sehabis menyingkirkan tubuh pria homo gendut arkian menghadap napi yang kini berekspresi masam. Pertarungan berlanjut hingga kedua pria itu terkapar. Sedatinya aku tidak perlu menjelaskan bagaimana kami berkelahi. Karena memang banyak menggunakan serangan, tangkisan, dan elakkan. Aku bahkan beberapa kali menerima tendangan di bagian perut yang juga membikin aku menubruk tembok. Tentu saja aku kewalahan menghadapi dua orang dewasa sekaligus. Namun akhirnya, aku bisa melewati itu. Dan aku kudu bersyukur, walau tubuhku banyak merasa pegal.


Dari arah lain, kudengar suara dengusan napas yang lantas kutahu itu milik penjaga pertama. Dia melempar tatapan jengkel, lalu menyuruhku untuk kembali ke kamar huni dengan isyarat.


Aku mengangguk. Membilas badanku dari keringat memakai shower lalu mengenakan pakaianku lagi. Baju tahanan nomor 986. Tiga digit angka yang menjadi kutukan untukku. Tanda salah satu napi paling bermasalah di rutan satu negara Jakarta Pusat.


🚢🚢🚢


Sampai di sel tahanan Selatan, aku mendapati Jaja dan Kusnadi sedang asik ngobrol.


"Sudah selesai?" Aku nanya setelah duduk di ranjangku.


Si Tahanan Baru mengangguk. "Hanya untuk kepentingan petugas,"


Aku terkejut. "Aku tidak menyangka, kau juga bakal diperlakukan seperti kriminal."


"Yah.... kebanyakan memang tidak tau tentangku." jawabnya.


Pria tua mengangguk semangat, tak kutahu kenapa. "Berbaringlah, Bung."


Aku menuruti perintahnya dan melenyehkan badan di atas kasur. Kusnadi menaikiku kemudian mulai memijit.


"Apa yang terjadi, Detektif?" tanya Jaja.


"Hanya lelah. Membersihkan WC negara dan berkelahi dengan para homo." kataku.


"Homo?!" Si Tahanan Baru berseru.


"Ya," ucapku.


"Jadi tahanan seperti mereka benar-benar ada," ujar Jaja lagi.


"Dua puluh persen, Bung. Itulah jumlah berandalan yang normal tapi rada psikopat." jelas Kusnadi ikut menyambung. Tetap membenarkan otot-otot bagian belakangku.


Kudengar Si Tahanan Baru mendengus.

__ADS_1


"Jadi, apa yang kau lakukan?" tanyaku pada Jaja.


"Ah!" serunya. "Kebetulan sekali. Aku disuruh ke tempat laundry, menyuci seragam petugas. Dan aku melihat para napi adu jotos dengan membahas soal 'makar'. Sepertinya, hal itu sangat rahasia. ....Menurutku," Si Tahanan Baru menjelaskan. "bagaimana menurutmu, Detektif?"


"Mari kita pastikan saja, langsung." tanggapku.


"Bagaimana kau akan ke sana?" Jaja kembali bertanya.


Aku menyeringai setelah mendengar omongan Kusnadi yang kali ini banyak diam, berubah seperti dirinya semula, tenang dan bijak. "Petugas juga suka ngopi."


🚢🚢🚢


Waktu bebas tiba. Seluruh napi disuruh pergi ke halaman utama, tempat di mana napi bisa bercengkerama dengan tahanan dari segala blok, tempat di mana napi bertransaksi jual beli secara bebas, dan tempat di mana petugas sangat senang disogok.


Setelah membeli sekarung kertas greaseproof kepada penjaga gerbang, Kusnadi bertanya ke beberapa napi yang lumayan bisa diajak kerjasama. Mereka memberitahu kami kalau yang biasa ke tempat laundry dan memang menguasainya adalah Burhan, napi pindahan yang suka ngajak ribut. Dipindahnya sudah lumayan lama, lima belas tahun lalu. "Dia juga sering nyari-nyari makar." tambah mereka.


Dari beberapa informasi yang diambil secara acak, tentu saja itu bisa dinilai akurat, meski ketepatannya kurang dari 100%. Namun, bisa kupastikan bahwa napi pindahan itu ada hubungannya dengan Kusnandar Singodiredjo. Dan aku hanya perlu membuktikannya hari ini juga.


Setelah menyogok para petugas dengan tiga gelas kopi, mereka membiarkan kami menuju ke laundry. Dan untuk berjaga-jaga aku meminta Kusnadi menyiapkan beberapa homo barang kali Burhan ini juga termasuk golongan mereka. Aku masuk seorang diri ke tempat itu, sedang Kusnadi dan Jaja berjaga di depan pintu bersama napi homo. Aku harap mereka berdua tidak digerayangi.


Di sini, aku berada di tempat yang luas, sangat banyak mesin cuci pakaian di sisi kanan dan kiri. Pada salah satu ujung terdapat pakaian yang dijemur dengan pencahayaan melalui atap dari genteng kaca. Di sisi lainnya, ada mesin uap yang barang kali digunakan untuk menyetrika pakaian sehabis dijemur. Di bagian tengah, aku melihat sekumpulan napi yang sedang menggerombol seketika menatap ke arahku setelah mendengar langkah kaki di ruang yang menggema.


"Jatah kerja sudah selesai, kau tidak ada urusan di tempat ini. Pergi!" bentak salah seorang napi di sana.


"Aku mencari Burhan," kataku setelah menghentikan langkah.


"Kau mau apa denganku? Keparat!" geram pria yang seketika kutahu kalau dia adalah pria homo yang kubuat pingsan di tempat mandi petugas.


"Aku mau berunding denganmu." ucapku gembira. Sungguh aku tidak pernah sebahagia ini melihat pria homo sebelumnya. Bukan maksud aku suka apalagi kagum, tentu saja tidak. Aku hanya senang karena aku yakin rencanaku kali ini bakal berjalan sempurna.


"Kau pikir aku bakal percaya dengan keparat sepertimu?!" Dia berteriak-teriak membuat orang-orang di sekitarnya memasang wajah garang.


"Aku tidak datang cuma-cuma, aku membawa sebungkus rokok, beberapa biji kopi dan.... kau tau," Aku menyeringai, berharap dia paham maksudku. Dengan dua tepukan tangan lima pria homo menyusul masuk setelah Jaja dan Kusnadi. "Kau masih mau menolak?" tanyaku beberapa saat kemudian.


Burhan menelan ludah lalu sedikit mengangkat tangan dan seketika orang-orangnya melangkah mundur. "Aku ingin dengar dulu, apa yang kau mau?"


"Bekerjasamalah denganku," ucapku sedikit berteriak.


Tatapan matanya berubah tajam. "Untuk apa?"


"Untuk memberi pelajaran kepada orang yang mengirimmu ke sini." kataku akhirnya. "Kau sudah lama tidak dibayar, bukan?"


"Tch! Dari mana kau tau, keparat?!" Burhan menggeram.

__ADS_1


"Teman-temanku, punya masalah dengan orang itu. Aku ke sini untuk memastikan benar apa tidak kalau yang mengirimmu adalah Kusnandar?"


Pria homo itu menjawab kalimatku dengan anggukan.


__ADS_2