Lutfi Gilang

Lutfi Gilang
22. Mamah Gilang


__ADS_3

i


Singkat cerita, pokoknya aku ga mau bahas bagian aku ngobrol sama Gilang pas dari Purwokerto sampai Wangon, selama satu jam tujuh belas menit, karena kenyataannya dia diam seribu bahasa.


Pokoknya, pas sampai pertigaan utama jalan raya Ajibarang, aku meminta dia mampir ke toko roti buat beli tentengan. Eh, Gilang cuma diam sambil entah lihat apa. Sesudah itu, ya langsung duduk kayak semula. Persis deh, kayak kamu kalau lagi bonceng sama ojek.


Ketika melewati terminal Wangon, Gilang terus lurus sedikit lalu berbelok ke kiri untuk masuk ke dalam pasar, lalu memarkirkan motornya.


“Kita belanja” katanya.


“Belanja?” tanyaku.


“Iya.”


“Buat apa?”


“Masak di rumah, kamu kan suka masak.”


Sebenarnya aku agak kaget, tapi memang sebagai cewe harus suka dengan urusan dapur. Jadi, aku jawab: “Boleh.”


Kami belanja cabai, bawang merah, bawang putih, semua seperempat kilo. Dan belinya tepat di depan Gilang memarkirkan motornya. Selanjutnya, agak jalan jauh dikit, Gilang membeli sayur kangkung tiga ikat.


Aku, dan kamu pasti bakal mikir nanti disuruh maska itu, kan?


“Kamu pasti sebal karena aku diam pas di perjalanan tadi.” katanya sambil melangkah menuju parkiran.


“Engga.” kataku, meski tebakannya memang benar.


“Kamu bisa bilang, kalau kamu ga suka aku diam.”


“Engga.”


“Kamu bisa bilang, kalau kamu mau aku ngomong.”


“Engga.”


“Kamu bisa bilang, kalau kamu bosan dari tadi.”


“Engga.”


“Kamu bisa bilang,”


Apaan sih? Apalagi? Mau ngomong apaaaa? Seru hatiku.


“kalau kamu mau teriak.”


“Ga mau!”


“Atau tidur di pasar?”


“Ga!”


Apa sih maksudnya? Aku nyusahin? Aku bisa pulang sendiri!


“Kamu bisa bilang, kalau ‘Aku sayang kamu.’”


Deg! Segala rasa marah mendadak sirna. Apa maksudnya dari tadi cuma buat bantu dia ngomong ke arah ini?


“Ke siapa?” Aku mencoba antusias.


“Ke aku.” katanya.


“He he he. Kamu dulu.” pintaku.


“Aku dulu?”


“Iya.”


“Aku dulu yang bilang?”


“Iya.” jawabku gemes.


“Ke siapa?” Dia nanya.


“Ke aku, lah.” Aku jawab.


“Bilang apa?”


“Aku sayang kamu.”


“Yaaa.... kamu duluin.”


“Ha ha ha ha....” Aku ketawa kegirangan.


Bisa-bisanya dia membuatku cepat jengkel. Bisa-bisanya dia membuatku cepat melupakannya. Dan bisa-bisanya dia membuatku tanpa sadar menyatakan perasaan itu terang-terangan.


🌹🌹🌹


ii


Dari pasar, kami menuju ke jalan raya, kemudian berbelok kiri—masuk gang—di depan Polsek Wangon. Dulu, jalan itu tidak terlalu bagus, dan sangat jarang orang lewat.


Gilang menjalankan motornya dengan sangat pelan.


“Gilang, kata Ateg, Ibumu galak. Apa iya?”


“Aku malah baru tahu kalau Mamahku galak.”


“Kamu manggilnya Mamah?”


“Iya.”


“Sama dong?”


“Kamu juga manggil Mamahku, Mamah? Ya boleh.”


Aku memukul bahuya, dia ketawa.


“Maksudnya, aku manggil Ibuku, Mamah.”

__ADS_1


“Aku tahu.” katanya.


“Mungkin.” kataku.


“Eh, nanti kalau udah sampai rumah, aku pergi, ya?”


“Kok, pergi?”


“Iya.”


“Kenapa?”


“Kan kamu mau main ke rumahku, bukan main sama aku.”


“Ih, kan, niatnya emang mau jenguk kamu. Yaaa.... malah kamu duluin.” kataku meniru logat Gilang.


Dia ketawa.


🌹🌹🌹


iii


Di daerah Wangon, Banyumas, kami memasuki halaman rumah.


"Ini rumah kamu?"


“Bukan.”


“Lah, terus?”


“Mau masuk, ga?”


Aku ngangguk, senyum. Mungkin maksudnya ini rumah orang tuanya. Pikirku.


Di ruang tamu, aku duduk sambil celingukan, mengamati isi ruangan. Membiarkan Gilang masuk lebih dalam. Ada beberapa foto yang dipajang. Tapi aku tidak melihat foto Gilang. Mendadak pandanganku sedikit tertarik setelah melihat dua foto bayi.


Pertama, bayi putih agak gendut yang sedang digendong seorang wanita, tapi hanya tampak tangan sang wanita saja. aku yakin itu tangan wanita, karena dia memakai kutek. Kedua, bocah yang paling baru dua atau tiga tahun, memakai peci bundar dan jaket sendang berdiri sendirian sambil memakan es panjang—es lilin.


Aku jadi ngira Gilang punya dua adik. Tapi ga tahu, lah.


Tak lama kemudian, seorang bocah yang mungkin usianya lima tahun menyalamiku. Langsung saja kutanya. “Siapa ya namanya?”


“Gading,” jawabnya lalu keluar rumah.


“Jangan main kelamaan!” seru Gilang.


“Ya.”


Gilang duduk di depanku.


“Itu tadi adikmu?” Aku nanya.


“Iya.” Dia jawab.


“Umurnya berapa?”


“Oooh.... kamu punya dua adik?”


“Engga, kata siapa?”


“Itu,” kataku sambil menunjuk foto dengan tatapanku.


“Oh, itu fotoku.”


Hah? Foto Gilang pas masih kecil? Waaah.... gemesin. Kecil-kecil kok udah makan es.


“Kok fotomu yang sekarang, ga ada?” tanyaku.


“Gilang, mah, susah banget kalau disuruh foto.”


Mendengar jawaban dari suara seorang wanita, membuatku sedikit terkejut. Kupandang ke arahnya, lalu berdiri dan memberi salam.


“Akhirnya datang juga, ditungguin dari tadi.”


Ditungguin dari tadi? Jadi Gilang cerita kalau aku mau main.


“Tadi mampir, sarapan dulu.” kataku. “Oh ya, ini,” kataku gugup.


Mamah menerimanya lalu bilang: “Aduh, ga usah repot-repot.” Membukanya, lalu menyimpannya di atas meja, kemudian duduk di sisi Gilang. “Ayo, dimakan bareng saja.”


Agak bingung dengan perlakuannya. Tapi, mereka tampak memakannya, jadi aku ikutan deh.


“Mah, ini tadi beli di pasar.”


Mamah menerima dua keresek besar lalu mengeceknya. “Ya, nanti Mamah masak sama Lutfi.”


Aku bingung harus ngomong apa.


“Lutfi.” panggil Mamah.


“Iya.” Aku jawab.


“Benar, ya, kan? Namamu Lutfi?”


“Iya.”


“Oooh.... teman kelasnya Gilang?”


“Iya.”


“Rumahnya di mana?”


“Ajibarang.”


“Mah, ga usah diintrogasi juga, kan?”


Aku terkekeh mendengar omongannya. Tapi sebagai orang tua memang pasti akan bertanya begitu kalau ada teman anaknya datang, kan?


“Ya, kan, Mamah pengin tahu.”

__ADS_1


“Kan udah aku ceritain.” Gilang jawab.


“Lah, kamu itu, seringnya suka jawab ngawur.”


“Ngawur gimana, mah?” Aku nanya.


Beliau agak kaget sedikit, tapi akhirnya senyum sambil menatapku. “Masa, kata Gilang, tinggimu dua meter.”


Hah? Kutatap ke arah Gilang, dia cengigisan. Ih, awas ya!


“Terus, katanya, kamu itu mancarin cahaya.”


“Kayak baterai, apa?” tanyaku.


Mamah ketawa. “Terus, katanya kamu suka makan lahar.”


“Hah? Ih, engga.” jawabku.


Gilang masih aja ketawa sambil makan roti yang kubeli.


“Iya, Gilang itu keseringan ngarang, jadi gitu, itu.”


“Ngarang gimana, Mah?” tanyaku.


“Kan, Mamah yang ngajarin.” timpal Gilang mendahului Mamahnya yang hendak bicara.


“Ih, kapan?” tanya Mamah.


“Dari kecil.” jawab Gilang.


“Engga, Mamah ga pernah ngajarin kamu ngarang.”


“Yaaa.... Mamah lupa.”


“Pas kapan, coba?”


Gilang tampak berpikir, mengingat-ingat.


“Tuh, kan ga ingat. Berarti ga pernah.”


“Bentar, jangan nyerobot, ga lagi balapan.”


Mendengar jawaban Gilang membuatku ketawa sendiri. Dia memang tampak sangat dekat dengan Ibunya.


“Udahlah, sana, kamu keluar!” bentak Mamah membuatku kaget.


“Hah?” Gilang juga terkejut. “Ngapain?”


“Terserah, pokoknya pergi dulu.”


“Kan ada Lutfi, masa aku pergi?”


“Lutfi biar sama Mamah, di rumah. Udah sana cepet.” kata Mamah sambil mendorong Gilang untuk segera beranjak dari duduknya.


“Terus baliknya kapan?”


“Sejam lagi.”


“Mamah ga macem-macem, kan?”


“Engga, emang Mamah mau ngapain?”


“Ga tahu.”


“Ya udah, sana, pergi dulu.”


Gilang menatapku sebentar seakan menunggu jawabanku. Dan aku membalasnya dengan senyum dan anggukan kepala. Lalu dia pergi entah ke mana.


Aku sempat cemas sebenarnya, kalau-kalau aku akan diomelin, eh nyatanya, tidak.


Mamah menatapku sambil ketawa. “Maaf ya De, Mamah emang sering kesel sama Gilang.”


De? Mamah manggil aku, De. Waaah.... senang-nya aku.


“Lutfi juga, Mah.” kataku.


Beliau senyum, aku juga.


“Iya, itu anak aneh banget, De. Iya, kan?”


“He he he, iya Mah.” kataku.


“Nah itu, Mamah khawatir, dia ga punya teman. Apalagi ya, kamu harus tahu.” kata Mamah, nadanya berubah serius. “Tuh anak, ga pernah bawa temannya main ke sini.”


Aku kaget. “Ga pernah ada yang main, Mah?”


“Ga pernah, dari SD. Pas mamah nanya, suruh dia sebutin teman dekatnya, eh, besoknya, dia malah ngasih absen kelas.”


“He he he.” Aku ketawa.


“Nah, aneh kan dia itu?”


“He he he, iya Mah.”


Mamah bangkit dan duduk di sisiku. “Makannya, Mamah senang banget, pas Gilang bilang temannya mau datang. Apalagi, yang datang kamu, cantik.”


“Makasih Mah, Gilang juga tampan.” jawabku malu-malu.


Ah, pasti mukaku merah.


“Itu karena kamu suka.” kata Mamah seakan mencari tahu.


Aku benar-benar bingung harus ngomong apa, cuma bisa ketawa kecil.


“Kamu mau lihat kamarnya Gilang?” tanya mamah seakan mengerti kondisi hatiku.


“Boleh, Mah?”


“Boleh.”

__ADS_1


__ADS_2