
i
Bubar sekolah. Semua keluar kelas bersama seruan penghinaan untuk Gilang, bahwa dia curang sewaktu ujian. Kalimat-kalimat itu terus keluar dari mulut mereka tanpa bisa kuhentikan. Meski mungkin ada benarnya mereka berpikir demikian.
Aku menghembus napas. Gilang masih belum kembali sejak saat itu.
Sesat, kulihat Kelvin berhenti di depan sana sambil memandang ke arahku. Aku bisa memastikan di raut wajahnya tampak penuh akan kekesalan.
Aku jadi sempat berpikir, apa benar kalau Kelvin yang nyebar berita palsu itu, kayak yang di cerita Gilang?
Ah, aku ga tahu. Aku ga punya bukti, dan ga mau su’udzon kepada orang lain.
Jadi, aku diam dan membiarkan dia pergi begitu saja. Di depanku, Gyan menanyakan keberadaan Gilang. Aku hanya bisa menjawabnya dengan gelengan kepala.
Gyan juga bilang, kalau dia sangat risih dengan semua gosip itu. Tapi Gyan juga tidak dapat mengelaknya, dan memang, dia sendiri juga merasa dicurangi.
Aku meminta maaf untuk mewakili Gilang, lalu diam, membiarkan Gyan pergi.
Setelah diam begitu lama, hingga akhirnya aku sendirian di dalam kelas. Aku meraih ponselku untuk mencoba menelponnya. Aku terkejut setelah mendengar bunyi dering telpon dari laci milinya.
Aduh, hp-nya ketinggalan lagi.
Aku makin resah, khawatir. Aku benar-benar tidak mau, semua orang menganggap Gilang curang sewaktu ujian. Tapi aku juga tidak punya cara untuk membuktikan kepada mereka. Terlebih, sekarang, Gilang entah pergi ke mana, dan kenapa.
Ah! Dia benar-benar misterius.
Kubuka isi hp-nya. Tidak ada pesan masuk, kecuali satu pesan keluar yang dia kirimkan kemarin untukku.
Menuju pada panggilan, hanya ada satu, dan itu dari nomorku yang sudah dinamai: “Lutfi idolaku.”
Beralih pada kontak, dan hanya tersimpan satu nama.
Aku tersentuh dibuatnya. Tak ada hal lain selain aku di hp miliknya. Tapi, kenapa dia menghilang? Kenapa saat-saat penting seperti ini? Ke mana dia pergi?
Gilang, tolong kembali dan hentikan semua ini! Aku mohon.
🌹🌹🌹
ii
Malamnya, di kost, kuceritakan semuanya kepada Ateg, termasuk cerita yang Gilang ceritain ke aku.
Ateg ikutan sedih dan cemas dibuatnya. Kata dia, Gilang itu pintar, dia selalu jadi paralel satu pas SMP, meski kebiasaannya ya sama, tidur terus di kelas.
Aku agak kaget, terus nanya, apa ga kejadian yang kayak sekarang?
Dia jawab: “Iya, kejadiannya persis kayak sekarang. Itu gara-gara ada cowok lain yang ngaku-ngaku dirinya pintar, terus nyebar gosip yang engga-engga ke teman-temannya.”
“Lah? Terus, gimana?”
“Sama Gilang didiemin.”
“Aduh,” kataku kaget. “Terus, udah?”
“Sama guru, Gilang disuruh ngerjain soal baru yang lebih susah.”
“Loh, kok gitu sih?”
“Ya, biar ga dianggap curang.” kata Ateg. “Eh, dia malah dapat nilai seratus.”
“Waaah....”
“Iya, jadi kamu tenang aja. Gilang pasti bakal nyelesain masalahnya sendiri.” kata Ateg mencoba membuatku tenang.
“Aku harap gitu.”
Semoga apa yang dikatakan Ateg benar, kalau Gilang dapat menyelesaikan masalahnya yang kali ini.
🌹🌹🌹
iii
Hari Sabtu, di kelas, sewaktu istirahat pertama, aku masih termenung di tempat dudukku, karena sampai sekarang belum ada kabar apa-apa tentang Gilang. Bahkan setiap guru yang masuk, tidak lagi pernah mengabsen dengan menyebut namanya. Seakan nama Rizky Gilang Kurniawan sudah terhapus dari daftar kelas kami.
Aku tidak tahu harus berbuat apa. Ditambah, gosip tentang kecurangannya, yang entah dilakukan atau tidak, sudah berhasil menyebar ke seluruh pelosok SMA.
Di mana-mana, aku selalu mendengar mereka sedang membicarakan Gilang. Bahkan tadi pagi selepas apel, Bu Yuni menjelaskan bahwa Gilang harus ikut tes ulang untuk membuktikan dirinya tidak bersalah. Jika saat tes ulang nanti, Gilang dapat nilai lebih kecil daripada sebelumnya, dia akan dikeluarkan dari sekolah karena sudah bertindak tidak pantas sebagai seorang siswa.
Sungguh, aku makin cemas dibuatnya. Aku lemas, pastilah jika kau menemuiku hari itu pasti mukaku sangat pucat.
Gilang tolong kembali, aku rindu.
🌹🌹🌹
iv
Di kamar, Ateg baru saja meletakan teh hangat di atas meja setelah selesai menyuapiku. Aku makin tidak enak, karena selalu membuat dia susah. Tapi memang, Ateg selalu tidak keberatan untuk membantuku. Aku senang punya sahabat sepertinya.
“Masih belum ada kabar dari Gilang?” Dia nanya.
Aku menjawab dengan gelengan kepala.
“Ya sudah, sekarang kamu tidur dulu. Istirahat, biar besok bisa pulang.”
“Makasih Ateg.”
“Sama-sama. Kalau butuh apa-apa, panggil aja, atau telpon aku. Aku udah naruh nomorku di hp-mu.”
__ADS_1
“Makasih.” jawabku lemas.
“Ya udah, aku ke kamar dulu.” katanya seraya pergi lalu mematikan lampu kamarku dan menutup pintu sangat pelan.
Aku sebenarnya ingin sekali istirahat, tapi tidak bisa. Otakku dipenuhi dengan seruan: “Di mana kamu, Gilang? Tolong, jangan menghilang. Kembalilah.”
Entah berapa lama aku bersiteru di dalam otakku. Mendadak aku mendengar dering handphone berbunyi, itu bukan dari milikku. Itu milik Gilang.
Langsung saja, kuangkat telponnya.
“Hallo,” sapaku.
“Hai, aku Gilang, pemilik hp yang kamu pegang.”
Tersentak. Aku langsung duduk dibuatnya. “Gilang! Kamu ke mana aja?!” tanyaku membentak.
“Lutfi, ya?”
“Iya. Kamu ke mana aja dari K-E-M-A-R-I-N?!!!” Aku berseru. Aku yakin Ateg dan penghuni kost lain pasti mendengarnya, tapi aku tidak peduli. Salahkan saja Gilang.
“Kamu galak....” kata Gilang, itu membuatku diam.
“Aku cemas.” kataku.
“Jangan cemas. Ada aku.” katanya.
“Tadi ga ada, dari kemarin juga ga ada!”
“Oya,” jawab Gilang. “Maaf,”
“Kamu ke mana sih?”
“Kapan?”
“Kemarin?!” tanyaku membentak.
“Di rumah.”
“Loh, kok di rumah?” tanyaku agak mulai kembali pada nada seperti biasa.
“Iya, di rumah.”
“Terus, kemarinnya lagi, ke mana?”
“Kan sekolah, sama kamu.”
“Tapi abis itu pergi, ke mana coba?” tanyaku seakan membuat dia terpojok, tapi Gilang malah tetap tenang seperti biasa.
“Ke WC.”
“Ngapain?” tanyaku kaget.
“Ih, jorok.” jawabku agak risih.
“Emang kalau berak harusnya di mana?”
“He he he.” Aku ketawa. Benar juga, apa katanya. Aku lagi-lagi salah ngomong deh.
Ah! Gilang selalu gampang banget bikin aku ketawa.
“Terus, kok kamu ga balik ke kelas?” tanyaku.
“Belum selesai.”
“Kok, lama banget?”
“Iya, mules.”
“Kenapa?”
“Kayaknya keseringan makan sambal.”
“Wuuuuu....” Aku berseru tapi manja. Ga tahu kenapa.
“Terus, pas aku balik ke kelas, udah ga ada orang. Hp-ku juga ngilang.”
“Di bawa aku.” kataku.
“Iya, makasih.” katanya.
“Sama-sama.” Aku jawab. “Eh, kok cuma ada kontakku sih?”
“Kamu habis ngerazia yah?”
“Hah?”
“Iya, buka-buka isi hp punya orang.”
“He he he. Maaf.”
“Ga apa-apa. Aku cuma pengin kamu yang ada di hp-ku.”
“Jadi cuma di hp doang?” tanyaku agak meledek.
“Iya, biar cuma kamu yang bisa aku hubungi, dan biar cuma kamu yang bisa hubungi aku.”
Aduh, aku sangat gembira mendengarnya. Aku yakin dia tidak sedang menggombal, itu kenapa aku jadi merasa senang, karena aku ini tipe cewe yang sangat benci digombali.
__ADS_1
“Tapi, buktinya, kamu bisa hubungi hp-mu.”
“Iya. He,” Dia ketawa, aku jadi ikutan.
Sudah begitu lama rasanya aku tidak mendengar suara Gilang, apalagi ketawanya yang bunyi sekali, atau emang ga bunyi tapi sengaja dibuat bunyi biar aku tahu kalau dia lagi ketawa. Ga tahu, lah. Pokoknya, yang penting, aku suka Gilang nelpon.
“Gilang.”
“Iya.”
“Kamu, kenapa ga sekolah?”
“Diare.”
“Hah?”
“Iya.”
“Jadi gara-gara itu?”
“Apanya?”
“Jadi gara-gara itu kamu ga berangkat sekolah dari kemarin?”
“Iya.”
“Oh, gitu.” kataku lega.
“Iya.” katanya. “Kamu nyariin?”
“E-engga.” jawabku gugup.
“He,” Gilang ketawa.
“Tapi, udah mendingan?”
“Udah.”
“Berarti, besok bisa berangkat sekolah?”
“Engga.”
“Kok engga?”
“Kan besok hari Minggu.”
“Oya, lupa.” Aku ketawa. Sungguh sangat gembira mendapat kabar darinya. Terlebih aku sudah tahu sekarang, Gilang menghilang bukan karena takut akan salahnya, tapi karena dia sakit. Ah! Gilang benar-benar cowo idaman, pokoknya.
“Gilang, kata teman-teman, kamu curang pas ujian. Iya ga sih?”
“Menurutmu?”
“Engga.” jawabku.
“Ya berarti engga.” jawabnya.
“Serius?”
“Iya. Biarin aja mereka pada nggosipin aku.”
“Kok gitu?”
“Kalau mereka belajar, terus dapat nilai lebih besar, juga pasti diam.”
“Iya juga, sih.” kataku. “Aku ga nyangka kamu pinter.”
“Aku juga ga nyangka, teman-teman lebih bodoh dari aku.”
“Gilang!”
“He.” Dia ketawa, seakan memaksaku untuk kembali ketawa dan melupakan segenap kedilemaan yang kurasakan hampir tiga hari lamanya.
“Eh, rumah kamu, sih, di mana?” Aku nanya.
“Kenapa nanya rumah?” Gilang nanya.
“Pengin tahu.”
“Kenapa pengin tahu?”
“Mau jenguk kamu.” jawabku. Aku langsung mikir, dia bakal nanya lagi sesuai jawabanku, tinggal dikasih kata kenapa di depannya. Nyatanya tidak.
“Ga usah, aku udah sehat. Besok aku yang ke situ.”
“Kenapa ga boleh main? Aku pengin main tahuuu....” kataku manja.
Tak ada jawaban. Dia cuma diam.
“Gilang.”
“Iya.”
“Aku pengin main tahu.”
“Iya.”
“Ya udah, besok kamu ke sini, jemput aku. Terus kita ke rumahmu.”
__ADS_1
“Oke.” jawabnya semangat lalu menutup telpon.
Aku tersentak setelah sadar apa yang barusan aku bilang padanya. Aduh, malunya aku.