Lutfi Gilang

Lutfi Gilang
18. Gosip


__ADS_3

Sekitar lima belas menit telah berlalu sejak ujian selesai dilaksanakan. Banyak soal yang mendadak sangat mudah untuk dijawab, ada juga beberapa soal perhitungan yang kulompati dan belum sempat diisi.


Di depan kelas, semua teman tampak gelisah menunggu hasil dari ujian mereka. Aku yang duduk sendirian di teras depan tangga yang terletak di sisi Timur kelas XI IPS-4 juga merasakan hal serupa. Sebelum akhirnya lenyap karena Gilang duduk di sampingku.


“Selamat siang.”


“Siang.”


“Ga sabar?”


“Iya,”


“Kenapa?”


Belum sempat menjawab, Gilang sudah menebak duluan. “Khawatir?”


Aku mengangguk. Sungguh, pikiranku tidak bisa tenang menanti hasil akhir yang akan menentukan jalan hidupku.


“Tenang, Kelvin ga bakal lolos seleksi.”


Aku kaget. “Loh, kok gitu?”


“Iya,”


“Kenapa?”


“Sugesti.”


Oh itu. Hatiku berkata sendiri mengingat kalimat Gilang sebelumnya. Lalu tertawa tapi sedikit.


Benar juga, aku harus menyugesti diriku sendiri, kalau nilaiku bakal di atas nilai Kelvin.


Kutatap wajah Gilang, dia senyum.


“Sudah yakin?”


Aku kembali mengangguk, meski masih ada sedikit perasaan cemas.


“Aku mau cerita terus nanya, boleh?”


“Lah, mau cerita apa nanya?”


“Keduanya.” katanya sembari senyum.


“Oke deh.”


“Makasih.”


“Sama-sama.”


Dia diam. Aku juga diam. Terus kutunggu dia mulai cerita. Namun entah berapa lama, akhirnya aku kembali berkata karena tidak sabar.


“Katanya mau cerita?”


“Sekarang?”


“Iya, masa besok?”


“Nunggu, ya?”


Ih! Dasar nyebelin.


Aku melengos kesal.


Mendadak dia bercerita namun tidak kutanggapi. Ralat. Belum kutanggapi.


“Kalau kupu-kupu punya akal kayak manusia, aku yakin mereka juga bakal bikin: sekolah ulat, sekolah kepompong, dan sekolah kupu-kupu, kasihan deh elu.” katanya dengan kalimat terakhir sengaja diberi nada.


Aku sedikit ketawa mendengarnya. Geli, sekaligus karena Gilang terlalu mengkhayal.


“Kamu suka aku cerita sekolah yang mana?” Dia bertanya.


Tak kujawab.


“Oke, jadi sekolah ulat—”


“Masa sekolah ulat!” kataku memotong. “Sekolah kupu-kupu dong.”


Dia diam, kulihat wajahnya kaget, tapi akhirnya senyum juga.


“Di sekolah kupu-kupu jelas banyak kelas kayak sekolah manusia. Di sana, katakanlah ada KM—”


“Apa itu KM?” tanyaku kembali memotong. “Kamar Mandi?”


“Kupu-kupu Muda,” jawabnya datar.


“Kenapa ga KKM?”


“Nanti dikira standar kelulusan mapel.”


“Oh iya. He he he.”


Gilang ikut ketawa tapi dikit.


Ih! Nggemesin.


“Berarti ada KD dong?”


“Kontes Dangdut?”


“Bukaaan! Kupu-kupu Dewasa.”


“He.”

__ADS_1


“Bener ga sih?”


“Iya, KD itu gurunya. Kupu-kupu Dewasa.”


Aku ketawa, kini memandang penuh ekspresinya.


“Jadi KD mengajar KM. Tentunya ga semua KM pinter dan rajin, pasti ada juga yang malas.”


“Kayak kamu.”


Gilang ketawa, tapi kembali bercerita. “Pas ujian. Eh, tunggu.” katanya memotong sendiri.


“Kenapa?”


“KM yang males mau dinamain siapa?”


“Gilang,” kataku dengan sedikit ketawa. Tampak Gilang juga kegirangan, meski cuma senyum dikit. Pelit!


“Nah, tiap ujian si KM Gilang ini,”


Aku kembali ketawa mendengar dia memakai nama sendiri di ceritanya.


“selalu dapat nilai paling jelek di kelas.” Entah kenapa tapi Gilang agak memanjangkan kata ‘paling’ lalu sedikit diberi hentakan keras.


“Loh kok gitu?”


“Kan, dia malas ceritanya.”


“Aslinya juga gitu.”


“He,”


“Oke. Lanjut.”


Dia diam sesaat lalu menghembuskan napas pelan. “Tapi, dia diam-diam naksir sama KM cewe yang duduk di sebelahnya.”


Deg! Rasanya dia sedang membuat cerita berdasarkan kisah nyatanya. Oke, mari dengarkan dengan seksama.


“Sebut saja....”


“Lutfi,” kataku membuatnya terkejut.


Menelan ludah. “Pas suatu hari, ada KM lain yang bilang ke teman-teman sekelas, kalau dia dapat nilai ujian tertinggi bakal nembak KM Lutfi.”


Benar! Sesuai dugaan. Dia menggambarkan kejadian nyata, lebih tepatnya hari ini.


Apa sih maksudnya? Buat apa coba, Gilang bikin jalan cerita soal masalah tadi? Agak BT, sih, tapi aku tetap berusaha mendengarnya.


“Si KM Gilang dengar hal itu, dia jadi patah semangat sementara.”


“Loh kok nyerah sih? Harusnya usaha dong!” seruku kembali memotong.


“Kan tadi aku bilang ‘patah semangat sementara.’” ujarnya tidak marah.


Gilang mengangguk. “Si KM Gilang mantapin dirinya, dia bakal cegah KM Kelvin nembak KM Lutfi.”


Sebenarnya aku ingin bertanya kenapa mendadak tokoh lainnya itu dinamai dengan nama ketua kelas. Tapi aku hanya diam, karena sudah tahu jalan ceritanya mengarah ke mana.


“Setelah ujian, ternyata si KM Gilang yang dapat nilai tertinggi, KM Kelvin yang berengsek jadi ga bisa nembak Lutfi.”


Ga usah ditambah berengsek juga kali. Eh, tapi.... “Itu beneran?”


“Iya.” katanya penuh keyakinan.


“Terus, gimana?”


“Karena KM Kelvin kalah dari KM Gilang yang pemalas, dia merasa dirinya telah dicurangi. Jadi ngehasut teman-temannya kalau si KM Gilang curang sewaktu ujian.”


Oh, dia emang beneran berengsek! Kata hatiku jadi ikut kesel sendiri.


“Terus-terus?” tanyaku.


“Teman-teman sekelas mulai benci dan ngjauhin KM Gilang, bahkan KM Lutfi yang dia suka diam-diam, juga ikut-ikutan kayak mereka.”


“Aduh, kasihan. Terus gimana?”


“Tamat.”


“Loh kok tamat, kenapa?”


“Karena ceritanya udah selesai.”


“Ya ga bisa gitu dong!” kataku setengah berteriak.


Kupandang wajah Gilang tampak kebingungan, membuatku sadar akan tingkahku yang memang sudah kemakan sama jalan ceritanya. Menghela napas, berusaha menahan emosiku.


“Harusnya ada kelanjutannya dong. Kalau kayak gitu kasihan kan si KM Gilang.”


“Ya udah aku tambahin. Habis itu KM Gilang mati.”


“Kok gitu?”


“Iya soalnya udah seminggu.”


“Udah seminggu dijauhin KM Lutfi?”


“Bukan.”


“Terus?”


“Kan, kupu-kupu hidupnya cuma seminggu.”


“Ih, nyebelin!”

__ADS_1


“He,”


“Itu sih ga ada bedanya.”


“He,”


“Dilanjutin coba.” pintaku.


“Tapi aku ga tau kelanjutannya gimana.” jawabnya tak merasa bersalah.


“Kenapa?”


Gilang menunjuk ke arah depan dengan wajahnya yang dimajukan sedikit. Kupandang ke arah yang mungkin sedang dilihatnya.


Di sana, teman-teman berekspresi aneh, seakan menatap kami dengan wajah marah. Aku menghampiri mereka karena penasaran.


Gyan mendadak muncul dari kerumunan dan bilang ke aku, suruh lihat papan hasil penilaian seleksi yang udah dipasang di kaca kelas.


Aku menurutinya. Lalu kucari namaku dengan bantuan jari telunjuk. Menderet dari atas ke bawah. Ketemu! Lutfi Nurtika. Kemudian mengarahkan ke sisi kanan untuk mengetahui nilaiku.


Bahasa Indonesia : 9


Bahasa Inggris : 8


Sejarah : 7


PPKN : 7


Geografi : 8


Sosiologi : 8


Kimia : 7


Biologi : 7


Fisika : 7


Matematika : 7


Aku kaget bercampur senang ketika tahu matematika dan fisika dapat nilai 7. Meski bahasa Indonesia hampir mendapat nilai sempurna, tapi aku masih merasa lebih bahagia, karena kedua mapel perhitungan setidaknya sesuai KKM. Sungguh kebahagiaan yang tidak bisa kuungkapkan dengan kata-kata.


Jari terus berderet ke sisi kanan.


Jumlah: 75. Peringkat: 4.


Aku sangat tidak menyangka dengan pencapaianku yang melejit begitu pesat. Kucari nama Gyan Gesita Dwi Utami Mutmainah. Ketemu dengan cepat. Dia dapat nilai sempurna di pelajaran bahasa Inggris.


Wah, hebat!


Kulihat jumlahnya: 77. Berada pada peringkat ketiga!


Aku berseru memanggil Gyan. “Selamat ya.”


“Iya makasih.” jawabnya lesu. Entah kenapa. Mungkin baginya semua yang dia dapat masih kurang.


Sebenarnya aku penasaran dengan nilai Gilang, tapi yang kucari justru peringkat di atas peringkat Gyan.


Kucari dari sisi paling kanan. Ketemu! Peringkat dua. Jumlah: 78.


Cuma beda satu poin dengan Gyan. Kataku berbisik.


Selanjutnya mencari peringkat pertama.


Jari menderet makin kebawah. Dan ketika kutemukan, aku tersentak hebat. Mau tidak percaya, tapi begitulah kenyataannya.


Jumlah: 94. Semua mapel mendapat nilai 10, kecuali bahasa Indonesia: 9, dan biologi: 5.


Aku sempat tertawa, sih. Lucu juga. Padahal aku yang peringkat 4 saja biologi dapat nilai 7. Gyan yang peringkat 3 juga dapat nilai sembilan. Ini peringkat pertama malah di bawahku. Ya, emang di mapel lain dia mendapat nilai sempurna, jadi pantas di peringkat pertama.


Kulihat lagi jumlah nilai peringkat sebelumnya. Beberapa detik kemudian akhirnya aku sadar sesuatu, peringkat empat hingga dua tidak mencapai nilai 80. Hanya berakhir pada nilai 78. Perbedaan dengan peringkat pertama sangat jauh.


Ini benar-benar gila! Dia pasti siswa paling pintar di sekolah ini. Pikirku.


Mungkin Kelvin, mungkin juga Arya. Aku mengira begitu, karena keduanya memang aktif di kelas dan selalu bisa mengerjakan soal-soal yang bagi teman-teman lain susah.


Aku yakin, jika dia—peringkat pertama—mengikuti LCC sekolah yang diadain bulan depan, pasti kelas kami yang dapat juara satu.


Kulihat nama pemiliknya. Dan aku hampir pingsan dibuatnya.


Rizky Gilang Kurniawan!


Apa?! Masa iya?


Aku menatap Gyan penuh rasa tidak percaya. Tapi dia memintaku untuk kembali mengecek. Dan, tidak salah lagi, itu benar-benar miliknya.


Selanjutnya kucari nama Janoya Arya Gunandar, dia berada di peringkat 5, di bawahku, dengan jumlah nilai tujuh puluh empat. Hanya beda satu angka.


Bergegas aku beralih, mencari nama Kelvin. Dia berada di peringkat, kedua!


Aku tidak menyangka. Keajaiban benar-benar terjadi. Syukurlah, dengan begini Kelvin tidak akan menembakku. Lagi pun, kalau dia memaksa menembak, aku pasti akan menolaknya mentah-mentah.


Kusapu pandang mencari keberadaan Gilang. Namun tidak kutemukan.


Perlahan aku makin merasa tidak nyaman, aku tak tahu. Kulihat di sekelilingku teman-teman saling berbisik, mungkin menyesal dengan hasil nilai mereka atau bisa juga iri sama Gilang. Kan, bagaimanapun, dia itu siswa paling malas di kelas, bahkan mungkin se-SMA. Tapi kini justru menunjukan taringnya dan meraih posisi pertama.


Seketika aku tersentak, karena menyadari ujaran hatiku. “Ini, ini sama seperti cerita Gilang.”


Kembali mataku mencari-cari keberadaannya. Namun tetap tidak kutemukan. Perlahan secara tidak sengaja aku mendengar kalimat dari bisik-bisikan teman-teman kelasku:


“Dia curang pas ujian.”; “Iya, mana mungkin siswa malas sepertinya dapat peringkat pertama.”; “Iya, licik.”; “Aku ga mau dekat-dekat siswa curang kayak dia.”; “Iya, aku juga ogah.”


Sungguh aku sangat tidak menyangka, apa yang Gilang kisahkan barusan benar-benar terjadi. Kembali kucari keberadaannya, namun tetap tidak kutemukan.

__ADS_1


Gilang! Kamu di mana?


__ADS_2