Lutfi Gilang

Lutfi Gilang
10. Bohong


__ADS_3

i


Aku duduk di sisinya setelah menaruh ranselku sebagai pembatas. Ya, tentu saja, aku tidak mau dianggap kalau ini adalah kesempatan untuk bisa dekat dengannya. Dan aku berharap mereka, Pak Edi dan Risma memahami kalau aku sangat tidak suka berada dekat-dekat dengan wanita itu, dan wanita lain yang bukan Lutfi pastinya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang setelah Risma menjelaskan arah di mana dia tinggal. Aku tidak terlalu mendengar, karena memang tak paham dengan daerah Jakarta. Lagi pula, aku ke Jakarta bukan untuk berlibur atau pulang atau mengunjungi rumah saudara, tapi untuk masalah kerja.


Sebetulnya, aku punya Saudara yang tinggal di Jakarta, di kampung Rambutan. Tapi, aku tidak harus pergi ke sana, bukan? Aku berpikir, kalau mengunjungi saudara jauh secara mendadak dan tidak membawa buah tangan, itu justru akan menimbulkan masalah. Jadi, aku lebih memilih untuk pergi ke mesh yang sudah disiapkan oleh perusahaan.


"Ini buku kamu yang bikin?" Sang Ibu bertanya. Awalnya aku mengira dia mau minta maaf karena membuatku harus mengantarnya pulang, nyatanya tidak. Ah, dasar wanita.


Aku ngangguk.


"Bagus," ujarnya lagi.


Aku mencoba senyum.


"Karya Danu Banu emang selalu top cer Mba." ujar Pak Edi main nimbrung sambil mengangkat salah satu ibu jari tangannya, lalu kembali pada kemudi. "Buku-buku karyanya selalu punya banyak pesan, Mba." kata dia akhirnya. "Makanya, saya, istri, sama anak-anak suka banget baca buku-bukunya Mas Danu Banu."


"Kayak ini, ya, Pak?" Risma nanya.


"Oalah, apalagi itu." Pak Edi menjawab. "Saya disuruh istri biar sering baca buku itu, tuh, Mba."


"Kenapa, Pak?" tanggap Risma.


"Ya, buku itu banyak tips buat jaga wanita. Kata istri saya, kalau saya udah khatam dan hapal isinya, saya bisa jadi suami idaman."


"Sampe gitu, Pak?"


"Iya, Mba. Saya ga nyangka, yang bikin buku begituan ternyata laki." katanya sambil menghadapku dari arah spion.


Aku mengalihkan pandangan.


"Emang, harusnya cewek, Pak?" Risma kembali menyaut.


"Lah, ya jelas. Orang-orang pada ngiranya yang bikin cewek, Mba. Orang isinya cuma buat wanita seneng." katanya lagi. "Oya, Mba. Di buku itu ada keterangan yang bikin saya kaget luar biasa."


"Apa, Pak?" tanya Risma menutup bukunya keras, sampai menimbulkan suara, memaksaku untuk sedikit melirik ke arahnya. Ekspresinya berubah, seakan lebih tertarik dengan penjelasan Pak Edi ketimbang bukti nyata di tangannya.


"Kalau cowok salah, jelas salah, kan Mba?" Pak Edi bertanya meminta persetujuan.


"Ya, jelas dong, Pak!" Risma menyetujuinya dengan seruan.


"Nah, sekalipun wanitanya salah, tetep aja yang salah cowoknya." tambah Pak Edi.


"Loh, kok gitu?"


"Iya, Mba. Emang kayak gitu. Ya, kan Mas Danu Banu?"


Aku tersenyum setelah melihat Pak Edi kembali mengarahkan pandangannya kepadaku.


"Ada di buku ini?" Risma kembali nanya. Nadanya menunjukkan ketidakpercayaan yang berlebih.

__ADS_1


"Ya jelas ada, Mba. Orang saya belajar dari buku itu. Pokoknya buku itu udah kayak kitab buat saya Mba, biar bisa jadi suami idaman. Ha ha ha...."


Risma tidak memedulikan omongan Pak Edi. Dia sibuk membolak-balikkan lembar kertas.


Aku mendengus, merasa bahwa tindakannya keterlaluan. Aku tahu, kalau Pak Edi mau mengantar kami gara-gara dibayar, tapi dia juga mau meminjamkan buku pusakanya kepada Risma cuma-cuma, dan menjalaskan ini itu panjang lebar, tapi malah tidak ditanggapi. Kan bikin kesel!


"Oya Pak, ada!" seru Risma beberapa menit kemudian, lalu membaca isinya. "Dalam sebuah hubungan, kesalahan adalah hal yang lumrah dilakukan oleh para pasangan. Namun sebagian pria kerap kali menolak kesalahan yang dilakukan oleh dirinya, dan beberapa kali justru menuduh pasangannya yang salah.


"Ini adalah hal yang fatal dalam sebuah hubungan, karena sejatinya wanita diciptakan sebagai pelengkap pria dan bukan sebagai tempat pembuangan masalah. Sebaliknya, sejatinya pria diciptakan sebagai tempat di mana wanita bisa mengeluh. Oleh karena itu, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kesalahan seorang pria jelas disebabkan oleh dirinya, dan kesalahan wanita dikarenakan seorang pria yang menjadi pasangannya tidak pandai dalam mengajarkan supaya si wanita tidak melakukan kesalahan.


"Jadi, semua kembali kepada si pria. Bagaimanapun dan siapapun yang membuat kesalahan, tetap yang harus disalahkan adalah pihak pria, karena mereka diciptakan sebagai makhluk yang harus bertanggungjawab dalam segala hal."


"Nah," ujar Pak Edi memaksa Risma berhenti membaca. "setuju apa ngga si Mbanya?"


"Setuju banget! Cowok salah, yang disalahkan ya cowok. Terus, cewek salah, yang disalahkan juga cowok."


"Cowok!" saut Pak Edi menyamai omongan Risma, lalu keduanya tertawa.


Sedang aku hanya meringis. Sangat berharap semua hal ini bisa segera berakhir.


"Makasih buat bukunya, ya Pak?" ujar Risma sambil mengembalikan buku Muslimah Sejati.


"Sama-sama," jawab Pak Edi dengan menerima bukunya. "maaf tangan kiri," Kemudian meletakkannya di kursi sebelah.


🌹🌹🌹


ii


Aku membuang pandangan ke luar setelah Risma menatapku. Berusaha membayangkan jika Lutfi yang ada di sisiku. Tapi usahaku untuk membuat bayangan akan dirinya sia-sia karena Sang Ibu kembali memanggilku.


Ah, akhirnya bilang juga. Aku mengangguk tanpa bersuara untuk menjawab kalimatnya.


"Biasanya, sih, Dimas anakku ga kayak gini." katanya sambil memandang ke arah anaknya dan mengelus bagian kepala. "Seringnya dia cuma nanya, 'Bunda, Ayah mana? Ayah mana, Bun?'" Nadanya berubah pelan. Aku juga secara tidak sengaja melihat ke arah matanya yang mulai berkaca-kaca, tapi dengan cepat kualihkan ke arah Dimas yang masih saja tertidur.


"'Dimas pengin ketemu!'" tambahnya mencoba meniru suara anaknya sembari mengusap air matanya yang hampir menetes, membuat kami merasa iba.


Pastinya. Itu terbukti karena Pak Edi tidak berani menyaut akrab seperti sebelumnya. Dia tetap fokus kepada kemudinya sambil sesekali melirik ke arah kami.


"Aku beda dengan Ibu-Ibu pada umumnya yang membohongi anaknya dengan alasan kalau Ayah mereka sedang pergi kerja." Dia menyambung kalimatnya. "Aku berulang kali memberitahunya kalau Ayahnya sudah mati. Kamu juga denger itu, kan, pas di kereta?"


Aku mengangguk dengan umpatan hati: "Ya ga teriak-teriak kalo Ayahnya udah mati, juga, sih. Kasian si Dimas. Dia juga pasti belum paham."


"Aku bahkan pernah bawa Dimas anakku ke kuburan Ayahnya, tapi dia malah pipis di sana."


Aku mendengar Pak Edi merintih, pasti menahan tawa. Jujur, aku sama.


Risma mendengus. "Aku bener-bener pengin banget Dimas anakku moveon dari Ayahnya,"


Aku tersentak mendengar perkataan Sang Ibu. Dan pasti kalian juga sama, kan? Maksudku kata-kata moveon itu lebih tertuju untuk seseorang yang putus atau bercerai. Ya.... memang setiap orang bebas berpendapat. Tapi aku masih sulit menerima pilihan katanya.


Oke, ga usah debat, kita lanjut.

__ADS_1


"Aku juga pengin banget dia paham, kalau Ayahnya itu udah ga ada. Udah mati." tambahnya.


Aku diam. Membiarkan dia mengatur napas.


"Emang, kalau boleh tau, suami Mba Risma kenapa?" Pak Edi kembali menyambung obrolan.


"Mati karena kecelakaan," jawabnya.


"Saya turut berduka, Mba." ujar Pak Edi dengan nada iba.


"Aku juga," kataku. Kembali menghadap ke jendela di sisi kiriku.


"Makasih," ucap Risma. "tapi ga papa. Udah ga masalah. Aku juga udah mulai terbiasa jadi janda, meski masih ngerepotin orang lain."


"Jadi, suami Mba Risma kecelakaan pas Mba lagi hamil?" Pak Edi mengajukan pertanyaan yang sangat menolongku. Mengalihkan perhatian ke hal lain.f


"Baru dua bulan, Pak." jawabnya.


"Loh, ternyata udah lama." Pak Edi kembali menanggapi.


"Iya, Pak. Udah mau empat tahun." kata Risma. "Abis bulan madu, perut isi, malah ditinggal suami. Nah, di perjalanan, mobilnya masuk jurang."


"Kok bisa?" Pak Edi bertanya sangat antusias.


"Iya Pak, jadi waktu itu lagi ujan deres, terus gara-gara supirnya ngindarin jalan rusak, tapi malah mutar kemudinya kekencengen ke kanan buat ngindarin motor." jelasnya.


"Oooh.... begitu kejadiannya. Emang ya Mba, jalanan di Indonesia jarang banget yang bener. Belum lagi, yang make pada ugal-ugalan. Makanya repot banget kalo jadi supir."


"Iya Pak bener!" ujar Risma menyetujui omongan Pak Edi. "Biasanya yang pake motor gede-gede itu yang...." Dia menggeram. "ngendarain motor seenaknya sendiri. Salip sana, salip sini. Maksa mobil sama motor-motor lain biar pada minggir. Belum lagi, pake knalpot yang brisik banget. Aaaah! Rasanya kepingin numpuk pake batu kalo mereka lewat."


"Ha ha ha...." Pak Edi tertawa. "tapi ga semua yang punya motor gede kayak gitu, kan Mba?"


"Ya.... engga, sih. Tapi kebanyakan emang gitu!" gerutu Risma kesal sendiri.


"Iya bener." kata Pak Edi. "Masnya sendiri, sudah nikah?"


"Ha?" Aku terkejut. Menatap ke arah si supir.


"Mas udah nikah?" Risma ikutan nanya.


Aku memandang ke arahnya, mengangguk, dan kembali memusatkan mata ke luar kaca mobil.


Aku tak sengaja melihat wajah Risma berubah: kecewa. Ya, biar saja. Dan aku harap itu bisa membuatnya mengerti kalau aku tidak tertarik padanya.


Pak Edi melempar pertanyaan yang bagiku sangat sulit untuk dijawab. "Oooh.... kapan, Mas? Kok ga ada kabarnya?"


Aku menggumam cukup lama.


"Rahasia, ya?" Pak Edi mencoba menebak.


Aku ngangguk dan melempar senyum.

__ADS_1


Sedang Risma, entah apa yang dilakukannya. Aku tidak peduli, dan sangat tidak ingin tahu.


Aku harap, kebohonganku tidak cepat terbongkar. Dan semoga saja Tuhan memaafkanku karena aku menganggap kalau aku dan Lutfi sudah menikah. Meski baru menikah rasa.


__ADS_2