
Aku sampai di sebuah masjid yang sedang ramai jamaahnya. Berbeda dengan tempat lain yang apabila waktu Ashar hanya ada 3 sampai 8 jamaah, atau bahkan cuma ada imam dan ma'mum. Di sini, semua shaf penuh, bahkan membludak hingga ke halaman masjid.
Selepas shalat, berdzikir, dan berdo'a. Salah seorang mengajakku untuk ikut seminar di sebuah gedung yang letaknya tidak jauh dari sini.
Awalnya kutolak, karena merasa aku tidak perlu ikut. Tapi setelah pria itu memberitahuku siapa narasumbernya, aku langsung saja tertarik.
๐น๐น๐น
ii
Sampai di balai pertemuan. Aku duduk di kursi, tidak dekat dengan pria sebelumnya. Entah berada di sisi siapa aku tidak peduli. Yang jelas, sisi kanan, kiri, depan, dan belakang, semua pria.
Tak lama kemudian seseorang naik ke atas panggung. Dia orang yang jelas terkenal, dan merupakan pelopor dari bisnis online muslim di Indonesia, dia juga yang menjadi pengasuh pondok pesantren dengan ribuan santri penghafal Al-Qur'an. Ya, dia adalah si pemilik paytren, Ustadz Yusuf Masur.
Dia memberi salam, lalu membacakan salah satu ayat Al-Qur'an dengan nada yang sangat enak didengar, kemudian menyangkut-pautkannya dengan topiknya kali ini. Tentu saja, bisnis!
Itu adalah salah satu pekerjaan yang dicontohkan secara langsung oleh Nabi Muhammad Saw. Beliau sangat menganjurkan umat-umatnya untuk berbisnis. Dan memang, penghasilan dari berbisnis lebih cepat naik, dan dirasa jauh lebih menguntungkan. Aku, sangat setuju akan hal itu, kalau kamu?
Ustadz Yusuf Mansur juga menjelaskan alasannya mendirikan paytren, cara bergabung, cara menggunakannya, dan cara mendapat keuntungan, serta harapannya di tahun 2019 mendatang. Simpel, jelas, dan sangat mudah dipahami.
45 menit berlalu, kali ini sesi tanya-jawab. Aku tidak terlalu memerhatikan. Karena kebanyakan dari mereka yang bertanya hanya meminta narasumber untuk menjelaskan ulang materi yang baru saja dijabarkan, kalau tidak mereka hanya akan bertanya sesuatu yang di luar topik pembahasan.
Maklum, kebanyakan orang di Indonesia dalam memperhatikan materi: masuk lewat telinga kanan, keluar lewat telinga kiri.
Dan untung saja, Ustadz Yusuf Mansur memaklumi hal tersebut dengan menjawab seramah dan sejelas mungkin. Sedang aku, sama sekali tidak mentolerir keteledoran seperti itu. Aku tidak ingin hal buruk seperti itu menjalar sampai kepada anak-cucuku kelak. Pokoknya jangan sampai!
Di tengah-tengah sesi tanya-jawab, otakku berunding banyak hal. Tentunya, bukan hanya pasal Lutfi menghilang tanpa jejak, atau rapat yang berakhir kacau dengan kebanyakan dari peserta rapat menolak aku membuat cerita dari kisah pribadiku, atau Mas Dodit yang mendadak bekerja di perusahaan 0000โbagian percetakan lagi, bukannya dia sudah banyak duit dengan menjadi komikus? Atau Mas Radit yang mengundurkan diri tanpa alasan yang jelas. Tapi juga pembahasan soal paytren, bisnis maksudku.
๐น๐น๐น
iii
Awal bulan Maret, 2011.
Di kelas, saat jam kosong karena guru sedang rapat mempersiapkan UAS 1โsekarang PAS (Penilaian Akhir Semester) Gasal. Aku memposisikan diri untuk tidur dan menunggu Lutfi selesai mengerjakan tugasnya.
Tentu, aku juga memiliki tugas yang sama, hanya saja, semua buku paket dan LKS sudah habis kugarap setelah dibagi. Ya, meski membutuhkan waktu selama seminggu lamanya. Tapi, gara-gara itu, sekarang dan setiap pelajaran aku jadi lebih santai.
Aku hanya perlu diam, atau tiduran sambil mendengarkan dengan seksama penjelasan guru akan materi yang sudah kupelajari lebih dulu daripada teman-teman yang lain. Ya, begitulah cara belajar manusia bergolongan darah AB.
Dan mungkin, itu sebabnya kalian menganggap kalau AB malas-malasan saat pelajaran, tapi tetap saja dapat nilai bagus.
Tentu, semua itu ada perjuangan yang tidak kalian tahu.
"Gilang," panggil Lutfi beberapa saat kemudian.
Aku bangkit dan melihat ke arahnya yang masih sibuk mengerjakan tugas.
"Kemarin, buku Muslimah Sejati bisa dibeli di toko mana?" Dia nanya.
"Gramedia, biasanya ada." Aku jawab.
"Emang, kamu beli di mana?"
"Ke penerbitnya langsung."
"Bayar?"
"Iya,"
"Dapet diskon?"
"Iya"
"Berapa?"
"Sepuluh persen,"
"Wah, lumayan dong?"
"Iya,"
Lutfi menutup buku tugasnya. Menghadap ke arahku. "Selain di Gramedia, di mana lagi dijualnya?"
Aku mengangkat bahu. "Ga tau aku,"
"Yah, kalo gitu ga banyak yang beli dong." gerutunya.
"Banyak kok\=" Aku menyangkal.
"Maksudku.... ga banyak yang beli di sekitar sini."
"Emang, di SMA ini ada toko buku, ya?"
Kulihat Lutfi mendengus, membuatku bingung.
Apa aku baru saja salah ngomong?
"Di sekitar Purwokerto maksudku\=" katanya.
"Oooh.... iya kayaknya." kataku.
"Hmmm...." gumamnya. "kalo gitu, di sini jarang yang baca bukumu dong?"
Aku menyetujuinya dengan anggukan.
"Yah...."
"Ga papa. Toh, masih ada yang beli di tempat lain." kataku.
"Apa kita promosiin aja?" Dia memberi usul.
Aku diam. Memikirkan apa maksud Lutfi.
__ADS_1
"Kita taruh selebaran buku-buku yang kamu buat di mading tiap kelas. Kan, siapa tau ada yang mau beli." jelasnya.
"Terus, belinya ke siapa?" tanyaku.
"Kamu,"
"Hah? Engga, ah."
"Kenapa?"
"Masa yang nulis yang jual bukunya?"
"Hmmm.... gengsi amat." ujarnya dengan tatapan sinis.
"Bukan gitu. Kalo mereka beli buku langsung dari penulisnya, ada kemungkinan nanti penulisnya jadi repot." Aku menerangkan.
"Maksudnya?" Dia nanya.
"Aku ga mau nanti pada sibuk minta tanda tangan, atau foto, atau nanya-nanya tentang karyaku yang lain."
"PD amat!" serunya.
"He," Aku ketawa. "Sedia payung sebelum hujan."
Lutfi kembali menggumam. "Tapi, bukannya seneng punya banyak penggemar?"
"Ga,"
"Kenapa?"
"Nanti ngurangin waktuku sama kamu," jawabku cepat.
Wajah Lutfi seketika memerah. Lalu dengan menepuk keras pundakku dia menutupi senyumnya.
"Gimana kalo pesen lewat nomor hp?" tanya Lutfi beberapa saat kemudian.
"Nanti, ada yang ngerjain."
"Hmmm.... kalo lewat email?" Belum sempat kujawab, Lutfi kembali bersua. "Eh, sama ya, bakal ada yang ngerjain."
Aku tergelitik.
"Ih, bantuin mikir, ya!" Dia berseru. "Aku kayak gini biar bukumu makin laku, tau!"
Aku senyum. "Iya, makasih ya?"
Lutfi ngangguk. "Apa lewat web?"
Aku menggumam. Mempertimbangkan sarannya.
"Eh, bisa bikin web sendiri, kan?"
"Bisa,"
"Boleh,"
"Asyiiik.... nanti abis pulang, bikin ya?"
Aku ngangguk.
Sedang Lutfi kembali pada aktivitasnya: mengerjakan tugas.
"Kenapa?" Aku nanya.
"Kenapa apanya?" Dia nanya balik.
"Kenapa semangat banget mau jual sendiri?"
"Latian bisnis," jawabnya.
"Kenapa?"
"Bisnis itu, pekerjaan yang dianjurkan di Islam. Rasulullah juga nyontohin." Dia menjelaskan.
"Hmmm...." Anggukku.
"Aku juga mau kayak kamu, masih sekolah udah bisa ngasilin uang sendiri."
"Oooh...."
"Makannya, nanti dari penjualan bukumu, aku harus dapat komisi, ya?" pintanya lalu ketawa kecil.
Aku terkekeh. "Pasti!"
"Berapa?" tanyanya sambil menghadap ke arahku.
"Tujuh puluh - tiga puluh." jawabku.
"Sedikit, amat?"
"Hah?"
"Iya. Masa bagianku cuma dapet tiga puluh persen? Kan aku yang nyaranin buat dijual di web." Dia menggerutu.
"He,"
"Malah ketawa!" Lutfi menepuk pundakku. "Serius, ih!"
"Kamu yang tujuh puluh, aku yang tiga puluh." Aku berkata.
"Hah?" Dia kaget. "Kebanyakan Itu!"
"Engga!" sangkalku. "Kan aku harus nafkahin istriku."
__ADS_1
Lutfi terkesipu malu, tapi akhirnya bilang juga. "Kalo gitu, aku harusnya dapet seratus persen!"
"He," Aku ketawa. "siaaap!!!"
"He he he," Dia ketawa juga. "Cuma bercanda, kok."
"Serius ya ga papa,"
"Ga usah. Jangan gitu lah.... aku juga pengin lebih mandiri."
Tidak kutanggapi. Aku sudah memutuskan untuk memberinya 100% dari hasil penjualan buku yang bakal kami lakukan nanti. Dan.... "Ada ga ya, Ustadz yang pinter bisnis online?"
"Kalo bisnis, sih, banyak. Tapi kalo bisnis online, ga tau." ucap Lutfi. "Kenapa emang?"
"Kan, kalo bisnis online kebanyakan orang non muslim. Kayak penerbitku aja orang China."
"Hah? Bukan orang Indonesia?"
Aku mengangguk. "Yang bikin emang orang Indonesia, tapi China yang punya perusahaannya."
"Oooh.... gitu,"
"Makannya, kalo aja ada Ustadz dari Indonesia yang pinter bisnis online, aku bakal kerja sama beliau."
"Kamu ga jadi penulis lagi?" Lutfi nanya.
"Ya tetep, cuma jual bukunya di tempat Ustadz itu." Aku jawab.
"Aku setuju!" Lutfi berseru. "Semoga harapanmu terwujud nanti."
"Aamiin...."
"Eh, nomor lima, caranya gimana? Aku bingung banget. Pusiiing...."
Aku mendekat dan mengajari Lutfi mengerjakan tugas matematikanya, yang dari sepuluh nomor hanya dua yang betul.
Yah, Lutfi emang udah ga suka MTK dari kecil, bahkan sampai ke bangku kuliah. Tapi dia lebih dari kata jago kalau soal bahasa dan hapalan, dua hal yang selalu tidak mampu kukuasai.
Dan, memang, bagiku, demikianlah yang seharusnya. Seorang pasangan adalah dia yang mampu mengisi kekurangan dari diri kita. Jadi, Lutfi emang pasangan yang pas buat aku!
Kalo kamu?
๐น๐น๐น
iv
Selesai seminar, para peserta berbondong-bondong keluar gedung, sebagian yang lain berderet dengan rapi demi meminta foto bareng, tanda tangan, atau lainnya. Dan aku, termasuk ke dalam barisan itu.
Tiba giliranku, aku menjawab salam dan menjabat tangan beliau, kemudian aku meminta izin untuk bergabung ke dalam paytren, menjadi pegawainya.
Beliau mengiyakan dengan semangat, lalu menanyakan apa aku bisa bergabung sendiri.
Aku menyanggupi dan membayar uang muka sebagai modal awalku bekerja.
Ustadz Yusuf Mansur kembali menjelaskan sedikit tentang usahanya, dan berdoa sesuai harapannya sedang aku mengamini.
Sebetulnya aku cukup senang bertemu secara langsung dengan seorang yang selalu kunanti-nantikan, tapi kedilemaan tentang ujian yang sedang kualami tidak bisa menghapus wajahku yang sembiluan.
"Maaf sebelumnya, saudara lagi ada masalah?" tanya Ustadz Yusuf Masur.
Aku senyum untuk menjawab pertanyaan beliau.
"Tentang wanita?" Beliau menebak.
Aku mengangguk.
"Udah lamaran?"
Aku mengiyakan dengan isyarat.
"Pas mau khitbah, yakin dia wanita yang tepat?" Beliau nanya.
"Yakin," jawabku.
"Yakin dia ga bakal nolak?"
"Yakin,"
"Yakin dia jodoh dunia akhirat, saudara?"
"Yakin,"
Ustadz Yusuf Mansur menepuk pundakku. "Kalau udah yakin, kenapa masih ragu? Kenapa masih takut kehilangan? Allah suka sama orang yang gigih, usaha terus sama doa yang khusyuk. Minta terus sama Allah. Wanita juga gitu, seneng dikejar, seneng diperjuangin."
"Iya, makasih Tadz."
Ustadz Yusuf Mansur kembali membacakan salah satu ayat Al-Qur'an, kali ini dengan nada yang tegas: "'Qul inkuntum tuhibbunallah fattabi'uunii.' Siapa yang mencintai Allah, hendaklah dia juga mencintai Rasulullah, dengan mengikuti Rasulullah." ucap beliau. "Saya menjajal, saat motor saya mogok, saya baca shalawat, dan alhamdulillah motor bisa jalan seperti semula."
Seketika aku kembali mengingat perumpamaanku tentang motor yang belum lunas. Kalau kalian lupa, kalian bisa baca lagi pada bab Seblak vs Mie Ayam. Dan aku juga sudah mengerti ke arah mana pembahasan ini berlanjut. Aku yakin, Ustadz Yusuf Mansur memintaku untuk mengamalkan shalawat, dan yakin kalau amalan itu akan memudahkanku dalam segala urusanku.
"Sepertinya saya ga perlu lagi, nih, jelasin, saudara sudah paham maksud saya, kan?"
Aku mengangguk.
"Masya Allah, alhamdulillah. Jadi, bershalawatlah, maka urusanmu akan jadi urusan Allah."
Seketika badanku merinding mendengar ucapan Ustadz Yusuf Mansur barusan. Seakan aku baru saja menerima sengatan dari listrik statis.
"Akan coba saya amalkan, Tadz. Sekali lagi, terima kasih." kataku sambil menyalami beliau dan pergi setelah mengucapkan salam.
"Semoga tunangannya cepet ketemu Mas Gilang!"
Langkahku terhenti seketika. Ba-bagaimana bisa Ustadz Yusuf Mansur tahu namaku?
__ADS_1