
i
Setelah istirahat selesai, kami masuk lagi ke kelas buat mastiin jadi atau tidaknya tes kesehatan yang gantiin mapel MTK. Aduh, bahagianya aku kalau beneran jadi.
Dan tidak lama kemudian, Bu Yuni masuk bersama Gilang dan dua petugas berseragam serba putih.
Gilang duduk, terus tidur.
Aku sebenarnya pengin nanya sesuatu sama dia. Soalnya aku mulai merasa asik bicara lama-lama sama Gilang. Terlebih karena dia udah balik kayak biasa. Tapi aku bingung harus ambil topik apa, jadi aku diam.
Bu Yuni menyampaikan salam kemudian mengenalkan dua tamunya. Yang cewe namanya Rani, terus yang cowo kalau ga salah namanya Triyanto. Mereka berdua biasanya tugas di RS Margono Soekarjo Purwokerto, tapi emang rutin cek kesehatan di SMAN Purwoketo berdasarkan permintaan kepala sekolah, satu semester sekali.
Kata mereka, ini tahun ke-4 buat cek kesehatan di SMAN Purwokerto. Mereka juga sempat cerita hal-hal menarik sebelum, saat, dan setelah cek kesehatan.
Kata Pak Triyanto, kebanyakan yang ngumpet justru siswi karena mereka takut sama jarum. Tapi ada juga siswa, bahkan siswa nakal, teriak-teriak, nangis ketakutan, pas mau disuntik.
Lucu katanya. Aku juga ketawa. Soalnya, kata Pak Triyanto, pas awal, siswa nakla itu yang nakut-nakutin teman-teman sekelasnya, eh pas giliran dia, malah dianya ketakutan, nangis lagi. Lucu, kan?
Kemudian, sambil mereka menyiapkan perlengkapan, kami disuruh mengisi formulir. Aku sempat cemas, kalau-kalau Gilang bakal nulis kayak di sampul bukunya. Tapi, pas aku lirik, ternyata dia ngisinya serius. Meski, sebelumnya aku harus bangunin dia dulu, sih.
Selanjutnya, siswa dipanggil berpasangan berdasarkan tempat duduk mereka. Aduh, aku jadi gerogi, soalnya tes kesehatan bareng Gilang. Juga khawatir, kalau-kalau yang dibilang Kelvin benar.
Aduh, aku benar-benar cemas.
Pas lagi nunggu, mungkin udah sekitar 30 menitan, Gilang tiba-tiba minta pinjem pulpen merah.
Kuambil tempat pensil dari dalam tas, lalu kuberi padanya pulpen merah, dan Gilang langsung buka bukunya terus nulis.
Awalnya aku cuma mengintip, tapi karena kurang jelas jadi aku terang-terangan membaca tulisannya. Gilang juga ga protes.
“Aku tahu: kamu tahu, kalau Kelvin naksir sama kamu. Aku tahu: kamu tahu, kalau Kelvin beda banget sama aku. Aku tahu: kamu tahu, kalau Kelvin bukan cowo baik-baik kayak tampangnya yang sok-sokan pakai kacamata. Tapi, aku juga tahu: kamu ga tahu, kalau aku cocok sama kamu, berdasarkan golongan darah.”
Agak bingung sih pas baca pertama, tapi pas kuulang beberapa kali, aku sempat ketawa dan kaget.
Kenapa mendadak dia nulis, kalau Kelvin bukan cowo baik-baik? Terus kenapa dia juga nulis, kalau kami cocok berdasarkan golongan darah? Apa maksudnya?
Aku natap Gilang. Dia senyum, lalu merogoh sesuatu dari dalam ranselnya. Terus nyerahin buku golongan darah.
Aku agak bingung sebenarnya. Tapi kuterima juga.
Pertama aku baca karakteristik goldar ABO. Maksudnya goldar A, B, AB, dan O.
Gambarnya bagus, mirip sama komik, ga bikin bosen. Dari buku ini, aku jadi yakin, sikap goldar A, B, AB, dan O, persis seperti dugaanku.
Tak butuh lama, aku langsung beralih pada bab tengah, soalnya penasaran sama asrama tiap goldar. Dan aku kaget pas tahu kalau goldar AB emang cocok banget sama goldar O.
__ADS_1
Jadi karena ini, Gilang nulis kayak tadi. Hatiku berkata.
Di sini juga tertera, meski kata-kata AB sering nusuk dan bikin O sakit hati, tapi sebenarnya itu omongan kejujuran darinya. Aku sempat keinget pas Gilang ngatain aku: Ratu Absen.
Juga, O emang sangat takjub sama cara AB memandang dunia. Dan aku sangat setuju dengan itu.
Aku yakin, pas baca, mukaku memerah karena malu.
Tak lama kemudian nama kami dipanggil: “Lutfi Gilang, maju.” kata Bu Yuni, seakan itu adalah nama panjangku.
Aku melangkah bersama Gilang dengan otak yang terus mikir: “Apa benar yang Gilang tulis, kalau aku dan dia itu cocok berdasarkan goldar? Apa buku itu emang tepat, kalau goldar O cocoknya sama goldar AB?”
Semua pertanyaan itu terus terulang berkali-kali hingga membuatku tidak fokus saat dites kesehatan. Pokoknya, entah kenapa, waktu itu, aku lihat Gilang jadi beda. Rasanya dia makin tampan saja.
Dan setelah kupikir-pikir lagi, seragam yang dia pakai selalu rapi. Hanya saja, dasi yang sudah digunakan pasti ujung hingga sepertiga bagiannya dislempangkan ke pundak kiri. Aku ga tahu kenapa. Yang jelas, sikap dingin Gilang membuatku terpana.
🌹🌹🌹
ii
Setelah semua selesai dites kesehatan, kedua petugas pamit dan berterima kasih. Sebelumnya, mereka bilang kalau kelas kami aman. Maksudnya, siswa-siswi di kelas kami ga ada yang makai aneh-aneh.
Aku lega akan hal itu, tapi pas kulirik ke arah hasil tes Gilang, ada tulisan di bagian penyakit. Aku penasaran apa isinya. Kalau punyaku, diisi flu tulang sama lambung.
Aku benar-benar tidak tahu dari mana mereka tahu. Padahal tadi kalau ga salah, cuma timbang berat badan, tensi, pengambilan sampel darah, sama wawancara keluhan. Dokter itu benar-benar peramal yang hebat.
Tapi ibuku malah ga izinin. Kata beliau, semoga aku nikahnya sama suami yang sholeh, suami yang benar-benar cinta aku sama keluarga. Aku sampai sekarang, belum tahu kenapa ibu bilang gitu.
Saking penasarannya, akhirnya aku nanya sama Gilang. Ralat. Bukan cuma aku, tapi teman sekelas. Aku heran, kenapa mereka pengin tahu hasil penyakit Gilang.
Tapi karena keramaian itu bikin Pak Triyanto kembali masuk ke kelas, terus nanya: “Kenapa ini ribut-ribut?”
Bu Yuni yang masih di kelas jadi jawab: “Katanya mereka pengin tahu penyakitnya Gilang.”
“Gilang?” Pak Triyanto nanya sekaligus memastikan.
“Iya, itu yang lagi tidur di pojok kelas.”
Aku lihat, mata dokter itu tertuju ke tempat duduk kami. Terus nyari berkas-berkasnya. “Sebentar saya buka.” Ngambil selembar kertas. “Buat apa sih pengin tahu penyakit orang lain?”
“Dia itu, tidur terus di kelas Pak. Masa iya, ga makai yang aneh-aneh.” kata Kelvin membuat siswa lain berseru setuju.
“Oh, jadi begitu.” kata Pak Triyanto. “Ini Bapak bacain saja.”
Mendadak kebisingan lenyap seketika.
__ADS_1
“Nama: Rizky Gilang Kurniawan. Tanggal lahir—”
“Itu ga perlu pak.” potong Arya bikin aku sebal.
Padahal aku juga pengin tahu ulang tahunnya kapan. Aduh.
“Iya pak, langsung ke intinya.” ujar Kelvin seakan membimbing teman-teman kelas agar berkata serupa.
Pak Triyanto ketawa. “Kalian ini, ga sabaran banget.”
Tampak Bu Yuni meminta maaf atas perilaku siswanya. Tapi Pak Triyanto cuma ketawa.
“Baik-baik, dengerin ya.”
Semua mengangguk kompak, kecuali Gilang. Dia sudah larut dalam tidurnya.
Aku bingung, bisa-bisanya dia tidur pas berisik kayak gini, bisa-bisanya dia ga bangun padahal semua orang lagi ngomongin dia.
“Gilang, itu kena insomnia.” kata Pak dokter akhirnya. “Jadi, susah buat tidur pas malam. Nah, tidurnya pagi.”
“Oooh....” kata teman-teman kelas.
Aku jadi lega. Sesuai dugaanku Gilang ga makai barang yang aneh-aneh. Tapi, aku jadi penasaran, pas malam ga bisa tidur, Gilang ngapain aja.
“Dok, obatnya apa itu?” tanya Bu Yuni khawatir. Aku sangat yakin beliau merasa begitu, karena sebagai seorang wali kelas, Bu Yuni selalu peduli terhadap masalah yang terjadi pada kelas X-11.
“Gampang Bu. Aku sudah nyuruh Gilang buat sering-sering makan sayur kangkung. Kata dia, itu sayur kesukaannya.”
“Syukurlah kalau gitu.”
Pak Triyanto hendak membalikan badan tapi dicegah sama Arya yang mendadak nanya: “Lah pas malam, dia ngapain dok?”
Beliau senyum. “Bapak udah nanya itu sama Gilang, pas malam ngapain aja.”
“Apa dok?” tanyaku penasaran, juga teman-teman lain nanya gitu.
Pak Triyanto agak maju lalu berkata pelan, persisi seperti orang sedang berbisik. “Katanya: ‘jangan kasih tahu teman-teman, nanti ga bakal ada yang percaya.’” Terus ketawa dan pamit keluar.
Aduh, aku kecewa deh karena ga tahu ada apa sebenarnya. Sesuatu yang Gilang sembunyiin dari semua orang.
Kupandang kembali buku di depanku, kubuka-buka lembarnya. Dan aku lihat, ada coretan bolpoin dengan nama dia di sini.
Jadi ini buku Gilang. Hatiku berkata.
Kupandang ke arahnya, tapi tidak bisa melihat wajahnya. Lalu beralih pada kertas hasil tes kesehatan milknya. Aku lihat, ada tanda AB di sana.
__ADS_1
Aku merasa senang mengetahui hal itu. Ga tau kenapa. Apa mungkin aku emang udah ngerasa kalau Gilang cocok sama aku?