
i
Aku diajak mamah masuk kamar Gilang.
“Ini, kamarnya.”
Itu sebuah kamar dengan ukuran kira-kira 3 kali 2,5 meter. Sebuah kamar yang lebih tepat disebut perpustakaan, karena penuh dengan buku dalam rak, persis seperti di perpustakaan. Namun rapi, tidak patut dianggap sebagai kamar pria, atau mungkin Gilang memang sudah berberes sebelum menjemputku.
“Biasanya, sih, emang rapi, tapi ga serapi ini.” kata Mamah.
Temboknya warna hijau tosca. Ada gambar siluet yang dibuat dari rangkaian huruf yang ternyata huruf-huruf itu segala yang menyangkut tentangku. Mulai dari nama lengkap, sebutan yang dia beri untukku, kelas, sekolah, kost, kebiasaan, dan berbagai pandangan Gilang tentangaku. Dibuat persis menyerupai diriku jika dipotret dari samping. Di bawahnya tertulis:
“Semoga yang dilukis ga marah. —Gilang 2010.”
“Itu gambarmu.” kata Mamah. “Suka?”
“Suka, Mah.”
“Ada lagi, yang dia buat tentang kamu.”
“Apa, Mah?”
“Tuh.” kata Mamah sambil menunjuk rak buku.
Aku mendekat dan mengambil satu persatu untuk melihat covernya. “Ini buatan Gilang, Mah?” tanyaku setelah mengambil buku berjudul: “Tinta Hitam”
“Oh, kalau ga salah itu isinya puisi. Coba bawa sini.”
Aku mendekat lalu duduk di sisi ranjang di samping kiri Mamah, lalu memberikan bukunya.
“Itu buatan Gilang, Mah?” Aku nanya lagi.
“Semua buku itu, dia yang bikin.” kata Mamah.
Aku terkejut, setidaknya ada lebih dari dua puluh buku. Aku benar-benar tidak menyangka dia sangat giat untuk menjadi penulis.
“Bentar, Mamah cari dulu.” kata beliau sambil membolak-balikan lembar. “Oh, ini dia. Judulnya Lutfi, he he he.” kata Mamah dengan volume bagai berbisik dan memandang wajahku.
Aku menerima dan membacanya.
“Lutfi”
Kalau hidup, penuh misteri.
Kalau cinta, bagai teka-teki.
Kalau mati, selalu mengejutkan.
Kalau kamu, kuidolakan.
—Gilang, 2010
Sontak, aku langsung mengingat tulisan yang kubaca diam-diam dulu, di buku Gilang. Aku ga nyangka dia masukin tentangku ke dalam karyanya bahkan sampai dicetak.
Membuka lembar berikutnya.
“Jangan Pergi”
Fi, jangan pergi
Apalagi dengan pria lain
Kan ada aku di hatimu.
—Gilang, 2010
Aku ga akan pergi darimu, Gilang. “Merinding, Mah.” ujarku.
Beliau cuma senyum dan menatapku, seakan masih ada lainnya.
“Lutfi Dua”
Kalau kendaraan, kuanggap apa, dirimu?
Sandal, waktu SD
Sepeda, waktu SMP
Motor, waktu SMA
Ayolah, aku mau jalan-jalan denganmu
Aku mau kamu
—Gilang, 2010
“Ha ha ha, bagus, Mah.”
“Baliknya adalagi.” kata Mamah seakan paham betul isi buku ini.
“Gilang”
__ADS_1
Aku memang bukan Buya Hamka,
yang pandai berkoalisi kata.
Aku memang bukan Habiburrahman,
yang pandai menulis kisah unggulan.
Aku memang bukan Hanung Bramantyo,
yang pandai mengatur semua unsur perfilman.
Aku memang bukan Iqbal Ramadhan,
yang pandai bermain peran.
Aku cuma Rizky Gilang Kurniawan,
yang duduk di sebelah wanita idaman.
—Gilang, 2010
Wanita idaman! Hatiku berseru.
“Itu semua yang Gilang suka.” kata Mamah.
“Oooh....”
“Iya, semua laki, cuma keempat orang itu, tuh. Ditambah satu lagi.”
Aku sebenarnya langsung nebak ayahnya. Tapi tetap nanya: “Siapa, Mah?”
“Syakh Rukh Khan.”
“Hah?” Aku tekejut.
“Iya. Pemain film Hollywood itu. Mamah juga suka. He he he.”
Aku juga ketawa, tapi ga tau orang yang di maksud. Pokoknya, aku cuma ngira kalau Mamah dan Gilang suka film India.
“Dia ga ngidolain orang tuanya, kayak anak-anak yang lain. Yang cewe aja ngidolainnya kamu doang.”
“He he he.”
“Ya udah dibaca lagi.”
“Adalagi, Mah?”
“Lutfi Tiga”
Kalau kue, kuanggap apa, dirimu?
Roti coklat? Bakpao?
Donat? Nopia?
Ayolah, aku mau makan semua itu.
Aku mau kamu!
—Gilang, 2010
Saat itu, perasaanku bagai melambung tinggi ke angkasa raya.
“Mamah, boleh Lutfi salin?”
“Ga usah, bukunya dibawa aja.”
“Ga apa-apa, Mah?”
“Iya.” jawabnya dengan senyuman. “Buat kamu.”
“Makasih, Mah.”
Entah kenapa aku langsung memeluknya. Dan beliau juga memelukku seakan tidak keberatan.
“Eh, udah mau siang. Kita ke dapur aja, yuk?”
Aku mengangguk mengikuti beliau keluar dari kamar Gilang lalu kembali ke ruang tamu untuk mengambil keresek besar dan aku menaruh buku kecil di samping tasku.
Sampai di dapur, sambil mengeluarkan bahan-bahan yang aku dan Gilang beli sebelumnya, aku mencoba mencairkan suasana.
“Gilang, sukanya masakan apa, mah?”
“Kangkung.” jawabnya sambil menunjukan sayur itu kepadaku.”Dia itu, tiap hari dimasakin ini, ga bakalan bosan.”
“Kalau Lutfi langsung bosan. He he he.”
“Mamah juga gitu.” Beliau bangkit dan meng-ambil baskom kemudian menyerahkannya padaku.
Aku ngobrol sama Mamah, sedangkan pikiranku terus pada Gilang, karena memang sudah satu jam lebih dia belum kembali. Aku khawatir, dia pergi ke mana gitu, terus lupa sama aku. Atau, dia main dengan temannya. Aduh, bisa gawat kalau kejadiannya begitu.
__ADS_1
🌹🌹🌹
ii
Sayur-mayur, minuman, nasi, sendok dan garpu, semuanya sudah diletakan rapi di atas meja. Mungkin sudah satu jam setengah, Gilang pergi dan belum kembali. Bahkan setelah Gading pulang dan duduk di kursi makan, dia belum kembali.
“Mana, Mamas?” tanya Mamah yang duduk di sebelah Gading.
“Itu, tidur di teras.”
Hah? Aku terkejut, langsung saja aku beranjak dari dudukku dan pergi ke luar. Tersentak aku melihat Gilang sedang tidur pulas bagai korban bencana alam.
Membangunkannya pelan.
Dia bangun perlahan persis seperti di kelas.
“Kamu ngapain tidur di situ?”
“Aku bingung mau ke mana, kan sama Mamah, juga disuruh keluar.”
Aku ketawa mendengarnya. Rasanya seperti Gilang baru saja melakukan kesalahan terus dihukum tidur di luar. Padahal engga.
“Berarti dari tadi kamu ga pergi-pergi?”
“Engga, kan ada kamu di hatiku.”
Deg! Aku langsung teringat dengan puisi yang dia bikin. Senang juga akhirnya aku mendengar langsung kalimat itu keluar dari mulut Gilang.
“Ya udah, ayo masuk. Mamah nyuruh makan bareng.” kataku.
“Iya.” katanya.
“Tapi cuci muka dulu.”
“Iya-iya.”
Aku masuk rumah sambil berjalan bersama dengan Gilang. Sungguh rasanya seperti sepasang kekasih yang sudah tinggal serumah.
Aku dan Gilang langsung gabung dengan Mamah dan Gading yang sudah duduk menghadap meja makan, setelah kutemani Gilang membasuh mukanya.
“Nah, ayo makan masakan kolaborasi Mamah dengan De Lutfi.”
“He he he.” Aku ketawa.
Tampak Gilang dan Gading menyerbu mangkuk berisi tumis kangkung yang aku dan Mamah masak sebelumnya.
“Heh, jangan rebutan.” seru Mamah setelah Gilang dan Gading perang-perangan sendok bak seorang ksatria yang memperebutkan peti harta karun dengan sebilah pedang.
“Itu Mamas.”
“Yeee.... ini kan, Kak Lutfi masak buat Mamas.” ujar Gilang.
“Ih, ini Mamah masak buat Adik!” timpal Gading tidak mau kalah.
Merasa geget, langsung kuambil mangkok itu dan membagi untuk mereka berdua.
“Makasih, Kak.” kata Gading.
“Makasih, Fi.” kata Gilang.
“Nah, gitu harusnya. Untung, Gilang sukanya sama kamu.” kata Mamah.
Mendengar itu, membuatku merasa, kalau aku adalah wanita idaman.
Kami menyantap makan siang bersama, berempat sambil Mamah menjelaskan kalau Ayah Gilang kerja di luar kota. Pulang setahun sekali. Beliau juga sama anehnya kayak Gilang. Mungkin karena pas Ayah Gilang masih bayi, beliau harus menyusu kepada delapan orang Ibu, yang akhirnya bisa jadi memperngaruhi kepribadian beliau. Dan kedelapan gen baru yang didapat dari Ayah, diturunkan sampai habis kepada Gilang.
Kemudian Mamah cerita soal kebiasaan Gilang di rumah yang terus meditasi di kamar, susah makan, susah dibangunin. Bahkan pernah pas dibuka gorden kamarnya, kata Mamah, Gilang teriak: “Mah, jangan dibuka! Nanti aku lenyap”
“Ha ha ha, emang vampir?” seruku sambil kegirangan.
Hari itu adalah hari paling bahagia buatku. Aku bahagia bisa berada di rumah Gilang. Bisa berkumpul dengan Mamah, Gading, dan Gilang.
Gilang yang pernah ngirim surat lewat Ateg buat bantu aku nemuin kostan, lewat buku paket fisika buat bantu aku ngerjain tugas nomot lima yang susahnya seambrug, bantu aku ngambil absen kelas Bahasa, IPS, dan kelas sepuluh. Bentuk macam apa yang menyamai hal itu? Sederhana namun sangat meringankan bebanku.
Gilang yang pernah memberi kado gantungan berbentuk kubus dengan penuh nuansa Islam. Biasa, tidak semewah liontin atau emas permata, tetapi penuh makna, seakan memberiku ingatan tambahna untuk tetap menjaga kuat agamaku bahkan saat di sekolah.
Gilang yang pernah membantuku pulang ke kost dengan gerobak sampah, mendongeng untuk membantu-ku tidur pulas. Ah, rasanya aku sangat istimewa.
Gilang yang pernah memerhatikan perubahan kecil dalam diriku, yang bahkan orang lain tidak melihatnya, berucap dengan aneka macam kata-kata yang selalu membuatku bahagia seketika. Meski yang dikatakannya bukan kata-kata cinta, tapi mampu menumbuhkan cinta di hati yang kututup rapat-rapat.
Gilang yang membuat aku merasa nyaman, persis seperti ketika aku bergantung kepada ayahkum bahkan bisa dibilang lebih.
Gilang yang membuatku merasa selalu aman, seakan dia berhasil mengusir segala hal yang kiranya dapat melukaiku. Aku tahu, dia bukan spiderman seperti tokoh yang sangat dia gemari sebagai sosok pahlawna idolanya, tapi bagiku, dia lebih baik dari manusia laba-laba itu.
Gilang mungkin bukan lelaki yang baik, bagi semua orang tentunya, dia terkesan pemalas karena selalu tidur di kelas. Tapi itu karena penyakitnya, dan sewaktu malam tiba, Gilang menghabiskan waktunya untuk menghasilkan karya, bukan main-main. Dia, benar-benar serius menjalani hidup di masa seharusnya dia bertingkah sebagai mana anak seumurannya, bersenang-senang menghabiskan waktu dengan hal kurang bermakna.
Gilang mungkin tidak paham teori bagaimana seorang lelaki harus memperlakukan seorang wanita, tapi semua yang dia lakukan bisa membuatku merasa istimewa daripada manusia lain, bahkan kedua orang tuanya sekali pun. Menjadi wanita paling bahagia dari yang pernah aku bayangkan, tanpa perlu baginya untuk berlebihan memerlakukanku agar aku merasa lebih.
Bahkan, Gilang yang diam-diam mengidolakanku, dan bilang secara langsung, sungguh saat itu, aku juga mengidolakannya.
Mungkin aku terlalu berlebihan dalam menilainya, seolah-olah dia pengertian, seolah-olah dia hebat, seolah-olah dia jagoan, seolah-olah tak ada hal buruk darinya. Seolah-olah dia sempurna. Tapi, kamu harus tahu, ini adalah hak diriku untuk menilainya begitu. Kau juga tentu akan berpikiran sama denganku setelah mengenal Gilang, tapi maaf, aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi, karena dia Gilangku, dia adalah milikku masa SMA.
__ADS_1