
i
Selasa, 1 Januari 2019 pukul 00:01 WIB, adalah waktu di mana aku menikmati tahun baru seorang diri. Tanpa keluarga, tanpa kekasih, tanpa teman, dan tanpa dokter yang biasa mengurusku.
Di sini, di ruang sepetak dengan semerbak bau alkohol. Aku hanya ditemani suara dari alat-alat medis defibrilator dan pasien monitor. Mulut dan hidungku tertutup debulizer di mana ujungnya bersambung pada regulator oksigen. Jari manis kananku memakai overview of fingertip pulse oximeter. Dan pada punggung tangan ada selang infus dan selang darah.
Aku tidak menyangka kalau fitnah yang disebarkan oleh Adit juga akan memengaruhi Dokter Triyanto sampai beliau tidak mau lagi peduli untuk mengurus aku.
Bahkan kabar itu pun ramai dibicarakan di berita dan media sosial, yang mana sampai diambil sebagai acara di FTV.
Sebegitukah rasa kecewa mereka jika aku mengkhianati Lutfi?
Dengan badan lemas aku tetap bertahan untuk duduk sembari melihat ke arah luar jendela sambil menikmati pemandangan kembang api yang bermekaran sejak sepuluh menit lalu dan belum kunjung berhenti sampai sekarang.
Aku tidak menyangka, di tahun baru 2019 aku benar-benar menghabiskan waktuku seorang diri tanpa Lutfi, dan tanpa siapa pun. Aku benar-benar sendiri. Seakan aku telah menjadi hal lain yang tidak termasuk ke dalam dunia ini.
Dari ruang bertingkat, aku juga mendengar orang-orang berteriak girang, tertawa bahagia bersama keluarga atau pasangan atau teman mereka. Sesuatu, yang saat ini sangat kurindukan.
Seminggu sebelumnya, aku mencoba meluruskan kesalahpahaman yang melanda teman-temanku, semuanya, satu per satu, setiap hari, dari dini hari sampai hampir tengah malam. Aku menghubungi mereka melalui SMS, telepon, e-mail, media sosial, bahkan aku mencari alamat mereka dan mengunjungi rumah mereka. Tapi tidak ada satupun dari mereka yang mau mendengarkan penjelasanku. Saat mereka tahu ada sesuatu tentang aku, cepat-cepat mereka pergi menjauh setelah memaki aku.
Tidak hanya teman, itu juga merembet sampai ke tempat kerjaku, di perusahaan 0000. Tio, Mas Beni, Pak Heru, Pak Zurri, Mas Anton, hingga Direktur! Semua mulai membenciku. Aku benar-benar merasa kalau karirku sudah hancur.
"Hmmm.... jadi bagaimana aku bisa membuktikan kepada mereka kalo aku ga selingkuh?"
Dari kejadian itulah yang membuat tubuhku drop, dan harus mendekap di rumah sakit ini seorang diri sejak kemarin sore.
Lagi dan lagi, aku tidak tahu siapa yang membawaku ke mari. Pihak rumah sakit bahkan tidak mau menjelaskan siapa yang mengantarkanku ke sini. Sebenarnya siapa yang orang itu?
Duar! Duar! Duar!
Ledakan kembang api menggelegar ke seantero jagad raya. Warna-warni cahayanya sangat memanjakan mata. Teriakan orang, suara terompet, bunyi bedug juga turut serta meramaikan acara tahun baru masehi ini. Indah, meriah, ramai, dan asik pastinya.
"Lutfi, apa kau melihat langit yang sama denganku? Apa kau merasakan kerinduan yang sama denganku? Apa kau mengetahui apa yang sedang menimpaku? ....Lutfi sayang, aku di sini berjuang agar bisa sehat untukmu. Agar bisa meluruskan semua kesalahpahaman ini. Agar bisa mencari di mana dirimu lagi. Agar bisa bersama denganmu lagi."
Perlahan aku merasakan air mata menitik melintasi pipiku.
"Aku, pasti bakal nemuin kamu bagaimana pun caranya."
Mendadak aku ambruk dengan pandangan buram yang makin menghitam. Hitam, gelap, dan hening.
🌹🌹🌹
ii
Aku keluar dari rumah sakit setelah menginap selama lima belas hari di sana. Sendirian! Tanpa siapapun!
Dokter memesan agar aku rutin ke rumah sakit minimal dua kali dalam satu minggu. Jika kondisiku memburuk aku harus menjalani operasi yang kemungkinan selamat 40%.
Ya, mau operasi apa tidak, aku yakin aku tetap akan hidup. Dan kita tidak perlu membahas penyakitku di sini. Aku tidak suka dikasihani karena kekuranganku.
Oke, kembali ke cerita.
"Ini ga sesuai," ujar Mas Toto sambil melempar naskahku. "Ada apa sebenernya? Tulisanmu bener-bener ga kayak yang biasa."
Aku tertunduk. Bingung harus menjawab apa.
"Kau tau, waktumu tinggal dua minggu lagi. Dan baru satu bab yang berhasil kamu tulis." jelasnya dengan nada khawatir. "Ini mau gimana?"
Aku diam.
"Kamu serius apa engga buat bikin naskah ini?!" tanya Mas Toto sedikit berseru.
Aku menghembus napas. Lalu menggeleng.
Seakan mengetahui masalahku, Mas Toto bangkit dan menepuk pundakku. "Sebaiknya, kamu mundur aja, dan bayar dendanya, jadi kamu ga perlu buang-buang waktu kayak gini. Kamu masih ada uang tabungan, kan?" Dia menyarankan.
Aku mengangguk.
"Ya sudah, masalahnya sudah selesai sekarang. Saya permisi dulu." ujarnya dan melaluiku begitu saja.
Aku masih tidak bergeming. Baru kali ini, selama aku bekerja menjadi penulis, hasilnya sangat kacau. Maksudku, aku sudah berulang kali mencoba membuat naskah sebaik mungkin sejak bulan Desember tahun kemarin, sampai detik ini. Tapi, tidak membuahkan hasil. Semuanya ditolak mentah-mentah.
Dan memang, aku akui, saat kubaca ulang naskah novel hasil garapanku, aku setuju dengan Mas Toto kalau isinya ga pas, ga jelas, ga sesuai tema, dan ga sesuai kerangka yang kujadikan sebagai panutan. Lebih daripada itu, bahasa yang digunakan juga terlalu berbelit, tidak menunjukan inti dari cerita, justru membahas kepada hal yang tidak bersangkutan. Dan itu jelas, sangat keluar dari khasnya Danu Banu.
__ADS_1
Aku mencoba merenungi keterpurukanku yang tidak pernah bisa kubayangkan sebelumnya. Yang kemudian aku putuskan, aku berhenti menulis.
Mana mungkin aku terus bertahan menulis sedang garapanku kacau balau seperti ini? Lebih kacau daripada diriku sendiri.
Jadi, sekarang, aku sudah mantap. Aku akan mundur dari pekerjaan ini, dan lebih berfokus untuk mencari Lutfi. Mungkin dengan begitu, teman-temanku akan memercayaiku lagi, kalau aku benar-benar mencintai Lutfi dan tidak akan berani mengkhianatinya. Semoga saja. Semoga....
Aku bangkit. Keluar ruangan. Dan melangkahkan kaki menuju bank.
🌹🌹🌹
iii
Antrian bank sangat panjang, saking panjangnya membuatku harus keluar bank setelah adzan Ashar. Aku tidak langsung kembali ke perusahaan 0000, karena memang Direktur sedang ada acara. Jadi aku menundanya sampai besok.
Selepas melaksanakan shalat Ashar, aku kembali ke Mesh dan membereskan perlengkapanku. Aku sudah bersiap untuk pergi dari sini, dan keluar dari pekerjaanku menulis, pekerjaan yang sudah kujalani selama sembilan tahun.
Berat memang rasanya melepas apa yang menjadi hobi—sesuatu yang telah berlangsung bertahun-tahun dan menghasilkan uang, tapi kondisiku saat ini sudah tidak bisa untuk memenuhi kebutuhan dalam menjalankan hobiku. Apalagi, beban pikiran yang bertumpuk juga membuatku tidak bisa berkonsentrasi dalam menghasilkan sebuah karya.
Ya, aku memang pria yang payah. Aku akui itu, dan kalian boleh menganggapku demikian.
Biarlah aku payah saat aku sendiri, aku tidak masalah. Tapi saat aku dengan Lutfi, aku yakin tidak ada kata payah di sekitar kami. Karena kami berdua saling mengisi kekurangan satu sama lain.
Mungkin aku tidak berhak berkata demikian saat Lutfi sendiri sedang tidak bersamaku, maksudku dia menghilang tanpa jejak dan sampai sekarang aku belum berhasil menemukannya. Tapi satu hal yang kuyakini, Lutfi pergi bukan karena orang ketiga, dia pergi karena sedang mengujiku, mungkin. He....
Air mataku mengalir dengan deras saat kubuat surat pengunduran diri dari perusahaan 0000. Terasa sangat berat untukku meninggalkan pekerjaan yang selama ini kubangun perlahan bersama Lutfi.
"Benarkah ini keputusan yang tepat? Haruskah aku benar-benar berhenti menjadi seorang penulis? Apakah ini akan menjadi tahun terakhir nama Danu Banu membuat sebuah buku?"
Aku mencoba mengatur napas, menahan segala asa yang sangaaat.... sulit kulepaskan. Memejam, mengusap air mata pada wajah, menengadah kepala, dan merakuskan diri menghirup udara, aku tetap tidak tenang. Sangat tidak ingin aku berhenti menulis.
Karena bagaimanapun menulis adalah hal pertama yang kudapatkan dari Lutfi—setelah aku cemburu kepada sebuah buku yang dia baca sewaktu hujan deras di bawah lindungan payung besar sembari menunggu angkot datang, menulis adalah hal pertama yang bisa kupamerkan kepadanya, menulis adalah hal utama yang menjadi keahlianku, menulis adalah saranaku menyalurkan hobi dan segala rasaku, menulis adalah pekerjaan utamaku yang jelas menghasilkan, menulis adalah....
Berat, rasanya begitu berat untuk melepas semua ini.
Dera air mata tidak dapat kutahan. Itu tumpah ruah membasahi sekujur wajah dan sebagian bajuku. Membuat napasku berat dan perih, juga kepalaku mulai terasa migren.
Kupandang foto Lutfi di ponsel pintarku.
"Tidak, aku harus berkorban. Buat apa aku nulis kalo ga bisa bareng sama Lutfi. Aku bakal berhenti buat dia. Untuknya!"
🌹🌹🌹
iv
Keesokan harinya.
Dengan sisa-sisa tenaga, aku membawa sebuah koper berukuran sedang berisi uang 100 juta rupiah di dalamnya. Setelah bertanya kepada petugas, aku merasa kecewa karena ternyata Direktur sedang ada urusan di Bandung sampai akhir bulan Januari mendatang. Bahkan setelah aku mengecek ke ruangannya, Direktur tidak ada di sana.
Aku memutuskan untuk duduk sejenak di ruang tunggu, sekadar mengistirahatkan diri yang lelah.
"Mas Danu," sapa suara seorang pria.
"Mas Dodit," kataku seraya menjabat tangannya.
Mas Dodit duduk di sisiku. "Sedang ada urusan Mas Danu?"
Aku ngangguk.
"Sama Mas Beni?" Dia menebak.
Aku menggeleng.
"Mas Radit?" Mas Dodit masih menebak.
Aku menggeleng lagi.
"Mas Sopo?"
"Mas Sopo?" Aku balik nanya.
"Iya, Sopo Jarwo. He he he,"
Aku tergelitik mendengarnya.
__ADS_1
"Engga, engga, maksud saya, Mas siapa yang Mas Danu cari?" Mas Dodit nanya.
"Direktur," Aku jawab.
"Oooh.... Pak Bos Direktur. Kalo ga salah, Pak Bos Direktur lagi ada urusan loh, Mas."
"Iya,"
"Mas Danu mau titip pesan lewat saya? Saya bisa kok nyampein ke Pak Bos Direktur."
"Wah, kebetulan nih. Apa baiknya aku titipin aja ke Mas Dodit, ya? Mas Dodit juga ga mungkin kan jadi orang jahat tiba-tiba, ya meski mukanya emang serem, sih. Ada kumis, janggut, sama rambut gondrong gitu, kan? Kayak.... oke lupain. Tapi, pribadi Mas Dodit emang ga jahat, dia lemah lembut kayak putri Solo." pikirku.
Dan setelah berunding banyak hal dengan otak, aku mengiyakan untuk meminta bantuan kepadanya. "Jadi, gini Mas, saya minta tolong sama Mas Dodit buat ngasih koper sama isinya ke Direktur."
"Oooh... tentu saya ga bakal berani buka-buka. Kecuali kalo isinya duit. He he he,"
Aku tersentak mendengarnya. "Aduh, apa baiknya aku tunda aja, ya, sampe Direktur balik?" Hatiku bertanya.
"Bercanda, Mas. Saya mana ada berani korupsi, tampang baik-baik gini kok." ujarnya.
Aku mengamati wujud Mas Dodit dari ujung kepala ke ujung kaki, balik lagi ke ujung kepala. Dan jujur, aku justru makin ragu buat nitip amanat ini sama dia.
"Saya ga bakal Mas ngasih uang ke keluarga saya pake uang haram. Hasil korupsi, nyolong, njambret, nipu. Ga mungkin! Kecuali.... kalo kepepet."
Aduh! "Terus Mas Dodit bisa jaga amanat apa engga, nih?"
"Bisa Mas! Saya ini orang yang paling jujur sedunia loh. Liat muka saya!"
Kuturuti perintahnya.
"Ga ada toh, tampang-tampang kriminal?" Dia nanya.
Sedang aku mengiyakan, dalam tanda kutip: "terpaksa".
"Udah, ga papa. Titip ke saya aja. Nanti kalo ada apa-apa, saya siap kok tanggungjawab."
Mendengar hal itu membuat aku lega. "Iya Mas, saya percaya sama Mas Dodit." kataku akhirnya. "Ini koper isi uang seratus juta—"
"Hah?!" Dia berseru memotong kalimatku. "Se-seratus.... seratus juta?!"
Aku mengangguk.
Mas Dodit menelan ludahnya lalu memegang koper itu dengan tangan gemetar. "Ini isinya duit semua Mas Danu?"
Aku mengiyakan.
Mas Dodit lagi-lagi nelen ludah, sekali, dua kali, tiga kali, dan beberapa kali lagi. "Apa dia haus, ya?" Aku bertanya-tanya sendiri.
"I-ini, ini duit buat apa Mas Danu? Mas Danu mau nyogok Pak Bos Direktur, ya?!" tuduhnya.
Aku menggeleng lalu senyum. "Engga Mas, itu uang ganti rugi saya karena ga bisa bikin naskah sesuai waktu yang ditetapkan."
"Loh, Mas Danu ga bisa nyelesain naskahnya, toh?"
Aku ngangguk.
"Kalo boleh tau, kenapa Mas?"
"Ga papa Mas Dodit, saya lagi kurang enak badan aja." kataku mencoba tegar.
"Oooh.... gitu. Ya semoga cepet sehatan, ya Mas?"
"Makasih, Mas Dodit."
"Ya sudah, saya terima koper ini. Ada lagi, Mas?"
"Oh iya," Aku cepat-cepat mengambil surat pengunduran diriku yang telah dibungkus dengan map merah dari dalam ranselku. "ini Mas Dodit,"
"Berarti dua, ini ya Mas?"
Aku ngangguk. "Makasih Mas Dodit,"
"Sama-sama Mas Danu,"
__ADS_1
Aku keluar dari perusahaan 0000 setelah menyalami Mas Dodit.
"Ini adalah keputusanku, aku berhenti menjadi penulis."