
i
Aku tiba di rumah pukul 6 pagi, setelah mengambil tiket kereta yang berangkat malam—waktu itu aku telat satu menit dari pembeli terakhir tiket kereta yang berangkat sore. Terus aku meminta supir taksi untuk mengantarkanku sampai rumah yang ada di daerah Pekuncen, Ajibarang.
Rumahku cukup jauh dari jalan raya, kalau mengenakan sepeda motor dengan kecepatan rata-rata memakan waktu ± 35 menit. Ya cukup jauh, kan?
Sedang dari stasiun Purwokerto sampai pintu masuk gang rumahku sekitar 43 menitan lah kalau menggunakan mobil dengan kecepatan sedang.
Aku membangun rumah di sana bukan tanpa alasan. Itu adalah tempat di mana ketika kau bangun kau akan melihat sunrice dengan sempurna, dan ketika sore kau akan melihat gradiasi warna yang mengagumkan akibat sunset.
Di bagian depan rumah ada aliran air yang terkadang muncul berbagai jenis ikan mulai dari yang masih bayi sampai seukuran telapak tangan orang dewasa.
Selain itu, jarak antara rumahku dengan rumah tetangga tidak terlalu dekat, dibatasi oleh beberapa petak sawah yang mengantarkan kesegeran alam.
Aku yakin, kalau kalian main ke rumahku kalian pasti akan betah berlama-lama tinggal di sini, di halaman rumah. Memang para tamu biasanya cuma sampai halaman depan rumah, karena sengaja kubuat gazebo yang cukup luas di sana. Mungkin bisa menampung 8 orang dewasa. Jadi, aku tidak perlu menyediakan ruang tamu. Rumah, ya cuma buat pribadi. He....
Semua yang sudah dibangun adalah berdasarkan keputusan Lutfi. Dia yang memilih tempat buat dibangunnya, dia yang memilih desain rumahnya, dia yang memilih perabotan rumahnya, dia yang memilih warna cat temboknya. Dia yang memilih semua hal di rumah ini. Jadi, jelas di sini adalah tempat ternyaman untukku pulang. Seakan ada sosok Lutfi yang menemaniku.
Sampai rumah. Kukunci pintu, kemudian menaruh barang bawaanku di sembarang tempat lalu merebahkan diri di atas ranjang.
Aaah.... rasanya sangat nyaman. Lebih nyaman dari kamar di hotel bintang 5. Meski kamarku bau apek—soalnya sudah sebulan lebih rumahku tidak mendapat sirkulasi udara dengan baik. Tapi setidaknya, aku bisa mengisi energi di sini. Dengan tenang, dengan nyaman, tanpa beban pekerjaan.
Nanti, kalau rasa capekku sudah berkurang dan aku sudah makan, aku bakal nyari info tentang Lutfi. Nanti, sekarang tidur dulu. Masih gelap soalnya. Iya, kan semua jendela dan gorden ditutup. He....
Selamat tidur.
🌹🌹🌹
ii
Aku hanya menghabiskan waktuku dengan tidur sehari penuh. Sekarang, di hari kedua, aku harus bangun setelah seorang wanita memaksaku bangkit berulang kali.
"Kamu ini, udah jadi beruang apa?!" Mamah nanya sedikit membentak. "Hibernasi di kamar. Di goa aja sono!" Dia membuka jendela hingga cahayanya masuk dan memancari tubuhku.
"Aaa.... jangan Mah, nanti aku hangus."
Dia menepuk kepalaku dengan bantal. "Kamu bukan Vampir. Vampir aja udah bisa tahan panas. Kamu masih aja kuno. Udah cepet bangun!"
Dengan terpaksa kuturuti perintahnya.
"Minum dua gelas terus pemanasan!"
"Emang mau olahraga?"
"Ga usah protes, kenapa?!" gerutu Mamah. "Mau dikutuk jadi batu?!"
Aduh. "Aku pemanasan sekarang!"
Sembari aku melenturkan otot-otot tubuh, Mamah membuat rumahku digerayangi cahaya matahari. Kemudian mulai terdengar bunyi alat-alat dapur yang sedang beradu, tanda kalau Mamah sedang masak.
Setengah jam kemudian Mamah memanggilku untuk sarapan. Setibanya aku di ruang makan aku langsung bisa melihat sayur kangkung, segelas susu, dan pisang.
Ketika mau duduk, Mamah kembali melarangku. "Heeeh! Cuci muka, tangan, sama kaki, dulu sana."
Aku mendengus, tapi tidak berkata-kata. Menuruti perintahnya.
"Sekalian mandi!" Dia bereriak.
"Iya,"7
"Sama air hangat!" tambah Mamah.
__ADS_1
"Iya, iya...."
🌹🌹🌹
iii
Aku bangkit setelah terdengar bunyi alarm dari ponsel pintar baruku. Kulihat jam yang tertera di sana. 07:12 WIB.
"Hmmm.... jadi tadi itu mimpi, ya? Ya, tidak mungkin memang jika Mamah mendadak tiba di rumahku padahal aku tidak memberi kabar apa pun padanya."
Aku bangkit sekuat tenaga dan melakukan sesuai arahan Mamah di alam mimpi. Minum dua gelas, pemanasan, mandi dengan air hangat, lalu sarapan. Kemudian aku melanjutkan aktivitasku seperti biasa setelah mengqadha shalat fardhu.
Hmmm.... aku sendiri pusing, harus mengqadha shalat fardhu dari kapan saja. Tapi yang kulakukan adalah mengqadha shalat Dzuhur, lalu Ashar, lalu Maghrib, lalu 'Isya, dan terakhir Subuh—semoga tidak salah—disambung dengan shalat Dhuha 4 rakaat. Selanjutnya aku keluar untuk mencari informasi tentang Lutfi sekaligus menjelaskan kesalahpahaman yang gosipnya sudah menyebar tidak keruan, hingga malam tiba.
Besoknya setelah menjalani rutinitas pagi, aku keluar rumah untuk melakukan hal yang sama—mencari informasi tentang Lutfi sekaligus menjelaskan kesalahpahaman kepada teman-teman, meski tetap tidak membuahkan hasil.
Lusanya, tiga hari ke depan, seminggu, hingga dua minggu. Aku menjalani rutinitas yang sama. Tapi tetap tidak ada kemajuan apa pun.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
🌹🌹🌹
iv
1 Februari 2019 pukul 06:00 WIB, aku mendapatkan surat penangkapan dari polisi. Bahkan kedua petugas itu memborgol tanganku sebelum aku sempat menanyakan alasan penangkapanku.
"Tunggu Pak. Saya janji tidak akan melawan. Tapi saya perlu membereskan rumah dan mengunci pintunya sebelum kalian membawa saya ke kantor polisi." pintaku.
"Biar kami yang membereskannya," jawab Pak Polisi.
Aku mengangguk dan menyerahkan urusan rumah—menyapu, mengepel, mengelap jendela, dan mengunci semua pintu—kepada mereka. Jujur aku sedikit senang, rasanya seperti aku baru saja punya asisten rumah tangga seorang polisi. Kalian dilarang keras meniru perbuatanku!
Ya aku ga maksa polisi kok buat beresin rumahku, mereka yang menawarkan diri. He....
🌹🌹🌹
Aku tiba di kantor polisi 45 menit kemudian setelah mobil patroli melaju. Di sana aku duduk dengan tangan masih diborgol.
"Dengan saudara Danu Banu?" tanya petugas.
Aku ngangguk.
"Nama asli Rizky Gilang Kurniawan?"
Aku ngangguk lagi.
"Kenapa pake nama Danu Banu?"
"Itu nama pena Pak. Penulis biasanya menggunakan nama itu supaya buku mereka jadi lebih menarik buat dibaca. Saya sudah pake nama itu dari sembilan tahun yang lalu, Pak." Aku menjelaskan.
"Hmmm...." gumam petugas. "saudara bekerja di perusahaan 0000?"
Aku mengiyakan. Dalam otak aku berpikir: "Apa ini masalah kontrak? Perasaan udah ga ada masalah."
"Kenapa selama dua minggu ini, saudara tidak lagi datang ke kantor tersebut?" tanyanya.
Lah, bukannya aku sudah bikin surat pengunduran diri? "Saya sudah mengajukan pengunduran diri, Pak." kataku. "Saya sudah membuat suratnya, file-nya juga masih ada di ponsel saya, Pak."
"Di mana ponsel saudara?"
"Di dalam tas Pak. Kayaknya tadi juga dibawa sama petugas."
__ADS_1
"Tolong Ndan Sukma, ambilkan handphone saudara Rizky."
"Rizky? Setelah Danu, aku dapat panggilan baru lagi." hatiku berbisik.
Pria yang dipanggil namanya mengangguk dan menggeledah ransel biru kegelapan milikku, lalu menyerahkannya kepada petugas di depanku. Dia membalikkan ponsel dan mendorongnya ke arahku.
Kuterima, dan kuutak-atuk sebentar hingga memunculkan dokumen surat pernyataan pengunduran diri, yang kemudian dicetak oleh petugas. Aku juga menunjukkan foto yang diambil di perusahaan 0000 setelah surat itu kutandatangani. Tertera di sana tanggal diambilnya. Kamis, 17 Januari 2019 pukul 08:16:49 WIB.
"Selanjutnya, kenapa saudara Rizky mengajukan surat pengunduran diri?"
"Ada masalah pribadi dan kesehatan,"
"Jelaskan!" pinta petugas.
Aku menjabarkan segala hal yang terjadi kepada petugas sesuai apa yang telah kalian baca selama ini. Di sela-sela aku bercerita, petugas menulis sesuatu kadang bertanya untuk meminta penjelasan lebih. Beberapa kali, aku sempat melihat dia terbawa emosi meski akhirnya dapat ditahan juga.
"Jadi begini saudara Rizky, saya mendapat surat penangkapan saudara dari Mabes Polri."
Aku mengangguk.
"Dan itu disebabkan karena saudara Rizky menghilang selama dua minggu tanpa memberi kabar apa pun. Ditambah saudara sudah melanggar kontrak. Saudara juga belum membayar uang ganti rugi sebesar seratus juta."
Mendengar hal itu aku terkejut setengah mati. "Aku sudah menitipkannya kepada rekan kerja di sana."
"Aduh, Mas, uang sebanyak itu kok malah dititipin ke orang lain?"
Aku tertunduk. Merasa kalau omongan petugas barusan ada benarnya. Tapi aku saat itu memang sedang ingin cepat-cepat pulang ke Banyumas.
"Siapa yang saudara titipi uang itu?" tanya petugas beberapa menit kemudian.
"Dodit Mulyanto," jawabku.
"Dodit Mulyanto?!" Petugas sedikit berseru. "Dodit Mulyanto yang jadi pelawak itu, ya?"
Aku ngangguk. "Stand Up Comedy, Pak."
"Nah, iya itu. Dia juga bekerja di perusahaan 0000?"
Aku mengiyakan dengan isyarat. "Dia bekerja di bagian percetakan, Pak."
"Hmmm...." gumam petugas. "saya tidak yakin,"
Aku meraih ponsel pintar baruku dari atas meja. Mengelus-ngelus layarnya lalu menunjukkan foto Mas Dodit sewaktu bekerja.
"Oh, iya benar ini orangnya!" Dia berseru.
"Jadi, bagaimana, Pak?"
Petugas menghembus napas. "Begini saudara Rizky, semua alibi bisa diterima, semua bukti juga bisa diterima. Tapi kami belum bisa melepas saudara sebelum pihak penuntut mencabut tuntutannya." jelas petugas berargumen. "Kecuali kalau ada keluarga atau teman saudara Rizky yang bisa membujuk pihak penuntut untuk mencabut tuntutannya."
"Ja-jadi Pak?"
"Kami meminta maaf, saudara harus menginap di penjara hari ini. Dan besok saudara akan dipindah ke Jakarta."
"Buat dipenjara lagi, Pak?"
"Iya,"
"Ta-tapi, Pak—"
"Maaf saudara Rizky, ini sudah sesuai prosedur." jelas petugas. "Untuk tunangan saudara yang menghilang tanpa jejak, kami akan sebisa mungkin membantu saudara. Jadi saudara Rizky tidak perlu repot-repot mencarinya." tambahnya. "Mari,"
__ADS_1
Aku diam. Termenung. Mengikuti perintah petugas untuk bersemayang di balik jeruji besi.
"Ini sangat berat untukku. Bagaimana caranya aku bisa keluar dari penjara sedangkan tidak ada seorangpun yang percaya denganku? Lutfi.... aku mohon kembalilah, aku butuh bantuanmu."