Lutfi Gilang

Lutfi Gilang
11. Tentang Lutfi


__ADS_3

i


Mundur ke hari di mana aku meminta Ateg buat ngasih tahu ke Gilang kalau aku engga pacaran sama Kelvin.


Sorenya, sewaktu mau Maghrib, aku meng-hampiri kamar Ateg dan duduk di kursi belajarnya.


“Udah bilang, kan?”


“Udah,” jawab Ateg senyum.


“Kapan?”


“Tadi, habis pulang sekolah, jam tiga sore kayaknya. Aku ga sengaja lihat dia lagi tiduran di atas genteng.”


“Hah?!” Aku berseru tidak percaya. “Di atas genteng mana?”


“Kelas dua belas IPA.”


“Serius?”


“Iya.” jawab Ateg menahan ketawa.


“Ngapain dia di sana?”


“Katanya, sih, galau.”


Aku ketawa, tapi bercampur khawatir. “Galau, tiduran di atas genteng? Tingkat dua lagi?”


“Iya.” Ateg jawab sambil ikutan ketawa.


“Kok kamu bisa lihat dia?”


“Pas SMP, dia juga sering gitu.”


“Galau, terus tiduran di atas genteng?”


“Iya.”


Aku ketawa. Terus mendadak berhenti karena penasaran.


“Eh, pas SMP, Gilang pernah pacaran?”


“Pernah,”


Aku agak sedih mendengarnya. Tapi tetap, kucoba kuat untuk mencari tahu lebih. “Sama siapa?”


“Ga ingat siapa namanya.”


“Satu sekolah?”


“Engga, beda sekolah. Teman silat Gilang, dia sering ikut latihan di sekolah lain soalnya.”


“Gilang pernah ikut silat?”


“Iya.”


“Perguruan apa?”


Ateg tampak mikir, mungkin sedang mengingat-ingat. “Kalau ga salah, HMS.”


“Wah, sama dong.” Aku berseru kegirangan.


“Sama? Maksudnya?”


“Ayahku juga perguruannya HMS. Itu diambil dari bahasa Arab: Ha, Mim, Shod.”


“Waaah! Udah pasti jodoh itu!” Ateg berseru membuatku jadi bersemangat.


“Eh, mereka pacaran berapa lama, sih?”


“Seminggu.”


“Cuma seminggu?!” Aku kaget sekaligus senang.


“Iya,”


“Kamu tahu, kenapa mereka putus?”


Ateg mengangguk. “Gara-gara Gilang mergokin cewenya lagi pacaran sama cowo lain, tiga kali lagi, juga tiap Gilang mergokin, cowonya beda-beda.”


“Aduh, kasihan Gilang.” Aku benar-benar merasa sedih. Dan tidak menyangka, bisa-bisanya ada cewe yang sia-siain seorang Gilang. “Terus, Gilang galau?” Aku nanya.


“Engga.”


“Kok gitu?”


“Aku, sih, tahu ini dari teman silatnya Gilang.”


“Apa katanya?”


“Tuh cewe, maksa-maksa Gilang buat jadi pacarnya.”


“Oooh....” Aku manggut-manggut.


“Ngerasa risih kali, jadi akhirnya pacaran.”


“Oh gitu.” kataku penuh rasa lega.


“Kata Gilang, pas mergokin cewenya lagi selingkuh, dia malah duduk terus ngenalin diri ke selingkuhan pacarnya.”


“Serius?!” Aku nanya hampir membentak, saking ga percayanya.


“Iya.” jawab Ateg, nahan tawa.


“Terus gimana itu?”


“Ya dia bilang, kalau Gilang itu pacarnya, terus ngasih selamat ke cowo itu, karena dia juga berhasil dikhianati kayak Gilang.” kata Ateg sambil ketawa.

__ADS_1


“Hah? Terus?”


“Abis itu Gilang pergi, soalnya si cowo itu yang marahin cewenya.” Ateg terkekeh sendiri mendengar ceritanya, aku juga gitu.


“Terus, pas SMP, Gilang galau gara-gara apa?”


Belum sempat ngomong, Ateg udah langsung ketawa. Bikin aku makin penasaran.


“Kenapa sih? Ceritain yaaaa!”


“Oke-oke, bentar.” Ateg nelen ludah, berusaha berhenti ketawa. “Dia galau gara-gara kesiangan, terus lupa...” katanya terpotong karena ketawa.


“Lupa apa?” Aku nanya makin penasaran.


“Tas yang dia pakai, itu tas milik adiknya. Masih TK lagi.”


Aku ketawa mendengarnya, begitu pula Ateg. “Jadi, Gilang galau karena malu diledekin teman-temannya?”


“Engga.” jawab Ateg masih ketawa.


“Lah, terus?”


“Takut dimarahin Ibunya.” katanya lalu kembali menelan ludah dan berhenti ketawa. “Eh, aku minum bentar.”


Aku mengangguk, dan menunggu Ateg selesai minum.


Setelah minum, dia kembali duduk di ranjang-nya.


“Ibu Gilang, galak, apa?” Aku nanya.


“Ga tahu, aku belum pernah ketemu. Paling, dia cuma jadi anak patuh, yang ga berani bantah omongan Ibunya, kan?”


“Bisa juga, sih.” kataku setuju, dan sangat berharap Gilang begitu. “Eh, terus, tadi pas di sekolah gimana?”


“Tadi sampai mana, ya? Aku lupa.”


“Sampai kamu lihat Gilang tiduran di genteng.”


“Oh, iya. Aku suruh dia turun, lah. Ga aku lihat gimana turunnya, habisnya ngeri.”


“Terus-terus?” Aku nanya, makin ga sabar dengan hasil akhirnya gimana.


“Dia nyamperin aku, terus nanya gini: ‘Apa Teg?’” kata Ateg sambil menirukan gaya Gilang, membuatku terkekeh.


“Itu pasti beneran dia.”


“Iya, lah!” seru Ateg. Dia kembali duduk di atas kasurnya. “Terus aku bilang: ‘Ada pesan buat kamu.’. ‘Mana?’ Dia nanya gitu.”


“Terus-terus?” tanyaku makin penasaran sambil memeluk senderan pada kursi.


“Aku jadi bingung mau jawab apa. Ya, aku langsung bilang aja itu dari kamu.”


“Apa katanya?”


“Kata dia?”


“Persis kayak yang kamu bilang tadi. ‘Apa katanya?’”


“Gitu?” Aku ketawa.


“Iya.” jawab Ateg semangat.


“Terus?”


“Aku bilang: ‘Lutfi ga pacaran sama Kelvin, dia bilang sendiri ke aku.’”


“Terus, Gilang jawab apa?”


“Oh.”


“Hah?”


“Iya, cuma jawab: ‘Oh.’”


“Gitu doang?” tanyaku agak tidak percaya.


“Sama satu lagi,”


“Apa?”


“‘Aduh,’ gitu. Sambil melengos.”


“Kok, aduh, kenapa?”


“Katanya: ‘Aku udah nyebar berita hoaxs.’”


Aku langsung ngakak dengarnya. “Iya itu, harusnya langsung dipenjara!” seruku sambil menegaskan kata terakhir.


“Dipenjara di hatimu, ya?”


“Apaan, sih, Ateg, ih!” kataku malu-malu, lalu kami ketawa.


🌹🌹🌹


ii


Malamnya, ba’da Isya, sesuai perjanjian, aku traktir Ateg makan di lamongan yang ga jauh dari kost setelah minta izin sama ibu kost, dan dibolehin asal kembali sebelum jam 9. Kata beliau.


Sampainya, aku kaget setengah mati, karena yang jualan ternyata Mamang Budi, satpam sekolah.


“Pak Budi!” sapaku lalu menyalaminya.


“Siapa?” Ateg berbisik.


“Satpam sekolah.” jawabku.


Ateg kaget terus ikutan nyalamin.

__ADS_1


“Kalian pasti siswi SMAN Purwokerto, ya?”


“Kok, tahu?” Aku sama Ateg nanyanya kompak, tanpa direncanakan.


“Iya, soalnya kalau yang biasa makan di tempat bapak, biasanya manggil Mamang Uud.” jawabnya dengan logat desa. Lucu. “Eh, duduk-duduk, silahkan.”


Kami duduk di kursi yang sudah disediakan.


“Mau pesan apa?”


“Ayam kampung, dua.” jawabku.


“Paha atau dada?”


“Dada aja, ya?” tanyaku ke Ateg, memastikan.


Dia mengangguk. Setuju aja gitu.


“Siap.” katanya lalu mengambil dua bagian dada dan meletakannya di atas baki hijau muda, lalu menyalakan api pada kompor. Sambil Mamang Uud menyiapkan nasi, beliau ngajak cerita. “Kalau lagi di sini manggilnya Mamang aja, ya?”


“Iya Mang.” Kembali Aku sama Ateg menjawab dengan kompak


“Siiip.... Mamang teh, senang sama murid angkatan yang sekarang.” katanya sambil menyelupkan ayam ke wajan penuh minyak yang sudah mulai mendidih.


“Kenapa Mang?” Aku nanya.


“Mamang dihormati, disegani, walau tampilannya kayak begini, ini.” katanya sambil menunjukan badan lalu meletakan nasi dan wadah cuci tangan dengan hati-hati.


Aku sama Ateg ketawa kecil.


“Iya, Mamang juga sering diajak makan bareng. Ditraktir lagi.”


Aku langsung mengira itu pasti Gilang.


“Sama siapa Pak?” tanya Ateg


“Udah dibilangin tadi,” kata Mamang Uud dengan memajukan mukanya dan pura-pura memukul kepala Ateg. “Eh! Gimana sih eneng?”


Kami ketawa lagi.


“I-iya. Maaf. Aku ulangi, sama siapa Mang?”


“Nah, gitu kan enak, lebih akrab kesannya.” jawab Mamang sambil nuangin teh panas ke dalam gelas yang sudah diberi gula pasir. Lalu berkata sambil mengaduknya.a “Cowo yang ganteng, itulah.... yang namanya Gilang, penulis itu, loh.”


“Penulis?” Aku sama Ateg nanya bareng dan sempat saling pandang.


“Iya. Katanya teh, suka nulis tentang neng Lutfi.” Meletakan dua gelas besar di depan kami.


Aku kaget mendengarnya. Tapi aku meminta Ateg biar ga ngasih tahu ke Mamang kalau Lutfi itu namaku.


“Nulis gimana maksudnya, Mang?” Aku nanya.


“Puisi, cerpen, sama nobel, kalau ga salah.” jawab Mamang sambil mengulek banyak cabai sama bawang merah, dan bawang putih, yang kelihatannya sudah di goreng sebelumnya.


Kami lagi-lagi ketawa.


“Novel kali, Mang.” kata Ateg mencoba akrab.


“Iya itu, Nopel.”


Aku hampir terbahak mendengarnya.


“Novel, Mang.” kataku mengulang.


Mamang mengangkat daging dan meniriskannya agar minyaknya pada turun. “Iya pokonya itulah.”


Sebenarnya aku masih tidak percaya kalau Gilang banyak menulis tentangku apalagi sampai dibuat puisi, cerpen, dan novel. Kupikir, dia engga serajin itu.


“Kata dia juga, cinta sama neng Lutfi.”


Deg! Aku hampir berteriak mendengarnya. Kulihat Ateg juga memberikan tatapan aneh sambil senyum-senyum. Saat itu, pasti mukaku memerah.


Mamang meletakan piring berisi daging ayam kampung bagian dada yang sudah digoreng dengan matang, di sisinya ada sambal goreng yang sangat menggoda. “Silahkan,”


“Makasih Mang,” jawab kami.


“Dia bilang gimana, Mang?” Ateg mendadak nanya setelah mencuci tangan, makin buat aku malu.


“Kata mas Gilang teh, neng Lutfi itu pinter, baik, sopan.” jawab Mamang dengan logat khasnya.


Mendengarnya makin membuatku tertunduk malu.


“Terus-terus?” Ateg makin nanya, ga tahu kenapa.


“Katanya juga, neng Lutfi itu cantik, banget malah. Terus pernah bilang ke Mamang gini: ‘Mang, kalau Mamang nganggap yang punya warung ini cantik, Lutfi seribu kali jauh lebih cantik.’”


Kami ketawa ga percaya.


“Yee.... malah ketawa. Mamang teh serius atuh.”


“Iya Mang,” jawab kami, lalu mulai menyantap hidangan di depan kami.


“Terus Mamang jadi penasaran, gimana sih Lutfi itu. Dia jawab: ‘Kulitnya putih, rambutnya hitam panjang, lurus sampai pinggang, mukanya agak bulat, hidungnya ga pesek tapi juga ga mancung, pipinya ga tirus juga ga tembem, kalau senyum ada lesung pipi di sebelah kiri, terus ada tahi lalat di bagian pipi sebelah kanan.’ Persis kayak eneng ini.” jelas Mamang lalu menunjukku.


Aku makin menunduk karena malu. Tidak percaya kalau Gilang sampai berkata begitu. Sedang Ateg, kulihat senyum-senyum sambil mengangkat alisnya, kode bahwa Gilang emang cinta aku.


“Eh, neng-neng ini, namanya siapa, ya? Mamang pengin tahu biar bisa akrab, kalau di sekolah, mungkin.”


“Saya Ateg, terus ini, teman saya, Lutfi.” jawab Ateg membuat Mamang terkejut.


“Jadi ini neng Lutfi, toh? Teman kelasnya mas Gilang.”


Aku diam. Ateg yang menjawabinya dengan anggukan kepala.


“Waduh, ternyata lebih cantik dari bayangan Mamang.”


Ateg dan Mamang Uud ketawa. Tapi aku hanya terkesipu malu. Aku sangat yakin saat itu mukaku pasti lebih dari kata memerah.

__ADS_1


__ADS_2