Lutfi Gilang

Lutfi Gilang
30. Dua Orang yang Membisu


__ADS_3

i


Hampir sampai di sekolah aku melihat sekiranya ada 6 bus pariwisata berbaris di depan SMAN Purwokerto. Gilang terus melajukan motornya hingga masuk dan berhenti di depan masjid sekolah.


Dia turun dari motornya, aku juga ikut. Lalu meletakan helm, kemudian tak lama, aku lihat banyak siswa bergerombol keluar sambil menggendong ransel yang tampak kelebihan muatan. Beberapa dari mereka juga ada yang membawa matras, keresek hitam besar, payung, pancing, hingga memakai topi-topi pantai. Aku jadi langsung mikir, kalau mereka mau naik bus. Tapi aku ga lihat Ateg dari tadi.


Kulirik ke arah Gilang, dia masih saja diam mematung. Namun aku tahu, di matanya, dia terus menyapu pandang, seakan sedang mencari seseorang, tapi aku tidak bisa menebak siapa yang dia cari.


Aku diam, membiarkannya. Terus menunggu giliran kelas kami lewat. Mengacuhkan segala suara dan tatapan yang tertuju kepada kami.


Sekitar lima menit kemudian, akhirnya kulihat Bu Yuni. Dia sedang menggiring teman-teman kelas X-11, lalu mendadak berhenti setelah melihat kami.


Aku dan Gilang langsung menyalaminya. Gyan, Arya, dan Kelvin juga nyamperin kami buat nyapa. Mereka kelihatan senang dengan kedatangan kami, tapi aku tahu pasti, hal itu tidak berlaku bagi teman-teman yang lain.


Pas baru aja Bu Yuni ngajak buat aku ikut masuk bus, tiba-tiba Siti, Wati, Hana, Serly, dan ga tahu siapa lagi aku lupa, langsung nyerobot. Mereka bilang kalau aku sama Gilang ga boleh ikut, karena kemarin ga hadir. Bahkan mereka berani berdebat dengan Gyan dan Arya, dengan menggunakan modal aturan yang sudah ditetapkan.


Aku ga terlalu ingat gimana aturannya, yang jelas, bagi siswa yang hari Jumat tidak berangkat sekolah untuk alasan dalam bentuk apapun, tidak boleh mengikuti kegiatan tafakur alam di hari Sabtu, karena tidak mempunyai surat izin dari orang tua yang dibagikan waktu hari Jumat.


Kurang ajar, ya?


Aku sedih, sangat kecewa mendengarnya. Mereka tidak tahu apa yang sudah aku lakukan untuk bisa sampai sekolah sebelum jam 6. Bahkan Gilang membantuku agar sampai di sekolah lebih awal, tapi teman-teman justru mengusirku—kecuali Gyan.


Bu Yuni tidak bisa mengelak karena Pak Edi juga menegaskan kepadaku, bahwa siswa yang kemarin tidak hadir, tidak bisa ikut masuk ke dalam rombongan bus, karena tidak terdaftar.


Ketika aku hampir berteriak saking sedihnya, mendadak Gilang ngomong: “Iya Pak, kami datang bukan buat ikut kok, kami cuma datang buat ngasih tahu ke Bu Yuni dan teman-teman, kalau Lutfi udah sembuh, jadi mereka bisa senang-senang berlibur tanpa harus mengkhawatirkan kondisi Lutfi. Tapi ternyata, mereka sama sekali tidak peduli. Ya sudah, Pak, kami permisi.”


Aku dan kuyakin seluruh orang yang mendengarnya pastilah kaget. Kalimatnya biasa tapi sangat menusuk. Dan kalau boleh jujur, aku memang setuju dengan pernyataan Gilang.


“Mereka sama sekali tidak peduli dengan kondisiku.”


Mereka, datang cuma buat basa-basi, meng-gugurkan kewajiban dengan menjengukku. Mereka tidak benar-benar khawatir dengan kondisiku. Hanya cari muka di depan Bu Yuni.

__ADS_1


Meski itu tidak berlaku bagi Gyan dan Bu Yuni, tapi kalimat itu sangat keras menusuk hati, bagi mereka yang memilikinya.


Aku dan Gilang pamit setelah menyalami Gyan, Bu Yuni.


Kami kembali melaju di atas sepeda motor, keluar dari lingkungan sekolah yang berisi manusia-manusia serigala berbulu domba.


Sungguh aku ingin teriak saking marahnya, tapi tidak kulakukan. Aku menyerah. Habis sudah harapan-ku untuk bisa pergi ke pantai Menganti.


🌹🌹🌹


ii


Gilang menghentikan motornya di depan warung mie ayam sehati, yang letaknya di seberang SMAN Purwokerto, tapi agak masuk gang dikit.


Aku bilang sama dia kalau aku udah sarapan tadi sebelum berangkat.


“Aku tahu.” jawabnya dan bangkit mengetuk pintu warung, seakan mengacuhkan omonganku.


Aku mengikuti langkah Gilang yang masuk ke dalam warung. Sebenarnya aku agak takut, sih, tapi entah kenapa, waktu itu, aku nurut saja.


Di dalam, kami duduk sejajar menghadap tembok. Sekitar semenit kemudian seorang wanita parubaya mendatangi kami lalu bertanya: “Minumnya, apa?”


Aku mau minta teh hangat tapi belum sempat aku ngomong Gilang udah jawab duluan. “Air mineral, jeruk hangat, sama teh tawar hangat, semua satu.”


Sebetulnya, aku mau nanya, kenapa Gilang pesan minumannya banyak banget, tapi engga kulakuin, aku tetap diam. Masih begitu sakit rasaku atas segala perlakuannya dari kemarin. Perlakuan apa? Menghilang dan sampai sekarang ga jelasin apapun!


Setelah wanita berusia lanjut itu pergi, Gilang mendadak menggeser duduknya menjauh lalu meng-hadapku. Aku menjawabinya dengan sedikit menoleh ke arahnya.


Diam, hanya terus memandangku membuatku sedikit risih.


Harusnya Gilang tahu kalau aku ini sedang marah padanya. Harusnya Gilang tahu kalau aku sedang menunggu dia menjelaskan alasannya pergi dengan wanita lain. Harusnya Gilang tahu kalau selama tiga hari kemarin aku terus menunggu kabar darinya.

__ADS_1


Tapi, dia tidak memberikan satupun dari kesemua harapanku itu. Gilang cuma terus memandang-ku untuk waktu yang lama sampai wanita tadi meletakan minuman dan dua mangkuk mie ayam di atas meja kami.


Bahkan dia tetap diam hingga kami selesai makan.


🌹🌹🌹


iii


Kini Gilang membawaku ke toko bunga. Aku ga tahu kenapa, setelah Gilang ngetuk pintu, tak selang lama pemiliknya keluar terus ngasih kresek hitam panjang. Aku yakin itu pasti isinya bunga, soalnya, kan, di toko bunga, apalagi kalau bukan bunga?


Aku juga yakin, kalau dia bakal ngasih itu ke aku sebagai ucapan maafnya. Tapi nyatanya tidak, Gilang justru menyimpan bunga itu ke dalam ranselnya.


Ih! Maksudnya apa coba?


Jam telah menunjukan pukul tujuh tepat, ketika akhirnya Gilang mengendarai motornya di jalan Dr. Angka. Kemudian berhenti di perempatan Hotel Aston, karena lampu lalu lintas menyala warna merah. Dia bilang: “Tadi ke sekolah emang bukan buat ikut mereka.”


“Hah?” Aku kaget. “Terus?”


“Cuma nyapa, lalu kita kencan.” katanya. “Kamu mau?”


“Hmmm....” Aku sebenarnya bingung kenapa dia yang dari tadi diam mendadak ngomong, dan ngajakin kencan, juga. Aneh. “Ke mana?”


“Pantai Menganti.”


Deg! Kaget, bingung, senang, pokoknya macam-macam yang aku rasain. Aku juga sempat mikir kalau Gilang bakal jelasin semuanya di sana.


“Kamu yakin?” tanyaku memastikan.


“Iya.”


Aku sedikit senyum mendengarnya. “Boleh,”

__ADS_1


Lampu berubah hijau. Gilang kembali menjalankan motornya.


__ADS_2