
i
Aku bangun dengan pegal yang menjalar di seluruh tubuh. Pinggang kembali terasa nyeri ketika aku mencoba bangkit. Aku tidak menyangka, Adit bakal marah sampai memukulku seperti kemarin.
Kupandang sekeliling ketika penglihatanku mulai kembali normal. Ternyata, aku masih pada posisi terakhir kali setelah ambruk dihantam Adit. Kalau saja kondisiku sehat, aku pasti bakal membalasnya tiga kali lipat. Bukan aku dendam, tapi itu adalah pelajaran untuk seorang adik yang berani dengan kakaknya.
Kucari surat pernyataan dari tumpukan kayu yang berantakan. Dan.... "Ah, sial! Kertasnya lecek banget." gerutuku setelah mengambil surat pernyataan pengunduran kontrak yang basah, terkoyak, dan banyak bekas tekukan.
Dengan terhuyung-huyung aku berdiri. Kemudian salah seorang pelayan menghampiriku. "Maaf saya harus menyampaikan pesan,"
"Hah?!" ujarku jengkel. Maksudku, kalau dia memang melihat aku sedang kepayahan begini, kenapa dia tidak segera membantuku? Lebih daripada itu, bisa-bisa Adit membiarkanku terkapar dengan kondisi tak wajar. Pingsan bersama meja yang rusak.
"Pelanggan yang kemarin belum membayar pesanannya,"
"Terus aku yang disuruh bayar, gitu?!" seruku kesal sambil tangan kiri tetap memegangi pinggang belakang, berusaha mengurangi nyeri.
Dia mengangguk.
"Hah?!"
"Cuma Tuan yang duduk bareng sama wanita itu. Karena dia belum bayar pesanannya, jadi Tuan yang harus bayar." ujarnya menjelaskan.
Aku mengalihkan wajah, kesal. "Bentar, aku telfon orangnya biar bayar sendiri."
Si Pelayan menyilahkan dengan anggukan.
Aku mengambil ponsel pintarku dari dalam saku celana. "Ah, sial! Benar-benar sial! Ponsel pintarku pecah dan tidak mau nyala." Hatiku kembali bersua.
"Gimana, Tuan?" tanya Si Pelayan.
"Ah, ya udah. Aku yang bayar. Berapa?"
"Seratus delapan puluh lima ribu, Tuan."
"Hah?! Pesan apa aja, sih dia?"
"Kabsah Lamb, sama Equil."
Apalagi, itu? "Cuma pesan dua abis segitu?" Aku memastikan sekaligus tidak percaya.
"Silahkan notanya, Tuan."
Kuterima dengan rasa malas. "Ah, kurang ajar Adit, ngasih harga mahal banget. Apa emang harga makanan cafe segini?" gerutu batinku.
Kuambil dompet dari saku celana belakang. Mengambil uang sesuai apa yang diminta pelayan.
"Sama meja, Tuan." ujarnya menghentikan aksiku.
"Meja katanya? Apa aku disuruh ganti rugi meja, juga?" Hatiku bertanya.
"Karena mejanya rusak gara-gara Tuan, jadi Tuan yang harus ganti rugi."
"Hah?!"
"Iya Tuan, itu sudah jadi kebijakan cafe ini."
"Tapi itu gara-gara Bos-mu yang mukul aku!" kataku mencoba menyangkal.
"Tapi itu juga gara-gara Tuan yang nubruk meja. Jadi mejanya rusak."
"Ah, sialan!"
Kuambil ATM dari dalam dompet lalu menyerahkannya dengan kesal. Sangat kesal. Pagi ini aku harus kehilangan ponsel pintarku, dan uang lebih dari 3,5 juta. Ini semua gara-gara Clara nyuruh ketemu malam-malam ke cafe segala.
Belum lagi surat pernyataan pengunduran diri jadi rusak. Hmmm.... semoga saja ini masih bisa diterima sama Direktur.
"Aaah!!! Menyebalkan!"
🌹🌹🌹
ii
Sampai Mesh, aku mandi, berganti pakaian, dan mengqadha shalat subuh. Kemudian mencari konter hp, barang kali pemiliknya bisa memerbaiki ponsel pintarku yang rusak. Tapi, setelah tiga jam mencari dan semua bilang: "Udah ga bisa ini Mas. Harus ganti." Jadi, aku lagi-lagi harus mengeluarkan uang untuk membeli handphone baru.
Aku terpaksa membelinya, karena banyak hal penting yang hanya bisa kudapat melalui e-mail dan nomor telepon. Bukan cuma tentang kerjaan, tapi juga kabar dari teman-temanku tentang Lutfi.
Dan benar, setelah ponsel pintar baruku menyala, dan terkoneksi dengan internet aku banyak menerima pesan. Baik dari e-mail, sms, sampai WA. Tapi semuanya bukan kabar baik, itu kabar buruk semata.
Fitnah tentang aku berkencan dengan wanita lain di sebuah cafe, yang kebetulan Bos Cafe-nya adalah Adit, menjadi berita hangat yang membuat mereka mencaci-maki dan menghinaku dengan banyak julukan.
Aku mencoba menjelaskan kepada beberapa orang yang sangat dekat denganku, tapi tidak ada satupun yang percaya. Bahkan, kebanyakan dari mereka me-reject setiap kali aku mencoba menelpon.
"Dasar tukang selingkuh!"; "Dasar pengkhianatan!"; "Dasar bermuka dua!"; "Dasar cowok bejad!"; dan masih banyak lainnya julukan yang kudapatkan selama dua hari ini.
Rasanya, pertemananku dengan mereka hancur dalam waktu yang sangat singkat, kemarin. Dan itu semua gara-gara Clara mengajakku ketemu malam-malam di cafe, gara-gara Clara ngungkapin rasanya di waktu yang sangat tidak tepat, gara-gara Adit tidak mau mendengarkan penjelasanku, gara-gara Adit main hakim sendiri, dan gara-gara Adit menyebar fitnah.
Memang, kesalahpahaman membuahkan hasil yang mengerikan seperti ini.
Bahkan, sampai dua hari berlalu—hari Senin, hujatan mereka tidak berhenti. Mereka juga melarangku untuk sok-sokan peduli dengan menghilangnya Lutfi. Mereka menganggap, kepergian Lutfi adalah hal yang tepat, karena aku memang tidak pantas untuknya.
Aku lemah dan hancur, sekarang tidak ada lagi seorangpun yang percaya kalau aku benar-benar mencintai Lutfi.
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Lutfi tolong aku! Aku butuh kamu."
🌹🌹🌹
iii
Aku duduk di depan meja Dokter setelah beliau selesai mengecek kondisi punggungku. "Bagaimana, Dok?" Aku nanya.
Beliau menghembus napas. "Berapa kali Anda minum sehari?"
"Tiga atau lima gelas, Dok."
Dokter itu mengangguk-angguk. "Kalo makan, berapa kali sehari?"
__ADS_1
"Satu atau dua, Dok."
"Lauknya apa?"
"Seadanya di warung,"
"Sayur?" Dokter memastikan.
Aku mengiyakan dengan isyarat.
"Ga pake ayam atau ikan?"
Aku menggeleng.
"Ga suka minum teh? Atau yang manis-manis?"
Aku menggeleng lagi.
Dokter kembali mengatur napas. "Apa Anda sedang banyak pekerjaan, seminggu ini?"
Aku ngangguk.
"Banyak pikiran?"
"Iya, Dok."
"Baik," kata beliau. "Jadi begini, ....Mas Gilang, pasti tau sendiri kalo asupan—makan dan minum sangat kurang, betul?"
Aku mengiyakan.
"Ditambah dengan beban kerja dan pikiran, itu butuh banyak energi Mas. Ibarat kata, Mas Gilang ini mobil, terus lagi jalan tapi ga diisi bensin, sampe bensinnya abis tetep dipaksa jalan." ujar beliau menjelaskan. "Kira-kira mobilnya rusak, ga?"
"Rusak, Dok."
"Nah, jadi saran saya, Mas Gilang disering minum, makan tepat waktu dan paling engga lauknya yang mengandung kalsium sama karbohidrat. Terus, sebelum makan, atau paling engga tiap pagi makan buah. Pisang saja sudah cukup." jelas Dokter berargumen.
"Sama susu, ya, Dok?" Aku menebak, karena penjelasan Dokter barusan mirip seperti apa yang dulu Lutfi pernah bilang.
"Nah, itu tau. Intinya sumber energinya harus diseimbangin sama energi yang dipake."
"Baik, Dok."
"Mas Gilang, insomnianya lagi kambuh, ya?" Dokter menebak.
"Iya Dok, sama vertigo."
Wajah Dokter tampak berubah: terkejut. Kemudian menunjukkan rasa khawatir. "Coba Mas Gilang jangan terlalu banyak pikiran dulu."
"Baik, Dok."
"Ini saya buatkan resep obatnya, tapi hari Senin besok ke sini lagi buat pengecekan, ya?" pintanya.
"Baik, Dok." jawabku.
Aku keluar ruangan, menyerahkan resep obat ke petugas, mengambil obatku, membayar, dan keluar dari klinik itu. Kemudian mencari tempat makan terdekat dan memesan sesuai saran dari dokter.
🌹🌹🌹
iv
Pelayan membangunkanku jam 11:14 WIB, lalu menanyakan apa yang terjadi. Barang kali aku keracunan makanan yang mereka buat.
Tapi tidak. Aku menjawab: "Maaf, saya cuma kecapean. Saya akan pergi sekarang."
Si Pelayan pergi dan kembali pada tugasnya. Sedang aku membayar pesananku di kasir.
"Mas Gilang," sapa suara seorang pria.
Aku menengok ke arahnya. "Dimas," kataku sambil menjawab jabat tangannya.
Dia adalah adik kelas, sekaligus temanku di Satuan Karya Pramuka Wanabakti Kwartir Ranting Wangon, dan kebetulan dia menjabat sebagai Ketua Umum selama 1 periode. Dimas Rendianto, namanya.
Dan memang, Dimas cukup akrab denganku dan Lutfi. Dia pernah membantu kami mengajar pramuka di SD-nya Adit, dan beberapa tempat lainnya. Dulu, kami juga pernah beberapa kali double date.
Tapi, aku memang tidak mengingat tentangnya selama ini. Karena sibuk mencari Lutfi dan urusan pekerjaan. Semoga kalau dia tahu, dia ga marah. Semoga.
"Waaah.... udah lama ga ketemu. Gimana kabar, Mas?" tanya Dimas ramah seperti biasa.
"Ya, alhamdulillah. Kamu sendiri gimana?" Aku nanya balik.
"Sehat, Mas. Sehat. Eh.... Mas Gilang habis makan di sini?" Dimas nanya lagi.
"Iya," jawabku.
"Gimana Mas, enak ga?"
Lah, kenapa dia nanya begituan? "Hmmm.... enak, kenapa emang?"
"Syukurlah," ujarnya dengan seringai lebar. "Ini punyaku, loh, Mas."
"Serius?!" Aku nanya sedikit berseru.
Dia ngangguk senang.
Sedang aku kembali menyalaminya dengan rasa bangga. Tidak menyangka Adit dan Dimas sudah punya usaha mereka sendiri di Jakarta. "Hebat ya kamu, Dim."
"Ha ha ha, makasih Mas. Eh.... kapan-kapan makan di sini lagi, ya Mas?" pintanya. "Ajak Mba Lutfi juga."
Aku mennggumam lama sebelum akhirnya ngangguk juga. "Kapan-kapan,"
"Oya, Mba Lutfi mana, Mas?"
Aku tersendak ludah. Terkejut mendengar pertanyaan itu darinya. Aku tidak menyangka Dimas belum dengar soal fitnah itu, atau berita kalau Lutfi udah ilang.
Belum sempat kujawab Dimas kembali berkata: "Aku nonton berita kalo Mba Lutfi katanya ilang, apa bener?"
__ADS_1
"Oh.... sudah tau ternyata." ucapku tapi tidak berkata-kata. Aku cuma bilang: "Iya,"
"Aku juga denger, kabar kalo Mas Gilang selingkuh. Itu bener, ga, sih?"
Aku kembali terkejut mendengar pertanyaannya. Menghembus napas lalu menjawab: "Engga!"
"Hmmm...." Dia menggumam, dari nadanya aku yakin kalau Dimas tidak percaya. Dia lebih memercayai gosip yang beredar pasal aku selingkuh.
"Aku, Jum'at kemarin terpaksa ke cafenya Adit nemuin cewe buat ngurusin surat kontrak." kataku menjelaskan.
"Terus, kenapa malem?"
Dari nadanya aku bisa menebak kalau akal sehat Dimas tidak bisa menerima alasan itu.
"Aku baru pulang dari Singapura Jum'at pagi, terus ketiduran sampe malem. Makannya ke cafe malem-malem."
"Apa besoknya ga bisa?"
"Dia mau ada urusan di luar kota. Aku juga ga bisa nunda."
"Hmmm.... terus ke Singapura ngapain?" tanyanya tetap menginterogasi aku.
"Nyari Lutfi,"
"Emang Mba Lutfi ke sana?"
Aku menggeleng. "Awalnya aku pikir gitu. Soalnya aku juga cek CCTV bandara Soekarno-Hatta Lutfi beli tiket ke Singapura, eh ternyata tiket itu buat orang tuanya."
"Oh," katanya judes.
Aku menghembus napas. "Dim, kamu percaya kan, sama aku?"
"Mungkin," jawab Dimas sambil masuk tempat makan miliknya. "ayo, semuanya kembali kerja!" Dia berseru memerintah kepada pegawainya. "ga usah liatin—" Dimas menatap tajam ke arahku. "Si Pengkhianatan." Dan menutup pintu rumah makannya dengan sangat keras.
Aku tertunduk, diam, membiarkannya begitu saja. Aku tidak bisa menyalahkan Dimas setelah apa yang terjadi. Dia bertindak demikian karena aku yakin dia kecewa kepadaku yang dia tahunya kalau aku sudah mengkhianati Lutfi dengan berselingkuh padahal Lutfi sedang menghilang tanpa jejak. Meski pada kenyataannya itu hanyalah sebuah gosip murahan.
Tapi tetap saja, hal itu tidak membuatku membencinya. Aku justru menghargai perilaku Dimas, karena bagaimanapun di sini adalah salahku. Aku yang tidak bisa menjaga situasi dan kondisi untuk tidak bersama wanita lain dan tetap mencari Lutfi. Aku yang salah, dengan membuat seluruh teman-temanku membenciku. Aku yang salah. Aku salah.
Aku termenung, meninggalkan temat makan milik Dimas dengan rintikan air mata.
🌹🌹🌹
v
Sampai Masjid.
Aku berwudhu, lalu melaksanakan shalat sunnah. Sambil menunggu adzan Dzuhur berkumandang, aku menumpahkan segala keluh kesahku kepada Allah.
"Ya Allah, hamba hanya manusia lemah yang selalu butuh pertolongan-Mu. Hamba mohon, jangan uji hamba melebihi batas kemampuan hamba, Ya Rabb. Hamba mohon. Hamba berserah diri kepada-Mu atas segala yang terjadi kepada hamba, dari kepergian Lutfi, dari pekerjaan hamba, dan dari kesehatan hamba. Hamba serahkan seluruh hidup dan takdir hamba kepada-Mu wahai Rabb-ku.
"Tapi, jika hamba boleh menawar, hanya satu tawaran hamba kepada-Mu, Ya Rabb. Hamba meminta, hamba memohon supaya Engkau tidak mencabut nyawa hamba sebelum hamba berhasil menemukan Lutfi. Sudah, dan hanya itu. Semoga Engkau mendengar dan mengabulkan permintaan egois hamba kali ini. Aamiin."
🌹🌹🌹
vi
Aku tiba di ruang Direktur pukul 2 siang.
Tepat waktu seperti apa yang diminta oleh dia sebelumnya. Memang, di hari Sabtu aku sudah mengirim pesan untuk menemuinya, dan dia menjawab kalau dia bisa ditemui hari Senin jam 14:00 WIB di ruangannya.
"Bagaimana, kau sudah dapat tandatangannya?" tanya Direktur.
Aku mengangguk dan menyerahkan surat pernyataan pengunduran kontrak di atas mejanya. Aku tersentak setelah melihat Direktur tidak terkejut mengatahui kertas itu sudah sangat berantakan.
Dia senyum dan berkata: "Baik, aku terima ini." Lalu menyimpan benda itu di laci mejanya. "Jadi mulai sekarang, kau akan membuat naskah itu seorang diri. Dan ingat, kau harus menyelesaikannya di akhir bulan Januari mendatang."
Aku mengangguk.
"Baik, Anda boleh pergi sekarang."
"Sepertinya Direktur sudah mengetahui sesuatu," kataku menebak.
"Hmmm.... apa maksudnya?"
"Direktur bisa liat sendiri kertas itu sudah sangat lecek, dan Direktur tidak bilang apa pun seperti biasanya."
"Ha ha ha, apa biasanya aku cerewet?" Dia mencoba mencairkan suasana dengan bercanda.
Tapi tidak kutanggapi. Aku hanya memandang ke arahnya tajam.
Merasa risih mungkin dengan pandanganku, Direktur menghembus napas. Meraih map hijau dari tumpukan kertas di mejanya. "Untuk berjaga-jaga aku sudah membuat salinannya."
Aku tersentak mendengar penjelasan Direktur barusan. "Apa maksudnya?"
"Ya.... Clara sudah menandatangani dokumen ini seminggu yang lalu."
"Hah?! Seminggu yang lalu, itu berarti...."
Dia mengiyakan dengan isyarat.
"Terus buat apa saya repot-repot nemuin dia?!" Aku bertanya tapi sedikit teriak.
"Ya.... siapa tau kau bakal berubah pikiran. Lagi pula, dia cantik, kan?" ujar Direktur membuatku sebal. "Dan kau juga mesti mendengar pengakuan darinya secara langsung."
"Pengakuan?"
Direktur mengangguk. "Kau sudah mendengarnya sendiri, bukan?"
Mendadak aku mengingat kejadian dua hari lalu saat Clara menyatakan rasanya kepadaku dan membuat Adit makin murka yang berakibat sangat fatal untukku.
Aaah!!!
Aku benar-benar marah dengan Direktur. Maksudku aku sudah berulang kali menolak buat nulis bareng cewek itu. Bahkan setiap hari, sehari lebih dari tiga kali kukirimkan pesan permohonan untuk mengganti partner menulisku kepada Direktur.
Tapi dia justru dengan sengaja mempersulitku dengan mengharuskan aku menemui cewek itu, yang mana membuat hidupku lebih dari kata kacau. Jadi dengan spontan aku bangkit dan menggebrak meja.
__ADS_1
Menggeram sambil mengatur napas. Berusaha tenang. Menatap ke arahnya tajam. "Saya permisi," Aku keluar dengan kemarahan yang hampir membludak.
Sedang terakhir kali yang kulihat dari Direktur adalah wajah takut dan perasaan bersalah.