
i
Kami tiba di bandara Soekarno-Hatta pukul 11 siang setelah melalui rutinitas Jakarta: macet.
Sebelumnya di dalam taksi, aku berulang kali mencoba tidur untuk mengembalikan energi, meski sebetulnya aku merasa tidak enak hati merepotkan Tio. Tapi, saat ini aku memang sedang butuh bantuannya, untuk mendorong kursi roda. He....
"Jadi, kau minta dibawa ke mana?" Tio nanya sambil melalui keramaian orang yang terus berlalu-lalang.
"Petugas, cari petugas." kataku kepayahan.
Tampak wajah Tio kebingungan, kedua tangannya membuat kursi yang kunaiki bergetar.
"Hmmm.... mungkin dia sedang panik." pikirku
"A-aku.... aku baru pertama kali ke bandara," tanya dia akhirnya. "ini nanya ke siapa?"
"Coba satpam yang di sana," kataku sambil menunjuk pria berseragam lengkap di pintu masuk.
Tio menurutinya dan mendorong kursi roda perlahan. "Kamu pernah ke bandara, sebelumnya, kan?"
"Cuma lewat,"
"Lah, terus.... ini gimana?!" Dia berseru panik.
"Makannya, kita tanya dulu."
"Iya!"
Sampai di depan si satpam Tio menyapa lalu menyalaminya.
"Ada yang bisa kami bantu?"
"Eh, ini mau nanya apa?" bisik Tio di telinga kiriku.
"Ruang CCTV, Pak." Aku jawab.
Tio terkejut. "Hah?! Mau ngapain ke sana?" Dia masih berbisik.
"Ada keperluan apa, ya, Mas?" Si Satpam nanya.
"Kami lagi nyari orang hilang, Pak." Aku berkata sambil menunjukkan sebuah foto dari ponsel pintarku.
"Oooh.... wanita yang diberita itu, ya?" Dia menebak dan mengembalikan ponsel pintarku.
"Berita?" Tio nanya ke aku.
Aku ngangguk. "Bapak bisa bantu kami secepatnya?"
"Bisa, Mas. Tapi, Mas berdua ini ada hubungan apa sama dia?"
"Hmmm.... cuma rekan ker—"
"Tunangan!" Aku menyerobot jawaban Tio yang asal-asalan. "Dia tunangan saya, Pak."
"Oooh.... jadi Mas ini yang tunangannya ilang." kata Si Satpam. "Kok bisa tunangannya sampe ilang, sih, Mas?"
"Pak kami buru-buru!" Aku membentak.
"Ba-baik!"
🌹🌹🌹
ii
Sebelum tiba di pusat ruang CCTV, aku dan Tio harus kembali diintrogasi di ruang yang berbeda. Tentunya, kali ini jauh lebih ketat daripada sebelumnya.
Para petugas menanyai soal identitasku dan Lutfi, apa saja yang sudah kulakukan selama ini, dan kemungkinan paling tepat penyebab Lutfi pergi.
Untuk soal terakhir aku tidak bisa menjawab. Aku hanya tertunduk dengan penyesalan yang berlebih.
Aku bisa saja menjawab kalau Lutfi sedang menguji kesetiaanku, atau kami sedang main petak umpet—seperti aku menjawab pertanyaan teman-teman kuliahku. Tapi, pastinya itu tidak mungkin.
Dan untung saja, mereka memercayai kalau aku memang tunangannya dari cincin yang kupakai dan foto acara tunangan yang kuberikan sebagai bukti.
"Jadi, Danu Banu hanya nama pena, dan Rizky Gilang Kurniawan yang nama asli?" Petugas memastikan.
Aku mengiyakan. "Saya bekerja di perusahaan 0000,"
"Oooh!" Petugas lain berseru. "Anda kenal sama Mas Anton?"
Aku mengangguk. "Dia pimpinan pemasaran. Hari Jum'at kemarin, anaknya nikah."
"Nah, berarti bener!" Dia masih saja histeris.
"Bener gimana?" saut rekannya.
"Bener, kalau Mas Danu ini bukan penipu."
Aku menjawabnya dengan senyuman.
"Ya sudah, Anda boleh masuk. Rekan saya yang akan membereskan barang bawaan Anda."
"Terima kasih, Pak."
Petugas itu mendorong kursi rodaku untuk memasuki ruang yang lebih dalam. Di sana aku melihat puluhan monitor yang memantau segala sudut bandara.
"Kapan tunangan Anda ke bandara?" tanya Si Petugas.
"Selasa minggu lalu, sekitar jam delapan."
Si Petugas mengangguk. "Mas Trisno tolong ambilkan rekaman SE-sebelas-delapan belas-poin dua."
Pria yang disebut namanya mengangguk. Mendekat ke arah lemari, lalu mengambil kaset dan menyerahkannya kepada Si Petugas, dan kembali bekerja.
"Mari kita lihat di ruangan saya." ajaknya.
Aku mengangguk.
__ADS_1
🌹🌹🌹
iii
Di ruang pimpinan para petugas, aku dan Tio mengamati layar monitor yang memunculkan enam rekaman CCTV sekaligus.
Sesuai dugaan, Lutfi sampai di bandara jam 8 kurang, kemudian membeli tiket di lorong A dan duduk di tempat tunggu penumpang.
"Tiket ke mana yang dia beli?" Aku bertanya sendiri.
Tapi kemudian si pimpinan petugas berkata: "Itu tiket ke Singapura,"
"Singapura?!" Tio terkejut mendahuluiku. "Nu, ngapain dia ke sana?"
Aku menggeleng. "Aku ga tau. Dari dulu, kami belum punya rencana buat ke sana."
"Apa jangan-jangan—"
"Dia pasti ada perlu," kataku menyerobot. Sangat tidak ingin mendengar dugaan kalau Lutfi berkhianat apalagi dari orang terdekatku.
Seakan mengerti maksudku Tio menjawab: "Ya kau benar. Jadi, apa kau mau menyusulnya ke sana?"
Aku ngangguk.
"Gila! Kondisimu sedang tidak sehat. Ingat, Nu!"
Aku menatap ke arahnya. "Bantu aku, Yo."
"Ba-bantu? Maksudmu aku juga ikut ke Singapura?"
Aku menyetujuinya dengan isyarat.
"Ti-tidak, tidak, tidak ... aku emang pengin bisa pergi ke sana. Tapi aku ga punya duit buat beli tiket pesawat, Nu. Kau sendiri kan tau, gajihku berapa tiap bulannya." jelasnya berargumen.
"Aku bayar," jawabku.
Wajahnya berubah tertarik. "Ta-tapi.... kerjaan kita gimana?"
"Izin,"
"Izin katamu?! Apa mungkin Direktur ngasih izin?"
Aku ngangguk dan menunjukkan surat izin yang dikirimkan Direktur melalui e-mail kepada Tio.
"Hah?!" Dia berseru. "Kapan kamu minta izin?!"
"Di taksi,"
"Kamu udah ada niatan ya mau ke Singapura?" Dia nanya.
Aku ngangguk.
"O-oke, aku bakal ambil perlengkapanku." ujarnya gembira. "Ga mungkin, kan, aku ke Singapura pake baju kayak gini? Lagian aku juga belum ngomong ke Risma kalo aku mau ke Singapura. Kan, siapa tau aku bisa beli oleh-oleh. He he he...."
Aku tidak menjawab. Beralih kepada si pimpinan petugas. "Pak, bisa tolong carikan tiket tercepat?"
Dia mengiyakan. "Saya akan urus pemberangkatan untuk kalian beruda."
Tio juga menjabat tangan si pimpinan petugas.
"Eh, bentar, bentar.... buat pasport gimana?" Tio nanya. "Aku, sih ada, cuma ga pernah dipake. Ga ada duit buat ke luar negeri soalnya."
"Terus, kamu bikin buat apa?" Aku balik nanya.
"Ya, buat jaga-jaga. Siapa tau ada yang ngajakin liburan gratis kayak sekarang. He he he...."
"Hmmm...." gumamku. "Aku udah bawa ini di tas. Dulu pernah bikin sama Lutfi, teoi belum sempet di pake juga."
"Ya, sama kalo gitu, kayak aku." kata Tio.
"Hmmm...." Anggukku.
"Oke, aku ambil dulu. Bentar."
Aku ngangguk. Kemudian kami keluar dari ruangan petugas.
🌹🌹🌹
iv
Di dalam pesawat.
Setelah meminta Tio untuk menaruh perlengkapan di bagasi atas, aku menyuruhnya untuk mematikan ponsel dan mengenakan seat belt. Meski awalnya dia kesusahan, mirip masyarakat pedalaman yang tiba-tiba diajak ke mall—terlihat kikuk dan culun—tapi akhirnya bisa juga, karena aku bilang cara menggunakannya sama seperti memakai sabuk pengaman pada mobil.
Petunjuk menggunakan seat belt atau sabuk pengaman dan mematikan telepon genggam saat hendak lepas landas pastinya tidak asing lagi bagi kalian yang terbiasa traveling dengan pesawat.
Aturan-aturan tersebut sengaja dibuat untuk alasan keamanan awak kabin dan juga penumpang. Terutama saat menghadapi kondisi critical eleven, atau sebelas menit paling kritis di dalam pesawat.
Critical eleven terdiri dari tiga menit setelah pesawat take-off dan delapan menit sebelum landing atau mendarat. Selama sebelas menit yang krusial tersebut, awak kabin dilarang untuk berkomunikasi dengan pilot yang bertugas di kokpit kecuali terjadi hal-hal yang darurat.
Karena, pada critical eleven, pilot yang bertugas harus melakukan komunikasi secara intensif dengan Air Traffic Controller (ATC) untuk mengendalikan pesawat sesuai dengan standar operasi yang berlaku. Sebab, statistik mencatat bahwa 80 persen kecelakaan pesawat terjadi pada rentang waktu sebelas menit yang dikenal sebagai critical eleven ini.
Untuk menghadapi critical eleven, biasanya awak kabin akan memberikan arahan bagi para penumpang seperti mematikan ponsel, menutup meja, menegakkan sandaran kursi, membuka tirai jendela, dan menggunakan seat belt. Aturan-aturan ini diberikan untuk mendukung jalannya evakuasi apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, dan juga menunjang keselamatan penerbangan.
Mematikan ponsel misalnya, etika ini mesti kalian patuhi untuk membantu pilot berkomunikasi dengan baik dengan pihak ATC. Karena frekuensi sinyal ponsel dapat mengganggu frekuensi radio komunikasi pilot. Begitu pula, saat seat belt digunakan untuk menjaga kestabilan penumpang agar tidak mengganggu keseimbangan pesawat saat terbang.
Sedangkan, melipat meja dan menegakkan sandaran kursi dilakukan agar apabila penumpang mesti melakukan emergency landing, seluruh penumpang bisa selamat. Bayangkan saja, apabila kursi tidak berdiri tegak dan meja belum dilipat, maka akan ada kemungkinan penumpang terjebak di tempat duduknya.
Padahal ketika terjadi emergency landing, penumpang hanya diberikan waktu 90 detik untuk melarikan diri dari pesawat. Sebab kalau tidak keluar, penumpang akan kekurangan oksigen, tenggelam saat water landing, atau bahkan meninggal akibat terlalu banyak menghirup asap—smoke inhalation.
Selain itu, para penumpang juga dibekali pengetahuan tentang lokasi baju pelampung, masker, dan pintu evakuasi serta cara menggunakannya. Sehingga para penumpang bisa melakukan pertolongan pertama untuk dirinya sendiri tanpa perlu dibantu awak kabin.
Penumpang juga disarankan untuk tidak tidur, melepas alas kaki, atau mendengarkan musik saat memasuki rentang waktu critical eleven. Sehingga penumpang dapat memahami arahan awak kabin dengan baik dan aware pada kondisi pesawat.
Meski begitu, setiap arahan yang diberikan oleh pramugara dan pramugari yang bertugas bukan hanya berlaku bagi critical eleven saja. Karena pendaratan darurat bisa terjadi kapan saja tergantung situasi dan kondisi yang terjadi.
Untuk itu, saat pramugara dan pramugari sedang memberikan arahan, kalian lebih baik melihat dan memperhatikannya dengan seksama. Sehingga kalian bisa paham apa yang mesti dan tidak boleh dilakukan dalam pesawat selama penerbangan.
__ADS_1
Dan jangan sekali-kali meniru perbuatan yang sedang kulakukan. Kenapa?
Saat para penumpang sibuk melihat dan mendengarkan penjelasan pramugara dan pramugari, mataku lebih tertuju keluar kaca jendela. Menikmati pemandangan luar sekaligus otak berpikir banyak hal.
Aku mengajak—membayari Tio naik pesawat terbang bukan untuk liburan apalagi berkunjung ke rumah saudara. Seperti yang sudah kalian baca sebelumnya, aku sedang berusaha mencari keberadaan Lutfi meski sudah telat seminggu. Tapi aku yakin, harapan itu ada untuk orang-orang yang mau berusaha.
Jadi, tentu saja otakku banyak menimbang alasan kepergian Lutfi ke Singapura, tempat mana yang dia tuju, dan dengan siapa dia pergi. Meski semua pertanyaan itu, aku tidak mampu membuat satupun hipotesis.
"Nu, ini kenapa suasananya jadi tegang banget?" Tio mendadak nanya membuyarkan kinerja otakku.
"Hmmm...." Aku menghembus napas. "mana aku tau, Yo. Aku, baru naik pesawat."
"I-iya, sih. Tapi.... aku takut, Nu."
"Takut kenapa?"
"Nanti gimana kalo pesawatnya kenapa-kenapa?" Dia nanya.
"Kenapa?" Aku balik nanya.
"Ya.... aku kan pernah nonton berita, kecelakaan pesawat gitu."
"Terus?"
"Ya.... ya, aku takut kalo pesawat ini bakal kenapa-kenapa."
"Yo, yang kerja di sini udah ahli. Kalo ga ahli ga bakal disuruh kerja bawa orang sebanyak ini." Aku menjelaskan. "Kalo toh emang terjadi kecelakaan yang tidak diinginkan, kan, udah dikasih tau arahan buat pertolongan pertama."
"Oooh.... jadi dari tadi, kamu juga dengerin omongan pramugari? Aku kira kamu ngalamun."
Aku mengangguk.
"Ini, ngeiyain yang mana?"
"Ngalamun,"
"Lah.... kok, kamu tau kayak gituan? Darimana?"
"Baca buku,"
"Cuma baca buku doang, jadi tau?!" Dia nanya sedikit berteriak.
Aku ngangguk. "Syarat jadi penulis yang baik, harus punya wawasan yang luas. Darimana dapatnya wawasan itu? Ya dari baca buku." kataku berargumen.
"Berarti orang-orang ga bohong, ya?"
"Bohong soal apa?" Aku mencoba antusias. Tidak mungkin aku terus mengacuhkan Tio sedang aku banyak meminta ini itu kepadanya.
"Kalo mau hasil tulisanmu bagus, kamu harus banyak baca tulisan orang," ujar Tio.
"Ya.... begitulah," jawabku lemas. Kembali melamun.
"Aku salut sama kamu, Nu."
"Hmmm...." Aku menggumam, merasa kalau dia akan meledek aku. Tapi ternyata tidak.
"Aku salut karena kamu bener-bener setia. Bisa jaga diri, jaga hati dari wanita lain. Jujur aku sendiri, ga tau kapan bisa kayak gitu. Kamu beneran hebat, Nu."
Pendapat Tio barusan membuatku merinding. Aku bukanlah pria yang pantas dia banggakan. Aku dulu sama seperti pria lain, yang mudah tergoda oleh wanita lain. Aku dulu juga tipe tak setia, sebelum kenal Lutfi.
Dari Lutfi aku belajar sebuah kesetiaan, menjaga diri, dan menjaga hati. Bukan hanya saat bersama pasangan, tapi ketika sedang sendirian. Karena cinta dan hubungan bukan hanya berlangsung saat bersama tapi hubungan berlangsung setelah ditetapkannya komitmen dari kedua belah pihak.
Saat kalian—pria berkata: "Aku mau jadi pacarmu." Dan mereka—wanita menjawab: "Ya, aku juga mau." Disitulah komitmen ditetapkan.
Komitmen untuk tidak berpacaran dengan orang lain, komitmen untuk tidak berselingkuh, komitmen untuk tidak dekat dengan orang lain yang tidak satu jenis kelamin.
Kenapa begitu?
Sekarang, aku mau bertanya kepada kalian: "Sebelum kalian berpacaran, apa yang kalian lakukan sebelumnya?"
Pasti kebanyakan dari kalian menjawab PDKT, baik melalui media maupun secara langsung, kan? Apa ada cara lainnya?
Dikenalin temen? Terus emangnya kalian ga kenalan—mau tau lebih jauh tentang orang itu?! Hmmm.... ga usah ngeyel makanya!
Dari kegiatan PDKT itulah benih cinta hadir. Entah muncul karena terbiasa bersama, atau gara-gara satu pemikiran, atau punya masalah yang sama, atau punya hobi yang sama, atau kesamaan-kesamaan lainnya. Ya, intinya cuma satu: "sama".
Jadi, setelah kalian memiliki hubungan entah pacaran atau tunangan atau pernikahan atau apa pun namanya, dan kalian masih mau dekat dengan orang lain—yang tak sejenis kelamin—itu berarti kalian sedang berselingkuh!
Sekali lagi aku tekankan, cinta hadir dari waktu yang dilalui bersama. Bisa dimulai dari sering curhat, sering ngobrol, sering mengerjakan tugas bersama, sering makan berdua, atau sesuai dengan fisik yang dikriteriakan, atau hal lainnya.
Dari hal itulah, pasangan kalian melarang kalian untuk dekat dengan orang lain agar kalian tidak menemukan kesamaan apa pun jenisnya, supaya tidak muncul kenyamanan yang akan menimbulkan rasa suka, sayang, dan cinta.
Tentunya hal ini tidak hanya berlaku bagi manusia saja tapi juga game, musik, film, dan juga media sosial.
Kenapa bisa begitu?
Sudah marak terjadi, orang yang terlalu gemar bermain game menjadi agresif, cepat marah, bahkan tidak segan-segan melakukan tindakan kriminal—mencuri, berbohong, dan membunuh—demi bisa bermain game. Parahnya ada yang berujung menjadi orang gila.
Ada juga yang saking lamanya menjomblo, jadi mereka lebih memilih untuk punya pacar di ponsel mereka. Game maksudku.
Kalian tidak percaya kalau ada yang pacaran di dunia virtual? Cari saja sendiri buktinya lewat Mbah Google. He....
Ada lagi, mereka yang sudah memiliki hubungan lebih suka ke game, atau film, atau musik, atau media sosial mereka ketimbang pasangan mereka. Bahkan parahnya, ada yang memanfaatkan pasangan mereka supaya mendapat dana secara gratis, dari pasangan mereka.
Semoga kalian bukan termasuk orang golongan itu.
Jadi, itulah cara mereka menjaga kalian dari orang lain, itulah cara mereka menjaga hubungan kalian berdua, itulah cara mereka menjalin komitmen percintaan.
Dan, sekali lagi, jagalah hubungan kalian bukan hanya saat bersama dengan pasangan, tapi saat kapan pun juga. Jangan sampai kalian menyesal. Seperti apa yang sedang kurasakan saat ini. Menyesal karena kekasihku menghilang tanpa jejak.
Memang, terkadang penyesalan dirasakan setelah orang terkasih pergi dari keseharian kita.
"Mana ada orang hebat yang biarin pasangannya ilang?" Aku mencoba menyangkal pernyataan Tio.
Kulihat Tio terkejut, dan wajahnya menunjukkan ekspresi penyesalan karena sudah berkata demikian. "Maaf," ujarnya. "aku yakin kau bisa menemukannya di Singapura, nanti."
Aku ngangguk. "Aku harap begitu," Mengalihkan pandangan keluar pesawat di mana awan telah berada di bawah kami.
__ADS_1
"Semoga, kali ini, aku bisa menemukanmu, Lutfi."
Aku termenung bersama dera air mata.