
i
Aku membuka mata perlahan setelah merasa ada salah seorang yang mengguncang tubuhku. Kupandang ke arahnya, dan aku terbelalak, diam mematung.
Muka oval agak bulat, hidung sedikit menyembul keluar, tahi lalat di pipi kanan, dan seyum pada bibir tipisnya. Itu adalah wajah yang sangat kukenal, aku tidak mungkin salah. Itu....
"Lutfi," kataku kaget.
"Iya," jawabnya dengan tetap melempar senyum.
Aku masih melebar mata, sangat tidak memercayai apa yang dilihat kedua bola mataku.
"Kenapa, sih? Kayak lagi liat hantu aja." ucapnya.
Aku menggeleng. Meraih kedua tangannya. Terasa hangat! Ini tidak mungkin mimpi. Mana mungkin mimpi bisa senyata ini. Maksudku, aku masih bisa merasakan tinggi rendahnya suhu tubuh Lutfi. Jika ini mimpi, mana mungkin aku merasakannya, bukan?
"Ka-kamu, kamu, kok ada?"
"Maksud kamu apa, sih?" Dia nanya dan menepuk pundakku.
Sakit! Ini rasa yang biasa kuterima saat dia menepuk pundakku. Iya. Pasti, pasti ini bukan mimpi. Dan menghilangnya dia selama dua hari ke belakang, itulah yang baru mimpi. Iya. Pasti aku terlalu lelap dalam tidur. Pasti kelima bab sebelum ini juga pasti adalah mimpi. Pasti. Pastilah mimpi. Aku mohon!
"Kenapa diem?" tanyanya.
Aku menggeleng. "Ga papa," Kemudian melempar senyum kepadanya dan tak terasa air mataku mengalir.
"Loh, kenapa nangis?" Dia mengusap wajahku.
Aku terkejut, bahwa sentuhannya terasa sangat nyata. "Aku senang,"
Wajahnya berubah bingung. "Kenapa, sih? Kamu aneh,"
"Dari dulu," jawabku.
"He he he," Lutfi ketawa.
"He," Aku juga.
"Ih," Dia kembali menepuk pundakku. "jawab koh!"
"Jawab apa?" Aku nanya.
"Jawab, kamu senang kenapa?"
"Karena ada kamu di sini,"
"Lah, emang harusnya ga ada, gitu?!" Dia nanya. Nadanya terdengar sedikit kesal.
"Ya.... engga gitu juga,"
"Terus, apa yang bener?"
"Aku mimpi, kayaknya."
"Mimpi?" tanya Lutfi.
"Iya, mimpi kalau kamu ilang," jawabku.
"Kok bisa aku ilang?"
Aku mengangkat bahu. "Ga tau,"
"Kok ga tau, sih? Kamu jadi suami gimana, sih?!" serunya sambil menepuk pundak kananku.
"Su-suami?" tanyaku terkejut.
"Iya! Kamu lupa kalau kita udah nikah?"
Aku masih diam menatapnya dengan mata bingung.
"Liat!" Lutfi menunjukkan cincin yang melingkar di jari manis miliknya. "Ini pasangan yang kamu pake," ujarnya sambil menunjuk tangan kiriku.
Aku kembali terkejut setelah melihat sebuah cincin putih di jari manisku. Menatap ke arahnya, lalu beralih ke cincin Lutfi. Dan mengulangnya beberapa kali.
"Kamu beneran lupa, apa?!" Lutfi kembali nanya, kali ini sedikit berseru.
Aku ngangguk. Merasa sangat asing dengan kisah yang sudah kujalani dengannya selama ini. Apa mungkin aku amnesia?
Pertanyaan batinku keluar begitu saja bersamaan pertanyaan Lutfi yang hampir sama: "Apa mungkin kamu amnesia?"
Aku garuk kepala sambil ketawa kecil. "Kayaknya,"
"Nanti kita ke dokter," pintanya cemas.
"Ah.... i-iya," jawabku bingung.
Tentu saja aku masih sangat sulit memercayai hal yang kualami sekarang. Maksudku, kejadian dua hari sebelumnya tentang bagaimana perjuanganku mencari keberadaan dirinya juga sangat membekas dalam hati dan otakku.
Apa mungkin kalau itu benar-benar mimpi? Apa mungkin adanya Lutfi sekarang benar-benar kenyataan?
Lutfi melambaikan tangannya di depan wajahku sembari melempar pertanyaan: "Ngalamun. Mikirin apa, sih?"
Aku menghembus napas panjang. Menghadap ke arahnya. "Maaf,"
"Buat apa?"
"Karena aku ga inget sama sekali kalau kita udah nikah. Aku bener-bener ga inget apa pun." kataku menjelaskan. Berharap kalau dirinya akan mengampuni kesalahanku, hilangnya ingatan bagaimana proses pernikahan kami.
Lutfi senyum, meski matanya tampak berkaca-kaca. "Ga papa. Mungkin, selama empat tahun pernikahan kita, aku belum ngasih sesuatu yang istimewa buat kamu, biar bisa bikin bekas di hati dan otakmu."
"Empat tahun?!" Aku berseru.
Dia mengangguk pelan. Menunjukkan kesedihan di wajah cantiknya.
__ADS_1
Apa benar ingatanku hilang selama itu? Tapi, bagaimana ingatanku bisa hilang?
Aku meraih tangan Lutfi. Menggenggamnya erat. "Maaf," pintaku.
Dia mencoba senyum, meski air mata tidak lagi bisa ditahan.
Mendadak suara seorang bocah memanggil, membuat kami harus beralih kepadanya. "Mamah,"
Kulihat ke arah seorang anak yang usianya kurang dari empat tahun tengah menarik-narik tunik cokelat muda yang dikenakan Lutfi.
Aku memandang Lutfi yang menatapku. "I-itu...."
Dia mengangguk. "Anakmu,"
Aku kembali menghadap bocah itu dengan perasaan sedih yang teramat. Sangat tidak menyangka kalau ingatanku tentang dirinya lenyap begitu saja. Dia, seorang anak yang selalu kami—aku dan Lutfi nanti-nantikan kehadirannya, yang bahkan pernah kami buatkan novel tentang dirinya, tentang bagaimana seorang suami istri berjuang demi mendapatkan seorang anak.
Dia, seorang anak yang selalu kami bayangkan memiliki kedua sifat konyol dari kami berdua. Dia, seorang anak yang selalu kami bayangkan akan mampu meleraikan saat kami bertengkar. Dia, seorang anak yang selalu kami bayangkan akan makin mewarnai di setiap keseharian kami.
Dia, seorang anak yang selalu kami doakan kedatangannya dengan sangat segera. Dia, seorang anak yang selalu kami tunggu. Dia, seorang anak yang tidak aku ingat sama sekali.
Kenapa aku begini? Apa yang terjadi padaku? Ada apa sebenarnya dengan diriku?
Kuangkat anak itu dengan kedua tanganku, menahan agar sebisa mungkin tidak menangis di hadapannya.
"Ayah," panggilnya.
Aku senyum, sangat bahagia mendengarnya. "Anakku," jawabku.
"Ayah," panggilnya lagi.
"Anakku," jawabku lagi.
"Ayah," ulangnya.
"Anakku," ulangku.
Kejadian itu berlangsung hampir kali ke sepuluh sampai kemudian Lutfi bangkit dan menjewer telingaku sambil berbisik: "Udah cukup! Orang-orang jadi pada liat kita."
"He," Aku ketawa.
"He," Anak itu juga.
Aku tersentak mendengar tawanya yang sama persis dengan caraku tertawa. Kulihat ke arah Lutfi.
"Kembaranmu itu,"
Kemudian kami bertiga tertawa bahagia. Merasa bahwa inilah kenyataan yang sebenarnya. Masih ada Lutfi di sisiku, memiliki keluarga yang sempurna, punya istri dan anak, meski ingatan selama 4 tahun lenyap tanpa sebab. Aku tidak masalah, Lutfi juga tidak mempermasalahkannya. Ini jauh lebih baik daripada menjalani hidup tanpa Lutfi.
Benar! Ini pasti kenyataan yang sebenarnya.
Kami duduk bercerita banyak hal. Kadang saling menyuapi ubi rebus satu sama lain. Kadang bermain "ABCD ada berapa" dengan nama-nama hewan atau tumbuhan dalam bahasa yang bebas.
Sesekali agar tidak kalah anakku membuat jenis hewan baru seperi: "Banker, anak Banteng sama Kerbau."; ada juga: "Kebit, anak Kelinci sama Rabit." ada lagi: "Mahar, anak Macan sama Harimau."
Setiap permainan, jika ada pemain yang kalah harus ditarik hidungnya. Aku meminta itu biar anakku mancung gara-gara rajin ditarik hidungnya. Meski nyatanya selama permainan berlangsung anakku belum pernah kalah sekalipun. Ya, itu, jurus andalannya, bikin spesies hewan baru.
Dan, ada kalanya aku kalah saat hitungan menunjukkan huruf "i".
"Ikan!" Anakku berseru cepat mendahului aku dan Lutfi.
Selang beberapa detik Lutfi menyaut: "Iguana."
Aku diam, bingung harus menebak apa. Tidak mungkin aku menyebutkan "ikan hiu" karena itu sudah termasuk ke dalam jenis ikan yang disebutkan lebih dulu oleh anakku.
Dan nyatanya saat aku menyebutkan "ikan hiu" Lutfi dan anakku protes keras sambil ketawa mengejek.
Aku masih diam sampai hitungan ke sepuluh. Hingga akhirnya tiba hukumanku. Hidungku ditarik. Pertama oleh Lutfi, dan selanjutnya oleh anakku.
Pelan, kencang, dan lama-kelamaan makin keras.
Aku memejam, merintih, dan berseru: "Aduh!"
Kemudian pandanganku semuanya berubah total.
Aku tersadar dari mimpi indahku.
Aku menghembus napas. "Jadi beneran mimpi?" Menatap ke arah seorang bocah laki-laki berusia kurang lebih dua sampai tiga tahunan yang sedang menarik-narik hidungku.
"Ini anak siapa?"
Kualihkan pandanganku ke sisi kiri dan kanan. Tidak ada penumpang lain di sekitarku. Kemudian berpindah ke sisi seberang di mana ada seorang wanita yang tengah tertidur pulas. "Mungkin, ini anaknya."
Aku kembali menatap ke arah bocah yang sibuk memainkan wajahku sambil berkata: "Ayah, ayah!"
"Ha?" Aku terkejut.
"Ayah!" serunya.
"Aku bukan Ayahmu," sangkalku.
"Ayah!" serunya lagi.
"Aku bukan Ayahmu bocah nakal!" ujarku sebal.
Mendadak balita itu menangis membuat beberapa orang bangkit untuk mengintip ke arahku, mencari tahu apa yang terjadi.
Aku menghela napas. Merasa percuma kalau melawan anak kecil. Jadi aku menuruti maunya dan mengajak bocah nakal itu bermain dengan berkeliling lorong kereta setelah menulis di secarik kertas yang kupasang di kursiku, supaya ketika si Ibu bangun, dia tidak panik karena anaknya hilang. Surat itu bertulis:
"Anakmu lagi jalan-jalan sama aku. Kamu lanjut tidur aja dulu."
🌹🌹🌹
ii
__ADS_1
Aku memasuki ruang petugas setelah mendengar pengumuman: "Pemberitahuan, kabar anak hilang, anak dari Ibu Risma pemilik kursi B sepuluh telah hilang. Dia adalah anak laki-laki berumur tiga tahun, memakai baju merah, celana biru, dan sepatu hitam. Kepada para pengunjung yang melihat anak dengan ciri-ciri tersebut dimohon untuk segera menuju gerbong satu. Sekali lagi,...."
"Padahal udah aku kasih pesan jelas di depannya persis." gerutuku. "Apa Ibumu emang selalu ceroboh begini?!" Aku bertanya kepada balita yang kugendong.
Dia tidak menjawab, hanya tertawa sambil menarik-narik telingaku.
Di gerbong satu, tepatnya di ruang petugas kereta api, aku melihat dua orang petugas dan seorang wanita yang memasang ekspresi cemas. Mereka melihat ke arah kami tepat ketika pintu dibuka, dan Risma—Ibu dari anak yang kugendong—langsung merebut anaknya dengan wajah marah. "Dasar penculik!" tuduhnya.
"Penculik? Mana ada penculik yang mau bawa sandranya ke ruang petugas?" Aku hanya bertanya dalam hati.
Salah seorang petugas bergegas menjaga Sang Ibu agar tidak memukuliku, sedang petugas lain menghampiriku. "Selamat siang," sapanya.
Aku menjawab salamnya, lalu mengangguk.
"Dengan saudara siapa?" tanyanya.
"Gilang," jawabku.
"Di mana saudara Gilang menemukan anak itu?"
"Di tempat dudukku,"
"Apa ada seseorang yang menaruhnya di sana?" Dia kembali melanjutkan introgasi.
Di sisi lain aku mendengar Risma berseru: "Udah pak, ga usah ditanya-tanya segala! Tangkap aja, tuh maling! Biar tau rasa dia! Kurang ajar, ya?! Berani-beraninya mau nyulik anakku!"
Aku menggeleng. "Aku bangun tidur, dan dia sudah di sana." kataku menjelaskan.
"Di mana tempat saudara duduk?" tanya petugas.
Aku merogoh saku kanan, meraih tiket kereta lalu menunjukkannya kepada petugas, dan menjelaskan kalau aku sudah menaruh pesan tepat di kursiku, supaya saat Sang Ibu bangun tidak panik.
Selain seruan Sang Ibu, aku juga beberapa kali mendengar anak laki-laki itu memanggil-manggil aku dengan sebutan yang sama seperti sebelumnya: "Ayah!"
Dan saat si balita berseru seperti itu, Sang Ibu menyangkalnya dengan kalimat yang membuat aku—dan tentunya para petugas—terkejut: "Ayah, ayah! Ayah udah mati, ngapain dipanggil-panggil? Udah diem!"
"Tapi, itu Ayah...." jawab si balita seakan memahami omongan Ibunya.
"Bukan, itu bukan Ayahmu. Itu orang jahat yang mau nyulik kamu."
"Ayah!"
"Ayahmu udah mati Mas,"
"Ayah!"
"Hih! Dibilangin ngeyel banget. Masih kecil udah ngeyel, nanti kalo gede mau jadi apa?! Mau jadi kayak pemerintah yang suka korupsi? Ih, Bunda ga mau punya anak yang gedenya jadi koruptor."
"Ayah!"
Aku terkekeh mendengarnya. Mencoba mengirukan namun sulit. Suara Sang Ibu benar-benar keras.
Petugas mengembalikan tiket milikku. "Sepertinya ada kesalahpahaman di sini,"
Aku menyetujuinya dengan anggukan.
"Silahkan Mas, duduk."
Aku menuruti petugas dan duduk di hadapannya. Sedang Sang Ibu bergegas mengambil langkah mundur, seakan menjauhi hewan buas. Mulutnya masih mengumpat, bisik-bisik. Namun telingaku masih bisa mendengar dengan jelas. "Dasar pencuri!" Begitu dan seterusnya.
Ya, aku tidak memandangnya, semua itu hanya gambaran bagaimana dia berperilaku terhadap aku. Lagi pula, selama ini, aku cukup pandai menebak gelagat orang dari suara yang mereka buat. Entah dari cara mereka berbicara, entah dari suara benda-benda yang mereka gerakkan. Hebat, ya? Ya, rasanya aku seperti punya banyak mata. He....
"Ibu Risma, silahkan duduk." ucap petugas.
Sang Ibu meraih kursi di sisi kiriku lalu mendudukinya setelah mengatur jarak cukup jauh sambil berusaha membuat anaknya yang terus memanggilku "Ayah" supaya diam.
"Begini Ibu Risma,"
"Iya," ujarnya dengan nada ramah sambil melempar senyum. Tapi melotot saat memandang ke arahku sambil tetap menjulukiku "Penculik".
Sekali lagi aku tegaskan, aku tidak menatap ke arahnya. Aku hanya memberikan gambaran yang paling sesuai dengan kondisi saat itu, agar kalian yang membaca buku ini bisa membayangkannya dengan tepat.
Aku tidak terlalu peduli dengan omongan Sang Ibu. Aku menganggap perlakuannya adalah tindakan untuk menjaga anaknya, layaknya induk ayam yang menjaga itik dari gangguan alam. Baik dari manusia, hewan pemangsa, sesama ayam, musibah alam, dan lain sebagainya.
"Sepertinya, saat Ibu Risma tertidur, anak Ibu berpindah ke—" Petugas mencoba menjelaskan.
"Hah?" serobot Sang Ibu. "Pi-pindah gimana maksudnya, Pak?" tanyanya.
Petugas mengatur napas, kemudian kembali bersua. "Karena kelalaian Ibu, anak Ibu pergi dari tempat duduk Ibu dan pindah ke tempat duduk saudara ini." ujarnya sambil menunjuk ke arahku.
"Lah, masa anak saya jalan jauh banget, Pak?" Sang Ibu mencoba menyangkal.
"Saudara ini duduk tepat di depan kursi Ibu." Petugas menjawab.
"Ma-masa? Pasti bohong!" sangkal Sang Ibu.
Aku dengan sigap menunjukkan tiketku ke hadapannya.
"Masa, sih?!" ujarnya masih tidak percaya sambil merebutnya. Tak lama kemudian Sang Ibu menunjukkan ekspresi bersalah dengan senyum-senyum kecil. "Jadi, Mas ini emang bukan penculik, ya?"
Aku menggeleng.
"Tidak Bu Risma. Saudara ini justru membantu Ibu menjaga anak Ibu." tanggap Petugas.
"Ooh.... begitu, ya? Saya, saya minta maaf ya, Mas?" pintanya. "Saya ga sengaja nuduh Mas penculik. Saya bener-bener panik tadi."
Aku ngangguk. Masih menghadap petugas.
Seakan mengerti maksudku petugas menyilahkan untuk aku keluar ruangan lebih dulu. Sedangkan Sang Ibu masih tetap di dalam ruangan untuk mendapatkan himbauan lebih lanjut.
Aku menghembus napas lega. "Akhirnya aku bisa bebas juga dari anak itu. Semoga Ibunya ga ikut-ikutan bikin aku repot."
Melangkah menyusuri deretan kursi penumpang di mana orang-orang yang mendudukinya menaruh pusat matanya ke arahku.
__ADS_1
Ah, sepertinya pagi ini aku benar-benar sial.