Lutfi Gilang

Lutfi Gilang
18. Raditya Dika


__ADS_3

i


Pagi itu aku akhirnya duduk di ruang tamu milik penulis Kambing Jantan, setelah menunggu di depan gerbang rumah Mas Radit selama 2 jam.


Aku memagang pintu keluar rumah miliknya bukan tanpa alasan. Kemarin, aku sudah mencoba mendatangi rumahnya berulang kali tapi, tidak berhasil.


Pertama, jam setengah 6, kata salah seorang asisten keluarga, Mas Radit belum bangun. Kedua, jam delapan, si asisten keluarga bilang Mas Radit baru mau sarapan jadi tidak bisa diganggu.


Ketiga, sebelum dzuhur, kata dia Mas Radit tidur lagi. Keempat, menjelang ashar, aku dilarang menemuinya. Kenapa? Tanpa alasan!


Kelima, setelah maghrib dan keenam, selepas 'Isya, aku tetap dilarang menemui Mas Radit.


Saking jengkelnya dengan perilaku si asisten rumah tangga, aku menyelinap masuk ke rumah Mas Radit. Bukan buat nyolong! Tentu saja tidak. Aku cuma ingin memastikan keadaan Mas Radit. Benarkah dia sakit seperti yang dibilang Mas Dodit? Benarkah dia sedang sibuk mengurus sesuatu sehingga aku dilarang untuk menemuinya? Atau, Mas Radit memang sengaja menjauh dari aku? Yang mana pun, aku harus memastikannya.


Setelah melompat pagar, dan melewati halaman rumah, aku mengintip keadaan dalam rumah. Untung saja rumah Mas Radit penuh dengan kaca, jadi aku tidak perlu melangkah masuk lebih dalam.


Dan aku terkejut saat melihat Mas Radit sedang bermain dengan kucingnya. Iya! Dia tidak sakit! Mana ada orang sakit kejar-kejaran dengan kucing peliharaannya waktu malam begini?


"Bang, besok jadi, kan?" Salah seorang wanita bertanya.


"Jadi dong. Maaf ya, tadi harus ngumpet seharian." jawab Mas Radit.


"Emang, cowok itu siapa, Mas?"


"Cuma penulis,"


"Terus, kenapa Abang pake ngumpet segala?"


"Aku yakin, dia kesini mau ngajak aku buat nulis bareng."


"Mau bikin buku bareng?"


"Iya,"


"Terus, masalahnya apa, Bang?"


"Aku, kan udah ngundurin diri kemarin, kamu juga udah tau."


"Iya. Aku inget, Abang nolak kontrak itu. Tapi kan Bang Radit ga ngasih tau alasannya kenapa."


"Aku ngerasa ga cocok sama dia,"


"Maksudnya?"


"Iya. Tipe penulis kan beda-beda."


"Terus?"


"Aku yakin, kalo aku nyetujuin kontrak itu bukunya ga bakal selesai. Sekalipun selesai ga bakalan laris."


"Yakin cuma itu?"


"Iya,"


"Awas loh Bang, kalo bohong!"


"Engga, aku mana berani bohongin kamu."


"Makasih Abang Radit suamiku sayang."


"Sama-sama Anisa istriku sayang."


Pindah ke waktu normal.


Aku menghentikan rekaman itu. Lalu melempar senyum kepadanya. Kulihat wajah Mas Radit berubah masam setelah dia beralasan kalau kemarin memang sedang sakit, dan belum pulih, pun hari ini mau pergi untuk berobat.


Matanya berputar, memandang ke segala sisi yang lain.


"Saya tidak masalah Mas, kalau Mas Radit menolak nulis sama saya. Cuma, bukan gini caranya."


Dia mendengus. "Jadi, lo udah tau, kan, kenapa gue ngundurin diri. Terus ngapain masih ke sini?"


Aku ngangguk. "Ada hal lain, Mas."


"Maksudnya?"


"Naskah yang disetujui sama perusahaan temanya romance-humor."


"Hah?!" Mas Radit terkejut.


"Pakenya juga sudut pandang aku."


Matanya makin melebar. "Jangan bohong lo!"


Aku menggeleng. Lalu menyalakan rekaman saat rapat.


"Kalau tau gini, gue ga bakal mundur." kata Mas Radit setelah mendengar habis rekaman itu.


Aku senyum mendengar kalimatnya. "Jadi, gimana Mas?"


"Hmmm...." gumam Mas Radit.


"Saya setuju kok, Mas Radit yang nentuin semua nama tokoh, alur, dan suasananya."


Dari ekspresinya aku yakin Mas Radit tertarik. Tapi, ada sesuatu yang mengharuskan dia menolak untuk menulis dengan aku, dan aku tidak tahu apa itu.


Mas Radit mengambil napas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Gini Mas.... siapa ya nama lo tadi? Gue lupa."


"Danu,"


"Ah, ya! Gini Mas Danu, karena gue udah mundur dari kontrak itu dan nyerahin ke orang lain, jadi tetep—"


"Saya tau Mas," Aku menyerobot. "tapi kalo Mas Radit emang tertarik sama naskah itu, saya bisa bujuk Direktur."


"Kenapa lo ngotot banget mau nulis sama gue?"


Aku mau menjawab tapi Mas Radit kembali bersua.

__ADS_1


"Di luar karir gue, maksudnya."


Aku menghembus napas. "Pengganti Mas Radit, cewek."


"Terus, masalahnya apa? Kan lo belum nikah, calon lo juga lagi ilang."


Aku tertunduk. Kebanyakan memang berpikir demikian, dan aku tidak menyalahkan cara berpikir mereka. Begitu pula apa yang dibilang Mas Radit barusan. Tapi.... "Kalo istri Mas Radit ilang, Mas Radit mau deket cewek lain?"


Kulihat napasnya terhenti sejenak.


"Ya sudah, Mas. Terima kasih atas waktunya. Saya bakal tunggu di kantor. Permisi, Mas."


Dia tidak menjawab, membiarkanku pergi begitu saja.


🌹🌹🌹


ii


Tiba di perusahaan 0000. Tio mengajakku untuk mengobrol sebentar, kata dia ada sesuatu yang penting.


"Hal penting apa?" tanyaku.


"Tadi ada cewek ke sini," jawabnya.


"Hmmm.... terus kamu naksir?"


Dia ngangguk. "Ah, aku langsung mikir gini: 'apa dia jodohku, ya?'"


Aku tergelitik. "Kenapa mikir gitu?"


"Jadi gini, cewek tadi kan nyariin kamu."


"Hmmm.... terus?"


"Kamu ga penasaran siapa cewek yang nyariin kamu?"


Aku geleng.


Tio menepuk pundakku. "Ha ha ha.... kamu masih aja sama, ya?"


"Terus, initinya mau ngomong apa? Aku ditunggu sama Mas Beni, bentar lagi juga mau shalat Jum'at." ujarku seraya bangkit.


"Iya, iya. Bentaaar!"


Aku menuruti pintanya dan kembali duduk.


"Nah.... kan dia nyari kamu buat minta tempat makan yang kamu kasih ke aku, kemari itu, hari Selasa."


"Oh."


"Lah, kok malah 'oh' doang?"


"Udah, kamu lanjutin dulu mau ngomong apa. Cepet!"


"He he he," Dia garuk kepala. "Karena kotaknya di aku, jadi aku kasih ke dia. Dia bilang: 'Makasih Mas,' Waaah.... aku seneng banget denger kayak gitu dari cewek."


"Gara-gara itu kamu naksir sama dia?"


"Dia janda, loh, Yo." kataku.


"Iya, aku tau, kok. Kemarin aku juga ke rumah dia, main sama anaknya pula." katanya sambil senyum senang. "Kamu tau ga? Belum apa-apa, anaknya udah manggil aku: "Ayah," Aaah.... aku seneng banget Nu."


Sekejap aku teringat kejadian di kereta api. Mungkin emang kebiasaan si balita itu kayak gitu ke semua pria. Ya, tapi aku merasa tidak perlu memberi tahu Tio akan hal itu.


"Pas tuh," kataku.


"Iya!" Dia berseru. "Makanya, besok aku ga kerja."


"Buat?"


"Buat ke rumah camer, lah. He he he,"


Lagi-lagi aku terkekeh. "Mau lamaran?"


Dia ngangguk membuatku terkejut.


"Secepet itu?"


"Kalo udah cocok, ngapain diundur-undur Nu?!" tegasnya.


Aku mengangguk setuju. "Ya semoga dipercepat,"


"Aamiin. Makasih, ya, Nu."


Aku senyum.


"Eh, nanti apa kapan-kapan pas kamu ga sibuk, buatin novel ya?" pintanya dengan ketawa kecil.


"Aku emang lagi mau bikin novel, Yo." Aku jawab.


"Buka itu, Nu." Dia menyangkal. "Maksudku, kamu bikin novel tentang aku."


"Tentang kamu?" tanyaku.


"Iya," Angguknya. "Soal aku ketemu sama Risma lewat kamu."


"Hmm.... seblak kali," sangkalku.


"Ya itu, lah." ucapnya. "Ya, ya, ya...." rengeknya niru tingkah bocah PAUD.


"Ah.... iya, iya," Aku asal jawab.


"Serius? Waaah.... makasih banget Nu." ujar Tio sambil merangkulku.


"Iya, udah, minggir!" aku berseru sembari menjauhinya.


"Ha ha ha,"

__ADS_1


"Judulnya apa?" tanyaku.


Dia melengos. Jari tangan kirinya mengusap-usap dagu. "Hmmm.... apa, ya?"


"Kalo kayak gitu, biasanya sih pake nama."


"Oooh.... ya boleh." katanya. "Tio dan Risma! Eh tapi, kayaknya ga pas, deh. Kayak kurang apa gitu"


Aku menggumam lalu asal berkata. "Seblak Cinta RT."


"Seblak cinta RT?" tanya Tio.


Aku ngangguk.


"Kenapa RT dibawa-bawa segala?"


"Itu namamu sama calonmu." ujarku kesal.


"Oooh iya iya. Ha ha ha, cocok itu, Nu."


"Jadi, mirip judul di FTV, ya?"


"Pst! Semabarangan, kamu." gerutu Tio.


"He," Aku ketawa.


"Ha ha ha," Dia juga.


Ah, rasanya sudah sangat lama aku tidak tertawa begini. Memang, kadang teman bisa menjadi tempat untuk mengalihkan diri dari kepenatan dunia.


Rasanya, diriku seperti di-restart, kembali kepada kondisi semula. Dan mulai lebih bersemangat untuk mencari keberadaan Lutfi. Tapi setelah urusan kerja. Huh.... menyebalkan.


Kalau saja dengan mencari Lutfi aku tetap mendapatkan penghasilan, aku tidak akan menghabiskan waktuku untuk bekerja seperti ini. Tapi, ya, bagaimana lagi. Yang terpenting sekarang, aku hanya perlu berusaha lebih banyak daripada sebelumnya.


🌹🌹🌹


iii


Menjelang waktu shalat Jum'at. Di ruang Mas Beni.


"Mas, apa beneran ga ada yang bisa direkomendasiin lagi?" Aku bertanya sambil duduk di hadapannya.


Dia menghembus napas. "Kan Mas Danu tau sendiri, penulis cowok genrenya apa." Kemudian kembali sibuk dengan laptopnya. "Action, misteri, fantasi, horor kayak saya."


Jujur mendengar itu aku ketawa. Kesannya seperti Mas Beni yang horor. Ya apa ga?


"Tolonglah, Mas, cariin lagi coba. Kenalan Mas Beni, siapa tau ada yang kelupaan." Aku kembali mencoba membujuknya.


"Ga ada Mas Danu. Udah diterima aja. Toh cantik."


"Nulis bukan masalah cantik engganya, Mas." Aku menggerutu.


"Nah, itu.... itu, itu," ucap Mas Beni sambil menunjuki aku. "Kalo emang ga masalah, ya udah, sana Mas Danu temuin Mba Clara. Kasian loh, dia udah nunggu dari kemarin. Tapi Mas Danu malah tetep kekeh ga mau nemuin."


"Kemarin saya ke rumah Mas Radit,"


"Terus, hasilnya apa?"


"Mas Radit tertarik sebenernya. Cuma, ya...."


"Karena udah nolak duluan?" tebak Mas Beni.


Aku ngangguk.


"Hmmm.... Mas Radit belum tau, sih, ya, siapa Mas Danu sebenernya?"


"Siapa?" Aku balik nanya.


"Mas Danu itu penulis yang fleksibel. Bisa dan mau nulis cerita jenis apa pun. Mas Raditnya aja yang kurang pengalaman—"


"Siapa yang kurang pengalaman?!"


Aku, dan tentunya Mas Beni, terkejut mendengar suara pria yang menyerobot masuk. Kulihat ke arah sumber suara. Dia.... "Mas Radit!" Aku bangkit lalu menyalaminya. Begitu pula Mas Beni.


"Silahkan Mas, silahkan duduk."


"Ga usah basa-basi, siapa yang kurang pengalaman?!" bentak Mas Radit. Sepertinya dia tersinggung dengan omongan Mas Beni sebelumnya.


Tapi, melihat Mas Radit galak seperti ini, memang tidak cocok dengan karakternya. Ya, bayangkan sendiri, seorang komikus seperti Raditya Dika yang selalu membuat film dengan dirinya sebagai aktor berwajah datar, medadak marah. Bukankah lucu? Atau menyeramkan?


"A-a ... anu Mas—" ucap Mas Beni tergagap.


"Anu, anu! Anu apa?!" Mas Radit masih berseru.


Melihat Mas Beni yang kewalahan, aku langsung angkat bicara. "Mas Radit, kenapa ke sini? Mau nulis bareng saya?"


"Ah, Mas Dadu..." katanya seakan baru melihat wujudku.


"Danu," ucapku kesal.


"Iya, Mas Danu, setelah gue diskusi sama istri, gue mutusin, kalo gue mau kolab bereng sama lo."


"Serius, Mas?" tanyaku dengan nada gembira.


"Iya!" tegasnya bak pahlawan pembela kebenaran.


"Tapi, kan Mas Radit udah ngundurin diri," Mas Beni menyambung.


"Udah diem!" Mas Radit berseru sambil menepuk pelan kepala Mas Beni. "Sesuai janji," tambahnya kemudian, dan menatap ke arahku. "lo yang bujuk Direktur."


Aku senyum mendengarnya. "Siap Mas!"


Akhirnya, keberuntungan kembali datang kepadaku. Akhirnya, akhirnya, akhirnya! Aku tidak menyangka, Mas Radit mau meluangkan waktunya untuk kembali datang ke perusahaan 0000, lebih daripada itu, dia memutuskan untuk melakukan kolaborasi membuat novel bersama dengan aku. Ah, aku tidak menyangka, jika dilihat secara langsung, Mas Radit memang keren!


Andai, andai saja Tuhan berkehendak lain, maksudku Lutfi yang ada di sini, bukannya Mas Beni, pasti senyum di wajah cantiknya berkilat begitu indah dan mempesona dengan mata yang berkaca-kaca. Ah, mengingat tentangnya, mengingat kabar bahwa dia menghilang tanpa jejak, membuat hatiku kembali trenyuh, hingga tak sadar aku menangis.


Mas Radit mendekat, menepuk pundak kananku. "Tahan gembira lo. Kita baru mau masuk ke mendan perang." ucapnya meniru gaya Superman.

__ADS_1


Wah, pokoknya Mas Raditya Dika keren! Beda banget sama di film, keliatan culun. Ups....


Maaf Mas Radit, kelepasan.


__ADS_2