Lutfi Gilang

Lutfi Gilang
6. Dilema Hati


__ADS_3

i


Aku baru saja selesai menghabiskan makanan yang disuguhkan oleh orang tua Agung. Sebenarnya, aku terpaksa melakukannya. Terpaksa karena sudah buru-buru dihidangkan, terpaksa karena mereka memaksaku untuk memakannya, terpaksa datang ke rumah Agung, dan terpaksa menolongnya di pinggir jalan gara-gara motornya mogok.


Tapi bagaimanapun keterpaksaan itulah yang membuatku mendapatkan asupan pengganti energi-energiku yang telah terkuras habis setelah seharian memutari Purwokerto demi mencari kabar tentang Lutfi, yang nyatanya tiada membuahkan hasil.


"Tadi ngapain ke kantor polisi? Abis ditahan? Sekarang kamu jadi penjahat apa?"


"Itu nanya apa nuduh?"


"Ha ha ha...." Agung ketawa. "Lah terus, ngapain?"


"Tadi abis nonton TV,"


"Lah, kere amat, nonton TV di kantor polisi segala. Di rumahku aja, tuh gede." ujarnya sambil menunjuk TV 21 in.


Aku terkekeh. "Bukan nonton acara-acara yang ga jelas." kataku akhirnya. "Nonton CCTV masjid."


"CCTV masjid?" Dia nanya. "Kenapa emang? Ada maling lagi?"


Aku menggeleng. "Ga tau,"


"Lah, gimana, sih? Yang bener!"


Aku menghembus napas. "Jadi, tadi pagi, ada cewek yang nyamperin akuโ€”"


Agung pura-pura batuk memotong kalimatku. "Mentang-mentang Lutfi lagi ngilang, sekarang jadi deket-deket cewek?" ledeknya.


"Ga lah, tetep setia aku!" sangkalku.


"Ya, percaya." ujarnya. "Terus ngapain tuh cewek? Minta nomor hp-mu, ya? Eh cantik ga, tuh? Ha ha ha...."


"Nanyanya satu aja, aku bingung mau jawab yang mana dulu."


Agung masih ketawa. "Minta apa dia?"


"Nanya arah ke terminal." Aku jawab.


"Pasti sama kamu suruh tanya ke orang lain?" ujar Agung menebak.


Aku mengangguk. "Aku suruh dia nanya ke supir."


"Ha ha ha, gokil! Kenapa ga diantar aja?" Agung bertanya, tapi bagiku dia hanya sedang mengulang ledekannya.


Aku mendengus.


"Ha ha ha.... percayalah, tuh, Gilang si anti cewek."


"Engga kalau Lutfi!" sautku cepat membuat Agung kembali melebarkan bibir.


"Ha ha ha, terus apa hubungannya cewek itu sama CCTV masjid?" Agung bertanya kembali pada topik sebelumnya.


"Dia bilang ke aku, katanya dompetnya dicuriโ€”"


"Sama si pencuri berkerudung?" saut Agung memotong kalimatku.


Aku ngangguk. "Aku lapor ke polisi, terus disuruh liat CCTV masjid."


"Oooh.... terus ketemu?"


Aku menggeleng. "Cewek yang datang sebelum dia cuma anak kuliahan biasa. Lagi buru-buru, palingan telat masuk."


"Atau kepengin berak. Ha ha ha...."


Aku sedikit ikut ketawa mendengarnya.


"Terus, terus, dompet tuh cewek gimana?"


Aku mengangkat pundak. "Paling ketinggalan di rumah apa keselip di tas."


"Bisa jadi," katanya menyetujui dugaanku. "cewek emang bawaannya banyak, tapi tasnya kecil."


Aku meneguk gelas bagianku menghiraukan omongan Agung. "Kayaknya, aku mau lanjut."


"Lanjut nyari Lutfi?"

__ADS_1


Aku ngangguk.


"Mending, sekarang kamu istirahat dulu." ujarnya melempar perhatian. "Besok bisa lanjut nyari lagi."


"Ga bisa," jawabku.


"Jangan dipaksain, ini udah malam."


"Aku tau. Tapi besok aku ga bisa nyari lagi di sekitar sini."


"Oooh.... kenapa emang?" tanyanya.


Aku menghembus napas. "Besok malam mau ada rapat di Jakarta." jawabku.


"Urusan novel?" Agung menebak.


Aku ngangguk.


"Lagi genting gini tetep ngurusi kerjaan?" Dia nanya, nadanya sedikit menyindir.


"Harus tetep profesional, kan?" ujarku mencoba tetap tegar. "Lagi pula, kalau aku mengacau pekerjaanku, aku harus ganti rugi."


Wajahnya berubah terkejut. "Ganti rugi? Berapa banyak?"


"Lima puluh juta,"


"Ha?!" Agung berseru, memaksa keluarganya berkumpul sambil melempar pertanyaan: "Kenapa Gung?"


Tapi dengan sigap dia menjawab: "Engga, cuma kaget." Agung kembali menghadapku setelah kondisi kembali kondusif. "Beneran sebanyak itu?"


Aku ngangguk.


"Kenapa dulu diambil?"


"Kau tau, kan, dulu ada Lutfi. Kami biasa buat buku sebulan sekali."


"Tapi, dendanya kebanyakan itu." serobotnya cepat.


Aku menyetujuinya dengan isyarat.


"Emang kalau clear sampe berapa?"


Mata Agung melebar, wajahnya berubah menyerupai ikan buntal. Menahan keterkejutannya. Lalu menelan ludah. "Aku ga nyangka, gajih penulis sebanyak itu."


"Kalau ambil kontrak kasar," Aku jawab.


"Kontrak kasar?" Dia nanya.


"Ya, harus buat buku sesuai kemauan perusahaan dalam kurun waktu yang ditetapkan." kataku menjelaskan.


"Ooh.... jadi gitu. Makannya bayarannya gede, ya?" ujarnya seakan merasa tertarik dengan pekerjaanku. "Tapi, kalau dipikir-pikir, tetep aja repot. Harus bikin buku yang sesuai kemauan perusahaan belum lagi ada batasan waktunya, itu pasti susah banget, kan?"


"Namanya juga kontrak kasar,"


Agung menghembus napas berat. "Berarti bukunya udah siap?"


Aku menggeleng.


Dia menunjukkan wajah khawatir. "Belum selesai maksudnya? Apa malah belum dibuat sama sekali."


Aku ngangguk.


"Ah, jangan bercanda, dong!" pintanya.


"Aku masih belum bisa mutusin," kataku


"Lah, terus gimana?" Dia nanya dengan nada tinggi. Wajahnya berubah cemas. "Itu buat besok, loh!"


Aku terkekeh sambil menggeleng kepala.


"Apa kamu pulang dulu? Siapa tau nanti dapet materi buat nulis."


Aku ngangguk.


"Soal Lutfi, jangan terlalu dipikir, aku juga bakal bantu sampai ketemu." katanya mencoba menenangkanku.

__ADS_1


"Makasih Gung," ucapku.


"Sama-sama," jawabnya.


Agung mengantarkan aku sampai ke depan pintu, dan menunggu aku pergi dengan kendaraanku.


Aku melajukan motor menuju rumah dengan segala rasa yang bercampur. Tentang Lutfi dan tentang pekerjaan. Keduanya sama-sama harus diutamakan. Aku tidak bisa mendahulukan salah satu di antara keduanya.


Ah, hati dan otakku, keduanya benar-benar kacau.


"Lutfi, aku sangat butuh bantuanmu. Tolong, kembalilah."


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


ii


Sampai rumah, aku mendapati Bapakku di ruang tamu yang sedang sibuk membaca koran.


Aku menyalaminya. "Lagi libur?" tanyaku, lalu duduk di hadapannya.


"Meliburkan diri," Dia jawab.


"Kenapa?"


Bapak melipat koran di depan wajahnya. "Besok berangkat pake kereta, Bapak udah beli tiket buat kamu." katanya sambil menyerahkan secarik kertas.


Aku terkejut. "Mamah cerita, apa?"


Bapak menggeleng. "Bapak itu, selalu tau kegiatanmu. Biasanya Bapak minta Mamahmu buat ngasih yang kamu butuh, tapi Mamah lagi males ketemu kamu, katanya."


"Ha? Kenapa?"


"Kamu pikir sendiri," ujarnya bangkit menuju dapur.


"Tapi, Pak...."


"Udah, istirahat sana. Besok harus berangkat jam enam dari Stasiun Purwokerto." ucapnya tanpa memandang ke arahku.


Aku mendekat. Melihat dirinya sibuk membuat kopi. "Kenapa Mamah males ketemu aku?" tanyaku mengulang pertanyaan sebelumnya.


Maksudku, aku sudah cukup kerepotan dengan menghilangnya Lutfi, aku tidak mau jika nanti-nantinya keluargaku juga ikut-ikutan menghilang tanpa jejak.


Bapak menepuk kepalaku. "Nanti kamu bakal tau sendiri jawabannya, kalau udah nemuin Lutfi." Lalu kembali pada aksinya. "Mandi, terus ganti baju sana. Baumu udah kayak kambing."


Aku mengangguk menuruti perintahnya dengan otak terus memikirkan alasan Mamah malas bertemu aku. Apa gara-gara menghilangnya Lutfi? Apa gara-gara sampe sekarang aku belum menemukan Lutfi? Atau gara-gara hal lain? Tapi, apa?


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


iii


Aku terbaring di ranjang setelah selesai bebersih diri. Meski telah mandi dan keramas, aku masih tidak merasa segar. Bahkan kipas yang memutar dengan kecepatan tinggi tidak membantu sama sekali.


Jelas saja, otakku terlalu sibuk bekerja menimbang di mana Lutfi berada, apa yang harus kusetorkan di rapat besok, dan kenapa Mamah malas menemuiku.


Andai saja otak seperti mesin-mesin buatan tangan manusia, kalian pasti akan melihat kepulan asapnya akibat terlalu berlebihan dalam bekerja.


Aku memejam, mencoba mengistirahatkan diri meski otak masih terbang memikirkan banyak hal. Lima menit, sepuluh menit, setengah jam, sampai satu jam. Masih tidak kudapatkan ketenangan untuk mencapai alam mimpi.


Aku menghembus napas, merasa semua akan lebih kacau dari sekarang.


Lutfi, di mana kamu? Ke mana kamu pergi? Kenapa kamu pergi meninggalkanku seorang diri? Apa salahku? Apa yang sudah kulakukan sampai membuatmu pergi? Apa? Apa? Apa?! Tolong beri tahu aku. Tolong jelaskan padaku. Tolong jangan buat aku tersiksa lebih dari ini. Tolong. Tolong. Tolong! Aku mohon....


Aku merintih bersama air mata yang melintas perlahan di pipiku. Aku bangkit, dan meraih ponsel pintar di atas meja kerja. Menekan tombolnya hingga membentuk serangkaian nomor yang biasa digunakan oleh Lutfi, lalu menghubunginya.


Segera aku mendengar suara seorang wanita. "Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi, cobalah beberapa sesaat lagi...."


Aku mengulang menelponya. Sekali, dua kali, tiga kali, sampai dua puluh empat kali. Mengira akan berubah kalau sesuai tanggal lahirnya. Tapi, tidak ada bedanya.


"Apanya yang sesaat lagi?! Tetep aja ga bisa dihubungi!" Aku menggerutu. Meletakkan ponsel pintarku hingga membuat suara gaduh.


Menunduk kepala, meremasnya dengan kedua tangan.


Kenapa begini? Kenapa bisa begini? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa salahku?


Aku termenung bersama dera air mata yang tiada bisa kuhentikan. Merasa aku adalah pria yang tidak berguna dengan membuat kekasihku menghilang tanpa jejak, pria yang payah dengan tetap tidak menemukan keberadaan kekasihku yang menghilang tanpa jejak, seorang pecundang dengan membuat kehidupanku yang indah seketika menjadi suram dan kacau.

__ADS_1


Bagaimana sekarang? Apa yang mesti kulakukan? Haruskah aku menyerah untuk mencarinya? Haruskah aku menyerah dan mencari penggantinya? Haruskah aku menyerah dengan adanya dia dalam pekerjaanku? Haruskah aku menyerah dengan adanya dia di hidupku? Haruskah aku menyerah dengan hidupku? Haruskah....


Tolong, tolong.... tolong aku Lutfi. Aku mohon. Tolong aku ... tolong, kembalilah.


__ADS_2