
i
Aku keluar gedung, kemudian berjalan melalui kerumunan tukang shooting, dan secara tidak sengaja aku bertemu dengan kawan lama. Dia, Baim. Rizky Ibrahim, nama aslinya. Dia temanku semasa SMA, di Satuan Karya Pramuka Wanabakti Ranting Wangon.
Dulu, aku cukup aktif dalam mengikuti berbagai kegiatan organisasi. Maklum, golongan darah AB memang suka berorganisasi. Cek aja di Mbah google kalo ga percaya.
"Hei," Aku menyapa kepada dia yang menyalamiku.
"Gimana kabar?" Dia nanya dengan seringai pada wajahnya.
"Sehat " Aku jawab. "kamu sendiri, gimana kabar?"
"Sehat. Eh, ngomong-ngomong, lagi ada urusan apa ke Jakarta?"
"Novel,"
"Oooh.... masih nulis, juga?"
Aku ngangguk. "Kamu, ikut seminar juga?" Aku pura-pura tidak tahu kalau dia jadi tukang shooting di sini. Takut salah tebak.
Dia ngangguk. "Sambil kerja. He he he,"
"Nyoting?" tanyaku akhirnya.
"Iya. Nanti mau dikirim ke saluran TV." katanya.
"Oooh...." Sekejap, otakku kembali memunculkan memori di perusahaan 0000, saat aku duduk di ruang tunggu dan melihat berita orang hilang. Ya! Mungkin saja Baim pelakunya. Lagi pula, dia juga bekerja di bagian shooting dan memang mengirimkannya ke channel TV.
"Im, aku tadi nonton berita—"
"Iya," serobotnya. "aku udah ngirim dua hari yang lalu. Tapi baru muncul kemarin, maaf ya?" pintanya.
"Maaf?" tanyaku.
"Iya. Kan kamu minta soal Lutfi yang ilang biar masuk berita di TV."
"Hah?"
"Lah, terus, kamu kenapa ga mau di-shooting juga?" Dia lanjut bertanya.
Aku masih terbengong untuk beberapa saat sebelum akhirnya menjawab: "Bukan aku, Im."
"Maksudmu apa?"
"Bukan aku yang ngirim itu ke kamu." kataku kemudian. "Dua hari yang lalu, aku cuma ngubungin temen-temen di Banyumas."
"Lah, terus.... siapa yang ngirim info itu ke aku?"
Aku menggeleng.
"Ta-tapi, info itu ga salah, kan?" Dia bertanya dengan gagap. "Ma-maksudku, itu bukan hoaks, kan? Aku ga mau dipenjara gara-gara nyebar berita palsu, Lang."
"Bener," Aku ngangguk. "si pengirim ngomong apa aja?"
Baim sedikit melengos. Mencoba mengingat memori di otaknya. "Kalo ga salah.... kamu abis tunang sama Lutfi. Tapi besoknya, Lutfi sama keluarganya udah ga ada di rumah."
Aku menggumam.
"Itu beneran?"
Aku ngangguk. "Apalagi?"
"Ya.... ya, dia minta tolong ke aku buat dimasukin ke berita." jelasnya. "Itu beneran bukan kamu? Kamu ga lagi ngerjain aku, kan?"
Aku menggeleng. Mataku mencoba fokus kepada satu titik. Menerka kemungkinan terbesar pelaku si pengirim berita.
Aku tidak membencinya, aku justru ingin berterimakasih kepada dia karena sudah membantuku dengan cara mengirim kabar tentang Lutfi yang menghilang tanpa jejak kepada Baim sampai akhirnya diberitakan di TV. Tapi, aku juga perlu tahu indentias asli dirinya. Setidaknya untuk meyakinkan diriku kalau dia bukan Lutfi.
"Jam berapa dia ngirim pesan?" Aku kembali mengintrogasi.
"Bentar aku cek.l " Baim meraih hp-nya dari dalam saku celana belakang. Mengusap-usapnya cukup lama. "hah?! E-mailnya udah ga ada." Dia terkejut dan menunjukkannya kepadaku.
"Dia ngirim infonya lewat e-mail?"
Baim ngangguk. "E-mailnya juga pake namamu. Makanya aku langsung ngira itu kamu."
Aku menggumam, mencoba berbagai cara untuk memunculkan kembali pesan yang hilang atau dihapus secara tidak sengaja. Tapi hasilnya: nihil. "Jam berapa kira-kira?"
Baim menerima kembali hp-miliknya. "Hmmm.... mau dzuhur, lah, kalo ga salah."
Aku menggumam. Berunding bersama otakku.
Apa yang ngirim pesan Mamah? Tapi, Mamah kurang paham soal e-mail. Hmmm.... apa Bapak? Kan dia juga paham soal e-mail. Eh, tapi hp Bapak, kan, barengan sama Mamah. Kayaknya, bukan mereka. Apa Lutfi yang sengaja bikin pesan sendiri? Apa orang lain? Apa siapa? Aaah.... !!! Siapa sebenarnya si pengirim pesan?!
"Lang,"
Aku terkejut mendengar Baim memanggilku.
"Lagi mikirin apa?" Dia nanya.
"Aku penasaran sama si pengirim pesan. Apa Zaqi?" Aku menebak.
Baim menggeleng. "Zaqi juga tau dari aku."
"Oh, tumben dia ga updet?" Aku sedikit terkejut. Sesaat teringat omongan Zaqi di rawa Situ Bamban Jatilawang, kalau dia tau kabar tentang Lutfi dari Baim.
Baim mengangkat bahu. "Paling sibuk kerja, kan?"
"Mungkin,"
"Eh, terus.... menurutmu siapa si pengirim pesan?"
Aku menggeleng. "Aku belum tau. Nanti, kalo kamu ada info apa pun, kabari aku, ya?"
Dia ngangguk.
Kemudian aku pamit setelah memberinya nomor ponselku, juga karena merasa langit mulai menghitam. Sedangkan Baim kembali kepada tugasnya: menyoting.
Ngomong-ngomong soal shooting-menyoting, aku dan Lutfi juga pernah melakukannya dulu sewaktu SMA untuk tugas wawancara Bahasa Indonesia.
🌹🌹🌹
__ADS_1
ii
Hari libur sekolah di tahun 2011.
Aku dan Lutfi mengunjungi sebuah taman bunga yang ada di wilayah Purbalingga. Itu cukup dekat dengan gunung berapi tertinggi di pulau Jawa: Gunung Slamet. Bahkan sudah termasuk ke dalam kaki gunung atau badan gunung, atau apalah, aku tidak terlalu paham soal pembagian wilayah dan gunung-pegunungan.
Jauh, sangat jauh untuk seorang pelajar SMA yang baru menduduki kursi di kelas X semester genap. Apalagi yang mengendarai sepeda motor adalah pria yang belum memiliki Surat Izin Mengemudi. Ya, untung saja, hari ini polisi sedang tidak melakukan razia jalanan. Dan semoga mereka tidak melakukannya sebelum kami balik ke rumah masing-masing. Aamiin.
Ngomong-ngomong SIM, sebenarnya aku bingung karena benda itu disebut-sebut sebagai surat, padahal bentuknya mirip KTP. Dan kalau kalian tahu KTP, paling tidak pernah melihatnya, kalian pasti setuju denganku: itu adalah kartu.
Dan, sangat jelas dari kepanjangan KTP: Kartu Tanda Penduduk.
Jadi, kenapa SIM tidak diganti saja jadi KIM? Kartu izin mengemudi. Toh, bentuknya memang kartu, bukan surat. Kan?
Oke, tidak perlu panjang lebar membahas SIM dan KIM. Aku juga tidak mau dianggap sok pintar dari pemerintah yang memiliki gelar melebihi S1. Kita lanjut saja ceritanya.
Kami memilih pergi jauh ke sebuah taman yang ada di Purbalingga karena di tempat itu banyak tumbuh bunga mawar. Dan rencananya setelah menyelesaikan tugas sekolah, kami bermaksud untuk membeli salah satu atau dua atau berapalah pokoknya yang Lutfi suka.
Semoga saja dia tidak minta dibeliin sekebun itu. Soalnya dia sangat menggemari bunga mawar. Lebih daripada itu, bunga mawar adalah khas bunga dari bulan kelahirannya, bulan Juni.
Setelah menjelaskan keperluan kami dan menyerahkan surat izin kepada si pemilik kebun—itu memang sebuah surat, selembar kertas yang bertulis dari tinta komputer, ditandatangani oleh kepala sekolah, diberi cap sekolah, dan dimasukkan ke dalam amplom yang juga diberi cap sekolah—aku dan Lutfi berunding sejenak untuk menentukan siapa yang bakal melakukan wawancara dan siapa yang menyoting.
Karena Lutfi bersikeras tidak mau mengobrol dengan pemilik kebun, aku mengalah dan menuruti kemauannya agar dia yang menyoting saat aku mewawancarai si pemilik kebun.
Kuserahkan kamera kepada Lutfi, menjelaskan cara kerjanya, dan memintanya untuk sangat berhati-hati karena itu hanya barang hasil pinjam, bukan beli, atau punya sendiri.
Rasanya, di sini aku tidak perlu menuliskan secara rinci bagaimana wawancara berlangsung. Karena hal semacam ini sudah banyak di TV atau youtube atau situs-situs online.
Aku berharap, tanpa kujelaskan, kalian bisa membayangkan sendiri bagaimana seorang bocah SMA kelas X semester genap melakukan wawancara. Ya, tidak selancar dan seformal di TV. Lebih ke ngobrol biasa yang di-shooting.
Selepas wawancara, kami membeli dua bunga mawar. Satu warna merah, dan yang lainnya berwarna merah muda, itu yang Lutfi pilih. Aku sendiri, memang tahunya mawar ya dua warna itu sama putih. Meski di sini ada juga mawar kuning, biru, ungu, dan hijau. Terus dari ketujuh warna itu juga masih ada jenis-jenis warnanya lagi. Pusing dah kalo udah soal warna.
Tahunya cowok, warna itu cuma : merah, kuning, hijau, di langit yang biru. Eh....
Nah, kalo cewek, warna itu: merah maroon, merah bata, merah hati, hijau tosca, hijau lumut, hijau pelepah pisang, hijau tua, baby blue, biru tosca, biru langit, biru laut, kuning tua, kuning muda, kuning ee ... hoek....
Oke lupain!
Setelah berpamit, kami mengunjungi sebuah warung mie ayam yang tidak jauh dari situ.
Di sini aku ga bakal bahas kami yang makan di sana, pokoknya ga bakal!
Kenapa?
Ya.... aku ga mau aja.
Kenapa lagi?
Udahlah, ga usah kepo!
He....
Oke lanjut....
Aduh, penasaran banget ternyata? Oke aku ceritain.
Kami makan mie ayam dengan Lutfi menghabiskan seporsi sambal yang ada di meja kami, dan untungnya itu tidak membuat aku harus membayar tiga kali lipat seperti sebelumnya. Kalo kalian lupa, kalian bisa baca ulang di bab Sambal Peningkat Harga.
Nah, cuma kayak gitu kejadian di warung mie ayam Purbalingga di dekat taman bunga mawar. Tidak terlalu penting, jadi buat apa kalian kepo? Nyesel juga akhirnnya.
🌹🌹🌹
iii
Kami sampai di Purwokerto waktu Ashar.
Setelah selesai melaksanakan shalat, aku mengajak Lutfi untuk makan, lagi, di tempat makan yang tidak terlalu ramai pengunjungnya.
Itu bukan warung mie ayam, tapi rumah makan nasi. Nasi dengan banyak macam sambal. Itulah yang disukai Lutfi. Ya, aku memang berusaha membuatnya senang, meski Lutfi sendiri tidak masalah beli rames tiga ribuan di pinggir jalan. Tapi ya.... namanya lagi kencan, masa aku ga modal, kan malu. Betul?
Memang, kadang sifat gengsi menjurus kepada pemborosan.
Sambil menunggu makanan datang, aku membuka kamera untuk mengecek hasil wawancara kami. Dan....
"Kok, yang shooting-an tadi ga ada?" Aku nanya.
"Keselip, kali." Lutfi jawab.
"Emang dompet keselip di tas?"
"He he he,"
"Ini, ga ada koh." keluhku.
"Mana, sih?" tanya Lutfi sembari mendekat. "Coba dibuka-buka dulu."
Aku menurutinya, dan sangat terkejut setelah mendengar wawancara kami sebelumnya tapi tanpa gambar! Iya, cuma hitam.
"Kok hitam?" Lutfi nanya mendahuluiku.
"Aku juga mau nanya itu," Aku menggerutu.
"Rusak mungkin kameranya,"
"Apa gara-gara keguncang di jalan?"
"Mungkin. Coba cek."
Aku mengangguk. Melepas penutup lensa, dan membidik Lutfi. Memotonya. "Lah, ini bisa." kataku sambil menunjukkan hasil fotoku.
"Eh iya, ini ada gambarnya. Coba kalo video."
Aku menuruti usulnya. Membidiknya lagi, dan menyootingnya. "Bisa, ada gambarnya, kok." kataku.
"Loh, kok yang tadi hitam?" Dia nanya.
Aku menghembus napas panjang. "Tadi pas nyooting, kamu liat ke kamera apa ke aku?"
"Ke kamu, sama ke kamera juga."
"Liatnya bagian yang mana?"
__ADS_1
"Ini, yang kotak kecil." kata Lutfi sambil menunjuk bagian kamera.
"Ga liat yang ini?" tanyaku.
"Engga, soalnya ga ada gambarnya."
Aku tersentak mendengar jawaban Lutfi. Lalu ketawa.
"Kenapa kamu ketawa?"
Aku senyum dan menatapnya.
"Kenapa, sih?"
Kuambil kamera di atas meja. "Tadi sama kamu ininya dilepas, ga?"
"Engga,"
Aku tergelitik, lagi.
"Kenapa, sih?!"
Aku menggeleng. "Kenapa ga dibuka?"
"Ya takut rusak, kan aku ga nakal. Buka-buka kamera yang bukan punyamu. Malah, punyamu juga aku ga berani utak-utik."
Aku makin ketawa mendengar penjelasannya.
"Kenapa, sih?! Ngetawain apa, sih?!"
"Kalo penutup lensanya ga dibuka, ya cuma item hasilnya." Aku menjelaskan sambil menunjukannya kepada Lutfi.
Wajahnya berubah terkejut, dan mulai tampak penyesalan pada tatapannya. Dia mencoba mempraktikkannya. Lalu.... "Maaf,"
"Ga papa," Aku senyum.
"Maaf, gara-gara aku tugasnya ga beres. Jauh-jauh ke Purbalingga ga ada hasilnya. Maaf," katanya dengan nada yang sangat pelan dan lirih. Matanya bahkan mulai berkaca-kaca.
"Ga papa. Kan tadi udah beli mawar, jadi masih ada hasilnya." ujarku mencoba menenangkannya.
"Terus.... tugasnya gimana?"
"Ya, nanti kita wawancara lagi."
"Iya. Nanti aku yang ngomong kamu yang nyooting."
Aku terkekeh. "Iya,"
Pelayan datang. Menaruh pesanan kami di atas meja sambil menjelaskan apa nama menu itu. Saat dia hendak pergi, Lutfi mendadak memanggilnya. "Mba,"
"Iya, ada tambahan lain?"
"Iya Mba, kami mau wawancara sebentar."
"Maaf Mba, saya masih ada tugas." katanya mencoba menolak.
"Sebentar Mba, sebentar saja." pinta Lutfi.
"Tapi Mba—"
"Kami bayar!" Lutfi menyerobot.
Si pelayan menyeringai. Lalu duduk. "Untuk apa kalau boleh tau?"
Dasar mata duitan. Umpat hatiku.
"Tugas sekolah,"
"Oooh.... baik Mba."
Lutfi menatapku dan dengan kedua bola matanya, aku tahu, dia memintaku untuk segera bersiap.
Lutfi mengajukan berbagai pertanyaan dengan sangat rinci dan runtut. Mulai dari pemilik, sejarah berdirinya, alasan mengambil menu-menu itu, jumlah karyawan, penghasilan bulanan, bahkan makanan yang sudah kami pesan di atas meja.
Si pelayan tentu tidak bisa menjawab. Baru Lutfi bertanya pasal sejarah tempat makan ini, si pelayan meminta izin untuk memanggil si pemilik rumah makan. Jadi, pertanyaan itu disampaikan Lutfi kepada si pemilik rumah makan yang kebetulan pemiliknya seorang wanita berkepala lima yang sedang melakukan pengecekan rutin bulanan. Dan aku bersyukur karena kami tidak perlu membayar, lagi, untuk urusan wawancara.
Dari kegiatan itu, si pemilik rumah makan memberi kami hidangan salmon bakar asam manis dan tiga jenis sambal secara gratis!
Waaah....
Ini semua karena ide Lutfi yang briliant! Dan berkat pertanyaannya yang sangat mirip seperti seorang reporter yang ahli, serta iming-iming Lutfi kalau video itu nantinya akan disebar di internet. Di youtube, di facebook, maupun di web.
Tidak hanya itu, keuntungan lainnya adalah kami berdua mendapatkan nilai tertinggi untuk tugas wawancara se-kelas X di SMAN Purwokerto. Seneng!
Lutfi emang hebat luar biasa! Aku bersyukur memilikinya, dan aku bersyukur Lutfi mau sama aku.
Alhamdulillah....
🌹🌹🌹
iv
Saat ini di tahun 2018.
Sampai mesh, setelah melaksanakan shalat Maghrib dan shalat 'Isya pada satu masjid yang sama, aku menerima sebuah surat yang dititipkan sama tetangga sebelah kamar. Kuterima secarik kertas itu dan berterimakasih, lalu masuk ke dalam ruanganku.
Aku duduk sejenak untuk mengambil napas karena lelah menenteng barang-barang sampai ke tingkat tiga. Sampai akhirnya, aku memutuskan untuk membereskan ruanganku lalu mandi dan berganti pakaian.
Sambil menikmati seporsi rames, aku kembali meninjau ponsel pintarku. Tapi, sampai sekarang belum ada kemajuan kabar tentang Lutfi dari teman-teman di Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan DKI Jakarta.
Merasa tersuntuk perasaan bersalah, aku berhenti makan. Keluar sejenak untuk menikmati angin malam. Berharap segala kesegerannya dapat meringankan beban di otakku.
Sekarang, aku sudah tahu, kalau Baim-lah yang mengirimkan info itu kepada salah satu channel TV untuk kemudian diberitakan. Tapi, aku masih belum bisa menuduh orang lain selain Lutfi yang melakukannya. Dan jika aku menuduh Lutfi yang melakukannya, ada hal lain yang harus kupecahkan. Yakni: "Darimana Lutfi dapat e-mail-nya Baim? Dan untuk apa dia bikin berita kalau dirinya hilang? Apa semua ini memang ujian?"
Hmmm.... terlalu banyak misteri di sini. Aku tidak menyangka, kalau hidupku akan berubah sedrastis ini setelah Lutfi menghilang tanpa jejak. Seperti cerita detektif saja, ha ha....
Aku tergelitik kecil bersama tetesan air mata. Mendadak angin berhembus kencang, membawakan aroma mawar dari arah Timur. "Apakah Lutfi ada di wilayah Timur?"
Aku tertunduk, terselimuti dengan kedilemaan yang tiada berujung, seakan perjalananku kali ini akan mengarahkanku kepada kegagalan. Kegagalan yang selalu kuhindari. Kegagalan yang selalu kuharapkan tidak akan pernah hadir. Kegagalan.... itu adalah hal yang sangat kutakutkan.
Aku menengadah, menatap sinar Ratu Langit yang mempesona bersama gemerlap ribuan bintang. "Lutfi, di mana kamu?"
__ADS_1