
i
Waktu istirahat kedua, aku sedang berjalan seorang diri menyusuri koridor sekolah untuk menuju masjid buat shalat Dzuhur. Mendadak aku melihat Pak Triyanto—dokter yang melakukan tes kesehatan sebelumnya di kelasku, X-11 SMAN Purwokerto—baru saja keluar dari ruang guru bersama teman-temannya yang lain.
“Pak Triyanto!” Aku berseru memanggilnya.
Beliau membalikan badan, menghadapku, lalu menyalami aku. “Siapa ya?”
“Siswi kelas sepuluh sebelas.”
“Hmmm.... namanya?”
“Lutfi.” kataku senyum.
“Oooh.... yang duduk sama Gilang, ya?”
Loh kok tahu?
Tapi aku bilang: “Aku mau nanya sebentar, boleh?”
“Boleh, nanya apa?” tebak beliau akhirnya. “Gilang, ya?”
Aku kaget. Kok tahu lagi? Hatiku bertanya. Tapi aku hanya menjawab tanya Pak Triyanto dengan anggukan kepala.
“Mau nanya apa?”
“Itu, Pak.... soal penyakitnya Gilang.”
"Emang, kenapa sama penyakitnya Gilang?"
"Ya.... saya kepingin tau Pak."
"Kenapa kepingin tau?"
__ADS_1
"Ya...." Aku cukup kebingungan harus memberi alasan apa supaya Pak Triayanto mau mengasih tahu penyakit yang Gilang derita. "pengin tau ajalah, pokoknya."
Beliau menggumam. “Kan Bapak udah bilang tadi, insomnia.”
“Iya. He he he.” Aku garuk-garuk kepala. “Maksudnya, malamnya ngapain gitu dok.”
“Kenapa ga nanya langsung?”
Aku agak bingung sebenarnya. Tapi aku mencoba mengeles. “Yaaa.... dia ga mau jawab. Dia tertutup orangnya.”
“Apa iya? Ke Bapak engga, tuh.”
Aduh? “Tapi, ke aku iya pak!” seruku mencoba meyakinkan.
Pak Triyanto ketawa. “Iya-iya, Bapak percaya deh.”
“Terus apa Pak?”
“Dia bikin novel.”
“Ga percaya, kan?”
Aku menggeleng.
Jadi yang diomongin sama Mang Uud benar. Gilang memang bikin novel.
Pak dokter kembali ketawa. “Awalnya bapak juga gitu. Tapi pas dia bilang novel bikinan Danu Banu, Bapak jadi percaya deh.”
“Danu Banu?” tanyaku memastikan.
“Iya, itu nama penanya.”
“Oooh.... tapi, belum pernah baca.”
__ADS_1
“Hmmm.... coba kamu cari novel yang judulnya: Hujan Berlalu. Mungkin di perpus sekolahmu ada.”
“Kok Bapak tahu?”
Beliau senyum. “Bapak sering baca. Dan emang suka.”
“Buatan Gilang?”
Pak Triyanto mengangguk.
“Baik pak, makasih.”
“Sama-sama. Ada lagi?”
Aku mengangguk. “Selain itu, apalagi Pak?”
Belau senyum terus mengelus kepalaku seperti perlakuan seorang ayah pada anaknya. Lalu berkata setelah agak membungkuk. “Jaga dia, ya? Bapak ga mau ketemu Gilang di RS karena sakitnya.”
“Hah? Ma-maksudnya?”
Beliau kembali berdiri tegap. “Kamu pasti bisa bikin Gilang sehat.” kata Pak Triyanto terus pergi gitu aja.
Aku diam. Kebingungan soal maksudnya. Tapi saat itu, aku segera memutar langkahku dan berlari menuju perpustakaan.
🌹🌹🌹
ii
Sampai di perpustakaan, segera aku meminta petugas untuk mencari judul buku: Hujan Berlalu. Tapi katanya, lagi kosong, soalnya lagi dipinjam, dan baru saja.
Aku menghembuskan napas kecewa. Dan, mau gimana lagi. Jadi, mumpung di perpus aku mencoba mencari buku lain yang mungkin aku suka.
Pas mau jalan masuk lebih dalam. Aku kaget karena buku itu dibawa sama Gilang.
__ADS_1
Aku hanya mematung sambil melihati kepergiannya. Langkah-langkah panjang dari seseorang yang penuh misteri. Pria aneh yang tertutup, anti sosial, sangat memerhatikan hal kecil yang ada padaku, tapi kadang-kadang blak-blakan kayak pas di kantin tadi.
Saat itu aku sadar, tes kesehatan bukanlah satu-satunya yang terpenting darinya. Tapi jauh lebih penting bagaimana sikapnya, perbuatannya, dan cinta yang dia beri untukku seorang.