
i
Pada waktu acara itu dimulai, aku nonton sedikit agak di depan, ah, kamu tahulah maksudku.
Aku ingin puas nonton Gilang dari dekat, meskipun aku sedikit khawatir kalau-kalau kehadiranku justru membuatnya gerogi atau sejenisnya. Tapi nyatanya tidak, dia biasa aja. Malah kulihat, dia sangat tenang seperti biasa.
🌹🌹🌹
ii
Itu acara yang menegangkan!
Satu sesi menampilkan tiga grup. Grup A, B, dan C.
Ketika tiba giliran Gilang dengan Gyan dan Arya, sungguh aku sangat deg-degan. Serius, bahkan sampai aku baca beberapa surat pendek dari Al-Qur’an! Mungkin aku sangat berharap grup dari kelas kami yang menang. Apalagi di sana ada Gilang.
Iya. Itu Gilangku loh.
Selesai babak satu, dua, dan tiga. Skor grup B sama dengan grup C. Sedang grup A, grupnya Gilang, terlampau jauh. Ini semua gara-gara Gilang diam dan cuma mandang ke arahku.
Ih, Gilang! Serius doong. Aku pengin kamu menang, tahu!
Aku mencoba memberinya kode dengan kepalan tangan dan wajah sinis. Berharap Gilang paham maksudku. Kulihat dia terkejut lalu menyapu pandang untuk melihat perolehan nilai di layar LCD. Kemudian Gilang menggaruk-garuk kepalanya sambil ketawa kecil.
Huh, syukurlah Gilang paham.
Selanjutnya masuk pada sesi pertanyaan rebutan.
Itu adalah sesi di mana sang penanya melempar pertanyaan untuk siapa saja yang bisa lebih dulu mijit bel. Jika jawabannya benar akan mendapat nilai seratus. Jika salah, akan dikurangi seratus.
Dari jauh, aku melihat Gilang tampak tenang.
Aku masih jengkel. Pokoknya aku ga terima kalau Gilang kalah. Awas aja nanti kalau kalah. He he he.
Begitulah aku hari itu. Aku sibuk dengan dirinya, berkomunikasi melalui udara dan ekspresi, merepotkan diriku. Lebih repot dari mereka yang mengurus dunia. He he he.
🌹🌹🌹
iii
Sesi pertanyaan dimulai, sang penanya mengajukan pertanyaan:
“Sultan Ageng Tirtoyoso melakukan perlawanan terhadap penjajah di wilayah....”
Gilang mencet bel paling pertama membuatku kaget.
Apa kamu tahu sih? Tanya hatiku.
“Ya, grup A. Silahkan.” kata sang penanya.
“Banten dan Jakarta.” kata Gilang.
“Betul!”
Sontak semua bersorak dan memberikan tepuk tangan.
“Selanjutnya, siapakah musafir muslim yang pernah singgah di Pasai?”
Lagi dan lagi Gilang mijit bel paling cepat.
“Ya, grup A.”
“Ibnu Bathuthah.”
“Betul.”
Semua kembali bersorak gembira, tapi tidak denganku. Mukaku masih masam karena grup Gilang masih tertinggal. Setidaknya Gilang harus menjawab kelima pertanyaan itu dengan benar, pun kalau dia bisa.
__ADS_1
“Pertanyaan ketiga, ilmu tentang perikanan....”
Aku kaget karena grup B mijit bel lebih dulu.
Aduh, bisa gawat.
“Grup B.”
“Pomologi.”
“Salah,” kata sang penanya. “Grup A.” ujarnya setelah Arya mijit bel. Kemudian berseru setelah Gilang membisikinya. “Ichtiologi.”
“Betul!”
Penonton makin bersorak. Situasi berubah genting. Aku memandang Gilang tajam seakan kesal, tapi dia cuma ketawa.
“Soal keempat, apakah mata uang negara Irak?”
Grup A dan grup C mijit bersamaan, namun sang penanya justru memberikannya kepada grup C. Aduuuh.
“Poundsterling.”
“Salah! Grup A.”
Kulihat Gilang berbisik ke telinga Gyan, lalu dia berseru: “Dinar!”
“Ya.... betuuuul!”
Tepuk tangan dan gemuruh teriakan pe-nyemangat menggema di aula, tanda bahwa pertarungan makin sengit, terlebih karena kini grup A yang memimpin dengan selisih nilai 100 poin.
“Tenang-tenang,” ucap sang penanya membuat seruan tadi perlahan lenyap. “Pertanyaan terakhir.”
Semua peserta tampak tegang, begitu pula para penonton, tapi tidak dengan Gilang. Dia masih senyum-senyum sambil memandangku.
“Baik, pertanyaan terakhir. Rumor bohong, yang biasanya sering berkaitan dengan urusan pribadi orang lain, sering disebut....”
“Grup A.” kata sang penanya.
“Gosip.”
Diam. Masih belum dikonfirmasi jawabannya. Semenit kemudian sang penanya mengambil napas dan berteriak: “Betuuuul!!!”
Gemuruh meledak di tiap ujung aula. Semua berteriak bahagia, baik Gyan, maupun Arya, sedang Gilang hanya diam dan terus memandangku.
Aku takjub, begitu bahagia dengan perolehan yang diraih oleh grup A, kelas kami. Itu semua berkat Gilang. Dia hebat!
Kulihat Gilang beranjak dari tempatnya kemudian berbincang dengan grup B dan grup C, lalu menuju ke meja juri, setelah itu baru menghampiriku.
“Hai,” sapanya.
“Kamu hebat.” kataku.
Gilang senyum. “Pergi, yuk?”
“Ga ikut seserahan hadiah?”
“Ga usah, yuk?”
“Boleh deh.”
Aku mengikuti langkah Gilang yang menuntun tanganku untuk keluar dari kerumunan dan menuju ke gazebo sebelumnya. Kami duduk sejajar.
“Kenapa ga ikut penyerahan piala?” tanyaku.
“Ga apa-apa.” jawabnya.
Aku mendadak ingat omongan Mamah kalau Gilang ga suka difoto. “Oya, kamu kan ga suka difoto.”
__ADS_1
Gilang mengangguk dan senyum, tapi aku tahu, senyumnya itu masam.
“Ada apa?” Aku nanya.
Dia memandangku serius. “Aku harus berangkat nanti sore.”
“Ma-maksudnya?”
“Aku harus ke Jakarta.”
“Loh, kok?”
“Aku udah bilang ke kamu tadi, aku harus datang buat launching.” katanya lesu.
“Besok, kan, lomba LCC-nya di Banyumas. Terus, gimana?” kataku masih kaget.
“Maaf.” jawabnya dengan menunduk. “Aku sudah menunggu hal ini sejak lama, bayarannya cukup banyak.”
“Hah, kok gitu?”
Gilang kembali memandangku dengan ekspresi penuh penyesalan.
Hatiku berdesir hebat. Aku tahu sekarang! Dari tadi, dia terus memandangku karena setelah acara itu selesai, Gilang harus pergi ke Jakarta. Aduh, aku mendadak menjadi merasa kehilangan dia.
Kutatap mata hitam kecokelatan miliknya. Memantapkan diriku.
“Gilang, itu cita-citamu, raihlah, aku akan menunggumu kembali. Aku yakin, kau juga sudah minta orang untuk menggantikanmu, kan?”
Matanya tercekat, memandang ke arahku seakan penuh harap.
Aku meraih tangannya. “Dengar, jangan nakal.”
Dia senyum, kini aku yakin itu adalah senyum kebahagiaan. “Aku segera kembali.”
🌹🌹🌹
iv
Sebelum kulanjutkan ceritanya, aku ingin menulis sedikit tentang Gilang sebagai seorang penulis novel.
Menurutku, dia harus punya seseorang yang bisa membantunya untuk mengatur jam istirahat, jadi, ketika waktunya bangun, dan sekolah, Gilang tidak harus lagi tertidur seperti biasanya.
Aku sangat berharap, dari hal sepele seperti tidur gasik, lalu bangun sebelum subuh buat ngerjain tulisannya, bisa membantu Gilang untuk menghilangka kebiasaan buruknya itu.
Aku juga sering berpikir, kalau seharusnya Gilang menyibukkan masa mudanya untuk ini itu bersama temannya, ya paling tidak, aku berharap dia punya teman, lah. Itu juga salah satu yang diharapkan oleh Mamah, meski kenyataannya aku lebih suka kalau Gilang menghabiskan waktu bersamaku, seperti hari Minggu kemarin misalnya. He he he.
Yah, kalau Gilang punya teman, aku juga berharap teman-temannya mengerti kesibukan Gilang sebagai seorang penulis novel, dan mengerti mauku yang tidak mau pisah dengannya.
Kamu pasti mengerti, kenapa aku berpikiran demikian.
Aku sayang sama Gilang. Aku ga mau hidupnya habis cuma buat ngarang cerita dan tidur, aku ingin dia bisa melihat dunia secara langsung, bukan hanya dari khayalannya saja.
Aku sayang Gilang. Aku ga mau hidupnya selalu sendiri tanpa punya seorang teman. Karena bagaimanapun, seseorang pasti membutuhkan interaksi dengan orang lain. Ralat. Kalau untuk Gilang, bukan butuh interaksi tapi bantuan buat ngisi harinya yang hitam putih.
Aku sayang Gilang. Aku ga mau sedikit saja tentangnya diambil orang.
Terserah kalau kamu mau bilang aku cemburuan, tapi aku tidak akan menyianyiakan seorang yang istimewa seperti Gilang.
🌹🌹🌹
v
Tulisan Gilang emang bagus, meski kebanyakan terlalu aneh untuk anak seumurannya. Ya, dia kadang menafsirkan sesuatu terlalu jauh, sehingga aku jadi cemas kalau-kalau itu akan mempengaruhi kepribadiannya kelak.
Aku yakin, Gilang tidak suka dilarang. Aku yakin, Gilang akan marah ketika kubatasi jam kerjanya. Aku yakin, dia akan sedih jika genre yang dia buat tidak cocok dengan seleraku.
Tapi, nanti, aku harus melakukannya demi kebaikan Gilang sendiri. Meski nantinya Gilang akan berubah seperti apa, itu pasti karena luapan kesedihannya sesaat saja.
__ADS_1
Semoga Gilang mengerti apa maksudku nanti. Aku bukan melarangnya, hanya membatasi layaknya sekolah yang punya jam masuk, jam istirahat, dan jam pulang. Agar dia nantinya bisa kembali hidup seperti normal. Semoga saja.