
i
Pulang sekolah, aku dan Gyan belajar bersama di depan ruang OSIS yang sedang sepi saat itu, sekaligus tempat itu adalah salah satu yang sinyal Wi-Fi paling lancar.
Kami belajar cukup serius demi menghadapi soal LCC yang bakal diadain besok di jam pelajaran terakhir. Untung saja, kata Kelvin, Bu Yuni, wali kelas X-11, siap membantu kami. Katanya juga, beliau akan menyiapkan soal dan mengawasi ujiannya besok.
Entah mengapa, aku jadi bersemangat. Aku juga ingin mendapatkan nilai yang memuaskan di ujian besok, meski sebenarnya aku emang ga mau ikut LCC.
Dan di depanku, Gyan. Siswi yang menurutku memang pintar di kelas, juga ingin dapat nilai bagus, meski dia juga ga pengin ikut LCC, kayak aku.
Sekitar setengah jam kami belajar, mendadak Gilang muncul entah dari mana.
“Besok mau ada ujian, apa?” Dia nanya.
Kulihat Gyan tidak merespons, dan jelas tidak akan menanggapi. Tampak dia sedang hanyut dalam belajarnya. Jadi aku yang menjawab.
“Iya.”
Gilang menengadah kepala, sepertinya sedang berpikir. Kemudian tak lama kembali memandangku. “Aku ga ingat, kalau besok ada ujian.”
Ya jelas engga! Tiap hari aja kamu tidur! Ah, ngeselin.
“Besok ujian LCC,” kata Gyan akhirnya. “Kamu ga belajar?”
“Buat apa?”
Gyan menatapnya kesal dengan menutup buku keras lalu menghembuskan napas. “Dengar, kalau besok kamu dapat nilai tertinggi. Kamu bisa ikut LCC sekolah bulan Agustus.”
“Oh gitu.”
“Iya.”
“Jadi kalian belajar supaya bisa ikut itu?”
Kami menggeleng kompak.
“Lah, ya ngapain belajar?”
Kulihat Gyan makin jengkel, jadi aku menyerobot.
“Selain buat lolos seleksi, kan senang rasanya kalau dapat nilai bagus.”
“Oh. Semangat, ya?” ujarnya dan berlalu.
“Makasih.” kata kami kompak.
“Eh, kamu mau ke mana?” tanyaku akhirnya setelah melihat dia menuju halaman belakang.
Dia menoleh dan kembali melangkah mendekat. “Bersih-bersih.”
“Kenapa?”
“Karena kotor.” jawabnya santai.
Aduh, benar juga. Gilang pasti bakal jawab gitu. Aku salah ngomong lagi deh.
Sempat aku mendengar Gyan tertawa lirih. Tapi aku tidak tahu, soalnya dia nutupin mukanya pakai buku.
“Maksudnya, selain kotor, kamu ngapain bersih-bersih?”
“Soalnya ga ada yang bersihin.”
Aku menyerah! Kututup pembicaraan itu dan membiarkannya pergi. Kupandang ke arah Gyan.
“Kalian udah mulai dekat, apa?”
Aku kaget. “Maksudnya?”
“Ya, aku ngerasa dia jadi aktif ngomong gara-gara sama kamu.”
“Ga lah.” kataku dengan mengambil buku paket. Menutup wajahku yang kegirangan.
🌹🌹🌹
ii
Saking asiknya belajar, tak terasa adzan berkumandang. Kami langsung merapikan buku-buku dan bergegas menuju masjid. Di sana, aku bertemu Ateg yang juga mau shalat. Tapi Gyan pamit, karena sedang ada tamu bulanan.
Tak lama, iqomah berkumandang setelah aku selesai berwudhu dan melaksanakan shalat sunnah. Suara itu, bagiku sangat tidak asing.
Dan ketika kudengar lebih seksama. Aku semakin yakin, itu adalah suara Gilang. Dan paling mengejutkannya, dia juga yang jadi imam!
Saat sedang shalat, aku tidak bisa mengalihkan pikiranku dari kebenaran pemilik suara itu. Jika benar itu dari Gilang, aku senang. Ditambah karena suaranya jadi imam sangat menentramkan hati.
🌹🌹🌹
iii
Selepas shalat, aku segera mengangkat tirai penghalang shaf putri dan shaf putra. Aku juga mendengar Ateg nanya aku lagi ngapain. Tapi tak kuhiraukan.
Aku tidak melihat seorangpun di sana. Mungkin dia sudah pergi. Aku ga habis pikir, kenapa kebanyakan pria shalatnya cepat banget selesai.
Kemudian, aku membereskan mukena dan meletakannya kembali di dalam almari. Setelah itu, keluar dan mengenakan sepatu.
Ateg tidak mengajakku pulang saat itu. Katanya dia minta ditemani makai Wi-Fi di depan ruang OSIS. Persis kayak yang aku lakuin sebelumnya.
Aku mengangguk. Dan kami pergi ke sana berdua.
Sesampainya, kami duduk sejajar menghadap lapang basket. Di ujung sana aku melihat sebuah bola plastik tergeletak. Entah siapa pemiliknya.
Tadi ga ada, sekarang ada. Aduh! Aku jadi pengin main.
Aku bilang sama Ateg kalau aku mau main basket. Dia mengangguk dan membiarkanku pergi. Tak lama, Ateg menyusul dan meminta maaf karena harus mengerjakan tugas dulu.
“Tak apa.” kujawab.
Akhirnya kami main bersama. Tertawa sembari melempar bola ke dalam ring basket, namun tidak kunjung masuk.
__ADS_1
Saking asiknya, aku sampai-sampai menghirau-kan anak-anak putra yang mendadak berdatangan dan main futsal di lapangan sebelah. Untungnya mereka tidak mengganggu kami.
Tak terasa, hari makin larut, perlahan rintik-rintik air turun dari langit. Aku dan Ateg bergembira dibuatnya. Seragam batik merah-putih kami basah diguyur hujan kecil.
🌹🌹🌹
iv
Saat itu, langit telah berubah warna jingga keemasan, menunjukan hari sudah sore. Di sisi lain, aku melihat anak-anak tadi membubarkan diri dan menuju parkiran. Menemui kendaraan mereka.
Aku sebenarnya juga ingin pulang, tapi mendadak kakiku sangat sakit ketika digerakan.
“Kamu kenapa?” Ateg bertanya dengan nada khawatir.
“Kayaknya, flu tulangku kambuh.”
“Kamu punya flu tulang?” Dia kembali bertanya lebih panik.
Aku menjawabnya dengan anggukan.
“Aduh, berarti kamu ga kuat dingin?”
“Iya.”
“Terus ngapain hujan-hujanan?”
“He he he.”
Ateg bergegas menuju ruang OSIS buat ngambil tasku dan tas dia. Lalu kembali dan memapahku.
“Aduh, maaf, kamu jadi kerepotan.”
“Ga papa. Namanya teman ya harus saling membantu.”
Aku senyum mendengarnya. Sungguh senang, ada juga orang yang mau mengerti aku.
Perlahan, hujan mulai reda, kami juga hampir keluar dari pintu lapangan di sisi Barat. Memang lapangan basket dan futsal dikelilingi oleh tembok berlubang kecil. Bagiku, itu adalah pengaman, supaya ketika siswa bermain bola tidak keluar lapangan.
Mendadak seorang siswa yang mengenakan motor besar berwarna merah berhenti di depan kami.
“Hai.”
Aku diam karena merasa tidak kenal.
“Rangga,” sapa Ateg.
“Ya.” jawabnya.
“Kamu kenal dia?” tanyaku berbisik.
“Iya, dia teman kelasku. Oya, ngomong-ngomong, Rangga naksir sama kamu.” jawabnya dengan suara yang sama lirihnya.
Aku terkejut, kulirik ke arahnya. Sungguh, di mataku dia cuma siswa berandalan. Bagaimana tidak? Dandanannya saja berantakan. Sudah sangat jelas aku pasti akan menjauhinya.
“Duluan ya bro!” seru teman-temannya yang mendahului dengan sepeda motor berisik, membuatku takut.
“Ya.”
“Kenapa Teg?”
“Tolonglah, Lutfi kakinya sakit.” kata Ateg sembari menunjuk ke arahku dengan tatapannya.
Dia melihatku, tampak matanya cukup nakal bagiku. Sontak aku menggeleng. Mana sudi aku diantar sama cowo kaya dia.
Tak ada jawaban darinya. Cowo itu langsung tancap gas dengan keras, makin membuatku kesal dan jijik kepadanya.
“Tunggu, Rangga!” Ateg berseru.
“Udahlah biarin.” kataku.
Ateg menghembuskan napas panjang lalu kembali memapahku keluar dari lapangan, tepat menghadap Ruang Serba Guna. Mendadak seseorang melewati kami dengan menarik gerobak. Agak penasaran, aku melirik ke arahnya.
Ya ampun! Itu Gilang, bawa gerobak. Buat apa?
“Butuh tumpangan?” tawarnya dan berhenti di depan kami.
Aku diam, bingung harus menjawab apa. Dan akhirnya Ateg sontak bertanya: “Kamu ngapain bawa gerobak?”
“Mainan.”
Aku tetap tidak merespons. Bagiku, cuma orang **** yang percaya sama alasan anehnya. Dan mendadak Ateg tertawa, membuatku terkejut.
“Kamu percaya?”
Dia mengangguk semangat. “Ya.”
“Aneh,”
“Benar, Gilang emang aneh orangnya.”
Yang aneh itu kamuuuuuuu! Aduh, gimana sih?
Aku menatap ke arahnya. Dia juga mengenakan seragam yang sama seperti kami. Baju dan celananya basah kuyup, entah mengapa, aku ga bakal nanya. Persis seperti orang habis kecebur. Dan yang sangat menjadi khas dari Gilang: dasi yang dikenakan rapi tapi ujung hingga sepertiga bagiannya dislempangkan ke pundak kiri.
Aku tidak mengerti kenapa dia begitu, maksudku, buat apa pakai dasi kalau disematkan terus? Masa iya, suka makai syal, jadi dasi dibawa-bawa?
“Butuh tumpangan?” Gilang kembali menawar-kan bantuan.
Aku hanya melengos. Tumpangan apa? Naik gerobak? Kamu kan sering bawa sepeda, harusnya nawarinnya pakai sepeda dong! Eh, kok aku ngarep yah?
“Ikut Gilang, ya?” Ateg berbisik.
Aku menggeleng.
“Kenapa?”
Tak bisa kujawab apa alasannya. Memang aku bingung. Jadi, saat itu, aku kembali memaksa diri untuk melangkah.
__ADS_1
Seakan mengetahui mauku, Ateg meminta maaf pada Gilang dan kembali membantuku.
“Jangan memaksakan diri.”
Aku berhenti sejenak, menoleh kepada pria di belakangku sesaat, dan melangkah pergi begitu saja.
Seakan tidak menyerah, dia menghentikan gerobaknya tepat di depanku. Memaksaku harus bergeser agak jauh untuk menghindarinya.
Diam. Kupikir dia menyerah, ternyata tidak.
“Jangan buat flu tulangmu lebih parah.”
Aku berhenti karena kaget. Saat itu, selain keluarganya, di SMA cuma Ateg yang tahu tentang penyakitku yang satu ini. Dan, aku baru memberitahunya tadi. Jadi, kenapa Gilang tahu aku punya flu tulang? Apa dia lihat hasil tesku tadi pagi?
Aku menatap Ateg. Tampak dia juga kebingungan.
Seketika Gilang, lagi-lagi menghentikan gerobaknya di depan kami. “Naiklah.”
“Ikut aja, ya?” bisik Ateg
Aku menyerah untuk menolak. Jadi aku mengangguk. Namun tiba-tiba Gilang berlari pergi entah kenapa.
Eh?
Tapi, tak lama kemudian dia kembali membawa terpal, lalu dia gunakan untuk melapisi alas dan tiap sisi gerobaknya.
Selesainya, Gilang berdiri sempurna dan memandangku.
Bagiku, di matanya saat itu, dia hanya melihat aku seorang. Tapi, entahlah.
“Maaf, aku ulangi: naiklah.” katanya mempersilahkan.
Aku menaiki gerobak itu dengan bantuan Ateg, sedang Gilang memegangi gerobaknya agar tidak gerak-gerak.
Setelah semua beres, dan aku duduk dengan nyaman bersama tasku. Gilang menarik gerobak dengan Ateg di sisinya. Entah kenapa ada sedikit rasa cemburu.
“Lang, kamu sih dapat gerobak ini dari mana?” Ateg nanya.
“Oh, ini gerobak sampah sekolah.”
Deg! Sungguh, sebenarnya ingin sekali aku berteriak marah. Tapi, bagaimanapun, gara-gara ini aku jadi tertolong. Dan ketika kutimbang-timbang lagi, gerobak ini ga bau sampah.
“Ha ha ha.” Mendadak hp Ateg berbunyi. “Eh, bentar.” Pintanya dan melangkah menjauh untuk mengangkat telpon.
Gilang menghentikan laju roda dengan sangat pelan. Lalu menatapku.
Aku melengos. Kenapa? Ya karena malu lah.
Sekitar lima menit kemudian Ateg kembali. “Maaf, aku harus pergi.”
“Kenapa?” tanyaku kaget.
“Ada teman kelas di fotocopy depan minta file buat tugas besok.”
“Ta-tapi Teg.”
“Tenang. Gilang bakal nganter kamu sampai kost kok. Aku juga ga lama, bentar doang. Nanti ketemu di kost.”
Aku diam. Tidak berani merusak urusan pentingnya.
“Dah,” katanya dan berlalu dengan lari-lari kecil.
Sungguh, aku sangat bingung sekarang harus bagaimana. Aku terjebak di dalam gerobak sampah yang dikendarai oleh Raja Tidur.
🌹🌹🌹
v
Sesampainya di depan gerbang kost. Seorang wanita paruh baya yang sedang menyapu halaman terkejut lalu menghampiri kami.
“Astaghfirullah, ada apa ini?”
“Kaki Lutfi sakit.” Gilang menyerobot sebelum aku sempat menjawab. Dia juga tetap menarik gerobak hingga masuk lebih dalam.
“Kok bisa?”
“Cuaca dingin.”
Loh? Dari mana dia tahu?
Sampai di teras roda gerobak dipaksa berhenti menggelinding. Kemudian memutar gerobak dan membuat pintu gerobak menghadap tepat ke teras.
“Oooh.... aduh, sini-sini ibu bantu.” kata ibu kost dan membantuku turun. Lalu membuatku duduk di kursi tamu perlahan.
“Makasih ya mas udah mau bantuin.”
Dia mengangguk dan pergi gitu aja sambil bilang. “Permisi.”
Selanjutnya, ibu kost menghampiriku dan bertanya: “Itu tadi pacarmu?”
“Bukan!” jawabku cepat.
“Tapi dia yang ke sini kemarin sore, kan?”
Aku mengangguk.
“Dia juga yang nelpon malam-malam, kan?”
Aku mengangguk malu.
“Pasti dia naksir sama kamu.”
Aku makin malu dibuatnya. Diam. Bingung harus menjawab apa.
“Ya sudah, ayo masuk dulu. Nanti ibu siapin air panas buat kamu mandi.”
Aku senyum gembira mendengarnya. Selain Ateg, di sini, ibu kost juga sangat mengerti aku.
__ADS_1
Namun harus kuakui. Saat itu, mataku terus memandang ke arah terakhir Gilang menghilang seakan ditelan oleh jalan. Apa saat itu aku tidak ingin pisah dengannya?