
i
Aku sakit. Mungkin karena drop. Dari dulu aku memang begini, jika ada sebuah masalah berlebih yang meng-ganggu pikiran dan hatiku, kondisiku pasti langsung begini, ini.
Jadi sorenya, setelah aku sampai kost dengan bantuan Ateg, Gyan, dan beberapa teman yang lain, aku menelpon ayah untuk minta dijemput.
Kemudian mereka berdua juga membantuku membereskan perlengkapanku sambil terus menyema-ngati aku yang saat itu tak berdaya, hanya terbaring lemas.
Entah berapa lama kemudian ayah menjemputku menggunakan mobil, kata ayah itu mobil sewaan, ada supirnya juga.
Kemudian aku dipapah untuk masuk ke dalam mobil, lalu duduk di paling belakang dengan aku terbaring berbantal paha ayah.
Aku benar-benar tidak ingat semua yang terjadi waktu itu. Mataku menjadi lebih buram daripada biasanya, kepala juga terasa pusing dan sangat berat, sedang tubuh lemas. Yang aku ingat, syal dari Gilang terus melingkar di leherku.
Bau khas dari dirinya, cukup memberikanku tambahan kekuatan. Meski sedikit. Walau sebetulnya, aku merasakan semua luka ini karenanya. Karena dia membohongiku denga tidak pergi ke Jakarta. Karena dia mengacuhkanku dan pergi dengan wanita lain. Karena dia membiarkanku dimaki dan ditampar oleh si bejat Kelvin. Karena dia membiarkanku larut dalam sakitku.
Setelah sampai rumah, aku disuruh opnam oleh Bu dokter yang ayah telfon untuk memeriksaku di kamarku. Tapi aku menolak, aku enggan dengan jarum infus. Aku cuma butuh kabar dari Gilang dan penjelasannya tentang kejadian sebelumnya.
Aku benar-benar berharap kalau aku salah lihat. Hanya itu. Mungkin, akan membuatku jauh merasa lebih baik.
Karena aku yang menolak diopnam, Bu dokter memberi Ayah surat izin yang dipakai untuk tiga hari ke depan. Itu artinya, selama itu aku akan mendiam diri di rumah sampai hari Sabtu.
🌹🌹🌹
ii
Di hari ketiga aku sakit, selepas shalat Jumat, teman-teman kelas mengunjungiku, Kelvin juga ikut. Aku dengan susah payah berpindah menuju ruang tamu dengan bantuan Mamahku. Di sana, aku duduk bersandar bantal di atas sofa.
Satu per satu dari mereka menyalamiku. Ketika giliran Kelvin tiba, aku sedikit terkejut setelah melihat mukanya babak belur. Sebetulnya aku menganggap hal itu pantas dia dapatkan. Mungkin warga atau entah siapa memukulinya karena sudah berani-berani melukai seorang wanita, terlebih aku. Tapi, aku tidak begitu peduli.
Dia menyalamiku, memberikan doa agar aku cepat sembuh dan bersujud meminta maaf. Kubiarkan saja dia bertingkah sesukanya, aku tak mau urusan. Hanya memandang ke arah lain.
“Jadi gini Fi, Gilang udah berangkat sekolah kemarin.”
Aku terkejut mendengarnya. Sebenarnya aku bertanya-tanya kenapa dia tidak menghubungiku hingga detik ini. Tapi sudahlah, dia sudah memilih meninggal-kanku dan pergi dengan wanita lain.
Pokoknya, aku tidak mau lagi urusan dengan Gilang, dia menggoreskan luka paling pedih di hatiku.
“Paginya, dia nyamperin Kelvin, terus nampar Kelvin sampai jatuh. Persis kayak yang kamu rasain waktu itu.” tambah Arya dengan nada menyesal.
Kupandang ke arah Kelvin, kepalanya menunduk penuh penyesalan. “Iya, aku benar-benar menyesal sudah melakukan hal itu padamu. Aku sungguh minta maaf.”
Aku mengangguk, rasanya masih malas dengan orang itu.
Gyan mau ngomong tapi dipotong oleh Kelvin.
“Biar aku yang jelasin.”
Akhirnya Gyan mempersilahkan.
“Ditampar itu, memang sakit. Tapi mendapat makian, jauh lebih sakit. Setelah berantem sama Gilang, aku jadi sadar, kalau rasa tidak bisa dipaksakan.”
“Oh.” kataku sinis.
“Namanya juga cowo, ya ga terima kalau digituin.” timpal Arya.
“Oh.” kataku masih sinis.
Wajah Arya berubah masam.
Aku ga pedui. Dia sama jahatnya dengan Kelvin, membuat Gilang tampak buruk. Meski memang dia buruk.
Ah! Aku sangat kesal. Saking kesalnya bikin kepalaku makin pusing, dan mual. Begitu muak dengan tingkah Gilang yang seenaknya.
Dia mendekatiku tapi masih mau pergi jalan dengan wanita lain. Lelaki macam apa itu?!
“Gini, aku jelasin aja dari awal.” kata Gyan.
__ADS_1
Mungkin dia makin merasa aku tidak nyaman dengan kehadiran mereka. Kalau begitu, syukurlah. Aku juga berharap mereka bertiga segera pergi. Tapi, aku tidak keberatan jika Gyan tetap tinggal. Hanya saja, aku masih mau sendiri, tidak diganggu begini.
“Paginya, Gilang datang terus naruh kakinya di atas meja Kelvin. Nah, Kelvin ga terima, terus nyamperin Gilang sambil nantang. Terus Gilang nampar Kelvin sampai dia jatuh,”
“Nubruk meja juga.” tambah Arya seakan meledek Kelvin.
“Diam! Orang lagi ngejelasin juga.” kata Gyan.
Arya terkekeh dan meminta maaf.
“Abis itu, Kelvin mau balas, tapi ditahan sama Arya. Nah, udah, giliran kamu, tuh.” ucap Gyan menjelaskan.
“Oke. Aku yang coba ngelerai, karena tahunya Gilang mau mukul lagi atau sejenisnya. Eh, ternyata engga, dia cuma diam di depan kami. Ya, ga, Vin?”
Kelvin ngangguk setuju, tapi bisa kulihat ekspresinya benar-benar menyesal.
“Oh.” kataku acuh. Aku ga peduli dengan penjelasan mereka. Aku juga ga peduli apa yang terjadi pada Gilang maupun Kelvin atau siapapun. Karena mereka juga tidak peduli denganku. Jadi, untuk apa aku peduli?
“Kelvinnya yang mukul Gilang, tapi ga kena. Malah, satupun ga ada yang kena.” ujar Arya semangat.
Aku sempat kaget sebenarnya, tapi ketika ingat Gilang pernah ikut silat, jadi aku percaya.
“Nah, abis itu, Gilang teriak-teriak di lapangan.” Gyan nambahin.
“Oh.” kataku.
Kulihat Gyan menelan ludah dan mukanya juga berubah masam.
“Dia bilang, aku pecundang.” kata Kelvin.
“Hmmm....” Aku menggumam.
“Dia juga bilang, kalau semua laki yang bisanya bikin cewe sakit, laki itu pecundang.” tambahnya.
“Iya, dengerin, tuh!” timpal Gyan seakan mengajak aku untuk menyetujuinya.
Dia benar-benar jahat!
Baru PDKT saja, dia sudah menorehkan luka seperih ini, apalagi nanti setelah pacaran? Apalagi kalau udah nikah? Aaah! Aku yakin, dia cuma akan terus melakukan hal yang sama. Semua pria emang sama: Egois!
Ga mau cewenya dekat sama cowo lain, eh, dianya seenaknya sendiri dekat-dekat cewe lain, bahkan jalan sama mereka. Adil, kah?!
“Aku, benar-benar menyesal, aku janji ga bakal ngulangin lagi.” Kelvin jawab.
“Ya.” kataku ketus.
Hening. Suasana mendadak menjadi sunyi. Bagiku ini lebih baik, mereka bisa pulang sekarang.
Tapi mendadak Arya kembali ngomong, membuatku risih. “Oya, Gilang juga bilang, kalau, jangan memaksa cewe buat sayang sama kamu, apalagi dengan kekerasan. Tapi bantu dia, terus usaha buat dia senang, meski, tuh, cewe ga mau sama kamu.” kata Arya.
“Ya.” Aku jawab.
“Dia juga gebukin Kelvin.” tambahnya cepat.
“Ya.”
“Gilang juga diseret ke BP.”
“Ya.”
“Dia hampir dikeluarin.”
“Ya.”
“Dia juga bilang kalau aku berengsek.” Arya menambahkan seakan tidak mau diacuhkan.
“Emang.”
__ADS_1
Mendadak Arya berdiri menantangku. “Dengar, ya, kami ke sini buat minta maaf. Kamu jangan gitu terus, kenapa?!”
Kupandang jijik ke arahnya. “Kamu maksa aku?”
Kelvin bangkit, lalu menarik tangan Arya dan memaksanya untuk duduk. Kulihat wajahnya sangat marah.
Sebenarnya aku mendengar udara menyampai-kan suara Gilang: “Aku senang melihatmu bahagia. Meski kita ga jadi pasangan sekalipun, tapi aku bakal tetap bikin kamu bahagia.”
Kupandang ke arah Kelvin. Lebam di mukanya memang cukup parah.
Sepertinya, aku harus merelakan semua sakit yang kurasakan karenanya. Lagi pun, dia sudah mendapat balasan yang setimpal dari Gilang. Dan yang terpenting, Kelvin tampak benar-benar menyesali perbuatannya.
Tapi, semua sakit ini tak mudah kulupakan, meski aku memang sudah ikhlas dengan perbuatannya waktu itu. Tetap saja, kertas yang sudah diremas hingga kecil takkan pernah bisa dirapikan hingga kembali seperti semula, masih akan jelas terlihat goresannya.
“Fi, tolong, berikan kesempatan buat kami memperbaikinya.” kata Kelvin dengan sangat pelan.
“Udah abis kesempatan kedua karena tadi.” jawabku marah.
Arya makin jengkel, matanya penuh akan amarah. Kemudian, dia permisi keluar, mungkin untuk mencari udara segar. Lalu Kelvin menyusulnya.
Biar saja, tak ada urusannya denganku. Kalau-kalau dia membenciku, ya, biarlah. Aku juga ga butuh teman model kayak dia.
“Fi,” sapa Gyan gemetar.
“Ya.” Aku jawab cepat.
“Maafin mereka, ya.” pinta Gyan sambil mengelus tanganku.
Kualihkan pandanganku ke arah lain.
“Fi....” panggil Gyan. Aku tahu, nadanya penuh rasa takut. “Maafin, ya? Itu kan udah tiga hari yang lalu.”
Kutatap tajam mata Gyan.
Tiga hari yang lalu katamu? Kamu ga tahu, Yan. Selama itu, aku sangat tersiksa. Tiga hari itu, Kelvin dan Arya baru datang buat minta maaf hari ini! Sebelumnya mereka ngapain? Sengaja bikin aku kayak gini? Belum ditambah Gilang yang ga ada kabar.
Tiga hari itu mungkin bagimu, atau bagi mereka atau siapapun adalah waktu yang singkat untuk segera melupakan rasa sakit yang telah berlalu. Tapi tidak bagiku!
Tiga hari itu, waktu yang sangat panjang untukku dikurung di dalam ruang penyiksaan. Air mataku terus mengalir! Hatiku merintih kesakitan! Dan ga ada satu orangpun yang peduli.
Orang tuaku, mereka cuma maksa aku buat banyak makan dan minum yang bagi mereka itu bisa bikin aku kuat. Engga! Aku ga butuh makan dan minum buat sehat, tapi obat hati ini. Aku butuh penjelasan Gilang, aku ga butuh kalian atau siapapun yang menjadi perwakilan untuknya.
Terus, mereka berdua, Arya dan Kelvin, baru datang sekali buat minta maaf, sudah langsung maksa aku biar biasa lagi, gila ya?! Emang aku ga punya hati, apa?!
Tak terasa air mataku mengalir. Gyan langsung memelukku dan mengelus pundaku. Mencoba memberiku ketenangan.
Segera aku melepas pelukannya dan mengelap mukaku.
“Udahlah, Yan. Aku pengin sendiri.”
“Ta-tapi, Fi....” kata Gyan penuh keraguan.
“Tolong, Yan.” pintaku.
Segera aku bangkit dan tertatih-tatih menuju kamar, membiarkan mereka begitu saja.
Aku tidak lagi peduli, aku tidak lagi mau tahu. Kedatangan Arya dan Kelvin justru mengingatkanku pada luka sebelumnya. Terlebih hari ini, sikap Arya yang memaksaku, jauh membuatku makin jijk, hingga sangat mual.
Oya, aku belum bilang, kalau khusus kelasku, yang jenguk siswa sakit hanya boleh 3 orang, dan datangnya harus hari ketiga. Tapi, kemarin, pas hari Kamis, Ateg dan semua teman kelas, termasuk Bu Yuni datang ke rumah, kecuali Kelvin, Arya sama Gyan, ga tahu kenapa, aku juga lupa ga nanya.
Sayangnya, waktu itu, aku hanya bisa berdiam diri, terbaring lemas tanpa bisa menanggapi kalimat mereka.
Ya, setidaknya hari ini, aku jauh lebih.
Dari balik gorden—pemisah antara ruang tamu dan ruang tengah—aku melihat Gyan bangkit lalu mengambil kedua tas milik Arya dan Kelvin yang belum kembali sampai sekarang. Di wajahnya aku bisa melihat penyesalan, rasa kecewa pada dirinya karena belum bisa membuatku merasa lebih baik.
Aku membiarkanya, lalu merebahkan diri di atas ranjangku sambil menatap syal putih pemberian Gilang.
__ADS_1