Lutfi Gilang

Lutfi Gilang
13. Tantangan


__ADS_3

Selama satu minggu penuh, seluruh napi benar-benar dikurung di dalam kamar huni bak hewan-hewan di kebun binatang. Tapi ada yang berbeda dengan kami, tidak bisa mandi. Ya, di ruang sepetak ini hanya mampu menampung dua kasur tingkat dan satu toilet tanpa penutup pintu. Tidak ada kran air, tidak ada shower, dan tidak ada sabun. Aku yakin, kalau kalian melihat kami sudah seperti kotoran kuda. Hmmm.... pasti lebih dari itu. Hitam, menjijikan, dan bikin mual.


Di hari Minggu ini, setelah menjalani kegatalan dan kesumpekan tubuh tanpa bisa mandi, petugas menggiring para napi untuk mengguyur badan mereka bergiliran sesuai dengan blok masing-masing. Kemudian memberikan waktu bebas layaknya hari Minggu yang biasa dilalui.


Tpi kali ini, tak ada transaksi jual beli, sepekan ke belakang para napi tidak bisa menyiapkan untuk hal itu. Makanya, hari libur ini adalah hari yang membosankan, sama membosankannya sewaktu dikurung di balik jeruji besi.


Selain itu, ada hal berbeda lainnya, di depanku banyak berdiri pria yang memberikan tatapan mata tajam. Ada yang menyilang tangan, memasukkan tangannya ke dalam saku celana, posisi siap sempurna, posisi istirahat, pose model, dan sebagainya. Kalau perhitunganku tidak salah, jumlahnya lebih dari 100 orang.


"Ada apa ini? Apa mereka mau membalas dendam mereka padaku di ruang fitnes seminggu lalu?" Aku bertanya-tanya sendiri.


Beberapa saat kemudian salah seorang maju, seketika kuingat dia adalah pria yang membantuku mengalahkan brewok lalu memberi pemukulnya kepadaku sembari bilang: "Kau tidak boleh kalah karena kau yang memimpin kami, bocah."


Perawakan orang itu tampak seperti orang Jawa rata-rata, dari segi fisik aku menimbang umurnya sepantaran Bapakku, 47 tahun. "Sembilan-lapan-nam, akhirnya aku bertemu denganmu lagi." katanya sambil menjulurkan tangan.


Aku menjabat sembari mengangguk.


"Harun, Harun Tohir," tambahnya. "mereka ini orang-orang yang juga mau bertemu denganmu."


"Untuk apa?"


Dia menyeringai. "Tidak perlu basa-basi, kami mau kau jadi pimpinan kami." ujarnya membuatku syok. "Tak perlu terkejut begitu," Harun melanjutkan. "kau hanya tinggal menyetujuinya."


Aku diam, memandang ke arah napi di belakang Harun. Memastikan omongannya barusan.


"Kau tidak percaya?" tanyanya.


"Ah," Anggukku.


Mendadak beberapa orang mengeluarkan diri dari barisan lalu berkata: "Kami menyukaimu, Nak. Kau membuat kami jadi lebih berani."; "Kau juga cukup cerdas seperti pimpinan sebelumnya, bahkan kau lebih licik dari mereka."; "Dan kau pandai berkelahi, itu sudah jadi hal wajib di tempat ini."


Aku menghembus napas. "Kalian lebih tua dariku. Tidak patut orang yang lebih muda memimpin mereka yang tua." ucapku beralasan mencoba menolak hal itu dengan hati-hati. Tidak mungkin aku berbicara seenak jidat, itu hanya akan kembali menimbulkan masalah.


"Yang muda, nantinya juga menggantikan yang tua, Bung." saut Kusnadi.


"Kau sebaiknya diam, pria tua." kataku kesal.


"Ha ha ha.... aku memang mau kau jadi pemimpin di sini. Lagi pula apa salahnya jadi pemimpin, Bung?"


"Dia benar, kau bisa meminta apa pun pada kami, Nak." ucap Harun menyambung kalimat Kusnadi.


"Cukup menarik, lalu apa untunya bagi kalian?" tanyaku.


"Dengar Nak," panggil salah seorang dalam kerumunan. "kami ini berandalan, tidak berpendidikan. Hanya tau cara jadi kriminal. Setidaknya, kami perlu seseorang untuk mengarahkan kami, supaya apa yang bisa kami lakukan jadi bermanfaat. Kalau bisa tidak hanya untuk kejahatan."


Penjelasan pria beruban itu membuat hatiku trenyuh. Tapi, kalau boleh jujur, sungguh rasanya aku sendiri takkan mampu menjadi panutan untuk mereka. Selain karena kondisiku yang jauh lebih muda dan tidak berpengalaman akan segala hal yang terjadi di penjara, aku juga punya tanggungjawab lain yang mesti segera kuselesaikan. Mencari orang-orang Kusnandar supaya mendapat bantuan dari Jaja demi mencari keberadaan Lutfi, kekasih hatiku.


Tapi di sisi lain, aku bisa memanfaatkan momen ini untuk menemukan orang-orang Kusnandar, seyogyanya mencari mereka dalam rutan berkapasitas 1.450 orang akan lebih mudah dengan menerima banyak bantuan.

__ADS_1


Jadi, keputusan apa yang mestinya kupilih?


Aku menggumam cukup lama sebelum akhirnya dari sudut mataku aku melihat Kusnadi mengangguk sambil melempar senyum. Seakan dia mendengar keluhan hatiku.


Aku menghembus napas lalu bertanya: "Apa ada yang bisa gambar sketsa wajah?"


Seringai orang-orang di depanku berkilat, kemudian disusul dua belas orang yang maju ke depan.


"Aku perlu, kalian menggambarkan seseorang dalam khayalanku." kataku.


Mereka mengangguk, lalu salah empat dari mereka mengalihkan pandangan ke belakang dan berteriak: "Ambilkan alat gambarku!"


Lima menit kemudian orang-orang itu kembali dan menyerahkan barang temuannya ke kedua belas pria di depanku.


Aku menjelaskan ciri-ciri Jupri mulai dari bentuk wajah, alis, mata, hidung, bibir, dagu, dan rambut serinci mungkin. Seperempat jam berlalu, setelah mengomentari beberapa gambar, 84% dari mereka berhasil menggambarkan secara jelas perawakan Jupri. Satu di antara mereka hasil gambarnya terlihat lebih mengerikan, dan satu lainnya menggambar terlalu tampan. Namun tak butuh waktu lama bagi kedua orang itu untuk menyamakan gambar mereka sesuai seharusnya.


Dengan kedua belas kertas bergambar wajah Jupri, aku bangkit. Menatap ke arah Kusnadi lalu memberi kode dengan kedua jari tangan kiri membentuk huruf V. Sedetik kemudian pria tua itu melempar sebungkus rokok yang masih utuh kepadaku. Dan aku melemparnya lagi ke salah seorang dari kedua belas pria. "Jatahnya satu-satu." kataku.


Mereka berterima kasih, mengambil bagian mereka lalu kembali ke dalam barisan.


"Aku bakal penuhi kemauan egois kalian, kalau di antara kalian ada yang membawakan orang ini ke hadapanku." Aku berseru sembari mengangkat gambar di tangan kanan tinggi-tinggi.


"Untuk apa?" tanya salah seorang napi dalam kerumunan.


"Dia berusaha membunuh sembilan-lapan-nam," tanggap Harun membuat para pria di belakangnya terkejut.


"Kalian akan dengar alasannya sendiri kalau orang itu sudah ditemukan." kataku.


Mereka mengangguk dengan tatapan mata yakin membuatku merasa lebih lega. Setidaknya, bebanku sedikit berkurang dengan mendapat bantuan dari mereka. Namun itu tidak bertahan lama setelah salah seorang pria dari sekumpulan napi yang baru datang dengan jumlah lebih banyak berkata: "Aku akan bergabung dengan kalian,"


"Siapa dia?" bisikku pada Kusnadi.


"Pimpinan di tempat ini," jawab pria tua dengan nada sama lirihnya.


Aku terperangah mendengar jawabannya, begitu pula para napi di depanku. Mereka tidak bergeming.


Orang itu memiliki perawakan yang tidak jauh berbeda dengan Harun, bisa jadi umur mereka sepantaran. Hanya saja postur tubuh pimpinan tempat ini tampak jauh lebih berisi, dan auranya terasa sangat beribawa. "Ayolah, kenapa kalian semua diam saja?" Dia bertanya. "Aku datang dengan maksud baik,"


Tidak ada tanggapan. Di halaman yang luas ini, hanya terdengar desiran angin, suara langkah sepatu boots, dan mesin-mesin untuk waktu yang lama sampai kemudian pria itu kembali berkata: "Sembilan-lapan-nam, aku sudah banyak mendengar tentangmu."


Aku tidak menjawab. Hanya memandang ke arah para pendukungku.


"Aku tidak menyangka, kau masih semuda ini dan sudah bisa mengumpulkan banyak orang." tambahnya. "Itu hasil yang luar biasa." Dia dan orang-orangnya bertepuk tangan untuk sementara waktu. "Tapi kau tau, aku takkan membiarkanmu memimpin para cecengut-cecengut ini!" Pria itu membentak. Seketika orang-orangnya telah membuat lingkaran, mengepung kami. "Kecuali kalau kau mau bermain denganku,"


Aku masih diam mematung. Memikirkan banyak cara untuk menyelesaikan masalah ini sedamai mungkin.


"Kau tidak bisa menolak. Kecuali kalau kau dan bawahanmu itu siap menghadapi pasukanku," Pimpinan tempat ini mendekat, berdiri di hadapanku, menatapku tajam, tersenyum, lalu berbisik: "dan para sipir."

__ADS_1


Mataku terbelalak mendengar omongannya. Aku menyapu pandang dan tampak para petugas tengah memusatkan senjata laras panjang mereka ke arah kami. "Sialan! Ternyata kabar tentang Direktur yang lebih berkuasa daripada Kepala Petugas memang benar adanya. Apa yang harus kulakukan sekarang?" Aku hanya dapat berkata-kata sendiri.


"Apa yang kau mau?" tanyaku akhirnya.


Dia tertawa. Membalik badan dan melangkah menjauh sembari bilang: "Aku cuma mau taruhan,"


"Taruhan?" Aku mengulang.


"Ya!" serunya lalu kembali menghadap aku. "Kalau kau menang, aku akan menyerahkan tahtaku untukmu." tambahnya kemudian. "Kekuasaanku, pasukanku, uangku, asetku, semuanya akan jadi milikmu!"


Sedetik kemudian kulihat wajah para napi pendukungku menjadi segar, seakan tertarik dengan ajakan pimpinan tempat ini.


"Bagaimana kalau aku kalah?" tanyaku.


"Hmmm.... tentu saja, bawahanmu jadi milikku, dan kau ... harus mati." ujarnya sambil melempar pandangan meremehkan.


Sedetik kemudian para napi pengikutku berseru, tapi langsung berhenti setelah bawahan pimpinan tempat ini memukul perut mereka dengan senja yang dipegang.


Aku menghembus napas. Masih berusaha mencari jalan lain. Mencoba menolaknya.


Saat pimpinan tempat ini mengangkat salah satu jari kanannya, dalam sekejap disusul suara ledakan pistol yang selanjutnya membuat salah seorang dalam kerumunan ambruk dan berdarah-darah dari kepalanya yang berlubang.


Aku tersentak, dan menatap geram orang itu. Dia masih saja melebar mulut. "Sudah kubilang, kau tidak bisa menolak."


"Akan kulawan kau sekarang!" Aku berteriak. Sangat tidak bisa memaafkan perbuatannya barusan. "Aku akan memberinya pelajaran!" umpat hatiku.


Kulihat ekspresinya berubah jijik. "Tch! Kau tidak tau caranya berbisnis." Menggerakkan tangan kirinya, menyuruh bawahannya maju dan menghadapiku.


Aku melakukan serangan kejutan dengan tendangan, tapi bisa ditangkis. Bahkan orang itu berhasil membalas tepat mengenai dadaku. Menghadirkan rasa nyeri seperti sebelumnya. Membuatku sulit bernapas. Aku mencoba menyerangnya lagi. Namun semua usahaku gagal. Orang itu dapat mengatasi semua seranganku dan selalu melakukan counter attack tepat mengenai dadaku. Aku jadi berpikir kalau dia sudah tahu kelemahanku. Tapi, dari mana dia tahu?


Dengan satu tangan pada dada, aku bangkit. Mendekat ke arah lawanku dan kembali ambruk setelah dia menendang kakiku, disusul tendangan ke arah dada berulang kali. "Sialan! Tendangannya sangat keras. Dia selalu mengincar ke arah dadaku." keluh hatiku.


"Cukup!" teriak pimpinan tempat ini menarik mundur brewoknya.


Tertatih-tatih aku berusaha bangkit. "Cukup katamu?! Ini belum berakhir!" Aku berseru, lalu berlari ke arah lawanku, mengarahkan tinju ke wajahnya. Namun itu tidak sampai, justru bogem mentahnya mendarat tepat ke dadaku. Aku terpental dan menubruk tanah.


Beberapa saat kemudian Kusnadi membantuku bangkit sembari bilang: "Cukup, Bung tidak bisa mengalahkannya."


Satu catatan, karena aku lupa menjelaskan kepada kalian. Saat itu Jaja tidak bersama kami, dia telah keluar dari penjara untuk mengurus bayarannya. Memang, seorang penyidik sepertinya bisa keluar dari tempat ini tanpa perlu menyogok banyak uang kepada petugas.


"Lihat, kau baru saja kalah." Dia berkata. "Aku bisa saja menghabisimu dan seluruh anak buahmu sekarang—"


"Sialan!" kataku menyerobot. Namun aku tidak bisa melanjutkan kalimatku karena batuk. Rasanya dadaku sangat sesak, sulit untuk bernapas. Bahkan pandanganku menjadi buram. Seakan aku mau pingsan.


"Tch! Aku akan anggap ini semua salam darimu. Kuberi kau waktu dua hari. Pukul lima. Aku akan menunggumu di tempat perang kalian seminggu lalu." Dia berkata. "Kalau kau telat satu detik saja, hidup orang tua itu jadi milikku." ancamnya. Memunggungiku dan melangkah pergi bersama bawahannya.


Aku masih terbatuk sampai akhirnya jatuh pingsan.

__ADS_1


__ADS_2