Lutfi Gilang

Lutfi Gilang
33. Nikah Rasa


__ADS_3

i


Di depan kamar mandi, Gilang duduk di kursi sambil menyeruput sekotak susu cokelat. Senang aku melihatnya.


Kenapa? Cowok mana coba yang kayak Gilang? Mau menunggu pasangannya, dengan sekotak susu cokelat.


Kalau cowok lain, biasanya jelas keberatan dengan hal itu, terlebih mereka akan menanti sambil menyeruput rokok dan bermain ponsel.


Kuberitahu padamu, cowok yang jenis begitu, itu, biasanya cenderung pemarah dan seenaknya sendiri.


Menurutku pribadi, sih, pasangan yang terbaik itu ialah dia yang tidak akan melakukan kebiasaan buruk untuk dirinya apalagi untuk pasangannya.


Jadi, kalau kamu lagi dekat sama cowok yang kebiasaannya buruk (pemalas, perokok, suka banget ngeledekin cewe lain, dan penghambur uang) yang kamu beri nasehat dan ga digubris sama dia, mending stop buat maksain diri ngejalani hubungan sama cowok itu. Aku yakin, kamu akan menyesal nanti setelah memiliki hubungan dengan cowok model begitu.


Kalau kamu tidak percaya, ya terserah!


Di kamar mandi, aku langsung saja mengenakan pakaian yang Gilang kasih. Celana bahan item, kaos putih lengan panjang bertulis: “Always Gilang” berukuran cukup besar di bagian tengah. Ada juga hashtagnya: #in_my_heart, tapi kecil, di bawah tulisan sebelumnya. Semua itu berwarna biru dongker.


Langsung saja aku berasumsi kalau maksudnya Gilang, aku makai kaos ini supaya Gilang selalu di hatiku. Aduuuh.... kejutan yang biasa namun istimewa bagiku.


Dan jika boleh menebak, aku yakin kaos yang Gilang pakai pasti tulisannya: “Always Lutfi”


Aaah.... aku jadi ga sabar, pengin cepat lihat Gilang kayak gimana.


Terus aku makai jaket yang di dada kiri bertulis: “Always LG” dengan warna putih namun berukuran kecil.


Aku yakin LG itu maksudnya: “Lutfi Gilang”


Terus aku kaget, ternyata aku juga diberi kaos kaki dan.... sepatu! Iya sepatu. Warnanya juga biru dongker. Sepatu khas cewe, ada pitanya juga. Aku suka.


Gilang benar-benar memberiku pakaian ganti, dari atasan hingga bawahan dan bagian paling bawah, sepatu.


Coba aku tanya, cowok yang lagi dekat sama kamu, pernah ga ngasih satu paket, kayak yang Gilang kasih ke aku?


Jangan iri loh. He he he.


Setelah selesai dan memasukan seragam olahraga serta sepatu kets ke dalam keresek aku keluar dan menghampiri Gilang yang mendadak mematung menatapku.


“Gimana?” Aku nanya karena minta pendapat.


Kulihat senyum di bibirnya merekah lebar. “Makasih.”


“Hah?” Aku kaget. “Aku yang harusnya bilang, makasih.” kataku lalu duduk di sisinya. “Udah, gantian kamu sana.”


Gilang ngangguk lalu bangkit. “Oya, maaf, aku bakalan lama.”


“Loh, kenapa?” tanyaku.


“Mules.”


“Kok, bisa?”


“Kayaknya tadi pas makan mie ayam, sambalnya kebanyakan. He,”


“Wuuu.....” Aku berseru tapi manja, ketawa juga.


Gilang masih ketawa sambil melangkah dan masuk ke dalam WC yang kugunakan sebelumnya.


Sambil menunggu aku menggeledah tas milik Gilang, sungguh ga tahu kenapa, saat itu aku sangat penasaran.


Ada parsel, mungkin itu oleh-oleh dari Jakarta. Terus ada beberapa buku yang aku yakin itu pasti buatannya, salah satunya novel berjudul, Itu bukuku. Selanjutnya, kunci motor, dua jam tangan couplle—aku nebak itu pasti buat aku nanti. Semoga saja. he he he. Ada juga sebuah kotak kecil warna merah, ga tahu apa isinya, aku ga berani buka, dan hp miliknya.


Kuambil, dan kubuka-buka seperti sebelumnya. Agak beda dari sebelumnya, sih, kini selain kontakku, ada juga nama Pak Zurri, yang katanya editornya. Di bagian pesan juga hanya berisi pembahasan Gilang dengan Pak Zurri seputar karyanya.


Kemudian aku beralih pada folder gambar, tak ada isi di dalamnya kecuali sebuah tulisan tangan yang dibaca: “Lutfi Nurtika” Iya, itu namaku. Terakhir, di bagian video. Hanya ada satu. Segera kupencet tombol untuk memutarnya.


“I-ini rekaman videonya Gilang di Jakarta.”


Di sana, aku melihat Gilang memakai pakaian serba putih. Dari kaos, jaket, topi, sampai celana sama sepatunya.


Waaah.... pokoknya ganteng, deh, Gilangku.


Di video itu Gilang ngomong: “Novel, itu bukuku, sebenarnya memang diadaptasi dari kisah nyataku sendiri. Di mana, aku dipertemukan dengan seorang wanita hebat, cantik, baik, murah senyum, dan selalu bersemangat dalam hal apapun. Dari dia, aku sadar, bahwa hidup tidak sebatas satu hal, yang hanya kita sukai, tapi hal-hal baru yang belum dikuasai, atau bahkan belum pernah diketahui. Jadi, aku sangat berterima kasih kepada wanita yang selalu duduk di sisiku. Dia, adalah wanita pertama yang kuidolakan. Dia, Lutfi Nurtika.... dan semuanya, tertuang dalam buku ini, itu bukuku.” kata Gilang berargumen.


Sedang para penontonnya, yang berjumlah ratusan, ikut berseru “Itu bukuku!”


Kemudian tepuk tangan bergemuruh di sana.


“Dan kalau dia nonton tayangan ulang, kalau ini direkam.... eh, direkam ga, sih?” tanyanya kepada kru, membuatku terkekeh. “Oh, iya. Ternyata direkam. Alhamdulillah.” Di sana, di video, orang-orang juga pada ketawa. “Baik, aku ulang, kalau aku diberi kesempatan buat ngomong lagi sama dia, aku mau minta maaf karena tidak bisa menemukannya hari itu di Banyumas, dan aku mau bilang, aku ke Jakarta buat ngasih tahu semua orang, kalau aku cinta kamu Lutfi Nurtika.”


Sontak tepuk tangan dan seruan menggema di sana. Sedangkan di sini, aku sangat terkejut dan tersentuh. Sangat tidak percaya dia bilang begitu di depan orang banyak.


Kukembalikan ponsel itu pada tempatnya, lalu kulihat benda terakhir. Itu adalah sebuah buku berukuran 15x10cm dengan warna cokelat gelap.


Kuambil buku itu yang langsung kutebak, itu adalah buku harian milik Gilang. Dan sesuai dugaanku, itu memang buku diary-nya.

__ADS_1


Aku membukanya dengan berjuta rasa gembira, karena aku akan tahu apa yang Gilang rahasiakan dariku, dan semua orang.


Pada beberapa halaman pertama, hanya berisi tentang biografi Gilang. Mulai dari nama lengkap, nama panggilan, tempat dan tanggal lahir, zodiak, golongan darah, jenis kelamin, agama, hobi, cita-cita, serta idolanya. Lucu. Aku juga ketawa sendiri pas bacanya.


Yang membuatku terkejut adalah di sana tertulis namaku untuk bagian “Tokoh yang Kuidolakan” Dan ketika kuamati dengan teliti, dia menulisnya tanggal 24 Juni 2010. Itu bahkan sebelum masuk sekolah.


Saking terkejut dan penasaran, aku membaca bab berikutnya, di sana tertulis judul: “Aku terpana pada pandangan pertama.”


Isinya tentang Gilang yang sedang sendirian duduk di taman dengan dera hujan yang mengguyur sekujur tubuhnya, lalu seorang wanita menghampiri dia dan memberinya payung. Kata wanita itu, “Hatimu boleh sakit, tapi tubuhmu jangan diikutkan.” Dan wanita itu tiada lain ialah aku, Lutfi Nurtika.


Aku tersentak kaget, juga kagum. Aku tidak menyangka, Gilang menulis kejadian itu, yang bahkan aku sendiri telah lama melupakannya, dan menganggapnya tidak penting. Aku juga tidak percaya, kalau Gilang ternyata adalah seorang pria yang tidak sengaja kulihat sedang duduk melamun di dekat sungai, padahal sedang turun hujan.


Beralih pada bab selanjutnya. Itu adalah tentang masa-masa MOS, ketika aku berulang kali telat dan mendapat hukuman. Gilang menuliskan segala rasa penyesalan karena tidak membantuku. Bahkan, aku kaget setelah membaca, kalau dia sengaja datang telat hanya demi meringankan tugasku.


Aku ingat sekarang, dulu memang ada seorang siswa yang selalu dipasangkan denganku untuk menjalankan hukuman. Tapi, aku tidak pernah melihat wajahnya, bahkan kami ga pernah saling ngobrol.


Aaah! Aku benar-benar terharu dengan apa yang telah Gilang lakukan.


Bab lima:


“Hari Jumat, secara tidak sengaja aku berpapasan denganmu di trotoar depan SMAN Ajibarang, tapi aku yakin kau tidak memperhatikanku. Memang itulah dirimu yang tidak akan melirik ke arah seorang pria. Tapi waktu itu aku mengembalikan dompetmu yang tidak sengaja terjatuh.”


Bab enam:


“Hari Minggu, kita ketemu lagi di toko yang sama untuk membeli perlengkapan MOS yang ternyata hanya tinggal sebuah, dan ternyata kau juga sedang mencari benda itu—tongkat morse—jadi aku menolak untuk membelinya agar kau bisa mendapatkannya.”


Bab tujuh:


“Hari Senin, untuk pertama kalinya kelompok kita berdekatan, aku jadi melihat wajahmu yang tersenyum lebar dengan jelas. Saat itu, secara tidak langsung, kau membantuku untuk melukis dirimu, meski hanya sekadar siluet.”


Aku langsung mengingat lukisan yang dipajang di kamar Gilang. Ternyata dia buat sudah sangat lama.


Bab delapan, sembilan, hingga lima belas adalah masa-masa setelah pembelajaran dimulai. Gilang hanya melukiskan tentang kekagumannya kepadaku, dan segala rasa tidak percaya dirinya atas apa yang dia miliki.


Tapi sungguh, yang dia tulis, yang selalu diperhatikan olehnya hanyalah tentangku, segela hal yang sedang kubutuhkan.


Aku, sangat sedih saat dan setelah membacanya. Di sana, Gilang terus menjaga rasa cintanya untukku. Bahkan, tidak ada sedikitpun kemarahan yang tertuang saat aku jalan dengan Kelvin. Justru dia menyesal, karena belum bisa menjadi pria yang pantas untukku, sampai aku menolak pulang bersamanya dan memilih dengan pria lain.


Aku menangis sejadi-jadinya. Terlebih setelah kubaca tulisannya saat kejadian empat hari kemarin, yang berisi ratusan kata penyesalan, kesedihan, dan permintaan maaf karena belum bisa menghubungiku.


Dia selalu memperhatikan hal kecil tentangku, dia tidak pernah memaksakan rasanya agar dibalas dengan hal serupa, dia juga tidak marah kepadaku yang mendadak pergi dengan pria lain. Semua tulsannya, hanya berisi tentangku, tentang kebaikan diriku, yang bagiku itu tidak pantas dia tulis.


Aku tidak sebaik yang kamu pikirkan, Gilang. Aku hanya wanita biasa yang tidak bisa apa-apa, aku hanya wanita biasa yang terus membuat masalah, aku hanya wanita biasa yang sangat mudah cemburu. Bahkan, aku sudah menganggpmu jahat.


Maaf, maaf, maafkan aku Gilang. Maaf. Aku benar-benar beruntung dicintai oleh orang sepertimu.


“Aku tidak peduli bagaimana kamu memandangku, bagiamana kamu menganggapku, bagaimana rasamu untukku, terserah! Aku hanya peduli dengan apa yang kamu butuhkan. Karena kamu idolaku, karena kamu aku dapat menikmati warna-warni dari indahnya dunia, karena kamu adalah orang yang paling kucinta, Lutfi Nurtika.”


Mendadak Gilang memanggilku, membuatku tersentak hebat. “Kamu kenapa nangis?”


Kulihat ke arahnya. Wajahnya tampak sangat khawatir. Dan sesuai dugaan, dia juga memakai jaket dan kaos bertulis: “Always Lutfi” dengan hashtag: #in_my_heart, celana bahan item, dan sepatu kets biru dongker. Pokoknya tampan, deh.


Gilang nyamperin aku lalu mengusap air mataku dengan lembut. “Ada apa?”


Sebetulnya aku ingin langsung memeluknya. Tapi aku ingat Gilang melarangku untuk melakukan hal itu, dan aku yakin alasannya karena kami belum resmi menjadi suami-istri yang secara sah diakui oleh agama dan negara. Jadi aku menjawabnya dengan menggeleng, lalu memberinya buku kecil itu.


Gilang kaget, raut wajahnya kini berubah ketakutan. “Maaf,”


Kuraih kedua tangannya. “Gilang,”


Dia menatapku ragu-ragu.


“Makasih, ya?”


“Hah? Bu-buat apa?”


Aku senyum, lalu kutarik tangannya agar memegang pipi kiriku. Sungguh aku sangat nyaman dengan hal ini.


Mendadak Gilang bangkit begitu saja, menarik tanganku untuk melangkah. Kemudian menaruh tas dan segala tentengan lain di motor, lalu mendekat ke arah pantai dengan keresek hitam panjang di tangan kanannya.


Belum juga sampai, aku kaget setelah melihat batu-batu laut yang disusun hingga membentuk love, di sisi kirinya tampak nama lengkapku, sedang sisi sebaliknya tertulis nama lengkap.


Apa pas Gilang nunggu aku ganti, dia bikin ini? Tanya hatiku.


Aku memasuki bentuk love bersama dengan Gilang yang terus menggenggam tanganku. Setelah tepat berada di dalamnya Gilang memberiku keresek hitam panjang tadi. “Untukmu,” katanya.


Aku senyum dan menerimanya, kubuka isinya. Sesuai dugaan, ini bunga mawar. Kucium aromanya. Hmmm.... wangi nan menyegarkan.


Kini Gilang senyum, lalu dia mengambil kotak merah kecil dari dalam saku celananya. Kemudian menatapku tajam. “Fi....” panggilnya.


“Iya.”


Sesaat angin berhembus manja seakan mengiri nuansa romantis untuk kami berdua. Kicauan burung dan debur sang ombak turut menjadi penghias yang tiada sanggup kutuliskan betapa bahagianya aku bersama Gilang waktu itu.


Dia membuka kotak merah di atas telapak tangan kirinya.

__ADS_1


Kulihat ada sebuah cincin putih dengan lima mata putih mengkilap yang di bagian tengahnya paling besar, mirip seperti mahkota putri raja. Langsung saja, aku menganggap Gilang mau melamarku.


Aku senyum, dia juga.


“Aku mau kita nikah.” katanya tiba-tiba.


“Hah?!” Aku berseru keras saking kagetnya, padahal sebelumnya aku sudah yakin dia akan bilang begitu, tapi tetap saja, aku tidak bisa membohongi rasaku ini.


Jadi selama lima menit, aku diam, tak sanggup berkata-kata. Sungguh, aku tidak tahu apa maksudnya dia mendadak seperti ini.


Aku memang berharap memiliki hubungan khusus dengannya, dan aku juga memang berharap hubunganku dengan Gilang lebih daripada sekadar pacaran. Tapi, ini, ini terlalu berlebihan!


Maksudku, aku ini baru 16 tahun, wanita berusia muda yang baru remaja dan akan dewasa, tapi dia sudah bilang begitu. Apa Gilang ga salah ngomong? Apa dia cuma ngelawak? Aaaah, aku benar-benar bingung.


“Fi....” Dia manggil, membuatku sedikit takut. “Ga usah jawab sekarang, kamu boleh nolak ak—”


“Engga!” seruku memotong kalimatnya.


“Hah?” Dia kaget.


“Aku, ga nolak kamu....” kataku malu-malu. “tapi, kita ini masih SMA, Gilang.”


“Kalau gitu, kita nikah rasa aja.” jawabanya cepat.


“Nikah rasa? Ma-maksudnya?”


“Iya, kalau nikah KUA itu diakui secara sah oleh negara, terus kalau nikah agama itu diakui sah secara agama dan boleh berhubungan badan. Nah, kalau nikah rasa itu diakui sah oleh seluruh pemilik rasa.” katanya membuat hatiku bergetar.


Aku ketawa mendengarnya. Aneh memang, tapi lucu. Mana ada orang yang minta nikah rasa kayak Gilang?


“Terus, caranya, gimana?”


Gilang senyum. “Ikuti, ya?”


Aku ngangguk.


Tangan kanannya kini memegang tangan kananku, sedang tangan kirinya menempel di dada kanan. Langsung saja, kuikuti aksinya tanpa perlu dikomando.


“Kepada Sang pemilik rasa,” kata Gilang.


“Kepada Sang pemilik rasa,” kataku.


“dan seluruh pemilik rasa,”


“dan seluruh pemilik rasa,”


“saya Rizky Gilang Kurniawan,”


“saya Lutfi Nurtika,”


“menyerahkan segala rasaku untuk Lutfi Nurtika.”


“menyerahkan segala rasaku untuk Rizky Gilang Kurniawan.”


“Dan hari ini, kami resmi nikah rasa!” teriak Gilang.


“Dan hari ini, kami resmi nikah rasa!” teriakku.


Gilang memandangku, aku juga memandangnya. Kemudian, dia mengambil cincin itu dan menaruhnya di jari tengah tangan kiriku.


Hatiku bergetar hebat. Aku sangat senang, hingga air mataku mengalir. Gilang juga demikian.


Angin, debur ombak, kicauan burung, dan segala hal di sekitar kami menjadi saksi bisu atas semua kalimat yang kami berdua serukan bergiliran.


Bersama Gilang, di bumi, menjadi tempat yang paling cocok untuk aku hidup selamanya! Dan hidup menjadi lebih menarik lebih dari apapun. Aku, tidak salah lagi mencintainya.


Itulah harinya, kami berdua berikrar dan menikahkan rasa kami.


Sabtu, 11 Agustus 2010 di pantai Menganti. Akhirnya Gilang benar-benar mengabulkan segala keinginan terpendamku selama ini. Dia, Gilangku, dia adalah milikku masa SMA.


🌹🌹🌹


Aku di Istanbul, Turki.


Air mataku tumpah ruah membasahi kado ulang tahunku. Tak sanggup aku berkata-kata. Apalagi merasakan bagaimana ketika kamu menulis semua ini. Tapi ada secercah harapan yang berbisik di telingaku, seakan memberitahu kalau kau menulis semua kisah itu seakan-akan kau sedang mengalaminya, hingga membuatku tertarik dan masuk lebih jauh ke dalam kisahmu dan aku yang dulu, dulu sekali, lebih tepatnya, sembilan tahun lalu.


Kini, aku sudah memantapkan diri. Aku berhenti disepertiga buku diary-mu, untuk segera merampungkan kisah ini ke dalam satu buku, dan akan melanjutkan kisah kita di buku kedua nanti. Mungkin, dan semoga saja waktu masih mau memberikanku kesempatan untuk kembali membaca tulisanmu dan menulis ulang agar bisa dijadikan sebagai bacaan yang takkan pernah habis dimakan usia.


Aku sangat berharap, dengan orang-orang yang membaca kisah kita, nanti, akan menuntunku untuk segera menemukanmu. Kamu yang entah di mana sekarang.


Aku sangat merindukanmu Lutfi sayangku.


Apartemenku, 5 April 2019


Rizky Gilang Kurniawan

__ADS_1


Lelaki yang terus mencarimu,


Lutfi Nurtika.


__ADS_2