
Terik Sang Surya menyinari salah satu bagian tempat laundry. Nyalanya teramat terang hingga terasa membakar kulit kalau kau berdiri lima menit saja di bawah genteng kaca. Dalam ruangan besar yang memantulkan suara dengan cukup sempurna, aku masih bertatap wajah bersama penguasa gedung ini, Burhan.
Tingginya rata-rata tinggi orang dewasa di Nusantara, kulit sawo matang, berbadan makmur dengan kelebihan otot perut, wajah kotak, dagu bulat, mata sipit, cukuran rambut cepak, kumis tipis dan tanpa jenggot. Demikianlah caraku menggambarkan fisiknya, aku harap kalian bisa membayangkan sendiri seperti apa Burhan itu. Satu yang pasti, selain keganasannya, dia homo.
Tentunya, hal itu yang memaksa aku membuat jarak kepadanya. Aku sangat tidak ingin duduk sejajar apalagi hanya berdua bersama pria tak senonoh sepertinya. Walau aku memang perlu informasi dari orang itu.
"Apa kau bisa mengantarkan kami? Kami perlu menyapa orang-orang yang dibayar sepertimu." ucapku.
"Kau tau siapa saja mereka?" tanya Burhan.
"Tidak. Itu kenapa aku memintamu menjadi pemandu." Aku menjawab.
"Cuih! Lihat!" serunya sembari melebar tangan. "Dari badanku, harusnya kau tau, aku tidak suka jalan-jalan. Aku lebih suka pantat yang padat. Kan, swearheart...."
"Ya tampan," saut orang-orang di belakangku.
"Kau bisa bermain nanti, aku perlu informasinya sekarang." kataku mendesak.
"Kenapa kau buru-buru? Kita bisa menemui mereka kapan pun. Lagi pula, aku belum dapat bayaranku." tanggap Burhan dengan seringai penuh kegirangan.
Aku membalik badan, menyuruh orang-orangku meninggalkan tempat ini.
"Cuih!" Aku yakin dia meludah. "Kau pandai menawar rupanya."
Aku berhenti berjalan. menoleh ke sisi kiri. "Aku takkan meminta dua kali."
Burhan mendengus. Lalu bangkit dari batangan besi yang sedari tadi dia duduki. "Ikut aku," ajaknya.
Aku mengikuti langkah pria itu setelah memberi isyarat kepada Kusnadi dan Jaja untuk kembali ke kamar huni. Kami hanya mengantisipasi kemungkinan terburuk kalau-kalau napi yang kami temui nanti tahu bahwa pria tua adalah orang yang mereka cari-cari selama ini. Jika benar begitu, sama saja aku memberi peti harta karun kepada mereka cuma-cuma. Sedang bayaran yang kami bawa—sebungkus rokok, beberapa biji kopi, dan kelima homo ikut bersama bawahan pria homo.
Sekitar dua meter jarak di antara aku dan Burhan dalam menyusuri berbagai koridor, melalui para penjaga dengan begitu mudahnya tanpa perlu memberi uang tutup mulut. Akhirnya kami sampai di tempat yang dia katakan sebagai "Pusat Kekuatan". Tampak berbagai alat berat pelatih otot tergeletak di sembarang tempat, beberapa sedang digunakan. Aku juga melihat para napi di sini berukuran lebih besar dengan otot-otot mereka yang kekar, sebagian dari mereka ada yang tengah berlatih tanding, separuhnya menyoraki, dan lainnya berunding sesuatu.
"Sepertinya, kau bakal panjang umur sembilan-lapan-nam," ucap salah seorang napi yang dari nomor tahanannya aku bisa segera tahu kalau dia adalah Mabonk, "M-480-nk". Aku tidak habis pikir, kenapa hanya dia seorang yang nomor tahanannya aneh, ada tambahan huruf segala. Satu yang kuyakini, itu membentuk panggilannya, Mabonk.
"Waaah.... hei, Burhan! Sudah lama kau tidak datang ke sini, Gendut." sambung napi lain yang belum kutahu siapa dia. Sebut saja 560.
"Siapa yang kau panggil Gendut, brengsek?!" geram Burhan.
"Waaah.... kebetulan sekali, kebetulan. Aku memang ingin bertemu denganmu." sapa tahanan bernomor 101 sembari mendekat ke arahku.
Aku mengangguk, lalu kembali menyapu pandang, memahami muka para kriminal di tempat ini satu persatu. Dan sebetulnya aku juga mencari keberadaan Jupri, barang kali dia di sini. Aku yakin betul kalau dia adalah orang bayaran Kusnandar Singodiredjo. Mungkin aku salah, mungkin juga dia bersembunyi. Yang manapun, aku tetap harus fokus karena aku sudah masuk ke sarang heyna.
"Ada urusan apa kau dengan orang ini?" tanya Burhan.
"Aku hanya ingin memastikan, apakah dia sesuai rumor yang beredar." jawabnya lalu melakukan serangan kejutan yang nyaris mengenaiku. Dan wajah pria itu berhenti berekspresi setelah aku membalas dengan cepat, hampir mencengkarm wajahnya setelah mengelak. Pria itu menghembus napas keras hingga hangatnya mengenai telapak tangan kananku. "Aku akui bocah ini punya sesuatu yang menarik." Kemudian membalik badan dan kembali pada gerombolannya. "Ke mari, ada yang perlu kami tanyakan."
Aku ngangguk. Melangkah masuk lebih dalam. Dari kelima gerombolan napi di depanku, selain Mabok dan tahanan 101 serta 560 yang sebelumnya mengejek pria homo dengan julukan "Gendut", aku juga melihat Herman. Seperti biasa dia tetap memasang wajah kantuk meski telah bilang: "Berani juga kau ke sini, brengsek!" Satu lainnya, belum kutahu siapa dia.
"Apa aku melewatkan pertemuan lagi?" tanya Burhan setelah berlangsung keheningan cukup lama.
"Tidak, Gendut. Kami bahkan baru mau memanggilmu." jawab tahanan 560.
"Nyatanya kau justru datang sendiri, bahkan repot-repot membawa orang penting ke sini." tambah 101.
"Orang penting? Apa maksudnya?" Aku bertanya-tanya sendiri.
"Aku tidak membawanya, dia yang minta diantar ke sini." saut Burhan membuat orang-orang di depannya terkejut.
"Buat apa?!" tanya Herman sedikit berseru.
__ADS_1
"Kau nantang perang, bocah?!" Tahanan 560 menyambung.
"Sudahlah, mari kita dengar alasannya dulu." serobot tahanan tanpa nomor. Dia tampak sudah berumur, mungkin telah berkepala lima. Wajahnya keriput, dan seluruh rambut kepalanya putih.
"Aku ingin kalian bekerjasama denganku," kataku.
"Pfft! Ha ha ha.... apa aku tidak salah dengar?!" Tahanan 560 berseru.
"Apa kau sedang bergurau sembilan-lapan-nam?" tanya tahanan 101.
"Cuih! Aku takkan percaya." ujar Herman.
"Lanjutkan," pinta napi tanpa nomor tahanan.
"Hmmm...." gumamku.
"Tak ada yang gratis di sini, Nak. Ceritakan semuanya. Kami akan menilaimu." titah pria tua.
Aku mendengus, tapi bicara juga. "Aku dengar kabar, kalau kalian tidak lagi dapat jatah kiriman dari orang itu."
"Orang itu?" ulang 101 memastikan pendengarannya. Lalu menatapku tajam.
Dengan pandangan yang sama seperti kawannya, Herman meruncingkan alis. "Kurang ajar! Kau sudah tau banyak rupanya."
"Iya, kah? Bocah ini tau soal Kusnandar?" celoteh 560 membongkar rahasia mereka. Seketika tinju pria tua mendarat pada wajahnya, membuat dia tersungkur mencium lantai.
"******!" bentak Herman kemudian. "Mulutmu sudah seperti ember bodol! Ngomong ora bisa mikir!"
"**** ember!" tambah tahanan 101.
"Sudahlah, sudah." serobot Burhan. "Sembilan-lapan-nam memang sudah tau rahasia kita,"
"Hah?!" Herman, 560, dan 101 berseru kompak. Sedang pria tua hanya memberikan tatapan menusuk.
"Keparat!" keluh Herman.
"Lihat! Dia sendiri sudah tau tenang kita, kah. Tak perlu sampai membentak seperti tadi. Walau hitam gini, aku juga manusia! Diskriminasi ini namanya!" ucap 560. Ya, dari sudut pandanganku aku sudah bisa menebak kalau dia orang Timur. Kulit hitam, bibir tebal, mata besar, rambut keriting, cara ngomong berirama, menjadi ciri khas dari mereka.
"Diam!" bentak pria tua, suaranya menggelegar di ruang menggema ini. Dia menatapku tajam. "Katakan apa yang kau tau,"
"Temanku mendengar soal makar di ruang laundry siang tadi. Mereka bukan Burhan atau bawahannya, karena Burhan sedang mandi waktu itu, dan aku bersamanya." kataku menjelaskan.
"Kikiki...." Tahanan 560 ketawa mirip suara tikus rumahan. "dia mencabulimu, kah?"
"Lucas!" bentak tahanan 101.
"Kenapa? Aku cuma mau tau. Salah, kah?" tanyanya.
"Tidak, Si Brengsek ini membuatku pingsan lebih dulu." tanggap Burhan.
"Tak usah menyombong kekalahanmu itu, banci!" seru Herman.
"Kau bilang apa, muka dagu?!" gertak Burhan.
"Lanjutkan," ujar pria tua tak memedulikan kebisingan di sekelilingnya.
"Waktu jam bebas, aku mencuri dengar obrolan napi, mereka mengeluh soal mesin rusak, air kecil dan sebagainya. Aku yakin, itu soal tempat laundry." kataku kemudian. "Mereka orang-orang Herman dan Lucas. Si Kulit Hitam dan Ateng, Yusuf."
Kulihat pimpinan blok ujung dan orang Timur itu tersentak sebelum akhirnya kembali memandangku tajam.
__ADS_1
"Lalu, apa hubungannya denganku?" tanya tahanan 101.
"Hampir semua orang di sini tau, setiap pimpinan blok sering kumpul sewaktu-waktu. Meski entah di mana. Dan aku sulit menerima kalau di antar kalian ada yang punya kerjaan rahasia untuk kepentingan sendiri. Lebih singkatnya, kalian jadikan kerjaan sebagai taruhan. Siapa yang bisa menyelesaikannya lebih dulu, dia bakal merauk untung lebih banyak." ujarku berargumen.
Kulihat pria tua meringis. "Aku suka cara pikirmu, tapi itu hanya tebakanmu saja."
"Aku tau," jawabku. "jadi aku hanya perlu memastikannya pada bawahan kalian. He," Aku tergelitik. "mereka benar-benar suka ngopi."
"Keparat!" Napi tanpa nomor tahanan berseru seketika. "Mulut mereka sama bodolnya dengan Ibu mereka!"
"****!" tempik tahanan 101.
"Brengsek! " sambung Lucas.
"Dasar bocah-bocah ******!" Herman ikut mengumpat. "Lambe bodol!"
"Woro!" Pria tua kembali berteriak-teriak. "Ajari para kampret itu menjilat tanah supaya mulut mereka tidak gampang disuap!"
"Ya Bos!" pekik salah seorang napi, lalu keluar ruangan bersama dua kawannya melalui pintu Utara.
"Hei, bocah picik!" jerit napi tanpa nomor punggung. "Apa kerjamu sebelumnya?"
"Apa urusanmu mau tau?" Aku balik bertanya.
"Tch! Otakmu itu lebih cerdas dari tampangmu." sambungnya.
"Aku sudah memberikan bayaran yang kau mau." kataku tidak menanggapi omongannya. "Jadi, bagaimana keputusan kalian?"
Dari ekspresi tahanan 101, ucas, Herman, dan pria tua, aku yakin mereka masih sulit menerimaku. Lain halnya dengan Burhan, dia sudah menerimaku karena telah mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan memang kami membuat kesepakatan untuk tidak mengumbarkan kepada kelima rekannya itu.
"Mari gunakan cara lama," kata pria tua beberapa saat kemudian.
"Waaah.... cara lama, kah?! Aku suka itu!" tanggap Lucas.
Seringai di bibir tebal tahanan 101 berkilat. "Aku setuju,"
"Tch! Terserah!" ujar Herman acuh.
Sedang Burhan ikut menyetujui saja.
"Brewok!" seru pria tua setelah mengangguk.
Napi yang dipanggil datang dengan berlari kecil. Lalu berdiri di sisi pria tanpa nomor tahanan.
"Kau harus melawan dia," tambahnya sambil menepuk lengan berotot pria kekar itu.
"Dengar bocah! Bertahan saja tidak cukup, kau harus mengalahkannya." ucap tahanan 101.
"Sembilan-lapan-nam," panggil Herman. "bukan maksud aku peduli. Hanya saja, setiap orang yang melawannya pasti—"
"Mati!" serobot Lucas.
"Jangan asal memotong omonganku, silit panci! " bentak Herman tak terima.
"Siapa yang kau bilang silit panci? Dasar muka dagu!" Dia balas meledek.
"Dia tidak berbohong. Lima orangku mati konyol dengan menantangnya. Kau medti hati-hati sweetie." bisik Burhan.
Kalau saja orang itu tidak memanggilku dengan julukan sweetie tentu aku akan merasa senang mendapat saran darinya.
__ADS_1
"Bagaimana, bocah picik?!"
Aku mengatur napas. Berpikir mustahil untukku mundur sekarang, tapi maju juga memberikan risiko yang jauh lebih besar kepadaku. Namun, sebagai pria, khususnya yang pernah berlatih bela diri, dan sedang membutuhkan kepercayaan para pimpinan blok, aku tidak bisa kabur dari medan perang. Karena setelah aku masuk ke dalam ruangan ini, aku juga sudah memantapkan menghadapi segala hal yang terjadi. Jadi aku menjawab tanya pria itu dengan anggukan kepala.