
Di luar, aku mendapati Direktur duduk di kursi belakang mobil. Dia membuka pintu lalu menyuruhku masuk. Aku menurutinya tanpa kata. Kemudian mobil melaju dengan kecepatan sedang.
"Jadi, kenapa kau mencabut tuntutanmu?" tanyaku.
"Apa itu tidak membuatmu senang?" Direktur balik bertanya.
Aku menghela napas. "Waktunya kurang pas,"
"Apa ada masalah?" tanyanya lagi.
Aku menggeleng. "Aku mau tau kebenarannya." pintaku.
"Dodit Mulyanto sudah menjelaskan semuanya, dia menaruh surat dan koper seratus jutamu di atas meja kerjaku. Lalu menitip salam pada Wasito—"
"Wasito?" tanyaku menyela penjelasan Direktur.
"Iya. Orang lama, bagian pemasaran. Kau tau?" Dia balas menanya.
Aku menggeleng. "Lanjutkan," pintaku.
"Si Wasito ini yang menyebarkan video kau keluar dari ruanganku dengan membawa kopermu, lalu mengambil semua uang di kantorku. Membuat orang-orang menganggap kau yang mencurinya." tambah Direktur.
"Aku ga nyangka, yang nyebar berita malah dalangnya." kataku.
Direktur berdehem. "Itu juga sering ada di novel, bukan?"
Aku mengangguk setuju. "Dari mana kau tau Wasito dalangnya?"
"Pertanyaan bagus!" ujarnya sedikit berseru. "Aku sengaja menunda membagi gaji awal bulan Februari kemarin dengan alasan uang perusahaan telah dicuri. Dan, bodohnya Wasito malah pake baju baru. Ha ha ha, dia sampe beli motor segala." Direktur menjelaskan.
"Mungkin dia punya kerjaan sampingan," tangkisku.
"Tentu saja itu alasan yang dia pake." ucap Direktur. "Polisi sudah menyelidikinya, dan hasilnya.... ya, kau pasti tau sendiri."
"Hmmm...." gumamku.
"Uangmu sudah ada padaku sekarang," katanya. "naskahmu?" pinta Direktur.
Aku mengambil lima buah buku dari dalam ransel lalu menyerahkannya pada pria di sisiku.
Seringainya berkilat. "Kau menyelesaikannya?"
Aku ngangguk.
"Bahkan, aku mengira kau hanya membuat kerangka dan beberapa bab saja." tambah Direktur.
"Aku sendiri juga tidak memercayainya," ujarku menguatkan pernyataan pria di sisiku.
"Apa rahasianya?" tanyanya.
"Rahasia?" Aku balik bertanya.
Direktur menanggapi dengan anggukan kepala.
Aku menggumam sebelum akhirnya berkata: "Bisa dibilang, aku mendapat pesangon."
"Pesangon? Dari siapa?" tanya Direktur kemudian.
"Seorang Ustadz," jawabku. "beliau memberiku nasehat supaya bershalawat. Ujar beliau, jika aku bershalawat maka masalahku akan jadi masalah Allah." Aku menjelaskan.
"Aku kurang paham dengan konteks itu,"
"Gampangnya, kalau aku bershalawat Allah akan memudahkan segala urusanku."
"Hmmm.... jadi kau melakukannya? Shalawat itu?"
"Ah," Aku mengiyakan. "selalu, setiap hendak tidur dan baru bangun."
"Dan itu terbukti?"
Aku mengangguk untuk menjawabi pertanyaan Direktur. "Hasilnya ada padamu, bukan?"
Direktur berdehem. "Siapa nama Ustadz itu?"
"Yusuf Mansur," jawabku.
Kulihat dari kaca mobil, wajah Direktur terkejut. "Sebuah keberuntungan bisa bertemu dengannya,"
"Ah," Anggukku.
"Aku hanya memberimu satu buku. Kenapa bisa jadi lima?" tanya Direktur.
"Aku membelinya," jawabku.
"Ada transaksi di dalam sana?"
"Hmmm...." Anggukku. "setiap akhir pekan."
"Cukup menarik, apa kau juga menulis keseharianmu di buku ini?"
"Sesuai dugaanmu."
Seringai Direktur berkilat. "Jadi, apa genrenya?" tanya Direktur.
"Action, misteri, romance, komedi." jawabku.
"Apa itu tidak berlebihan?" Dia nanya lagi.
"Kau bisa minta ketiga editormu untuk mengeceknya." tanggapku.
Direktur memasang senyum pada bibirnya lalu berkata: "Sepertinya kau sedikit berubah,"
"Benarkah?" Aku nanya.
"Iya. Apa ada hal menarik yang terjadi di penjara?" tebaknya.
"Ah," Anggukku. "hal yang sangat menarik."
🚶🚶🚶
Direktur tidak membawaku ke perusahaan, dia mengantarkan aku ke mesh supaya aku bisa beristirahat karena baru keluar penjara. Dan aku setuju akan hal itu. Rasanya, selama aku berada di balik jeruji besi, aku tak pernah bisa bersantai. Selalu ada hal menegangkan yang bakal dan sedang terjadi. Lebih daripada itu, tempat tidur dalam kamar huniku beberapa hari ke belakang hanya makin membuat badanku pegal-pegal.
"Ada sesuatu yang perlu kutanyakan," kataku selepas keluar dari mobil.
"Tanyakanlah, aku punya banyak waktu luang untukmu." ucap Direktur.
"Waktu pertama kau memberiku buku itu, apa ada seseorang yang menitip pesan padamu?"
"Hmmm...." gumam Direktur cukup lama. "sepertinya tidak ada."
__ADS_1
Aku tertunduk. Berpikir mustahil kalau Lutfi sengaja menitip surat itu pada Direktur.
"Ah!" seru Direktur membuatku terkejut. "Aku ingat. Waktu aku baru mau masuk ke rutan, aku kesandung, dan ada wanita yang membantuku, tapi aku ga sempet liat wajahnya."
"Wanita! Mungkin saja dia Lutfi! Ah, pasti begitu. Dia sengaja menaruh suratnya di barang bawaan Direktur. Untung saja, dia menyelipkan suratnya di buku yang bakal Direktur kasih ke aku. Dan untung saja, aku menerima buku itu dari Direktur." seru hatiku gembira.
"Ada apa?" tanya Direktur kemudian.
Aku menggeleng. "Makasih buat semuanya, aku senang bekerja dengan Anda." kataku sambil posisi rukuk, menirukan gaya orang Jepang sewaktu memberi salam atau meminta maaf.
"Tidak perlu terlalu formal begitu," tanggap Direktur. "Aku tetaplah diriku yang masih banyak merepotkanmu."
"Itu bukan masalah besar, Kak Geta."
Senyumnya berkilat. "Cepat cari Lutfimu, aku nunggu kalian nikah."
"Ah," Anggukku.
Dia menutup pintu mobil lalu menyuruh supirnya untuk menyalakan mesin. Menggerakkan roda mobil. Pergi dari hadapanku.
Setelah bongkahan besi berwarna hitam itu lenyap dari pandanganku, aku memasuki kamar huni yang pengap. Mungkin ditutup selama aku berpindah kamar huni. Tapi, setidaknya, ini jauh lebih baik daripada harus berada di balik jeruji besi.
Setelah membuka jendela, memerbaiki sirkulasi udara, membereskan barang bawaanku, mandi, dan berganti pakaian, aku merebahkan diri di atas ranjang. Empuk, nyaman. Hal yang sukar kuperoleh. Sempat aku berpikir rasanya bakal lebih nyaman ketika aku bisa tidur di rumahku sendiri. Ya, rumah yang aku dan Lutfi bangun bersama. Dalam segi desain dan interior maksudku. Tidak serta merta membuat berdua. Tidak. Tentu saja ada tukang di baliknya.
Aku memejam, mengatur napas dalam otak yang tidak bisa diam. Memikirkan banyak hal, tapi tetap berfokus kepada Lutfi. Bahkan sampai aku keluar dari penjara, belum ada kabar terbaru darinya.
Di mana kamu sekarang? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau pergi begitu saja? Apa salahku? Apa yang membuatmu menghilang tanpa jejak?
Sebelum aku lebih masuk ke dalam alam bawah sadarku, telingaku mendengar dering ponsel pintarku. Kuraih dan menjawab telfon dari nomor tak dikenal.
"Halo Mas," sapa suara di sana.
"Siapa, ya?" tanyaku.
"Basuki," jawab suara disana.
"Basuki?" Aku mengulang. "Basuki Tjahaja Purnama? Ahok?"
"Pst! Basuki, koh Ahok! Ini Basuki MTs.... Gobas, Gobas." tanggap suara di sana.
"Oh...." ujarku akhirnya setelah ingat. Achmad Basuki, yang kerap dikenal dengan Basuki atau Gobas adalah anak didikku yang satu tingkat sekaligus satu sekolah dengan Aditya Yuda Kartika sewaktu MTs. Dia juga menjadi anggota Satuan Karya Wanabakti. Kerap kali membantu aku dan Lutfi dalam berbagai kegiatan, seperti: mengajar pramuka, jalan-jalan ke pantai, jalan-jalan ke bukit, lomba foto, dan banyak lainnya.
"Gimana kabar?" tanyaku kemudian.
"Sehat. Mas Gilang, gimana kabar?" Dia balik bertanya.
"Alhamdulillah, sehat." jawabku.
"Oh, ya, aku denger kabar, Mas Gilang dipenjara. Apa bener?"
"Iya,"
"Kok bisa?"
"Urusan kerjaan."
"Oooh.... bebas kapan, Mas?"
"Baru beberapa menit lah."
"Oooh.... kira-kira sibuk ga, Mas?"
"Kenapa? Mau main?" tanyaku menebak.
"Datang aja, tar aku sharelok." tanggapku.
"Oke, Mas. Pake nomor ini, ini nomor WA, kok."
"Sip,"
"Ditunggu ya, Mas?" pintanya.
"Ah," jawabku.
🚶🚶🚶
Setengah jam berlalu begitu singkat, hingga kemudian terdengar suara pintu diketok. Tidak ada salam, jadi aku langsung membukanya karena mengira orang di sana adalah Basuki, pria yang baru saja menelponku. Dan benar saja. Dia datang sesuai janji, tapi dia tidak sendiri. Di depannya berdiri Dimas yang mengenakan jaket pramuka sambil memberi hormat. Pada bagian belakang, pria jangkung berkemeja putih yang segera kutahu kalau dia Adit. Sedangkan Basuki sendiri memakai setelan kemeja biru dengan jas hitam.
"Masuk," kataku menyilakan lalu meminta mereka duduk di mana saja yang mereka mau setelah aku bersimpuh di sisi ranjang. "Rapi bener, Bas? Mau ke mana?" tanyaku beberapa menit setelah ketiganya bersila di samping kasur.
"Oya!" Basuki terkejut sambil garuk kepala. "He he he.... udah kebiasaan kayak gini."
"Oh, ganti style?" tanyaku lagi.
Basuki menjawab dengan anggukkan kepala, tetap menahan seringai pada wajahnya.
"Kerja apa sekarang?" Aku masih nanya.
"Tetep di PT Tenma Cikarang, tapi.... alhamdulillah, bagian yang ga panas-panasan. He he he," tanggap Basuki.
"Jadi Asisten Manager?" Aku menebak.
"Loh, kok bisa tau, Mas?" tanya Basuki dengan wajah heran.
Aku sedikit menyungging bibir. "Dari kapan?"
"Awal tahun baru kemarin, masih baru. Masih cupu. He he he...." ujar Basuki.
"Lah, kok malah ke sini? Kerjaanmu gimana?" tanyaku lagi.
"Udah ada yang ngehandle, Mas." jawab Basuki.
"Syukurlah. Terus, kamu Dim?" tanyaku pada Dimas.
"Oh. He he he.... kemarin abis dari puncak. Jaket yang bersih tinggal ini,"
"Ga usah pamer kegiatanmu kemarin juga, kali." ujar Basuki.
"Sabar, sabar.... ga usah iri." ledek Dimas.
"Hmmm...." gumam Basuki. "iyalah, yang banyak waktu luang. Ga kayak aku. Kerjaaa.... mulu. Ga kaya, kaya." keluhnya.
Aku tergelitik mendengar omongan Basuki barusan. "Udah punya resto sendiri masih aja pramukaan?" tanyaku pada Dimas.
Dia ngangguk. "Alhamdulillah, Mas. Sekarang udah masuk Kwarnas,"
"Bagian apa?" Basuki ikut menyambung.
__ADS_1
"Humas," jawab Dimas.
Aku senyum menanggapainya. Menghadap Adit. "Kamu Dit? Selain punya Cafe, kerja apalagi?"
Dia tersentak, wajahnya tampak pucat, lalu berkata terbata-bata: "Do-dosen,"
Mendengar pengakuannya membuatku terperangah. Begitu pula kedua pria di sisinya.
"Serius, Tut?" tanya Basuki.
Perlu kuberitahu kepada kalian, kalau Adit juga memiliki julukan seperti Basuki, yakni: "Ketut". Sayangnya aku tidak bisa menjelaskan kepada kalian bagaimana kronologi dia mendapat panggilan itu, dan apa artinya. Sama halnya aku tidak memberitahu kalian soal julukan Basuki, "Gobas". Kalau kalian benar penasaran, kalian boleh tanya langsung ke orangnya.
Nomor hp?
Hmmm.... aku sendiri tidak punya nomor hp mereka. Tapi kalau Instagram dan Facebook kalian bisa mencarinya. Cari aja—sorry, kata editor hal ini tidak bisa kalian tahu, untuk sekarang. Jadi, cari tahu aja sendiri. He....
Oke, lanjut.
Aku benar-benar tidak menyangka, kalau Adit bakalan jadi Dosen. Maksudku, dia 3 tahun di bawahku, aku juga baru lulus bulan Desember tahun lalu—ya, meski kuliah S-1 harus nunggak setahun. Ditambah, Adit baru kuliah setelah kerja setahun. Jadi, bagaimana dia bisa jadi Dosen?
"Iya," jawab Adit beberapa saat kemudian.
"Emang kamu udah wisuda?" saut Dimas.
"Belum," geleng Adit.
"Lah, maksudnya kamu jadi Dosen itu gimana?!" tanya Basuki sedikit berteriak.
"Jadi gini, di kampusku itu lagi kekurangan Dosen. Nah, mahasiswa yang aktif organisasi dan nilai IPK-nya tinggi—minimal tiga koma ke atas, lah. Disuruh ngajar mahasiswa baru." ujar Adit menjelaskan.
"Wih, berarti kamu pinter, dong?"
"Cuma untung," kata Adit menjawab tanya Dimas.
"Tapi, itu juga ada seleksinya, kan?" Aku menebak.
Adit mengangguk kepala.
"Lah, ya untung sekalian pinter, lah." kata Dimas menegaskan pernyataannya sebelumnya.
Adit hanya menjawab dengan senyum tipis.
"Semester berapa sekarang?" tanyaku.
"Mau semseter empat, Mas." jawabnya.
"Mau semester empat udah jadi dosen, punya cafe sendiri juga. Basuki, sekarang udah jadi Asisten Manager. Dimas, udah jadi orang Kwarnas punya resto sendiri pula. Kalian udah banyak berubah." kataku berargumen sekaligus bangga dengan pencapaian mereka. "Penampilan kalian sekarang juga udah ga se.... bujing dulu." Aku tahu mereka terkejut. "Beda banget sama aku. Aku gini, gini aja. Malahan—"
"Ada kok yang berubah!" seru Adit menyerobot kalimatku.
"Berubah jadi mantan napi?"
Dia tidak menanggapi omonganku. Matanya berubah layu dan hanya berani melihat ke bawah.
"Mas, gimana pun, Mas Gilang yang udah banyak ngajarin kita dulu." ujar Dimas. "Bukan cuma di kegiatan pramuka, doang. Tapi harian juga." tambahnya.
"Ya! Bener, bener!" seru Basuki. "Mas Gilang udah banyak ngubah sifat kami, cara berpikir kami. Jadi kami punya tujuan yang jelas. Nah buktinya sekarang ini, hidup kami lebih terarah."
"Iya, Mas. Ga mungkin kami bisa kayak sekarang, tanpa andil dari Mas Gilang." sambung Adit. "Ga mungkin kami lupa sama jasa-jasanya Mas Gilang dulu. Kami bukan kacang yang lupa sama kulitnya."
Jujur, mendengar omongan mereka bertiga membuat hatiku trenyuh. Setidaknya mengurangi berbagai macam penyesalan yang telah terjadi padaku. Bukan hanya karena aku yang pernah dipenjara, melainkan lebih utama kepada tunanganku yang menghilang tanpa jejak. Ya, tunanganku, Lutfi Nurtika.
"Bagus kata-katanya. Aku percaya sekarang, kamu beneran udah jadi dosen." ucapku menyanjung sekaligus berusaha meledek.
"Aku bisa ngomong normal juga gara-gara Mas Gilang," timpal Adit.
"Itu ngeluh apa mau bilang makasih?" tanyaku.
"Dua-duanya, he he...." ujar Adit.
Aku menghembus napas sambil menepuk kedua paha. "Jadi, ada urusan apa kalian ke mari?"
"Oya!" Basuki kembali berseru. "Sampe lupa. He he he.... kami mau nyambut Mas Gilang yang baru keluar dari penjara. Terus...." Kalimatnya terhenti. Kedua pasang mata Basuki terarah ke Adit.
"Aku minta maaf, Mas. Aku udah nuduh Mas Gilang selingkuh, udah nonjok Mas Gilang, juga udah nyebarin fitnah. ....Fitnah yang bikin Mas Gilang sampe dipenjara." tutur Adit sembari membuat kepalanya lebih rendah. Hampir menyerupai orang sujud.
Aku belum menanggapi. Justru melempar pandang kepada Dimas.
"Aku udah jelasin semuanya ke dia, tapi Adit tetep nganggep kalo dia yang udah bikin Mas Gilang dipenjara." jelas Dimas.
Aku mendengus. "Dit," panggilku.
Adit mengangkat kepala dan tampak air mata pada wajahnya.
"Balikin uangku," pintaku.
"Ha?!" Adit, Dimas, dan Basuki terkejut hampir bersamaan.
"Loh, kok minta duit, Mas?" tanya Basuki.
"Aku juga dimintain duit pas abis minta maaf di penjara." celoteh Dimas.
"Bu-buat apa, Mas?" tanya Adit.
"Ganti rugi meja. Itu, kan salahmu, bukan salahku." kataku.
"Oh.... i-iya, iya, Mas. Nanti aku kembaliin. Lewat bank, ya?" tawarnya.
"Terserah, yang penting dikembaliin." ucapku.
"Aku janji, Mas!" tegasnya.
"Ada lagi?" tanyaku.
"Udah, cuma itu, Mas." jawab Basuki.
"Kalian emang lagi kosong hari ini?" tanyaku lagi.
Mereka mengangguk kompak. Lalu Dimas angkat bicara: "Kami udah ngosongin seminggu ini buat bantu Mas Gilang,"
"Iya, siapa tau lagi butuh apa gitu, kami siap bantu. Kayak dulu. He he he...." sambung Basuki.
"Sekalian sebagai permintaan maaf," tambah Adit.
"Hmmm.... tawaran yang menarik." ujarku. "Tapi, mending minum dulu. Mau kopi?"
"Boleh, Mas!" saut Dimas semangat.
Aku yakin kopi adalah pilihan paling tepat, terutama bagi dia yang lelah sehabis hiking ke gunung kemarin.
__ADS_1
Aku bangkit dari ranjang, meraih sekantung kertas greaseproof yang isinya tinggal seperempat bagian dan membawanya ke tempat masak. Mengambil grinder lalu mencucinya kemudian menuangkan isi kantung kertas greaseproof ke dalamnya. Seketika aku terkejut setelah melihat secarik kertas di sana. Langsung saja kusambar dan membuka lipatannya.
"Ini.... pesan dari Kusnadi!"