
i
Sesampainya di kost, aku segera membuka isi surat yang kudapat dari Gilang dengan perasaan berdebar tiada bisa kujelaskan alasannya. Yang pasti, aku penasaran.
Duduk di kasurku dan kubaca:
“Pemberitahuan: Jangan suka menguping pembicaraan orang, —“
Segera aku menutup kertas itu karena merasa sangat bersalah. Apa yang kulakukan hari ini rasanya memang sangat tidak pantas kulanjutkan.
Menghembus napas panjang. Aku kembali membukanya dan mengulang dari awal.
“Pemberitahuan: Jangan suka menguping pembicaraan orang, nanti kamu jadi iri, kan? Tapi tenang, kamu pasti bakal makan mie ayam di warung seberang. Hari ini. Tunggu aja. —Gilang.”
Apa? Hari ini? Aku langsung bisa nebak: isi suratnya pasti salah. Aku sendiri saja tidak tahu tempatnya.
Dari awal, aku sudah yakin, dia cuma sotoy tentang hidupku. Meski aku akui, dua pesannya sebelumnya memang tepat. Tapi, itu pasti karena dia lagi beruntung, ga bakal keulang lagi, kan?
Dan, dugaanku ternyata salah.
Mendadak pintu kamarku diketok. Spontan aku bertanya: “Siapa?”
“Ateg.”
Aku senang mendengarnya. Jadi dia benar-benar datang dan mulai akan berteman denganku di sini.
Aku bergegas membuka pintu dan mempersilahkan dia masuk. Kemudian kami duduk di sisi ranjang.
“Kamu laper ga?”
Aku mengangguk semangat. “Iya, aku baru sarapan nasi goreng tadi pagi di kantin.”
“Kalau gitu, kamu mau ga makan bareng? Aku juga lagi pengin makan nih.”
“Boleh, mau makan apa?”
“Mie ayam, mau?”
Aku tersenyum lebar. “Itu makanan kesukaanku.”
“Wah syukurlah. Ada mie ayam enak di seberang jalan SMA, tapi masuk gang dikit. Gimana?”
“Boleh.”
“Ya udah, aku siap-siap dulu.” katanya penuh semangat lalu keluar dari kamarku dan menutup pintu.
Aku sangat senang mendapat ajakan dari Ateg. Selain ramah, ternyata dia benar-benar mengerti aku. Meski mungkin tidak dia sadari.
Aku bangkit menuju almari. Terkejut setelah melihat pantulan cermin. Tampak tumpukan kertas di atas meja. Itu adalah surat-surat yang kudapatkan dari dia, Gilang.
Benar! Isi suratnya yang terakhir kali, kalau aku akan makan mie ayam di seberang jalan SMA hari ini, benar-benar terwujud.
Aku tidak menyangka dan tidak dapat menebak. Bagaimana dia bisa membuat pesannya jadi nyata?
🌹🌹🌹
ii
Di warung seberang jalan, tepatnya di warung mie ayam. Harus kuakui, ini adalah salah satu tempat yang membuat mie ayam enak di Purwoketo.
Mienya halus, kuahnya segar dan terasa kaya rempah-rempah. Sambal yang disediakan juga asli, bahkan sangat menyatu dengan mie ayamnya.
Tempatnya juga bersih. Kakek-kakek yang membuat mie ayam sangat rajin dan bersihan. Bajunya saja tidak bernoda. Aku juga melihat dia sangat sering mengelap keringatnya, juga gerobaknya—tempat dia membuat mie ayam.
Aku seperti tersikap ketika mengingat isi pesan Gilang. Meski dalam kenyataannya Ateg yang mengajakku, tapi aku terus-terusan merasa sedang makan sama dia.
Dan dia, menurutku, hari itu, harus bertanggungjawab, karena sudah berhasil membuat tiap suapanku memunculkan raut wajah dan suaranya.
🌹🌹🌹
iii
Malamnya, ibu kost ngetuk pintu, manggil-manggil, katanya ada telpon untukku. Pas aku nanya dari siapa, katanya dari pembawa pesan, ga tahu deh. Pokoknya aku yang harus dikasih pemberitahuan penting, langsung darinya.
Aku keluar dan menuju ruang tengah buat nerima telpon.
“Hallo?” kusapa yang nelepon.
“Selamat malam.” katanya. Tapi aku merasa tidak asing dengan si pemilik suara.
“Malam,”
“Bisa bicara dengan Lutfi?”
“Iya, saya Lutfi.”
__ADS_1
“Aku, Gilang.”
“Hey.”
Mendadak jantungku langsung deg-degan entah gimana. Padahal seharusnya aku masih sebal karena dia mengabaikanku pas di kelas. Ga tahu deh.
“Lutfi, bisa bicara sama aku?”
“Iya. Ada perlu apa?”
“Perlu?” Dia nanya.
“Iya, kata ibu kost aku dapat telpon dari pembawa pesan.”
Gilang ketawa, tapi aku cuma dengar “He,”. Terus dia nanya: “Apa katanya?”
“Kata ibu kost, pokoknya aku yang harus dikasih pemberitahuan penting, langsung darinya.”
Gilang ketawa lagi sekali. Benar-benar aneh.
“Terus?” tanyaku.
“Terus?” tanyanya.
“Iya, terus pemberitahuannya apa?” Aku nanya agak sebal.
“Oh, oke.”
“Oke, apa?!” tanyaku sedikit berseru.
“He.” Dia ketawa. “Pemberitahuannya, ada telpon buat kamu.”
“Telpon, buat aku?”
“Iya,”
“Dari siapa?
“Dari Gilang.”
“Itu sih kamu.” jawabku ketus.
“He,”
Waktu Gilang ketawa, sebenarnya aku juga ingin ketawa, tapi pasti kutahan. Gengsi dong!
“Siapa?” Dia balas nanya.
“Kamu.”
“Kamu?”
“Iya.”
“Kamu siapa?”
“Kamu, Gilang.”
Akhirnya, kusebut juga namanya. Ah, itu adalah hari pertama aku menyebut namanya secara langsung kepadanya. Sebagai seorang fans, dia harusnya senang karena aku memanggil namanya, dan memang, dari tawanya, aku yakin, dia sangat senang. Semoga.
“Aku, aku di depan kost-mu.”
Kupikir dia ngelawak, ternyata engga. Dari balik gorden, aku mengintip ke arah luar. Kulihat seorang pemuda sedang berdiri menghadap ke mari dan menelpon.
“Ngapain kamu di situ?”
“Ngapain kamu ngintip-ngintip?”
“Gilang!”
“He.” Dia ketawa.
“Kamu ngapain di situ, Gilaaang?” tanyaku sambil masih menatap Gilang dari kejauhan. Samar, aku melihat dia memakai celana levis warna gelap, kaos hitam polos, jaket hitam dengan penutup kepala yang ga dipakai, dan syal putih. Mirip kayak penampakan, memang.
Aku jadi mikir, mungkin Gilang suka makai itu, syal, jadi tiap kali dia makai dasi, pasti selalu dislempangkan.
“Aku mau bilang sesuatu.”
“Dari tadi juga ngomong.”
“He.” Dia ketawa. Lama-lama mendengar ketawanya yang aneh bikin aku ikutan ketawa.
“Ga perlu datang juga, kan?”
“Harus!” katanya hampir berseru.
__ADS_1
“Emang, mau ngomong apa?”
“Ini soal pesan penting, tadi.”
“Iya. Apa isinya?”
“Lutfi,”
“Iya.”
“Aku cinta kamu.”
“Hah?!” Aku berseru terkejut. Pasti mukaku memerah.
Aku kira dia nelpon cuma buat bahas pesannya sebelumnya, dan mastiin kalau aku sudah makan mie ayam di seberang SMA. Tapi ternyata tidak. Dia justru mengungkapkan rasanya yang buatku sulit berkata-kata.
“Jangan teriak, nanti yang lain bangun.” katanya tetap tenang, makin membuat jantungku berdebar dengan cepat.
“He he he. Iya maaf.” kataku memelankan suara. “Kenapa tiba-tiba ngomong kayak gitu?”
“Aku cuma ngasih pesan penting aja.”
“Dari kamu, kan?”
“Iya.”
“Terus?” Aku nanya sekaligus memancing dia untuk lebih mengungkapkan apa yang dia sembunyikan dari aku. Mungkin, saat itu, bisa dibilang, aku pengin ditembak.
“Udah.”
“Udah?”
“Iya, udah.” jawabnya tetap tenang.
“He he he.”
Ah, Gilang selalu bisa membuatku senyum.
“Nanti, kalau mau tidur.” katanya. “Percayalah, aku ga tidur bareng kamu.”
“He he he.”
Aku yakin, maksud Gilang, aku kepikiran soal pesan pentingnya tadi, kalau dia cinta sama aku, jadi aku lagi ngerasa sama dia. Tapi, engga kok, Gilaaaang. Tenang aja. Meski aku ga tenang, saking senangnya.
“Ya sudah, aku pamit.”
“Iya, hati-hati dijalan.”
“Makasih.”
“Sama-sama.”
“Aku harap,” Dia berkata dengan nada serius, membuatku risau. “angin menyampaikan ucapan selamat tidur darimu, untukku.”
“He he he.”
“Dan, semoga dia menyampaikan ucapan selamat tidur dariku, untukmu.”
“Aamiin.” kataku mengamini begitu juga Gilang. Lalu telfon ditutup olehnya.
Aku masih terkesima dibuatnya. Rasanya, aku baru saja ditembak!
🌹🌹🌹
iv
Di atas kasur, selagi mau tidur, aku dilanda kebimbangan.
Haruskah aku menjauhinya, padahal dia baru saja mengungkapkan perasanya padaku? Haruskah aku menganggap semua itu hanya gombalannya saja? Haruskah aku mengira dia hanya mencoba bergurau?
Tidak! Aku yakin tidak. Dia bela-belain datang malam-malam jalan kaki ke kost, tanpa membuat masalah. Dia cukup menelpon melalui telpon kost, dan tidak membuat ibu kost marah. Bahkan ketika kututup telpon darinya, beliau justru senyum-senyum sambil nanya: “Barusan ditembak, ya?”
Aku cuma senyum-senyum menjawabinya.
Aku juga ga tahu kenapa, setiap kali ada sesuatu dari Gilang, ibu kost jadi baik banget. Lebih tepatnya, kayak balik ke zaman mudanya. Ga tahu deh, aku belum nanya ke beliau soalnya.
Perlahan, aku berpikir apa mungkin aku curhat ke Ateg, terus minta pendapatnya? Ah! Aku yakin, Ateg justru akan memaksaku untuk segera ngomong hal yang sama ke Gilang, biar kami jadian.
Sebenarnya, aku, sih, sekarang memang pengin jalin hubungan khusus sama Gilang. Tapi aku merasa, belum waktunya.
Ah, sudahlah, lebih baik, aku tidur.
Di luar, mulai turun hujan. Aku berharap dia tidak kehujanan, biar ga sakit. Jadi besok, aku bisa lihat Gilang lagi di sekolah.
Kututup mataku dengan bantal, lalu menggumam: “Selamat tidur Gilang.”
Habis itu aku senyum bagai malu pada diriku sendiri. Terngiang pesan penting darinya.
__ADS_1