Lutfi Gilang

Lutfi Gilang
8. Pelukan Rindu


__ADS_3

i


Jam menunjukkan angka 11:30 WIB, masih ada waktu kurang lebih 45 menit sebelum kereta sampai di stasiun.


Sang Ibu sudah duduk di kursinya sambil sesekali melirik ke arahku dengan pandangan yang bagiku: "Malu dan mau minta maaf tapi bingung bagaimana memulainya."


Aku diam. Tidak memedulikan dirinya. Sibuk menghadap ke arah luar bersama buku usang untuk mengisi kebosananku, sekaligus—aku berharap cerita dalam novel itu dapat memunculkan ide dalam otakku untuk membuat sebuah karya baru yang tidak pernah dibuat sebelumnya dan tidak akan sanggup orang lain tiru di masa mendatang.


Memang, bekerja menjadi seorang penulis, tidaklah semudah yang kebanyakan orang bayangkan. Kami, para penulis, lebih tepatnya para novelist, sering kesusahan dalam membuat kisah baru. Selain sibuk memikirkan karakter istimewa dari tokoh utama, tokoh pembantu, dan tokoh-tokoh lainnya; kami juga perlu menghadirkan permasalahan yang sekiranya dapat menarik minat para pembaca.


Dan tentu saja membuat sebuah konflik dalam cerita tidaklah mudah. Karena saking banyaknya bermunculan novelist, mengharuskan para penulis novel lebih pandai dalam mengembangkan ide dari permasalahan yang telah ditetapkan.


Tidak jarang, para pembaca bosan dengan konflik yang itu itu mulu. Beberapa kali, para pembaca bahkan menuduh sebagian novelist sebagai penulis plagiat karena merasa kalau inti cerita garapannya sama dengan kisah milik orang lain yang terlebih dulu diterbitkan.


Kejam memang, tapi demikianlah jalan hidup para penulis novel. Dan memang, sulit dihindari.


Ada juga beberapa penulis yang menerbitkan karyanya di platfom online, sebut saja Noveltoon—memang karyaku ini, juga diterbitkan di platfom itu, promosi sedikit tidak masalah, bukan? Siapa tahu, si pemilik platfom tersebut lebih suka mempromosikan novel garapanku daripada novel buatan orang lain. Ya, aku memang sangat mengharapkannya.


Oke, lanjut ke pembahasan.


Mereka yang sudah susah-susah membuat karya dan menerbitkan karyanya di salah satu platfom online, namun tidak banyak yang membaca. Tapi kemudian datanglah si plagiat novel, meng-copy-paste garapannya, lalu mengirimnya di platfom lain, menyebar-luaskannya di media sosial dan membuat novel plagiatnya lebih terkenal daripada novel asli.


Alhasil, karena ranting pembaca jauh lebih banyak, para pembaca menganggap kalau novel asli justru novel plagiat karena jumlah pembacanya jauh lebih sedikit.


Kalian bisa bayangkan sendiri bagaimana hancurnya menjadi penulis yang demikian, dan betapa bejadnya si plagiat novelist.


Namun, untuk menghindari hal tersebut, aku, sebagai salah satu dari penulis yang karyanya pernah di copy-paste memiliki cara untuk menghadapi si plagiat novelist. Cara pertama adalah, para pembaca mesti melihat waktu terbit sebuah novel jika melihat ada kesamaan dalam bentuk cover, judul, isi, nama tokoh, latar, konflik, maupun penulis. Ingat ini baik-baik! Biasanya, "novel plagiat adalah novel yang diterbitkan setelah novel asli."


Cara kedua, si penulis asli akan lebih memahami bagaimana cerita berlangsung dan berakhir daripada si plagiat novelist. Karena kebanyakan si plagiat hanya meng-copy-paste karya yang mereka anggap bagus namun memiliki ranting pembaca rendah. Jadi, kalian bisa menanyakan kelanjutan kisahnya kepada si penulis untuk memastikan kalau itu benar-benar asli karya mereka dan bukan saduran apalagi hasil nyolong punya orang.


Tapi, ada juga seseorang yang suka meniru berbagai kisah untuk kemudian dia jadikan sebagai karya khas dirinya, apa dia juga termasuk si plagiat novelist?


Aku pribadi, tidak akan menganggap orang itu sebagai plagiat novelist hanya jika dia mengambil inti cerita dan bukan meniru kalimat yang kubuat dalam karyaku. Kalau kalian tidak setuju denganku, aku tidak peduli. Kalian bebas mempunyai pandangan seperti apapun terhadap si plagiat novelist. Tapi tetap saja, kalian tidak bisa menghakiminya, karena kalian bukan hakim, kan?


Namun, sebagai seorang penulis, yang selalu kesusahan dalam mengambil jalan cerita, aku selalu berharap kepada para pembaca bukuku, kepada para pembaca karyaku, untuk tidak dengan sengaja meniru apa yang telah susah-susah kubuat. Karena bagaimanapun aku membenci para peniru apalagi pencuri, karena itu menunjukkan kalau mereka tidak memiliki usaha lebih untuk membuat karya yang bagus, yang diminati para pembaca.


Satu pesan penting lainnya dariku untuk kalian, khususnya para plagiat novelist: "Kalau mau karya kalian bagus, bacalah terlebih dulu karya orang lain sebanyak mungkin."


Semakin banyak kalian membaca, semakin banyak kalian punya jalan cerita, semakin banyak konflik yang kalian tahu, semakin banyak kosa kata yang didapat, semakin banyak amanat yang diperoleh, dan semakin banyak waktu yang terbuang. He....


"Tooottt!" Suara klakson menggema saat jalur kereta api memotong jalan raya. Memaksa para pengendara menghentikan laju mobil, atau motor, atau sepeda, atau sepatu, atau sandal, atau kaki-kaki yang telanjang bulat.


Bukankah palang pintu perlintasan memang tanda bahwa semua yang melata harus berhenti?


Itu berarti, sesiapapun orang yang melangkah di alas bumi harus mendahulukan lewatnya kereta api, sekalipun dia tidak sedang berkendara.


Jadi aku tegaskan, jangan berani-beraninya menerobos palang pintu perlintasan kereta api! Sekali lagi, DILARANG KERAS MENEROBOS PALANG PINTU PERLINTASAN KERETA API!!!


🌹🌹🌹


ii


Aku mengatur napas, menghembuskannya perlahan. Membaca isi buku yang sedang kupegang.


"Ayah!" seru si balita membuyarkan konsentrasiku.


Sang Ibu dengan sigap menangkap anaknya yang hampir melompat ke arahku. "Ma-maaf," ujarnya.


Aku hiraukan, menghela napas dan kembali membaca buku.


"Anu...." Suara Sang Ibu kembali menyerbak di telingaku.


Aku acuh, tetap pada aktivitasku.


"Bu-buat yang tadi ... maaf!" katanya hampir berteriak dengan posisi kepala tertunduk.


Sebenarnya aku mau ngangguk untuk menjawab perkataannya, namun karena merasa dia tidak akan melihat aksiku, jadi aku bilang juga. "Iya," Lalu kembali membaca buku.


"Makasih!"


Aku ngangguk. Tetap melanjutkan membaca novel tanpa menghadapkan wajah ke arahnya. Aku harap, itu menunjukan kalau aku sedang tidak mau diganggu olehnya. Bukan cuma karena masalah yang terjadi sebelumnya, dan bukan karena aku dendam kepadanya karena masalah tersebut. Aku hanya tidak mau orang-orang mengira kalau aku adalah Ayah dari si anak, karena dia terus saja memanggilku itu.


Dengan perjuangan keras, meronta, berusaha keluar dari dekapan Sang Ibu, si anak terbebas lalu melompat dan memelukku sambil berteriak dengan hebat: "Ayaaaah! Jangan pergi lagi!"

__ADS_1


Aku tersentak setengah mati mendengarnya. Memandang sekeliling, hampir seluruh penumpang di gerbong 2 bangkit dan mengarahkan tatapannya ke arahku.


Aku mengalihkan mata ke arah Sang Ibu. Dia sibuk melihat ke sisi kiri dan kanan, lalu menatapku dengan ekspresi malu bercampur bingung.


Aku menghembus napas. Menggendong anak itu tinggi-tinggi. "Siapa yang pergi?! Dari tadi di sini!" geramku.


Si anak tertawa lalu menarik hidungku seperti sebelumnya.


Aku pun mencoba melakukan hal yang sama supaya orang-orang menganggap kami hanya sedang bermain. Dan, akting itu memang ampuh! Para penumpang menghela napas, beberapa ada yang berkata: "Oooh...." bla bla bla. Lalu duduk di kursi mereka masing-masing seperti semula.


"Mamas," panggil Sang Ibu sambil mencoba menariknya.


Si anak menolak dan memelukku erat.


"Mamas, sini sama Bunda." ujarnya mencoba menarik anaknya dari pangkuanku.


"Ga!"


"Sini sama Bunda!"


"Engga!"


"Sini sama Bunda!"


"Enggaaaaa! Mamas mau sama Ayah!" teriaknya, memaksa Sang Ibu menyerah dan kembali ke kursinya.


Aku menepuk kepalanya. Mengelusnya. Mencoba membuat bocah nakal itu untuk segera mati suri. Tidur maksudku.


Kesal banget soalnya!


"Maafin anakku, ya?" pintanya.


Aku ngangguk.


Kami saling diam untuk beberapa waktu ke depan. Namun aku tetap mengelus kepala si anak selembut mungkin meski hatiku sangat jengkel terhadap segala aksinya yang telah banyak merepotkanku.


Lima menit berlalu bagai satu jam bagiku. Aku harus terus mencoba menatap ke arah lain dan menghiraukan pandangan Sang Ibu yang terpusat ke arahku, tatapan menusuk yang sangat menggangguku. Dan akhirnya, kembali kudengar dia berkata: "Mas," Kali ini dengan nada yang jauh lebih pelan.


Aku mengacungkan jari telunjuk kanan ke bibirku. Memintanya untuk diam karena merasa kalau napas si anak sudah mulai tenang, pertanda bahwa dia telah nyaman, dan pasti sebentar lagi bakal tidur, atau mungkin saja sudah.


Memang, sejak SMA kelas X di akhir semester 2, aku dan Lutfi, sering mengunjungi panti asuhan untuk menyalurkan hobi kami, bermain dengan anak kecil. Sesekali kami juga membawa makanan dan atau mainan sebagai iming-iming agar anak-anak panti mau sama kami.


Bukan hanya karena barang-barang yang kami bawa, tapi kelembutan, kasih sayang, dan perhatian yang kami berikan membuat anak-anak panti betah berlama-lama dengan kami. Kata Ibu pengurus panti, bukan aku ngarang sendiri.


🌹🌹🌹


iii


Delapan tahun lalu.


Sekitar pukul setengah tiga sore, setelah selesai membantu Ibu pengurus panti untuk menggiring anak-anak pergi ke masjid, aku dan Lutfi kembali ke panti asuhan untuk menggantikan tugas Bi Minah mengasuh Kafin. Seorang bayi yang dibuang orang tuanya di pinggir jalan di dalam kardus.


"Makasih, ya?" ujar Bi Minah.


"Buat apa?" tanya Lutfi sambil menyuapi bayi itu untuk minum susu.


Tenang, itu adalah susu asi yang sudah dipindah ke dalam botol bayi yang steril.


Sedang aku, mengelus-ngelus kepalanya sambil hati mengumpat: "Ini orang tuanya gimana, sih? Ga tanggungjawab banget. Cuma doyan bikinnya tapi ga mau ngerawat hasilnya."


Bagaimana mungkin aku tidak mengumpat dengan sebal? Sudah sangat banyak kasus anak dibuang gara-gara hamil di luar nikah.


Kasus seperti Kafin jauh lebih baik daripada bayi-bayi lainnya yang harus menerima operasi aborsi, atau pemaksaan pengguguran, dan segala macam tindakan mengerikan lainnya demi membunuh kandungan di dalam perut.


Aku ingatkan, itu semua bukan tanpa alasan. Mereka melakukannya demi menutupi kesalahan karena telah melakukan hubungan intim—hubungan suami-istri—sebelum resmi menikah yang diakui secara agama dan negara.


Hal itu terjadi juga karena ada penyebabnya, yakni hubungan pria dan wanita yang sering disebut sebagai "pacaran".


Hubungan inilah yang menjadi gerbong terbesar menuju tindakan pembuangan dan atau pembunuhan bayi. Masalahnya diakibatkan karena kurang adanya pengawasan orang tua dalam hubungan anaknya, atau kurang perhatiannya orang tua dalam kehidupan anaknya.


Ada juga orang tua yang sudah sangat perhatian namun anaknya justru hamil di luar nikah, atau menghamili anak orang di luar nikah. Itu disebabkan karena si anak salah dalam bergaul, salah dalam memilih teman, dan orang tua kurang pandai memilah lingkungan sekolah dan atau lingkungan bermain untuk pergaulan anaknya.


Jadi sekali lagi, peran orang tua sangat penting dalam perkembangan anaknya. Merekalah yang menjadi pembuka gerbong pertama untuk anaknya, akankah menjadi anak yang sukses dan berguna untuk orang lain, atau justru merusak kehidupan sendiri dan orang lain.

__ADS_1


Oke, karena merasa banyak yang tersinggung dan tidak suka dengan penjabaran seperti di atas, kita lanjutkan saja ceritanya.


"Ya, karena tiap minggu kalian ke sini, bawa makanan, bawa mainan, bikin anak-anak jadi lebih seneng. Bibi makasih banget sama kalian." katanya menjelaskan.


"Sama-sama Bi. Lagian kami main ke sini karena kami emang suka sama anak kecil, ya ga?"


Lutfi mengejutkanku dengan menepuk pundakku. "Hah? I-iya," Aku asal jawab.


"Yah, ngalamun...." kata Lutfi.


"He," Aku ketawa.


"Ngalamunin apa, sih?" Dia nanya.


"Ga papa," Aku jawab.


"Bilang aja," pintanya.


"Ngalamunin masa depan, pastinya." saut Bi Minah mendahuluiku.


"Masa depan?" Aku sama Lutfi nanya barengan.


"Ciyeee.... sampe bareng begitu. Emang jodoh, ya kayak gitu, ya?" ledek Bi Minah.


Aku sama Lutfi cuma senyum-senyum.


"Ya udah, Bi Minah mau nyusul anak-anak ke masjid." katanya. "Kalian jaga Kafin, ya?"


"Iya Bi," jawab Lutfi.


Aku ngangguk.


"Kalau bisa, dimandiin sekalian." tambah Bi Minah.


"Siap!" jawab Lutfi cepat membuatku terkejut. "Kenapa kamu?" tanyanya setelah melihat wajahku yang saat itu pasti sangat konyol.


"Aku ... eemmm...."


"Kenapa?" Dia nanya lagi.


Bi Minah terkekeh, lalu meninggalkan kami begitu saja sembari bilang: "Ajarin tuh, calon suaminya biar bisa ngurus bayi dari sekarang."


Aku, dan Lutfi tersentak mendengarnya. Hanya saling pandang dan senyum-senyum sendiri, untuk kali kedua, atau ke berapa lah, ga tau. Yang jelas kami malu bercampur senang.


Kemudian kami memandikan bayi orang—Kafin bersama-sama. Bagai pengantin muda yang baru saja mendapat momongan.


Saat itu aku sempat berterimakasih kepada orang tua Kafin karena sudah membuang anaknya, membuat aku dan Lutfi bisa praktik dadakan mengurus bayi asli secara gratis. He....


Sejak saat itu, aku dan Lutfi jadi lebih sering memandikan Kafin bersama-sama, bagai dia adalah anak kami berdua. Tapi cuma sekali sehari. Ga mungkin karena saking sukanya jadi si bayi dimandiin berkali-kali. Penyiksaan itu namanya.


Selain Kafin, kami juga mengurus anak-anak lain yang usianya sekitar dua sampai empat tahunan. Mulai dari makan, bermain, mengaji, membaca dan menulis, mandi, sampai tidur. Pokoknya, kami bagai seorang pasangan yang punya banyak anak. Seneng!


Kalian boleh coba sama kekasih kalian kalau iri. He....


🌹🌹🌹


iv


Sekarang, di tahun 2018.


Dari sanalah aku bisa menganggap kalau diriku sudah cukup mahir dalam menenangkan anak kecil. Sebagaimana aku menenangkan seorang bocah yang terus memanggilku: "Ayah".


Meski ada sedikit rasa kesal kepadanya, tetap saja, kesukaanku terhadap anak kecil sepertinya mengalahkan kejengkelan yang menjelma hatiku.


Dan, aku yakin hal itulah yang mana aku mengikhlaskannya, membuat si anak betah berlama-lama denganku hingga akhirnya tertidur pulas di pelukanku.


Jujur, mendapat pelukan semacam ini, sangat mengingatkanku kepada dirinya. Dia, kekasihku, Lutfi.


Bukan saat kami berpelukan. Tentu saja bukan! Bahkan kami tidak berani melakukannya, karena belum menikah secara sah.


Pelukan ini mengingatkanku kepada Kafin yang telah berumur tiga tahun saat kami kelas 3 SMA, yang memeluk kami dalam waktu bersamaan, yang tanpa sengaja tanganku dan tangan Lutfi bertemu hingga tumpang tindih di balik punggungnya.


Dan, ingatan itulah yang kembali menghadirkan tangis di mataku. Menunjukkan kerinduan yang menggebu. Yang bahkan sampai detik ini, aku masih belum mampu menemukan di mana Lutfi berada.

__ADS_1


Ah, aku memang pria yang payah!


__ADS_2