
i
Aku membuka mata perlahan setelah merasa ada sentuhan lembut pada kepalaku. Itu, jelas tangan milik Lutfi. Dia mengenakan seragam SMA. "Apa aku sedang bermimpi, lagi?" Hatiku bertanya-tanya.
Kulihat sekeliling. "Di mana aku?" tanyaku kemudian.
"UKS," jawab Lutfi. "kamu udah mendingan?"
Matanya tampak berkaca-kaca, menahan sebisa mungkin supaya air mata tidak keluar dan membasahi wajah cantiknya.
Aku berusaha duduk dengan bantuannya, meski hal itu membuat nyeri pada kepala bagian belakang. Kuremas dengan tangan kiri supaya mengurangi rasa sakitnya. "Apa yang terjadi?" Aku kembali bertanya.
"Kamu pingsan," Dia jawab. "sebentar, ya? Aku ambil minum."
Aku menyilahkan dengan anggukkan. Tak lama kemudian aku menerima segelas air hangat dari Lutfi. Menghabiskannya perlahan.
"Kenapa aku bisa pingsan?" Aku bertanya setelah dia menaruh gelas itu di atas meja.
Lutfi menggenggam tanganku yang tidak berenergi. Beberapa saat kemudian, air matanya tumpah ruah membasahi tubuhku meski berulang kali dia usap dengan kain pada lengannya.
"Ada apa?"
Dia menggeleng mencoba untuk tersenyum meski kedua mata terus saja menumpahkan air kepada wajahnya. "Makasih," ucap Lutfi.
Aku diam, mencoba mengingat memori yang sedang kujalani. Tapi tidak mendapat jawaban. "Tidak mungkin ini nyata, kan?" Hatiku bersua.
"makasih karena udah usaha buat aku." Lutfi melanjutkan.
"Usaha? Usaha apa?" Aku bertanya tapi tidak bersuara.
"Makasih karena udah bela-belain hal itu buat aku." tambahnya.
"Hal itu? Hal itu apa? Kenapa kamu nangis? Kenapa bilang: 'makasih'? Kenapa kamu pergi dan tiba-tiba muncul seperti ini? Kenapa?" Hati dan otakku penuh akan pertanyaan yang tidak satupun sanggup kuluapkan.
"Apa aku emang pantes buat kamu? Apa aku emang pantes kamu perjuangin kayak gini? Apa kamu selamanya bakalan berjuang buat aku?"
Aku, sama sekali tidak mengerti maksud dari pertanyaannya. Mataku hanya memandang ke arah dia yang terus saja menangis. Tanganku teramat berat untuk bisa menyeka air matanya. Dan saking lemahnya aku kembali berbaring.
Ah, aku sungguh tidak berdaya.
Kulihat Lutfi bangkit, melepas cincin pada jari tengah kirinya, lalu menyerahkannya kepadaku. "Aku tidak sanggup menerima ini."
"Kenapa?" aku bertanya dengan nada terkejut sekaligus takut. Sangat tidak ingin terjadi perpisahan.
Dia senyum, tapi tidak menjawab pertanyaanku. "Kalau kau benar cinta aku dan mau aku jadi pendamping hidupmu, jangan pernah khianati aku, meski aku menghilang tanpa jejak."
"Aku, tidak mau kau pergi." pintaku dengan rintikan air mata.
"Berusahalah tanpa batasan, dan jangan pernah menyerah." ujar Lutfi.
"Iya, pasti!" Aku menegaskan.
Wajahnya berubah buram, seperti pandanganku telah berkurang secara perlahan.
"Jika kau serius, kau pasti bisa menemukanku." kata Lutfi sebelum semuanya kembali berubah hitam dan hampa.
🌹🌹🌹
ii
Aku terbangun akibat suara yang dihasilkan oleh defibrilator, itu adalah alat yang berfungsi untuk mengembalikan irama jantung karena suatu kondisi. Kondisi seperti terkejut, tertekan, dan atau penyakit jantung. Ya, itulah yang menyerangku saat ini.
Mulut dan hidungku juga tertutup oleh debulizer—alat bantu pernapasan—yang di mana ujungnya bersambung kepada regulator oksigen.
Pada jari manis kanan aku melihat overview of fingertip pulse oximeter yang mungkin juga mengirimkan sinyal detak jantungku kepada alat defibrilator. Di bagian lengan aku melihat selang infus dan selang darah.
Dari kesemua informasi yang diperoleh tertera jelas pada alat pasien monitor. Itu digunakan untuk memantau kondisi kesehatan pasien secara realtime yang bisa diamati dari layar monitor. Parameter yang bisa diamati dari dalam alat ini adalah irama jantung, tekanan darah, suhu tubuh, kadar oksigen dalam darah, dan lainnya.
Lebih daripada itu, semerbak bau alkohol dan obat-obatan melingkupi seluruh ruangan yang tak lama kemudian datang seorang suster dengan wajah terkejut setelah menyadari kalau aku sudah siuman.
Dia menekan tombol lalu berkata: "Pasien L-dua-empat sudah siuman, tolong panggilkan Dokter Triyanto."
Sang Suster tidak mengajak aku bicara, dia melakukan pengecekan pada alat-alat medis lalu mencatatnya pada kertas yang dia bawa. Setelah dokter datang, Sang Suster menyerahkannya dan menjelaskan sesuatu yang kurang kumengerti, lalu keluar ruangan.
Dokter itu melempar senyum ke arahku sambil bertanya: "Bagaimana kondisimu sekarang?"
Aku melepas debulizer dengan bantuannya, dan balik bertanya: "Apa aku terlihat baik?"
"Ha ha ha, sedang sakit masih saja bercanda."
Dengan napas pendek aku berkata: "Di mana ini?"
"Rumah sakit Jakarta, tidak jauh dari tempat kerjamu." jawabnya sambil duduk di kursi.
"Aku tidak menyangka, kau pindah ke sini." kataku kepayahan. Dada masih susah untuk bernapas.
__ADS_1
Kulihat Dokter Triyanto hendak memasangkan alat bantu pernapasan itu lagi, tapi aku menolaknya, jadi beliau berhenti. "Menurutmu, siapa yang membawaku ke sini?"
"Maaf," ujarku menyesal.
"Huh," Beliau menghembus napas. "kau terlalu memaksakan tubuhmu. Sebenarnya apa saja yang sudah kau lakukan selama ini?"
"Cuma membagi selebaran,"
"Hmmm...." gumamnya. "Apa perlu sampai tengah malam?"
"He," Aku terkekeh. "ketauan, ya?"
Beliau mengangguk. "Kau ini, selalu memaksakan diri." ujar beliau seraya bangkit.
"Lutfi menghilang," kataku beberapa saat kemudian.
"Aku tahu," kata Dokter Triyanto sambil menghadap keluar jedela, tetap memunggungi aku. "aku sudah melihat beritanya."
"Jadi?"
"Kau minta pendapatku?" Beliau bertanya setelah menatap ke arahku.
Aku ngangguk.
"Dia anak yang cantik dan baik, sudah pasti banyak yang suka."
Aku batuk, meminta beliau agar menjawab sesuai apa yang kubutuhkan.
"Ha ha ha," Beliau ketawa. "Aku sudah mengenal dia sejak kalian kelas satu SMA, dan aku yakin dia bukan wanita pengkhianat." Dokter Triyanto menjelaskan.
"Kalo kau sampai berkata begitu, berarti ini semua—"
"Ujian!" serobot Dokter Triyanto membuatku terkejut. "Ha ha ha, tampaknya sudah ada orang yang bilang begitu padamu sebelum aku." Beliau menebak.
Aku menyetujuinya dengan isyarat.
"Mamahmu?"
Aku ngangguk.
"Ya, kau tinggal membuktikannya, bukan?"
"Ah," Anggukku. "aku sedang mencarinya."
Aku senyum menjawabnya. "Siapa yang membawaku ke sini?"
"Temanmu, mungkin. Aku baru mengurusmu dua hari yang lalu."
Aku tersentak mendengarnya. "Hari apa sekarang?!"
Dokter Triyanto memandangku tajam. "Selasa,"
Mataku terbelalak, sangat tidak memercayai kenyataan yang kutinggalkan selama tiga hari lamanya terbaring di kasur tanpa menghasilkan apa pun. Aku bersusah payah untuk duduk.
"Ini bayaran karena kau memfosir tenagamu,"
Aku tertunduk kesal. Sangat marah kepada diriku yang lemah. Dengan aku sakit, aku hanya membuang-buang waktu untuk mencari Lutfi dan atau mengurus masalah kontrak.
Aku menanggallkan selimut, kemudian melepas paksa alat-alat medis yang terpasang ditubuhku meski harus menghasilkan rasa perih dan pegal.
"Kau yakin mau pergi?" Dokter Triyanto bertanya.
"Ah," Anggukku. "Aku tidak boleh membuang-buang waktu."
"Kau tau ke mana harus pergi?"
Aku menjawabnya dengan gelengan tanpa menghadapkan wajah ke arahnya. Tetap pada aksiku.
"Bukannya itu sama saja membuang-buang waktu?"
Kupandang wajah Dokter Triyanto. "Obat, alat-alat ini, atau bahkan operasi tidak akan membuatku sehat."
"Aku tau. Dan aku tidak akan menghalangimu."
Hatiku bergetar mendengarnya. Senang dengan dukungan yang diberikan oleh Dokter Triyanto.
"Aku akan membantumu," tambahnya.
Aku diam. Hanya memandang kepadanya sekaligus mengatur napas, mengembalikan energi.
"Kemarin, ada orang yang menghubungimu."
Aku tak bergeming. Membiarkan Dokter Triyanto menyelesaikan kalimatnya.
"Dia mengirim ini,"
__ADS_1
Kuterima ponsel pintarku, dan aku terkejut. "Lu-Lutfi!" Aku berseru. Sangat bahagia bisa melihat foto terbaru dirinya.
"Kau tahu di mana itu?"
"Bandara Soekarno-Hatta?" tanyaku meminta kepastian.
Dokter Triyanto mengangguk setuju.
Mataku mencoba memandang lebih fokus, dan melihat waktu yang tertera tidak jauh dari tempat Lutfi berdiri. Selasa, 11 Desember 2018 pukul 08:13 WIB. "Seminggu yang lalu," kataku gembira mendapat harapan tentang Lutfi, meski sudah terlampau tujuh hari.
"Kau harus bergegas!" ucap Dokter Triyantom
Aku menjawabnya dengan isyarat: "Ya".
"Pastikan dia mengambil jalur mana melalui CCTV," ujar beliau mengingatkanku.
Aku mengangguk dan hendak keluar dari ranjang tapi ada suara yang menghentikan aksiku.
"Kau mau ke mana?!" seru Clara yang mendadak hadir di ruangan.
Aku mengalihkan wajah. Membiarkannya. Memandang ke arah Dokter Triyanto. "Mana pakaianku?"
Beliau mengambil sesuatu dari kolong ranjang, lalu memberikannya kepadaku. "Semua sudah ada di sana,"
Kuterima ransel biru kegelapan itu dan berusaha bangkit.
"Jangan bodoh!" Tio berseru. "Kau masih belum sehat."
Kupandang ke arahnya tajam. "Ini bukan urusanmu!"
Tio sedikit melangkah mundur. Wajahnya berubah cemas dan takut.
"Tio benar. Kau butuh istirahat!" Clara kembali berseru dan kini menghalangi jalanku.
"Tidak boleh begitu, Nona." kata Dokter Triyanto. "Kau dilarang ikut campur urusan orang lain." Beliau menarik tangan Clara sehingga aku bisa lewat.
Sedang Tio melangkah di sisiku tanpa berani mamaksaku berhenti dengan fisiknya. "Kau mau ke mana, Nu?"
"Bandara,"
"Kenapa ke bandara?" Dia nanya.
"Ada orang yang mengirim aku foto, kalau Lutfi ada di sana." Aku jawab.
"Itu kabar bagus!" Dia berseru.
"Jadi kau sudah tau kalau dia menghilang?" tanyaku.
"Orang-orang sudah banyak yang cerita, dan sampai muncul di berita. Aku ga sebego tampangku!" katanya menjelaskan tapi kali ini sama sekali tidak menghibur hatiku. Aku masih terlalu fokus untuk segera menemukan Lutfi. "Jadi ke mana dia pergi?"
Aku menggeleng. "Aku akan mencari tau,"
"Hmmm...." gumamnya. "tapi kau juga masih ada tanggungjawab lain."
"Aku akan mengurusnya belakangan," kataku terengah-engah.
"Tidak bisa, Nu. Deadline-nya dipercepat. Kalau kau tidak mampu membuat dua puluh ribu kata di akhir bulan nanti kontrak akan dianggap batal, dan kau bisa kena denda!" jelasnya berargumen.
"Aku akan membayarnya!" ucapku asal menjawab.
"Mustahil!" tangkisnya. "Emang kamu punya duit lima puluh juta, apa?!"
"Ada ditabungan, ....kayaknya."
"Ealah malah bercanda. Ini serius, Nu. Ini sudah sangat genting!"
"Ini juga genting, Yo. Lutfi itu hidup dan matiku. Bagaimanapun aku harus bersama dia lagi, secepatnya." Aku jawab dan berhenti. "Tolong bantu aku. Jangan larang aku pergi."
Wajahnya tampak kebingungan untuk beberapa detik, tapi akhirnya dia setuju membantuku. "Baik, aku bantu. Apa yang harus aku lakuin sekarang?"
"Ambilin kursi roda," pintaku.
"Hah?"
"Ambilin kursi roda, cepet!" Aku berseru dan ambruk.
Sedang Tio bergegas pergi dengan wajah kesal. "Ah, kirain bantu apa, malah jadi suster."
"He," Aku ketawa. Merasa sangat tertolong dengan adanya dia. Pun dengan Dokter Triyanto.
Beliau sudah mau repot-repot pergi ke Jakarta hanya untuk merawatku selama ini, menguatkanku kalau ini semua hanyalah sebuah ujian dari Lutfi, menyiapkan perlengkapan gantiku, dan mendukungku dengan memberi tahu kabar tentang Lutfi—meski dari ponsel pintarku, tapi itu juga sudah lebih dari cukup, karena kebanyakan Dokter pasti akan melarang pasiennya pergi dalam kondisi yang masih lemah seperti aku.
Aku bersyukur, sangat bersyukur untuk hari ini. Mungkin alasan selama tiga hari aku tidak sadar adalah untuk menghemat energi demi hari ini.
Sekarang, tidak ada seorangpun yang bisa menghalangi hasratku untuk menemui Lutfi. Dan aku yakin, hari ini aku pasti akan bisa menemukannya! Semoga saja....
__ADS_1