Lutfi Gilang

Lutfi Gilang
10. Gilang Menjauh


__ADS_3

i


Di sekolah, hari Kamis, kalau kamu bertemu denganku, mungkin akan melihatku nampak murung. Memang iya, dan badan ini juga lesu. Perasaan bimbang yang diubek-ubek rasa bersalah, menjadi kemelut yang melanda pikiran sepenuhnya.


Kutunggu kedatangan Gilang. Namun hingga bel istirahat berbunyi, Gilang tidak juga muncul. Aku menduga, dia tidak berangkat sekolah karena tidak mau bertemu denganku. Aku yang sudah membuatnya kecewa. Jadi semua sudah jelas, bahwa Gilang pasti melihat kejadian kemarin, waktu aku berjalan berdua sama Kelvin.


Tapi, ke mana Gilang?


Mendadak aku teringat dengan Ateg. Bisa saja aku tanya dia karena dia teman SMP Gilang. Walau dia tidak tinggal satu rumah dengan Gilang, mungkin Ateg bisa ngasih nomor Gilang.


Setelah aku minta, aku hanya kembali duduk di kursiku. Mencoba menelponya. Dan yang menjawab justru suara wanita.


“Nomor yang ada tuju, tidak terdaftar....”


Menutupnya. Aku berpikir barang kali nomor yang Ateg kasih ke aku sudah tidak digunakan sejak lama. Aku makin lemas, bahkan aku sampai ketiduran saat pelajaran.


🌹🌹🌹


ii


Gilang tiba-tiba duduk di sebelahku ketika aku terbangun karena suara bel. Aku mengira itu bunyi bel istirahat.


Agak panik, aku bergegas membasuh muka dan membenarkan penampilanku. Aku hendak mengajaknya ngobrol, tapi Gilang mendadak pergi begitu saja.


Kamu kenapa, Gilang? Apa kamu benar-benar marah?


Aku nanya ke Gyan: “Yan, Gyan....”


Dia membalikan badan. “Iya, kenapa? Sudah bangun?”


“He he he.”


“Kamu kesambet penyakitnya Gilang, apa?”


“Maksudnya?”


“Tidur di kelas.”


“Sembarangan!”


Gyan ketawa, aku juga.


“Eh, ke kantin yuk, kamu belum makan, kan?” ajaknya dengan bangkit.


“Tunggu bentar.” kataku.


“Apa?”


“Gilang, kapan datang?”


“Hmmm....” Gyan tampak berpikir sambil matanya melihati jam dinding. Lalu kembali menatapku. “Sekitar jam sepuluh.”


“Siang banget?!” tanyaku kaget sekaligus ga percaya.


“Iya,”


“Kenapa katanya?”


Gyan menggeleng. “Ga tau. Dia cuma naruh kertas ke Pak Edi, terus duduk gitu aja.”


“Ga dihukum?”


“Engga tuh.”


“Yuk kekantin.” Kelvin mendadak datang bersama Arya.


“Yuk,” kata Gyan.


Aku bangkit dan mengikuti langkah mereka dengan pikiran penuh tanda tanya.


Ga biasanya Gilang datang telat, bahkan tadi sangat terlambat. Apa itu ada hubungannya dengan masalah kemarin? Kalau benar begitu, aku sangat-sangat meminta maaf Gilang.


🌹🌹🌹


iii


Sejak saat itu, tidak ada gerakan apa-apa dari Gilang yang bersangkut paut dengan diriku. Bahkan setiap aku memanggilnya di kelas dia ga dengar, dan tetap tidur.


Aku masih berpikir, jangan-jangan Gilang benar-benar melihat aku jalan berdua sama Kelvin. Atau mungkin, dia sudah tidak mau lagi denganku.


Atau apa? Aku ga tahu! Aku ga tahu! Termasuk aku ga tahu kenapa hal itu membuatku sedih.


🌹🌹🌹


iv


Hari-hari berikutnya, Gilang makin menjauh. Bahkan boleh kuanggap kategori sombong.

__ADS_1


Tidak ada lagi yang Gilang lakukan untukku, sebagaimana banyak hal yang dia berikan diam-diam, yang aku dapat sebelumnya.


Dia tidak pernah lagi ke kantin. Dia lebih memilih untuk terus tidur di kelas, dan mengacuhkan panggilanku yang berusaha ngomong sama dia.


Kenapa? Aku ga tahu kenapa!


Aku cuma ngira dia lihat aku jalan bareng sama Kelvin. Udah, itu tok.


Sebenarnya, kalau bisa, aku pengin banget ngomong ke dia: “Gilaaaang, aku mohon. Jangan pergi. Jangan ngejauh. Tolooooong.... dengerin penjelasanku dulu.”


Tapi aku hanya diam, hingga tanpa sadar air mataku menetes.


🌹🌹🌹


Merasa tersuntuk perasaan bersalah, aku meletakan buku diary Lutfi agar kembali ke dalam saku jubahku—waktu itu, angin memang sedikit kencang, dan aku tidak begitu tahan dalam cuaca dingin—kewalahan dengan kesedihan yang tumpah dari halamannya. Aku sangat menyadari andilku sendiri terhadap kesedihan Lutfi.


Lutfi benar, aku hanya pergi begitu saja tanpa mau tahu bagaimana kejadian sebenarnya. Sebagai seorang anak laki-laki yang egois dulu, aku hanya menganggap itu sebagai tanda bahwa dia sudah memilih lelaki lain, pasangannya.


Kebersamaan mereka, hanya menimbulkan ketidaknyamanan untukku. Hingga mau tidak mau aku harus membendung segala gejolak rasa yang menggebu untuk bisa bersama Lutfi dulu. Bagiku, sewaktu remaja, cinta tidak harus memiliki. Aku bisa bahagia ketika melihat Lutfi bahagia dengan pilihannya.


Itulah, dan aku malu mengakuinya, arti dari rasa cemburuku.


Aku bangkit, karena merasa waktu makin petang. Melangkah menuju hunian yang kutempati sementara waktu. Aku belum bisa menjelaskan bagaimana dan di mana rumahku saat ini, karena aku tidak mau, buku yang kutulis ulang, ini, justru akan berubah dan membahas persoalan tentangku di kehidupan 9 tahun ke belakang.


Sampai di rumah, setelah aku memberikan buah kesukaan wanita paruh baya yang tinggal seorang diri di depan kamarku—dia memang ditinggal sendirian oleh keluarganya karena kecelakaan—aku kembali pada meja kerjaku. Menulis ulang apa yang kurasakan, dan apa yang tertulis dalam hadiah ulang tahunku.


Aku ingin, semua orang membacanya. Aku mau, semua orang tahu, bahwa kami, aku dan Lutfi pernah menjalin cinta semasa SMA.


Rasa yang begitu dahsyat kekuatannya, hingga aku sendiri bingung bagaimana mengungkapkannya dalam kata-kata. Satu hal yang kutahu, dalam hati yang masih tidak peka, “Hidup itu misterius, seperti halnya cinta. Kalau cinta untukku tidak misterius, itu pasti bukan cinta darimu, kan, Gilang?”


Aku sedikit tertawa sewaktu mengingatnya. Bagaimanapun, itu adalah kalimat yang dia katakan padaku. Aku sungguh tidak menyangka, dia memiliki perasaan yang sama sepertiku sejak lama, dan lebih dari itu, seakan dia membiarkan aku menaburkan rasa itu padanya secara perlahan.


Ah, aku makin tidak sabar, untuk segera menyelesaikan semua ini.


🌹🌹🌹


Dua hari berikutnya. Akhirnya aku selesai menulis beberapa bab, yang menurut kebanyakan orang, itu cerita yang luar biasa. Bahkan mereka meminta agar aku segera merampungkan buku ini. Tidak sedikit penerbit yang merebutkan naskah yang sedang kugarap ini.


Tapi aku masih belum memutuskan, karena bagaimanapun, aku belum tahu mau berakhir seperti apa buku yang kutulis. Jawaban itu hanya ada dalam rangkaian kata di kado ulang tahunku.


Jadi, pagi ini, selepas shalat Subuh, aku kembali membuka buku diary Lutfi dan membacanya.


🌹🌹🌹


v


Pada kesempatan bertemu Ateg di perpustakaan, lagi, aku minta waktu buat nanya. Boleh, katanya.


“Emang kenapa?”


“Pokoknya, jangan, ya?” pintaku.


“Oke, deh.” katanya. “Mau nanya apa?”


“Kamu tahu, kenapa Gilang ngejauhin aku?”


“Aku malah baru tahu kalau dia ngejauhin kamu.”


Mendengar itu makin membuatku lesu.


“Oya, tadi pagi, aku lihat, Gilang lagi ngobrol sama kak Geta.”


“Kak Geta?” tanyaku memastikan.


“Iya, ketua OSIS.”


“Gilang kenal sama dia?”


“Iya, dulu, waktu MOS, kak Geta satu kelompok sama Gilang.” kata Ateg.


“Oh, yang nyamar itu, ya?” Aku nanya setelah ingat siswa baru yang mukanya tua, pakai kacamata, masuk dalam barisan siswa baru. Awalnya aku pikir dia sering ga naik kelas, ternyata dia ketua OSIS yang lagi nyamar.


“Iya, betul.” Ateg menjawab.


“Terus apa hubungannya, ketua OSIS sama Gilang ngejauhin aku?”


“Jadi gini, aku nguping pembicaraan mereka di depan ruang OSIS tadi pagi.”


“Masa?” tanyaku tidak percaya dengan penjelasan Ateg.


“Iya.” katanya memastikan.


“Gilang juga masuk kelas jam sepuluh.”


“Hah? Kok bisa?” Ateg nanya, nadanya jauh lebih kaget.


“Aku juga ga tahu.”

__ADS_1


“Tapi, sebelum masuk, aku beneran lihat Gilang, kok, lagi ngobrol dia sama ketua OSIS.”


Sebenarnya aku masih belum percaya, tapi aku menyetujuinya supaya Ateg ngasih tahu pembicaraan Gilang sama ketua OSIS.


“Jadi gini, kalau ga salah, kata Gilang: ‘Bilangin ke semua siswa, jangan ganggu Lutfi. Dia udah pacaran sama Kelvin.”


“Hah?!” Aku kaget.


“Iya. Dia bilang gitu.”


“Terus kenapa bilangnya ke kak Geta segala?!”


“Kan kak Geta, ketua dari semua ketua di sekolah ini. Ya, mungkin itu.... dia pengin hubunganmu sama Kelvin ga diganggu sama siswa lain.”


“Apaaa?!” Aku teriak membuat petugas perpus menatapku tajam dengan sebelumnya beberapa siswa berseru. “Ssstt!” Sambil menutup mulut mereka dengan jari telunjuk.


Aku ketawa lirih. “Dia beneran bilang gitu ke kak Geta?” tanyaku agak berbisik.


“Iya.” Ateg menjawab untuk memastikan. “Kayaknya, sih, gara-gara itu, deh, dia ngejauhin kamu.”


“Kok?! Engga, ih!” kataku kesal. “Kok dia bisa mikir gitu, sih?”


“Aku mana tahu.” kata Ateg. “Kamu sering bareng sama Kelvin, kali.”


“Iya, sih.”


“Ya orang-orang juga bisa mikir kalian pacaran.”


“Iiih, engga, Ateg! Ih!” kataku dengan lebih kesal lagi. “Bilangin ke dia!”


“Kok, aku? Kan kamu juga duduk bareng.” kata Ateg kebingungan.


“Pokoknya bilangin ke Gilang, Ateg! Plisss.....” Aku memohon dengan menyatukan kedua tangan, lalu kepala dibuat nunduk sedikit.


“Hmmm.... ya deh.”


“Asik! Makasih Ateg.”


“Sama-sama. Tapi nanti malam traktir aku makan, ya? He he he.”


“Siap.” jawabku bersemangat kemudian kami ketawa.


“Eh, ngomong-ngomong, aku bilang apa ke dia?”


“Aduh.... gimana sih? Ya bilang yang tadi.” kataku agak sebal.


“Apa?”


“Aku engga pacaran sama Kelviiiiin!” Aku berseru.


Kembali seruan Ssstt! Menghujaniku. Aku hanya ketawa kecil.


“Iya udah, ga usah teriak-teriak.”


“Tapi beneran bilang, loh!”


“Iya, nanti aku bilang.” jawab Ateg.


“Harus! Kalau lupa, ga jadi aku traktir makan di lamongan.”


“Serius? Mau traktir aku makan di sana?” Ateg nanya. Mukanya mendadak jadi semangat.


“Iya, tapi bilangin ya. Pliiissss....” pintaku kembali memelas.


“Kamu ngarep ya, jadi pacarnya Gilang?”


“Apaan, sih, Ateg, ih!” kataku malu-malu, lalu kami ketawa.


🌹🌹🌹


vi


Aku tahu sekarang. Pantesan aja Gilang menjauh.


Aku engga pacaran sama Kelvin, Gilang! Masa iya, gara-gara ga sengaja pulang bareng, kamu jadi ngira aku pacaran sama dia.


Ih!


Pokoknya, Ateg harus menyampaikan kepada Gilang kalau aku tidak pacaran sama Kelvin! Harus! Wajib! Titik.


🌹🌹🌹


vii


Sejak itu, mulai besoknya, aku sudah tidak pernah lagi ke kantin sama Kelvin.


Setiap pagi, istirahat atau jam kosong, dan dua hari ke depannya, selalu kuusahakan untuk menolak ajakan Kelvin pergi ke kantin atau perpustakaan. Sampai-sampai, aku sering milih diam, nemenin Gilang tidur di kelas.

__ADS_1


Jengkelnya kalau aku diam di kelas, Kelvin juga suka ikut-ikutan diam di kelas. Terpaksa deh, aku pergi, pura-pura ke toilet, atau mana, lah, pokoknya agar bisa lepas dari Kelvin, biar Gilang tahu bahwa aku tidak pacaran dengan Kelvin, dan terhindar juga dari gosip yang beredar tentang aku sama Kelvin pacaran.


Aku yakin, setelah itu, Kelvin ngerasa aku berubah. Sebenarnya, aku kasihan sama dia. Tapi biarin! Asal jangan Gilang yang berubah sama aku!


__ADS_2