
i
Aku masih duduk di sofa sambil mata tetap fokus kepada tayangan TV. Berita tentang menghilangnya Lutfi, belum kunjung selesai.
"Apa emang sepenting itu?"
Tapi kemudian, otak mulai mengajak aku untuk masuk ke dalam alam bawah sadar. Menerka kemungkinan terbesar pelaku penyebar berita Lutfi hilang. Maksudku, selama ini aku hanya membuat selebaran dan membagi-bagikannya ke orang-orang, juga menempelkannya pada tempat yang sering aku dan Lutfi kunjungi, dan aku tidak pernah sampai memikirkan untuk disiarkan di TV. Jadi, aku benar-benar penasaran dengan orang yang melakukannya.
Apa dia Andi Wibowo anaknya Bapak Saliyo? Ah, tapi rasanya mustahil mengingat pekerjaannya sekarang.
Atau mungkin Puryono? Tapi, kayaknya dia lebih sibuk ke urusan Paytren-nya.
Apa.... Mas Faqih, saudaraku di Jakarta? Hmmm.... kayaknya mustahil. Dia juga sibuk urusan di perikanan.
Tapi, kalau bukan mereka bertiga, lalu siapa? Siapa temanku lagi yang ada di Jakarta, yang sekiranya lebih pintar dariku? Maksudku, pintar sampai bisa memutuskan kabar menghilangnya Lutfi untuk disiarkan di TV tanpa persetujuanku?
"Mas Danu," sapa Pak Heru membuyarkan lamunanku.
Memang, di perusahaan ini, orang-orang lebih mengenalku dengan nama pena. Bahkan mungkin, mereka sama sekali tidak tahu nama Rizky Gilang Kurniawan.
Aku bangkit lalu menjabat tangannya.
"Gimana, sehat?"
"Alhamdulillah, Pak. Pak Heru sendiri, bagaimana kabar?" Aku balik bertanya, mencoba bertindak sopan.
"Sehat," jawabnya dengan seringai lebar pada bibirnya. "oya.... terima kasih, terima kasih karena sudah memenuhi panggilan saya supaya cepat datang ke mari." katanya ramah.
Aku ngangguk.
"Sekali lagi, maaf. Karena ada peruban rencana." Dia menjelaskan.
"Perubahan rencana?" tanyaku.
Pak Heru tidak menjawab, dia mengalihkan pandangan dan meninjau arloji pada tangan kirinya. "Nah, sudah waktunya," Kembali menghadap ke arahku. "mari...." ajaknya.
"Ke mana?" tanyaku.
"Oh, maaf karena saya lupa memberitahu. Rapatnya dimulai, sekarang."
Mataku terbelalak mendengar perkataan Pak Heru barusan. "Kalau tau gini, rapat dimajuin, aku ga bakal mau cepet-cepet sampai perusahaan, mana berkasnya belum siap lagi." Hatiku menggerutu.
🌹🌹🌹
ii
Di ruang rapat, aku duduk satu meja bersama orang penting perusahaan 0000. Pimpinan pemasaran, pimpinan penerbit, dan direktur perusahaan. Ada juga penasehat bukuku, seperti Pak Heru, Pak Zurri, Bu Sumiarti, dan Mas Beni—seniorku dalam menggarap naskah horor. Kemudian tiga orang lainnya, yang saat itu belum kutahu siapa mereka, bekerja di bagian editor. Musuh alami para penulis.
Kalian bisa menanyakan sendiri bagaimana menyebalkannya orang-orang seperti mereka. Men-judge habis karya yang sudah susah-susah dibuat, sama dengan karya buatan orang lain. Belum lagi, aturan kertas, jenis font, ukuran font, ukuran spasi, penggunaan huruf kapital, tanda baca, dan isi cerita adalah hal yang selalu mereka cari-cari kesalahannya agar bisa menghina karya kami. Dan akibatnya, karya itu akan ternilai murah di mata perusahaan. Membuat si penulis mendapat gajih sedikit, sedang mereka sebaliknya, dua sampai tiga kali lipat lebih banyak. Karena dianggap bekerja lebih banyak.
Ya menyebalkan memang! Meski sedikit editor yang tidak seperti mereka. Tapi tetap saja, saat harus mengubah isi cerita yang sudah dibuat memang sangat membuat sakit hati.
Bu Sumiarti memoderatori rapat kali ini. Rapat yang sebenarnya tidak masuk ke dalam hitungan otakku. Aku masih sibuk berunding pasal si penyebar berita.
Tidak butuh waktu lama ternyata, salah seorang editor langsung menanyakan hal yang sangat tidak ingin kudengar.
"Jadi, kali ini, Mas Danu akan membawakan cerita seperti apa?"
__ADS_1
Aku menggumam lama. Masih sibuk bersama otakku.
Kudengar batuk dari suara yang berbeda.
"Ssttt.... Mas, dijawab itu pertanyaan Mas Toto." bisik Pak Heru.
Aku tersentak, lalu memutar bola mata, berusaha mencari sesuatu yang bisa menjadi pemicuku untuk mengarang cerita. Tapi.... "Berita orang hilang," Ya! Hanya itulah yang terlintas di otakku.
Kulihat ekspresi orang-orang berubah masam, sedang ketiga editor memandang remeh ke arahku.
"Saya ingatkan Mas Danu, Anda harus membuat cerita kali ini dengan banyak unsur, tidak hanya tertuju kepada satu genre." ucap editor kedua.
"Bukan tentang kriminal di cerita detektif murahan." sambung rekannya yang lain.
"Mohon kepada para editor, beri waktu untuk Mas Danu menjelaskan inti ceritanya." sanggah moderator. Ya, ternyata aku tidak hanya rugi hari ini, masih ada untung dengan Bu Sumiarti yang menjadi moderator. "Mas Danu, waktu dan tempat kami persilahkan."
Aku mengangguk. Memejam sesaat lalu menghembus napas dan memusatkan pandangan ke arah jari yang tumpang tindih di atas meja. "Ada seorang pria, dia baru saja bertunangan dengan kekasihnya—"
"Jadi, romance lagi." gerutu Mas Toto memotong kalimatku.
"Sekali lagi, editor dimohon untuk diam sejenak, sampai Mas Danu menjelaskan inti ceritanya." tegas moderator.
"Tepat pada keesokan harinya, tunangannya itu menghilang tanpa jejak." kataku melanjutkan.
"Genre apa yang bakal Saudara bawakan?" tanya pimpinan pemasaran. "Genre romance-humor, sudah terlalu banyak pembuatnya. Genre romance-horor, sering kali hanya tertuju kepada kisah horor. Genre romance-petualangan, saat ini cukup kurang peminatnya." Dia menjelaskan. "Jadi, saya lebih menyarankan genre romance-action. Saat ini, cukup banyak pembaca berharap ada penulis yang bisa membawakan kisah demikian. Bahkan beberapa sutradara siap membuat film dari novel genre itu, tentunya kalau kisahnya menarik dan karya itu laku di pasaran."
"Tunggu, jangan gegabah." sanggah editor. "Bukankah kisah tentang kekasih yang hilang sudah sering dibuat?"
Ya, lagi-lagi dia menghina karyaku. Aku tahu, dan sadar betapa kokoh dan sangat beralasan orang-orang seperti mereka.
"Tidak!" sanggah Pak Heru. "Kebanyakan hanya mengisahkan kepergian karena pihak ketiga, atau karena sakit yang diderita. Saya sendiri, merasa kalau kisah itu sudah sangat cocok dan pas karena belum jelas alasan si wanita pergi. Dan saya lebih setuju jika kisah itu dibawakan dengan genre romance-humor. Karena kisah yang demikian bisa dinikmati oleh seluruh kalangan." Pak Heru menanggapi.
"Saya kurang sependapat dengan Mas Toto," sanggah Pak Zurri. "menurut saya, sekarang ini, sudah banyak bermunculan penulis. Jadi, persaingan adalah hal yang wajar. Dan Mas Danu selalu bisa membuat karyanya yang khas, menembus harga pasar."
"Saya setuju dengan Pak Zurri." tanggap pimpinan penerbit. "Mas Danu memang selalu bisa membuat novel dari segala genre, dan selalu ada ciri khas dari kisahnya itu. Menurut saya, mari kita coba dengarkan pendapat Mas Danu terlebih dulu, karena dia yang akan membuat ceritanya. Bagaimana Direktur?"
Pria itu mengangguk setelah mengambil napas. "Sesuai kontrak, kau akan berkolaborasi dengan penulis lain. Jadi, kau harus memutuskan dengan tepat."
Tidak kutanggapi, otakku masih sibuk menerka si pengirim berita dan lebih kepada Lutfi. "Apa mungkin, dia sendiri yang membuat berita itu? Ah, mustahil...." Hatiku masih sibuk berunding.
"Silahkan Mas Danu," kata Bu Sumiarti mengejutkanku.
Aku menggumam beberapa saat, sebelum akhirnya kembali berkata. "Seketika kabar menghilangnya si wanita tersebar dengan begitu cepat tanpa disadari oleh si pria. Bahkan sampai diberitakan di beberapa channel TV. Padahal, si pria tidak melakukannya, saudara dan teman terdekatnya juga tidak ada yang melakukannya."
"Jadi, ini genre misteri?" tebak Mas Toto.
"Apa Anda sudah tertarik, sekarang?" tanya Pak Zurri.
Kulihat, dia mengangguk. "Aku akui, Mas Danu memang selalu memiliki ciri khasnya."
"Bagaimana Direktur?" tanya pimpinan penerbit meminta pendapat.
"Apa hal menarik dari si pria?" Direktur bertanya.
Aku menggumam, berpikir cukup lama, sampai membuat editor kembali berkata: "Apa kau akan membuat tokoh utama sama dengan kisah sebelah, bad boy? Aku sudah sangat bosan dengan kisah seperti itu."
"Menurutmu, apa yang bakal kau lakukan kalau istrimu mendadak menghilang tanpa jejak?" Aku bertanya membuat wajahnya berubah: terkejut, begitu pula orang-orang di ruang rapat.
__ADS_1
"Lanjutkan," pinta Direktur.
Aku mengangguk. "Hanya ada dua pilihan: 'berjuang menemukannya atau berjuang meninggalkannya'."
"Jadi, ini soal ujian?" Pak Heru bertanya. "Ini adalah hal yang sangat sulit bagi para pria, bukan?"
Mas Toto menggumam. "Jadi, si pria itu sangat setia?"
"Belum tentu," sanggah Bu Sumiarti. "kebanyakan pria tidak setia, jadi kalau membuat tokoh utama setia tanpa alasan, jelas itu akan sangat ditolak oleh publik."
"Saya setuju dengan moderator." ucap rekan Mas Toto. "Mas Danu, harus bisa memunculkan tokoh yang membuat tokoh utama pandai dalam menjaga kesetiaannya."
"Selain pasangan, siapa yang mengajari Anda untuk tidak selingkuh?" Aku nanya, membuat dia tersentak, sedang Bu Sumiarti sebagai satu-satunya wanita di tempat ini, tertawa lirih.
Pria itu menggebrak meja. "Kau menuduhku tukang selingkuh?!"
"Mas Deni!" tegas Pak Zurri. "Kau tidak mengakui kalau kau pernah selingkuh?!"
Pria yang disebut namanya menunjukkan ekspresi kesal, lalu kembali duduk dengan terpaksa.
"Baik, ini sudah cukup menarik untukku." ucap pimpinan penerbit. "Kisah ini akan memberi pelajaran besar bagi kaum pria, seperti apa yang ada di buku Muslimah Sejati. Tapi kali ini, kau akan membawakannya ke dalam bentuk novel, bukan?"
Aku mengangguk.
"Bagaimana Direktur?" tanyanya lagi memastikan.
Dia memberi isyarat setuju. "Hanya jika.... kau menggunakan sudut pandang 'aku'."
Aku tersentak mendengarnya. Seakan Direktur sudah menebak apa yang ada di pikiranku.
"Bagaimana?" tanya dia kemudian.
Aku ngangguk.
"Saya ingat, belakangan ini ada berita tentang tunangan yang menghilang tanpa jejak. Apa Anda terinspirasi dari kisah itu?" tanya Mas Toto.
"Hmmm.... jadi Anda mengambil ini dari kisah nyata? Apa Anda sudah meminta izin kepada si pelaku?" tanya editor lain.
"Untuk masalah izin, perusahaan bisa menyiapkan surat dan berkas lainnya." ucap Bu Sumiarti. "Bukan begitu Direktur?"
Dia mengangguk. "Kau hanya tinggal menemukan di mana orang itu berada."
"Bagaimana Mas Danu?" Pak Heru nanya.
"Hanya jika kalian menerima kisah ini." jawabku.
"Baik, saya akan melakukan voting." kata moderator. "Silahkan yang tidak setuju angkat tangan kalian."
Awalnya Mas Deni mau mengangkat tangan, tapi setelah matanya melirik ke arah Mas Toto dan Mas Hendri, dia mengurungkan niatnya itu.
"Baik, sudah diputuskan." ujar moderator.
"Jadi, butuh berapa lama untukmu menemukan si pelaku?" tanya Direktur.
"Si pelaku, sudah ada di ruang ini."
Semua orang terkejut setelah mendengar perkataanku.
__ADS_1
"Maksudnya.... itu kisah nyatamu?" tebak Pak Heru.
Aku mengangguk.