Lutfi Gilang

Lutfi Gilang
19. Novelist vs Komikus


__ADS_3

i


Kami baru saja keluar dari ruangan Mas Beni dan secara kebetulan bertemu dengan Mas Dodit.


"Mas Radit," sapa Mas Dodit.


"Dodit," sapa Mas Radit.


"Mas Radit," ulang Mas Dodit.


"Dodit," ulang Mas Radit.


"Mas Radiiit...." seru Mas Dodit.


"Dodiiit...." seru Mas Radit.


Keduanya bersalaman cukup lama, layaknya seorang kekasih yang telah lama tidak berjumpa, kini tengah melepas rindu dan asa.


Kudengar Mas Beni mendadak batuk, membuat keduanya melepaskan jabat tangan mereka.


"Dodit, ngapain di sini?" tanya Mas Radit mendahului.


"Saya kerja Mas," jawab Mas Dodit dengan ekspresi malu-malu.


"Oooh.... kerja apa sekarang?" Mas Radit nanya.


"Kerja menjadi orang yang paling penting di perusahaan." Mas Dodit berkata sambil membusungkan dada.


Kulihat Mas Radit tampak terkejut. Sedang aku dan Mas Beni menahan tawa.


"Waaah.... hebat! Orang penting apa?" tanya Mas Radit.


"Loh, bukannya Mas Radit udah tau?" Aku ikutan menyambung.


Wajah Mas Radit kembali terkejut. Bibirnya tampak gemetar, tapi tidak menghasilkan suara. Matanya berputar-putar, tidak jelas tertuju ke arah mana.


"Mas Radit, ngapain di sini?" tanya Mas Dodit seakan menolong Mas Radit yang sedang kupojokkan.


Dia menghembus napas. "Gue mau ambil kontrak buat nulis lagi, di sini."


"Mas Radit masih aja sama," ujar Mas Dodit.


"Sama gimana?" Mas Radit nanya minta penjelasan.


"Iya sama, bulu hidungnya panjang. He he he, 'Lepaskan aku Radit! Lepaskan!'" ucap Mas Dodit mengejek Mas Radit membuat aku dan Mas Beni terkejut sekaligus ketawa.


Kulihat Mas Radit berusaha memasukkan bulu hidungnya dengan jari. Kemudian menatap Mas Dodit kesal. "Ah, lo juga masih sama, kumis lo itu, loh, udah menjerit-jerit. 'Lepaskan aku Dodiiit!!! Aku juga mau bekerja!"


Balasan dari Mas Radit membuat aku dan tentunya Mas Beni tergelitik. Tingkah mereka seperti anak SD yang sedang mengejek satu sama lain.


"Mas Radit, walau udah nikah juga ga berubah. Tetap aja RA. RA-DITYA, RADITYA.... orang biasa yang sudah menikah." tambah Mas Dodit.


Mendengar keduanya saling meledek, mendadak aku mengingat video Mas Radit vs Mas Dodit di salah atu channel youtube. Kalau ga salah, itu terjadi saat acara Stand Up Comedy. Buat kalian yang belum pernah nonton, cek aja sekarang! Biar ga penasaran.


"Ini, lo ke sini cuma buat ngatai aku doang?" tanya Mas Radit kemudian.


"Loh, saya engga kok, Mas. Saya ke sini mau nemuin Mas Danu." jawab Mas Dodit.


"Ada urusan apa?" sambung Mas Beni.


"Mba Clara nunggu di ruang Direktur."


Mendengar jawaban Mas Dodit, aku langsung bisa menebak kalau wanita itu meminta bantuan Pimpinan Perusahaan 0000, karena aku tidak kunjung menemuinya untuk membahas masalah novel yang sudah diputuskan dua hari lalu saat rapat, di mana deadline akhirnya di awal bulan Februari tahun depan.


Ah, kalian lupa lagi rupanya. Baca bab Rapat Orang Hilang.


"Dia nunggu di ruang Direktur, ya itu urusan dia. Ga ada hubungannya sama Mas Danu, kan?"


Aku diam, tidak menanggapi pertanyaan Mas Radit barusan. Otakku mencoba mencari solusi untuk menjauhkan dia dari diriku. Maksudku, aku tidak mau kolaborasi dengannya, karena dia wanita, ditambah sudah ada Mas Radit sekarang. Jadi, menurutku, naskah kami nanti akan menjadi karya yang luar biasa.


Bukan aku membenci wanita itu, tentu saja bukan. Aku bahkan belum pernah melihatnya sekalipun. Dan, kalian pasti tahu bagaimana pribadiku ini. Ya, 'Anti dengan wanita kecuali Mamahku dan Lutfiku'.


Anti di sini bukan berarti alergi atau sejenisnya, tapi lebih tertuju kepada menutup diri dan hati dari wanita lain selain keluarga dan pasangan sendiri. Jika kalian—pembaca wanita—menemukan pria seperti itu, jangan sampai dilepaskan! Tapi hati-hati juga, ada kemungkinan dia homo. He....


"Ada Mas," Mas Beni angkat bicara. "Mba Clara itu penggantinya Mas Radit."


"Aduh, bisa gawat kalo gini. Ya udah, ayo Mas Banu kita berangkat." ajak Mas Radit.


Aku ngangguk.


"Siapin senjata pamungkasmu!" perintahnya.


"Siap Pak!" Mas Dodit berseru meniru gaya prajurit.


"Bukan lo," gerutu Mas Radit.


"He he he," Mas Dodit ketawa.

__ADS_1


"Tapi Mas Banu," sambung Mas Radit. "ayo!"


Aku ngangguk dan melangkah di sisinya. Kini, tiba saatnya kami memasuki medan perang. Melawan kehendak Direktur, kontrak, dan si wanita pengganti.


🌹🌹🌹


ii


Sampai di ruang Direktur.


"Wah, lihat siapa yang datang?" ucap suara wanita yang aku yakin milik Clara.


"Mas Danu, rupanya kau membawa orang penting ke mari. Silahkan duduk Mas Radit, Mas Danu."


Mas Radit duduk setelah menyalami Direktur dan Clara, sedang aku hanya kepada Direktur.


"Apa yang membuat orang super sibuk sepertimu datang ke mari?" tanya Direktur dengan nada ramah.


"Kau tidak bermaksud mengambil posisiku, bukan?" tanya Clara.


"Itu tujuan saya membawa Mas Radit ke sini, Pak." Aku jawab.


"Hmmm...." gumamnya. "jadi, kau mau bernegosiasi?"


Aku ngangguk. "Sesuai kesepakatan, kalau saya berhasil membujuk Mas Radit, saya akan berkolaborasi dengannya seperti apa yang tertulis di kontrak awal." Aku mencoba menjelaskan.


Tatapan Direktur beralih kepada Mas Radit. "Apa yang membuatmu mau menulis dengan Mas Danu?"


"Hmmm.... saya mau coba suasana baru, jawabnya membuatku terkejut.


"Suasana baru itu, apa maksudnya?" Hatiku bertanya-tanya sendiri.


"Jelaskan," pinta direktur.


"Saya udah biasa bkin novel romance-humor dari rutinitas harian. Jadi, dengan nulis bareng Mas Danu, saya yakin kalau saya bakalan dapet suasana baru. Dan saya juga yakin, kami pasti bakal bikin novel yang laris pembaca dan pembeli, nantinya juga karya kami itu pasti bakalan menembus harga pasar." jelas Mas Radit berargumen.


"Hmmm...." gumam Direktur. "dari mana kepercayaan itu datang?"


Mas Radit memandang ke arahku.


"Ha ha ha, sepertinya karyawanku ini sudah merepotkanmu, ya?" tebak Direktur.


Aku menyetujuinya dengan anggukan.


"Tidak sama sekali," ucap Mas Radit. "saya belajar hal baru dari Mas Danu."


"Jelaskan," pinta Direktur.


"Siamang kembar." jawab Mas Radit.


"Siamang kembar?" Clara menyambung. "A-apa itu?"


"Sejenis kera berlengan panjang, umumnya berwarna hitam, tapi ada juga yang putih. Sekarang, Siamang jadi spesies yang terancam punah karena deforestasi habitatnya cepat." Mas Radit menjelaskan layaknya pakar hewan.


"Hmmm.... kalau dipikir-pikir, Mas Radit memang sering membuat buku dengan judul dari nama-nama hewan. Apa mungkin, Mas Radit emang punya cita-cita jadi pawang hewan?" bisik batinku.


"Jadi, ada apa dengan 'Siamang kembar' ini?" tanya Direktur.


"Mereka bikin ikatan seumur hidup satu sama lain. Itu mirip kayak inti kisah yang bakal kami buat. Si wanita ilang tanpa jejak, tapi bukan gara-gara orang ketiga, bukan juga karena hubungan yang ga direstui. Dia pergi karena suatu alasan, dia pingin tau seberapa setianya si pria yang jadi pasangannya itu. Dan pasangannya yang jadi tokoh utama usaha mati-matian buat jaga cintanya sambil terus nyari si wanita."


Kulihat seringai Direktur berkilat, pertanda bahwa dia tertarik dengan kisah yang dikarang oleh Mas Radit barusan. Memang, aku sendiri pun demikian. Tidak tahu kalau soal Clara, karena aku tidak melihat wujudnya sama sekali.


"Jadi bagaimana Direktur? Anda membolehkan Mas Radit untuk mengambil kontraknya dengan saya, bukan?"


Dia mengangguk, membuat aku dan Mas Radit bahagia. Namun, itu tidak berjalan lama. "Hanya jika, kalian setengah jam lebih cepat."


"Hah?!" Kami berseru bersamaan.


"Apa maksudnya Direktur?" Aku mendahului Mas Radit.


"Perjanjian, tetap perjanjian." tambahnya. "Aku sudah memberimu surat peringatan dua hari lalu."


"Su-surat?" Aku tergagap.


"Jangan bilang, kau tidak membacanya sama sekali." ucap Clara.


"Surat apa?" Mas Radit nanya.


"Di dalam surat itu tertulis: 'Jika kau berhasil menemukan pengganti dari Clara sebelum hari Jumat pukul sebelas siang, aku akan menyetujui perubahan terbaru itu. Tapi jika tidak, kau akan tetap berkolaborasi dengan Clara.'"


Aku tertunduk, merasa benar-benar bodoh karena sampai lupa tidak mengecek isi surat yang dititipkan tetangga sebelah kepadaku.


"Aku sudah minta sama Mas Dodit dan Mas Beni buat nyuruh kamu nemuin aku, tapi.... kau baru menemuiku sekarang." Clara menyaut. "Aku bahkan sudah ngirim pesan sama kamu. Tapi, kamu ga pernah jawab sama sekali."


Aku lagi-lagi terkejut. Selama ini, jika ada pesan darinya langsung kuhapus, dan jika dia menelfon, ponsel pintarku langsung kubuat daya mati.


"I-itu beneran, Mas Danu?" tanya Mas Radit.

__ADS_1


Aku ngangguk.


Kudengar dia mendengus. "Tapi, saya sudah datang, loh, Pak. Apa tidak bisa dipertimbangkan lagi?"


Direktur menggeleng.


"Kami pasti bakal bikin novel yang bagus banget, Pak! Direktur juga pasti percaya, kan, kalau novel buatan kami bakal laku di pasaran?" Mas Radit masih berusaha membujuk.


"Keputusan saya, sudah bulat." kata Direktur tegas.


"Ta-tapi.... Direktur lihat sendiri—"


Kalimat Mas Radit terpotong karena suara pintu yang digebrak. Dari sana muncul sosok pria berkumis, berjenggot, dengan rambut kepala gobdrong. Dia, Mas Dodit.


"Mas Radit jangan ngeyel kayak anak kecil, nanti bisa-bisa dipecat, loh, sama Pak Bos Direktur." ujarnya.


Aku dan Mas Radit terkejut melihat Mas Dodit yang mengenakan setelan rapi. Sepatu pantofel hitam, celana hitam, kemeja putih, dasi hitam, dan jas hitam.


"Do-Dodit.... kenapa lo pake baju begituan? Lo mau nikah? Kan lo udah punya istri satu. Jangan bilang kalo lo mau poligami." Mas Radit nanya.


"Ho ho ho, kan saya sudah bilang sama Mas Radit, saya orang penting di perusahaan ini." jawabnya.


"Orang penting? Apa maksdunya?" Aku bertanya-tanya sendiri.


Mas Dodit melangkah melalui kami, lalu menyalami Direktur dan berkata: "Maaf Pak, saya mau izin kondangan."


Aduh....


"Kirain, mau ngapa, ke sini pake baju begituan." ucap Mas Radit kesal.


Aku juga.


"Loh, saya mau minta izin, kok sama Pak Bos Direktur. Ga enak saya, kalo ke ruangan Pak Bos Direktur malah pake baju kuli. Udah bau kecut, asem, pedas, manis,—"


Batuk Clara menghentikan omongan Mas Dodit.


"He he he, gimana Pak Bos Direktur, saya boleh izin apa engga, nih? Kalo ga boleh, ya saya ngundurin diri aja langsung."


Kalimatnya membuat seisi ruangan ini terkejut. Kalian juga, kan?


Direktur tertawa, hal yang sangat sukar dilakukan oleh seorang pimpinan. "Untuk karyawan yang giat dan sopan sepertimu, tentu aku memberimu izin." Tangan Direktur meraih saku jas bagian dalam, kemudian meletakkan tiga lembar seratus ribu di atas meja, dan mendorongnya ke arah Mas Dodit.


"Pak Bos Direktur ngasih saya uang transport?" tanya Mas Dodit dengan wajah gembira. "Waaah.... makasih banget ini, loh, Pak Bos Direktur. Saya jadi semangat kondangannya. Semangat buat makan gratis di sana. He he he,"


"Itu saya titip kondangan sekalian,"


Mas Dodit tersendak air liurnya sendang aku dan Mas Radit berusaha menahan tawa.


"Pak Bos Direktur tau saya mau kondangan ke mana?" tanya Mas Dodit dengan sedikit nada kesal.


"Nikahan anaknya Mas Anton, kan?" tebak Direktur.


"Walah.... jadi Pak Bos Direktur emang tau segalanya, ya? Saya juga kepengin bisa kayak Pak Bos Direktur."


"Ha ha ha," Lagi-lagi Direktur tertawa.


Rasanya, Direktur mudah sekali bahagia gara-gara Mas Dodit.


"Ya sudah, saya permisi dulu, Pak Bos Direktur." Mas Dodit menyalami Direktur, lalu aku, kemudian Mas Radit, dan terakhir Clara. "Monggoh semuanya," kata dia sambil menutup pintu. Selanjutnya terdengar suara: "Aaah.... ga diberi uang transport, Pak Bos Direktur peliiit!!!"


Aku tersentak mendengarnya. Kulihat ke arah Direktur, dan benar dugaanku, wajahnya berubah marah.


"Jadi.... gimana Pak?" Mas Radit kembali bertanya pada topik awal.


"Tetap tidak!" Dia berseru keras. Sangat keras. Memaksa aku dan Mas Radit cepat-cepat pergi dari ruangannya.


🌹🌹🌹


iii


"Ah, sial! Ini semua gara-gara Dodit!" gerutu Mas Radit di lift yang sedang bergerak turun. "Udah ngejek gue, bikin Direktur marah pula, kena ke gue juga! Tuh anak ngajak berantem apa, ya?"


"Maaf, udah bikin Mas Radit kena marah, juga." kataku.


"Ga papa. Ini bukan salah lo."


"Iya Mas. Tapi, kesempatan kita udah abis. Maaf karena saya tidak bisa bujuk Direktur.


"Ya.... mau gimana lagi? Soalnya udah ada hitam di atas putih." ujarnya menjelaskan. "Itu udah bener-bener ga bisa diganggu-gugat."


"Maaf, Mas. Ini semua gara-gara saya teledor, tidak membaca pesan dari Direktur dan Clara."


"Ga papa," katanya sambil menepuk pundakku. "lain waktu, kalo lo mau nulis bareng ama gue, gue pasti mau, kok."


Aku senyum menjawab pernyataannya. "Makasih Mas,"


"Sama-sama,"

__ADS_1


__ADS_2