
i
Masih hari yang sama, sekitar jam lima sore, waktu aku sedang menyuci baju, aku mendengar bel berbunyi, karena dipijit oleh tamu. Sedetik kemudian aku bisa pastikan ibu kost membuka pintu. Memang setiap tamu begitu. Kalau anak kost sini, pasti langsung masuk karena pegang kunci sendiri-sendiri.
Tak lama kemudian ibu kost menghampiriku.
“Ada tamu,” katanya. “Mau ketemu Lutfi Nurtika. Itu kamu, kan?”
“Iya bu. Siapa ya?”
“Ga tau, cowo. Pacarmu, ya?”
“Ih! Apaan, sih? Engga, ih! Aku ga pacaran.”
“Pasti yang semalam telpon, deh.” kata ibu kost meledek.
“Masa?” Aku kaget.
“Ditemuin dulu.”
“Tapi aku lagi nyuci.”
“Udah temuin dulu, suruh cepat pulang, soalnya mau Maghrib.”
Aku mengangguk. Membersihkan tanganku dari busa dan langsung menuju pintu depan, menemui tamu itu.
Ya Tuhan, aku kaget, ternyata tamunya Raja Tidur, pria paling ngeselin yang pernah kukenal di dunia ini, bahkan sampai sekarang, sepuluh tahun ke depan.
Aku senyum kepadanya yang senyum kepadaku, tapi aku sinis, masih jengkel dengan janji palsunya.
“Hai,” sapanya.
Aku mengangguk.
“Pasti malas?” tanyanya.
“Maksudnya?”
“Iya, malas menunggu.”
Malas menunggu? Oh, aku tahu! Iya, memang aku sangat malas menunggu janji palsumu itu!
Aku mengangguk untuk menjawabnya.
“Aku juga.”
“Juga apa?”
“Malas menunggu.”
“Terus?”
“Ini kadonya.” Dia langsung bilang gitu seraya menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna pink sambil masih berdiri di depan situ, di depan pintu.
Jadi dia beneran ngasih? Ah! Udah basi. Bosan aku nunggu kelamaan.
“Pasti mau bilang: ‘Udah basi. Bosan nunggu kelamaan.’, iya, kan?”
Eh? Kok tahu?
__ADS_1
Tapi aku tidak berkata-kata.
“Maaf, soalnya tadi aku bilang: ‘Habis pulang.’. Jadi harus nunggu.”
Hah? Jadi karena itu toh? Maksudnya habis pulang, ya emang setelah pulang dari sekolah? Aduh! Aku jadi malu sendiri karena ga sabaran.
Aku ketawa lirih sambil garuk-garuk kepala. Aku sangat yakin kalau wajahku saat itu pasti kelihatan sangat memalukan.
“Dibuka, ya?” katanya. “Tapi nanti.”
“Oke.”
Aku senyum sedikit menanggapi senyumnya. Tak kusangka, Gilang melalukan persis, sesuai apa yang sudah dia bilang kepadaku. Dan tentunya, dia tidak cuma umbar janji. Itulah yang membuatku kagum sekaligus bingung.
“Aku langsung, ya?”
Dia permisi untuk pergi.
“Eh, semalem aku juga lupa nanya.”
“Apa?”
“Kok tahu aku ngekost di sini?”
“Siapa, yang ngasih tahu ada kost di sini?”
Aku jadi keinget surat yang dia kasih pertama kali, yang dititipin ke Ateg. “He he he.”
“Aku juga bakal tahu di mana rumahmu.”
“Jangan sampai!”
“He.” Dia ketawa sekali, aku juga tapi berkali-kali.
“Siapa?”
“Laki-laki.”
“Itu sih jelas!”
“Iya, kan?”
“He he he.”
“Aku pergi dulu, ya?”
“Iya,” jawabku.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Kulihat dia menaiki sepeda nenek berwarna pink pudar sembari melambaikan tangan. Aku menyautinya dengan gembira lalu masuk dan menuju ke kamar.
🌹🌹🌹
ii
Di kamar. Aku senyum-senyum sendiri terutama karena memikirkan omongannya yang bukan cuma di mulut saja. Dan ketika kuingat soal pesan-pesannya, itu juga tidak sekadar iseng. Dia benar-benar lakuin semuanya.
Aku senang, bukan hanya mendapat kado darinya, tapi juga karena aku salah sangka kepadanya. Iya, aku gembira dia bukan cowok yang nyebelin seperti dalam pikiranku.
__ADS_1
Kubuka kotaknya, tampak sebuah gantungan kubus berwarna merah. Di dua sisi yang saling membelakangi bertulis lafadz Allah SWT. dan Muhammad Saw., sedang di sisi lainnya diukir hiasan yang juga berwarna silver. Simpel, tapi mewah aku suka.
Ketika kulihat lagi wadahnya, ada sebuah kertas yang dilipat kecil. Aku langsung mengambinya.
Ini surat! Aku dapat surat lagi darinya. Aduh, entah kenapa aku begitu senang.
Kubuka dan kubaca pesan darinya sambil tiduran di atas kasur.
Itu adalah surat yang ditulis dengan pena merah di atas kertas HVS. Di tiap sisinya, ada gambar hiasan warna-warni, dibikin pake spidol warna. Gambarnya bagus. Entah buatan siapa. Tapi aku suka, paling suka mawar di bagian bawah tengah.
“Hadiah: Ditujukan untuk Lutfi, sebagai kado di hari kelahirannya. Tolong dterima dan digunakan sebagaimana fungsinya. Dari penggemar terberatmu, Gilang.”
Setelah kubaca, aku tidak mengerti kenapa aku merasa tak ingin segera beranjak dari ranjangku. Benar-benar seperti seorang yang sedang dijerat oleh rasa penasaran akan dirinya.
Sambil tiduran, aku kembali menampilkan wajah dan suaranya dalam khayalanku. Segera aku memejam untuk mengusirnya, namun yang ada justru makin jelas. Dan aku tersenyum bahagia.
🌹🌹🌹
iii
Ah, sial!
Hal itu membuatku kelupaan soal cucianku, untung saja ibu kost mengetuk pintu dan mengingatkanku. Segera aku meletakan surat itu di atas meja bersama surat lainnya, sambil senyum-senyum sendirian dan pergi ke tempat menyuci, menemui cucianku.
Kucuci baju-bajuku dengan pikiran yang penuh akan dirinya. Aku berusaha melupakannya sembari menyanyi, meski hanya keluar gumaman dari mulutku. Tapi susah, tanpa sadar mulutku justru menyebut namanya. Gilang. Begitu.
Aduh, aku kenapa sih?
🌹🌹🌹
iv
Esoknya aku masuk kelas dengan gembira. Teman-teman menyadari ada sesuatu yang berbeda dari aku.
Seketika mereka menggerombol di sekitar tempat dudukku, lalu bergiliran bertanya. Mulai dari: beli di mana, beli kapan, harganya berapaan, sampai: siapa yang ngasih.
Tapi aku hanya menjawab dengan senyuman. Aku yakin, mereka pasti mengira, aku mendapatkan ini dari cowo yang suka sama aku atau aku suka sama dia.
Kulihat wajah Kelvin cemberut. Aku juga mendengar dia bilang: “Bagus, tapi kalau aku yang ngasih bakal kukasih yang lebih bagus.”
Sontak siswa yang lain berseru meledeknya. Sedang aku terkekeh, agak jijih sih. Dia cuma omdo soalnya. Kemudian mereka bergegas duduk di kursi masing-masing karena guru sudah masuk ke kelas.
“Kelihatannya kamu lagi senang banget hari ini?”
Aku sedikit kaget mendengar suara Gilang. Kutatap wajahnya dan memberikan jawaban anggukan kepala sama senyuman.
“Gara-gara ada yang baru?”
Kembali aku mengangguk. Ini untuk pertama kalinya aku setuju dengannya.
Dia menggumam dan kembali berkata yang membuatku syok.
“Selain gantungan itu, gaya rambutmu yang baru, emang bikin kamu kelihatan lebih imut dari biasanya.”
Aku tersentak kaget. Memang saat itu aku sedang mencoba model baru. Rambut sempong ke kanan, namun di bagian kiri tersisa beberapa helai yang lurus berada di depan. Sedangkan di bagian belakang sedikit rambut kuikat di bagian paling atas, sehingga rambut bawahnya dibiarkan terurai.
Dan, aku sangat-sangat tidak menyangka, Gilang menyadari itu. Bisa dibilang, dia yang pertama kali menyadarinya, dan hanya dia yang sadar.
Aku bingung harus memberikan respons apa. Selain gantungan dan surat yang dia kasih kemarin, komentarnya tentang penampilanku juga menjadi kado tersendiri yang bernilai sangat besar bagiku.
Apa Gilang selama ini memerhatikan aku?
__ADS_1
Aku diam, hanya tersipu malu. Begitu bahagia mendapat kado darinya. Dia, fansku yang aneh.
Jam berapa sekarang? Oh hampir subuh. Aku mau istrahat dulu. Nanti, kulanjut lagi ceritanya.