Lutfi Gilang

Lutfi Gilang
29. Surat Pertama


__ADS_3


i


Aku baru saja tiba di Jakarta waktu sore. Hari ini aku mengenakan baju baru. Biasanya kalau pakai baju baru pasti aku senang, tapi kali ini tidak. Tentu saja tidak. Mana ada orang yang senang pakai baju tahanan?


"Pak, berapa lama saya harus menunggu?" tanyaku saat petugas mengunci sel di mana ada 2 buah kasur tingkat dengan tiga narapidana lain yang sudah ada di sana sejak aku melalui portir, dan memasuki beberapa blok sebelum akhirnya berhenti di depan sel tahanan mereka.


"Penuntut bakal datang dua hari lagi." jawabnya seraya pergi. Kembali pada tugasnya.


"Udah, namanya penjahat ya dipenjara. Ga usah berharap buat cepet dibebasin." ujar narapidana yang satu kamar huni denganku.


Diam, tidak kutanggapi.


"Iya, tuh.... dengerin orang baru!" seru narapidana lain.


Aku tetap tidak bergeming.


"Heh bocah!" bentak narapidana ketiga sambil menarik bajuku. "Jangan sombong lo!"


Aku tidak bersuara, bahkan tidak memandang ke arahnya sama sekali.


"Liat gue! Lo berani sama gue, hah?!" serunya.


Aku masih mengacuhkannya.


Mendadak pria itu mendaratkan pukulannya tepat di pipi kananku sampai aku terlempar dan menubruk batangan besi. Sedang kedua narapidana lainnya bersorak sambil bertepuk tangan.


Aku bangun dan tetap menganggap mereka tidak ada. Memandang ke luar sel. Sedikit bingung sebenarnya karena polisi tidak menyadari kegaduhan yang terjadi. Tapi, biarlah. Mungkin saja mereka sedang sibuk.


"Pengecut!" umpatnya.


Tapi tetap tidak kupedulikan. Aku memaklumi perbuatan mereka, karena aku yakin mereka merasa kalau mereka adalah senior di dalam kamar huni ini. Ya, selayaknya senior, pasti kalian tahu sendiri bagaimana tingkah mereka yang sok-sokan tahu segalanya dan sok-sokan menguasai apa pun.


Apalagi narapidana kekar dengan tangan dan leher bertato yang tengah berdiri di sisiku sambil mengintimidasi dengan segala kesangaran menurutnya. Membusungkan dada, menarik bajuku, mengancamku, dan memukulku. Dua kali, tiga kali, sampai kali ke tujuh.


Aku bisa saja membalasnya, tapi aku tidak ingin tersulut emosi, apalagi waktu Maghrib begini. Sangat banyak setan lewat soalnya. Dan tentu saja aku tidak mau diriku dikuasai oleh amarah.


Lagi pula apa yang dikatakan mereka tidak salah. Aku adalah penjahat, yang membiarkan tunanganku menghilang tanpa jejak dan lebih dari sebulan lamanya tetap tidak berhasil menemukan di mana tunanganku berada.


Aku adalah orang baru, yang belum mengerti apa pun tentang cara dunia ini bekerja yang pada akhirnya membuatku harus kehilangan kekasihku, kehilangan banyak hal.


Aku adalah pengecut, yang tidak berani mengambil risiko dan lebih memilih pada jalan tengah yang mana membuatku tidak berkembang dalam mencari informasi tentang keberadaan Lutfi dan tidak berhasil menyelesaikan masalah soal fitnah bahwa aku berselingkuh.


Jadi, untuk apa aku menyangkal pernyataan mereka kalau itu semua adalah benar?


"Beri dia pelajaran Palkam!" Narapidana pertama berseru.


Palkam atau Kepala Kamar adalah sebutan bagi orang yang diberi tanggungjawab untuk mengatur segala urusan di dalam kamar huninya. Setiap kamar huni selalu memiliki 1 orang Palkam.


Aku berterima kasih kepada dia karena telah memberiku informasi kalau narapidana dengan tato dan badan kekar di sisiku adalah penguasa kamar huni ini. Mungkin, kalau aku berhasil membuatnya bungkam, mereka tidak akan lagi mengusikku.


"Hmmm.... tapi apa harus aku memukulinya hanya demi diriku? Rasanya aku orang yang egois sekali." pikirku.


Narapidana kedua mendekat dan memegang batang besi di sisi kananku kemudian berteriak memanggil petugas. Setelah petugas mendekat, dia menanyakan alasan aku dipenjara. Lalu selepas mendapat jawaban pria itu menatapku sambil memberi ejekan: "Koruptor!"


Aku masih tidak peduli. Dia menganggapku begitu karena tidak mengerti secara detail apa yang telah terjadi. Dan aku juga tidak memiliki kewajiban untuk memberitahunya. Satu hal yang kuinginkan hanya cepat keluar dari tempat ini.


Petugas kembali ke pos jagaannya dan meninggalkan aku yang sedari tadi terus diejek banyak hal dari ketiga orang narapidana di kamar huni ini. Mungkin, ketiganya bermaksud membuatku marah supaya waktu hukumanku diperpanjang.


Ya, seperti itulah kenakalan mereka. Karena bagi orang-orang seperti mereka mengerjai orang baru adalah hal yang menyenangkan. Dan aku yakin, beberapa dari kalian juga pasti memiliki sifat yang demikian.


"Pantes aja tunangannya kabur, kerjanya korupsi." ejek narapidana pertama.


"Iyalah. Udah ga punya penghasilan yang tetap, kerjanya ga bener, maling, tukang korupsi, kurus, jelek lagi. Mana mungkin tunangannya betah. Ha ha ha," sambung narapidana kedua.


"Tch! Dia masih aja diam." geram narapidana ketiga.


"Jelas aja tunangannya pergi nyari yang baru, orang budeg kayak gitu."


Mendengar hal itu rasanya aku marah tak terima. Kupandang ke arah narapidana kedua dengan tatapan tajam.


"Apa lo?!" Dia berseru dengan dada membusung ke depan. "Berani lo ama gue?! Maju lo, sini!"


Aku diam. Masih memberikan pandangan menusuk ke arahnya.


"Ha ha ha, pastinya.... udah nikah dia ama yang baru." tambah narapidana pertama mendekat ke sisi narapidana kedua memaksaku melihat ke arahnya.


"Kenapa lo?! Ga terima?!" tambahnya.


"Emang cewek lo udah selingkuh kali!" saut narapidana kedua.


"Iya tuh! Cewek ga bener, dasar pelac—"


Belum sempat narapidana pertama menyelesaikan kalimatnya aku sudah memberikan pukulan sung-sang tepat ke arah perutnya.

__ADS_1


Dia tersungkur. Kepalanya hampir menyentuh lutut, dan kedua tangannya memegangi perut.


"Kurang ajar!" gertak narapidana kedua dengan gigi gemeletuk.


Dia melancarkan pukulan kanan ke arah kepala yang berhasil kuhindari. Dan dalam waktu yang singkat aku menggenggam wajahnya dengan tangan kanan, lalu menghantamnya keras ke batangan besi. Pria itu tersentak dan pingsan.


Sedang narapidana ketiga melebarkan bola mata sebelum akhirnya kedua alisnya meruncing dan hampir menyatu dengan kening berkerut. Lalu melangkahkan kaki lebar dan melakukan gerakan cepat, mencekikku.


Aku tersendak dan memejam mata. Rasanya sangat sulit untuk bernapas. "Apa orang ini bakal membunuhku?" Hatiku bertanya. "Tapi.... aku belum boleh mati sebelum bisa menemukan Lutfi."


Kulebarkan pandangan. Ekspresi Palkam sangat mengerikan sebenarnya. Dengan wajah segi lima, kepala botak, alis tebal, bekas luka pada mata sebelah kanan, kumisnya panjang, brewoknya tebal dan tidak keurus.


Dari hal itu saja sudah menunjukkan kengerian bagi siapapun yang melihatnya pertama kali. Apalagi sekarang, pria itu sedang berekspresi marah. Mungkin kengerian setan bukan apa-apanya dibandingkan dengan kengerian orang ini.


"Hei, berhenti!" petugas berseru dan dengan tergesa-gesa dia berusaha membuka pintu sel ini.


Namun, Palkam justru mengencangkan cengkramannya sambil mengancam: "Jangan mendekat atau kubunuh bocah ini!"


Jadi, kalian bisa tahu bagaimana ujungnya. Petugas diam mematung sambil melihat ke arah kami bagai menonton sebuah film action secara langsung.


"Dengar bocah! Lo ga usah sombong! Setelah gue keluar dari sini, gue bakal cari tunangan lo! Gue bakal nikmatin dia!" gertaknya lirih di telinga kiriku.


Aku tidak bisa lagi mentolerir omongannya barusan. Jadi aku bertindak. Tangan kiriku menggenggam punggung tangan kanannya, dengan gerakan yang cepat dan dorongan yang kuat aku mengayun tangan kanan sampai membuat dia melepaskan cengkramannya pada leherku. Kugenggam tangan kirinya kuat-kuat lalu kutempelkan otot bisep kananku pada siku kirinya kemudian memutar sendinya hingga dia tertunduk kesakitan.


Saat akhirnya Palkam hilang keseimbangan dan jatuh, aku memutar sendi lengan kirinya dengan telapak tangan menghadap ke wajahnya, lalu kutekan badannya dengan lutut supaya dia tidak bisa melepaskan diri.


Dia merintih kesakitan. Sedang petugas kembali bergerak dan membuka gembok sel dengan tergesa-gesa.


"Kalau kau berani mengganggu tunanganku, kubunuh kau!" Aku mengancam.


Dia diam. Tak ada jawaban. Wajahnya berubah, tanpa ekspresi.


Kemudian. Petugas datang dan memborgolku!


Iya! Gila! Dia pikir aku yang memulai perkelahian ini! Nyatanya semua ini terjadi gara-gara mereka menghina tunanganku, menghina Lutfiku.


Aku mungkin masih bisa menerima kalau orang-orang menghinaku, tapi aku takkan pernah terima kalau ada yang menghina Lutfiku. Takkan pernah!


Saat petugas membawaku keluar sel tahanan, Palkam bangkit dan melancarkan tinjunya yang berhasil kuelak. Lalu kubalas dengan tendangan ke arah alat vitalnya. Dia tersentak, tersungkur sambil memegangi *********** seperti bocah kebelet kencing. Sedang aku mendapat tinju dari petugas entah kenapa.


Kalau fisik dari petugas, tentu aku tidak akan berani membalas. Aku hanya diam dan menuruti segala perintahnya. Menuju kamar huni yang masih kosong, yang kemudian menjadi tempat bersemayangku di dalam penjara.


🌹🌹🌹


ii


"Jadi, kau tidak mau aku datang, huh?" tanyanya.


Aku menggumam. "Tidak setelah kau menuntutku, Direktur."


"Aku punya alasan." jawabnya.


"Dan aku yang jadi korbanmu?!" Aku bertanya dengan nada kesal.


Dia mengangkat bahu. "Jadi, bagaimana kehidupanmu di penjara?"


Aku mendengus. "Tidak ada yang menyenangkan sama sekali. Aku tidur dengan kasur kayu tanpa selimut dan jendela yang tidak bisa ditutup. Makanan yang mereka berikan cuma nasi kemarin dan lauk yang hampir basi. Itu lebih mirip seperti dedek—pakan bebek—ketimbang makanan manusia."


"Aku turut prihatin dengan kondisimu," ujarnya bernada menyesal.


"Mungkin. Kau lihat memar ini?" tanyaku padanya supaya melihat wajahku lebih seksama. "Para tahanan itu memburuku seperti aku karung tinju saja."


Dia diam. Tidak menjawab.


"Kalau urusanmu sudah selesai, kau bisa pergi sekarang." kataku seraya bangkit.


"Aku tidak menyangka, aku kehilangan kehormatanku darimu, lagi."


"Karena kau bertindak tidak adil!" Aku berseru.


"Aku bertindak tidak adil?" Dia nanya.


Aku ngangguk. "Kalau kau memang adil, kau pasti akan membawa masalah ini ke pengadilan!" tegasku sambil memukul meja. "Bukan langsung menuntutku seperti ini!"


"Tenang, tenang," pintanya. "aku harus menjalankan peranku sebagai Direktur di perusahaan 0000. Kau tau itu, bukan?"


Aku diam. Tidak kutanggapi.


Dia merogoh saku jas miliknya lalu mengutak-atik handphonenya dan diserahkannya kepadaku. "Lihat ini,"


Kuterima dan kuturuti kemauannya. Dan.... aku terkejut melihat rekaman diriku yang keluar dari ruangan Direktur dengan membawa sebuah koper berukuran sedang. "Jangan-jangan...."


Direktur mengangguk. "Ya, karyawan menganggap kau yang mencuri uang perusahaan."


"Mustahil!" sangkalku. "Itu koperku sendiri!" Aku berteriak.

__ADS_1


"Tenanglah, dan dengarkan aku baik-baik." ujarnya.


Aku duduk. Mengatur napas. Lalu mendekat.


"Aku tau, kau bukan orang seperti itu. Tapi, kau harus tau, uang perusahaan yang ada di kantorku juga hilang."


"Hah?!"


"Iya!" Dia menegaskan.


"Bagaimana bisa?" tanyaku.


"Aku tidak tau," jawab Direktur.


"Pasti ada orang lain yang ngambil!" Aku menebak.


"Aku setuju denganmu. Tapi aku harap kau bisa mengerti, di posisiku sekarang ini, aku tidak bisa membelamu tanpa bukti yang kuat."


Aku menghembus napas keras. "Kalau saja dulu kau mengikuti saranku untuk memasang CCTV, pasti tidak akan terjadi seperti ini."


Dia mengangguk. "Aku sudah memasangnya awal bulan Februari kemarin." katanya. "Dan ini alasanku tidak membawamu ke sidang di pengadilan. Karena kau tidak punya bukti yang kuat."


"Hmmm...." gumamku.


"Lebih daripada itu, kau juga belum membayar uang ganti rugi karena kontrakmu yang gagal itu."


"Hah?!" Aku terkejut. "Uangnya lengkap seratus juta di koper itu."


"Lalu di mana kau simpan kopernya?" Direktur nanya.


"Aku titipin ke Mas Dodit,"


"Dodit? Dodit Mulyanto?" tanyanya memastikan.


"Iya," Anggukku. "apa dia ga ngasih koper sama surat pengunduran diriku?"


"Engga," Dia menggeleng. "eh, tunggu, tunggu.... surat pengunduran diri?"


Aku ngangguk.


Direktur menghembus napas. "Baik, baik. Aku akan coba hubungi dia. Sementara itu, kau bertahanlah di sini untuk sementara waktu." katanya menjelaskan.


"Sampai kapan?!" Aku nanya sedikit menggeram.


"Tidak lebih dari bulan ini. Aku janji."


Aku ngangguk.


"Sebelum itu, kalau kau tidak ingin kehilangan uang seratus jutamu itu, sebaiknya kau mulai menulis lagi."


Aku tersentak mendengarnya.


"Kau tidak ada niatan buat berhenti nulis, bukan?" Dia nanya.


Sedang aku tertunduk tanpa bisa menjawab apapun.


Direktur pergi setelah memberiku sebuah buku dan beberapa pena. Kini, aku menatap benda-benda di tanganku. "Haruskah aku kembali menjadi penulis?"


🌹🌹🌹


iii


Aku kembali ke dalam sel tahanan sambil merenung. Memikirkan segala keputusan.


Apa sebaiknya aku menulis lagi? Terlebih dengan kondisiku sekarang ini, aku tidak akan mampu mencari keberadaan Lutfi. Apa sebaiknya aku menulis lagi, menulis tentang perjuanganku seperti apa yang Tio katakan? Mungkin saja dengan itu teman-temanku akan mengerti dan kembali percaya kepadaku, percaya bahwa aku tidak berselingkuh. Tapi, apakah ini keputusan yang tepat?


Ketika kubolak-balikkan isi lembar buku, mendadak ada secarik kertas yang jatuh. Kuambil dan segera bisa menebak itu adalah tulisan Lutfi.


Akhirnya, akhirnya kudapatkan lagi pesan darinya. Setelah sekian lama. Akhirnya! Kurapikan kertas itu dan kubaca:


"Kau pernah mengkhianatiku, lebih dari sekali. Kau pernah berjanji tidak akan mengulanginya lagi, tapi kau kembali mengulanginya. Hampir 2 tahun, kau tidak mengulangi kesalahan itu, meski masih mengulangi kesalahan yang sama lainnya. Dan sekarang.... aku tidak menyangka, kau kembali mengulanginya.—"


Aku berhenti membaca, mengatur napasku yang tidak beraturan. Mencoba menghentikan dera air mata yang tidak lagi berada dalam kuasaku. Sudah sekian lama aku tidak mendapat kabar apa pun darinya. Tapi kali ini, pesan pertama yang kudapatkan darinya di tahun 2019 justru pesan yang berisi kekecewaan.


Aku.... benar-benar pria yang bodoh! Pecundang! Busuk!


Aku sudah berulang kali berjanji tidak akan menyakitinya, membuat Lutfi kembali menangis. Tapi.... ah! Aku ingin sekali mengutuk diriku yang hanya terus menimbulkan kekecewaan terhadap Lutfi. Mengutuk dengan kutukan paling parah yang tidak pernah satupun manusia membayangkannya. Aku.... haruskah aku menyerah dengan kisah cinta ini? Haruskah aku menyerah dengan hidupku yang sudah kacau balau ini? Haruskah aku.....


Dalam ketidakberdayaanku, aku mencoba fokus. Kembali membaca:


"....Tapi aku tetaplah kekasihmu, dan kau tetaplah kekasihku. Apa yang terjadi padamu pasti tidak terlepas dariku, dan apa yang terjadi padaku juga tidak terlepas darimu. Jadi, bagaimanapun kondisimu sekarang.... aku masih sama. Wanita yang kau kenal dulu. Lutfi yang mencintaimu. —Lutfi Nurtika."


Membaca itu, pikiran untuk menyerah lenyap seketika seperti sebuah kentut yang hanya menimbulkan bunyi pada awalnya saja, meski baunya terkadang sulit hilang walau sudah dikipas dengan bantuan kipas angin.


Aku senang, Lutfi masih menganggapku kekasihnya. Aku bahagia, Lutfi masih menganggap dirinya kekasihku. Aku jauh lebih tenang setelah mengetahui kalau dia masih mencintaiku. Aku jadi lebih bersemangat untuk bisa keluar dari tempat ini, menjelaskan semua kesalahpahaman yang terjadi, dan menemukan di mana Lutfi berada.

__ADS_1


"Aku akan berusaha, tunggu aku Lutfi. Aku pasti akan menemukanmu, kekasih yang hilang. Lutfiku."


__ADS_2